Secret Mission

Secret Mission
Semakin Didesak


__ADS_3

Pelayaran panjang hingga hampir 18 jam, dimanfaatkan oleh Agent Liev untuk mengajak kerjasama dengan Sia di kontainer khusus.


William menyimak pembicaraan keduanya. Ia curiga dengan maksud dan tujuan dari Liev untuk membantunya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Secara tak langsung, kau menyelamatkan keluarga Boleslav, Sia. Selama ini, The Circle ancaman bagi jajaran 13 Demon Heads dan CIA khususnya. Dengan terlibatnya dirimu dalam operasi kali ini, tentu saja akan sangat membantu kami menyelesaikan persoalan keamanan dunia," ucap Liev tenang, duduk di sofa single menatap Sia seksama.


Sia termenung memikirkan ucapan Liev yang sudah mengajaknya bicara hampir 1 jam lamanya.


"Apa yang CIA janjikan untuk keluargaku?" tanya Sia tegas, tapi mengejutkan bagi Liev dan William.


"Tak ada. Kenapa kami harus berurusan dengan anggota 13 Demon Heads? Jangan lupa, mereka juga musuh CIA dan pemerintah. Keberadaan mereka, ancaman dunia," tegas Liev.


"Kau melibatkan keluargaku untuk menghancurkan The Circle. Bahkan memanfaatkan Axton serta keluarga Khrisna. Lalu ... jika semua dilakukan olehku dan William serta beberapa anggota dewan, apa yang CIA lakukan? Sebagai superhero setelah kau menjadikanku umpan dan tameng, begitu?" tanya Sia melotot tajam pada Liev.


Liev diam sejenak. William mencoba menenangkan kekasihnya yang terlihat begitu marah akan kesepakatan yang CIA tawarkan padanya.


"Jika aku mati saat dalam misi, apakah ... aku akan dimakamkan di pemakaman para pahlawan? Apakah keluarga Boleslav akan diberikan pengampunan karena aku sudah menggantikan nyawa mereka?" tanya Sia lagi yang seakan belum puas mengutarakan seluruh isi hatinya.


William bahkan tak bisa menenangkan hati kekasihnya yang dilanda amarah itu.


"Kau bilang ... 13 Demon Heads adalah musuh dari CIA. Apakah ...."


William tertegun. Jantungnya berdebar kencang. Ia sangat takut jika Sia mengetahui misi sesungguhnya dari CIA untuknya. Liev ikut mempertajam matanya, menatap Sia seksama.


"Apakah ... selanjutnya, kalian akan melenyapkan 13 Demon Heads?!" tanya Sia tegas.


William terkejut karena Sia bisa menebaknya. Ia berusaha untuk tetap tenang ketika kekasihnya itu melirik tajam padanya.


Liev tersenyum tipis. "Aku bisa mengajukan pengecualian kepada Direktur. Bagaimana jika, dari ketigabelas anggota dewan 13 Demon Heads, militer mengampuni keluarga Boleslav. Sisanya, tetap harus dilenyapkan."


Mata Sia melebar seketika, nafasnya menderu dan rasa sesak menghimpit paru-parunya. Liev tersenyum miring melihat ekspresi Sia yang terlihat shock akan ucapannya barusan.


"Liev. Sudah cukup untuk hari ini. Sia butuh istirahat. Jangan memaksanya. Ia keluar dari keluarga mafianya karena ingin hidup seperti orang normal. Jadi ... hargai keputusannya," ucap William menengahi.


"Sayangnya tidak bisa, William," jawabnya sembari mengeluarkan sebuah alat berbentuk kotak dengan beberapa tombol di sana.


Kening William berkerut. "Ini ...."


"Ya. Pembicaraan kita di dengar oleh pusat. Bukan kau yang memutuskan, Sia, tapi mereka. Kau hanyalah bagian kecil dari jutaan penduduk yang hidup di Amerika. Kami tak akan membiarkan satu manusia menghancurkan kedamaian jutaan orang yang tinggal di Benua itu. Jadi ... pilihanmu hanya satu. Ikuti kemauan kami, atau ... tak ada lagi tempat untukmu di sini. Kau ... bisa berenang?"


Sontak, mata Sia dan William terbelalak. William merasa jika kekasihnya dimanfaatkan dengan sebuah ancaman dan paksaan.


"Hmm, miris. Aku keluar dari kandang singa, tapi malah terjebak di rawa bersama para buaya. Kau sungguh bodoh, Sia," ucap gadis cantik itu menyindir dirinya sendiri.


William ikut tertekan dan sedih akan hal ini. Ia tak menyangka jika CIA menggunakan Sia untuk mencapai tujuannya.


"Baiklah. Aku juga tak mungkin menolak, bukan. Hanya saja, aku ingin menjadi partner William dari operasi ini. Hanya aku yang boleh mendampinginya dan hanya aku yang bisa membawa William masuk ke jajaran 13 Demon Heads tanpa terluka," ucap Sia tersenyum getir.


William sungguh tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Ia tak bisa berpikir jernih. Terlalu banyak tekanan dan misi di kepalanya. Ditambah kini Sia dilibatkan. William merasa dadanya sesak seketika.

__ADS_1


"Will, kau tak apa?" tanya Sia saat melihat William memegangi dadanya.


"Liev, pergilah. Aku mau istirahat," ucap William tegas mengusir.


"Baiklah. Kita lanjutkan ketika tiba di Sweden. Selamat malam," ucap Liev beranjak dari dudukkan dan keluar dari rumah kontainer itu.


"Will?" tanya Sia cemas menatap kekasihnya seksama.


"Maafkan aku, Sia. Sungguh, aku tak tahu jika akan seperti ini. Aku kira ... dengan membawamu kembali, bisa membebaskanmu dari dunia gelap itu. Aku ... jadi tak yakin jika aku memilih jalan yang tepat," ucap William menundukkan wajah.


Sia menatap wajah kekasihnya lekat. Ia tahu jika William tak bermaksud menyakiti dan mempersulit hidupnya.


Sia memegang wajah William lembut dan mencium bibirnya penuh kasih. William merasa sangat bahagia karena Sia bisa mengerti kesulitan yang sedang dihadapi mereka berdua.


"Kita pasti bisa melakukannya. Sebaiknya ... kita lupakan hal buruk yang mungkin akan terjadi pada keluargaku. Daddy bukan orang yang mudah dijatuhkan. Apalagi ... aku melihat, para anggota 13 Demon Heads bukan orang lemah. Solidaritas mereka tinggi bagai saudara. Aku bisa merasakannya saat di Kastil Borka," ucap Sia mengenang saat ia bertemu Vesper dan lainnya.


"Yes. Aku juga berpikir demikian. Meskipun ada perselisihan antara anggota dewan, tapi mereka bisa mengenyampingkan pertikaian itu ketika ancaman datang. Mereka orang-orang kuat dan berkuasa, Sia. Sebaiknya ... pikirkan nasib kita berdua yang rasanya lebih butuh banyak keajaiban agar tak tewas saat menjalankan misi," sahut William ikut berkomentar.


Sia tersenyum lebar dan mengangguk. Keduanya berusaha untuk tidur nyenyak malam yang sudah sangat larut meski tekanan terasa sungguh menyesakkan jika mengingat hari esok dan setelahnya.


Pagi itu, Sia bangun lebih pagi dari William setelah semalam mereka menuntaskan gairah yang tertunda karena kedatangan Liev.


Sia menanggalkan segala atribut yang membelenggu tubuhnya agar GIGA tak bisa melacaknya.


Wanita cantik itu melihat dari balik jendela rumah kontainernya jika matahari sudah terbit. Sia membuka jendelanya sedikit.


Ia bisa merasakan angin laut menerpa tubuhnya, tapi ia memilih untuk kembali menutupnya saat dua penjaga dari CIA muncul dan mendekati container-nya.


Ia merasa tak nyaman bagaikan tahanan elite. Sia memutuskan untuk menyibukkan diri sembari memikirkan rencana selanjutnya agar mimpinya bisa hidup tenang tanpa belenggu dunia mafia tercapai bersama sang kekasih, William.


Sia berjalan ke kamar mandi dan memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memasak sesuatu untuk sarapan.


Kapal baru akan berlabuh menjelang sore di Nynäshamn. Sia terlihat sibuk di dapur menyiapkan sarapan dari bahan makanan yang tersedia di lemari es dan lemari makanan.


"Oh!" pekik Sia terkejut saat William memeluknya dari belakang dan hanya memakai boxer.


Sia tersenyum manis dan mengecup pipi kirinya manja. William terlihat masih mengantuk karena matanya terpejam dan terlihat malas melakukan sesuatu.


"Hmm, baunya enak. Aku baru tahu kau bisa memasak," ucap William balas mencium pipi kanan kekasihnya.


"Jika kita keracunan, kita bisa menyalahkan CIA," jawab Sia masih terlihat kesal karena merasa dimanfaatkan oleh agensi tersebut.


William tak mau berdebat dengan kekasihnya karena ia juga merasakan hal mengganjal dalam hatinya setelah mendengarkan penuturan Liev semalam.


Hingga mata William tertuju pada sebuah hiasan gantungan serbet yang menarik perhatiannya.


Sia menatap gerak-gerik William yang melihat benda itu tajam dan menoleh menatap sekitar. Sia terlihat bingung, tapi ia memilih diam.


"Aku mandi dulu. Kita sarapan bersama di meja makan," ucap William melepaskan pelukan kekasihnya dan Sia mengangguk.


William terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri seperti memperhatikan sesuatu. Sia diam sejenak dan ikut melirik ke hiasan gantungan serbet di dekatnya.

__ADS_1


Sia kembali memasak dan wajahnya terlihat serius seketika. Ia makin kesal setelah menyadari jika tempat itu terpantau oleh kamera pengintai yang mengawasi seluruh pergerakannya.


Sia meletakkan sarapan buatannya ke meja makan. Ia ikut waspada seperti William. Ia kembali ke dapur dan sengaja menarik serbet pada gantungan dengan kasar hingga benda itu jatuh.


Sia melihat di balik gantungan yang terbuat dari keramik tanah liat ada sebuah alat kecil seperti kamera. Sia marah dan menginjaknya hingga keramik itu pecah dan alat tersebut remuk.


Dan benar, tak lama, TOK! TOK! TOK!


Sia segera berjalan menuju ke pintu dan membukanya. Ia melihat penjaga pengawas kontainer berdiri dengan wajah garang.


KLANG!


Petugas itu terkejut saat Sia memberikan pecahan keramik kepadanya berikut alat yang dirusak olehnya.


"Apa kalian tak tahu arti dari privasi? Aku tak segan menghancurkan semua alat kalian. Jangan lupa, aku dari keluarga mafia. Mengusikku, aku tak segan keluar dari kontainer ini dan menunjukkan wajahku. Satelit 13 Demon Heads akan menangkapku dan mungkin ... kapal ini akan diledakkan mereka," ucap Sia dengan seringainya dan menutup pintu dengan gusar.


Sia menarik nafas dalam mencoba menahan emosinya. Saat ia berbalik, ia melihat William tersenyum tipis sembari memberikan kode dengan matanya, di mana saja letak kamera pengintai itu.


Sia tak bisa menahan amarahnya lagi. Ia mengambil sebuah lukisan wajah di dinding ruang tamu dan menginjaknya. William tersenyum lebar.


Agent tampan itu lalu membuka pintu kamar dan memberikan kode dengan matanya lagi. Sia mengikutinya dan William berpura-pura membuka lemari, mengambil sebuah kaos sembari memberikan kode ke sebuah benda.


Sia makin emosi. Ia merasa adegan ranjangnya semalam ditonton oleh beberapa kumpulan orang mesum di pusat kendali.


William menghembuskan nafas panjang saat Sia membanting lampu tidur di samping ranjang dan menginjak keramik itu hingga pecahannya berserakan di lantai.


"Hah, di mana lagi?!" tanya Sia dengan nafas menderu.


"Aku sudah menghancurkan yang di kamar mandi. Mereka sungguh tak sopan," ucap William dengan senyum merekah.


"Dasar tukang intip! Awas saja, akan kulubangi mata orang-orang itu dengan tanganku sendiri," ucap Sia geram.


William diam seketika. Ia merasa jika sikap Sia sudah seperti penjahat sungguhan. Sia seperti tak menyadari jika ucapannya cukup keji. William menelan ludah dan tak mau memperpanjangnya.


Keduanya merasa lebih leluasa dalam bersikap dan berbicara. William yang merasa dimata-matai sejak masuk ke dalam kontainer rumah itu menjaga ucapan dan gerak-geriknya.


Namun, Sia yang masih terlalu polos tak demikian. William malah merasa saat Sia mengajaknya bercinta semalam sebagai salah satu bentuk kesempatan memamerkan keahliannya di ranjang ke hadapan orang-orang di Agensinya.


"Pasti mereka kesulitan tidur semalam. Hehe, rasakan," kekeh William dalam hati terlihat begitu puas bisa mengerjai kumpulan orang-orang CIA.


Akhirnya, sore itu mereka tiba di Nynäshamn, Sweden. Mobil jemputan sudah tiba yang akan membawa mereka ke Stockholm.


Sia dan William menggunakan penyamaran saat berada di luar. Mereka hanya bisa pasrah saat diatur oleh Liev yang bertanggungjawab membawa mereka kembali ke Amerika, Virginia.


Perjalanan darat kurang lebih 41 menit itu tetap coba Sia nikmati. Ia mencoba untuk mengatur kembali hati dan pikirannya atas keputusan yang sudah ia buat.


Hingga mereka tiba di Bandar Udara Stockholm Arlanda. Sebuah pesawat jet pribadi telah tersedia untuk membawa dua orang tersebut meninggalkan Swedia.


Penerbangan hampir 8 jam itu tentu saja membuat Sia bosan dan lagi-lagi, Liev memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali mengajaknya bicara.


"Jadi, selama kalian menjalankan operasi, kami akan memantau dan mengawasi. Bantuan juga akan segera datang ketika serangan dari pihak musuh datang," tegas Liev.

__ADS_1


"Ya, terserah saja. Katakan apapun yang diminta oleh pemimpinmu. Jika sudah selesai bicara, bangunkan aku. Ocehanmu membuatku mengantuk," ucap Sia terlihat mulai menunjukkan sisi lain darinya.


Kening orang-orang berkerut termasuk William yang merasa jika Sia berubah sedikit demi sedikit. Muncul kekhawatiran dalam dirinya akan sifat Sia.


__ADS_2