Secret Mission

Secret Mission
I'm Fine


__ADS_3

Sia dan William di dudukkan di sofa kamar yang William tempati. Terlihat Roza, Maksim dan Yuri menatap keduanya lekat yang masih berusaha untuk sadar sepenuhnya dari efek gas halusinasi.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Sia. Tuan Boleslav dibawa ke rumah sakit, sepertinya penyakit jantungnya kambuh," ucap Roza menginformasikan dan mata Sia melebar seketika.


"What? Ayah sakit? Kenapa tiba-tiba?" tanya Sia bingung sembari memegangi perutnya yang terasa mual.


Roza, Maksim dan Yuri saling berpandangan.


"Kau sebaiknya segera memberikan penjelasan kepada Tuan Boleslav. Aku tak begitu yakin dengan yang kau katakan padanya tadi. Namun sepertinya, hal itu yang membuat penyakit jantungnya kambuh," jawab Yuri jujur.


Sia terkejut. Ia mencoba mengingat apa yang ia katakan saat terkena dampak gas halusinasi. Jantung Sia berdebar, ia panik. Ia khawatir jika membocorkan rahasianya.


"Antarkan aku ke Rumah Sakit sekarang," ucapnya memegang tangan Roza dan wanita itu bersedia.


William menatap Sia seksama dan mengangguk. Sia tersenyum pada suaminya dan segera pergi menyusul ke Rumah Sakit. William dijaga oleh Maksim dan Yuri.


"Yuri, memang apa yang terjadi? Kenapa Sia bisa terkena dampak gas? Lalu ... apa yang dia katakan?" tanya William pucat dan terus minum untuk menghilangkan dehidrasi, efek dari gas halusinasi.


Yuri dan Maksim tak menjawab. Keduanya meninggalkan William di kamar dan menutup pintu dari luar.


William menghembuskan nafas keras. Ia mencoba mengingat kejadian terakhir yang ia lakukan.


"Aku hanya ingat saat Tuan Boleslav memintaku memberitahu kediaman Tessa. Soal Sia ... agh, apa yang dikatakannya?" tanya William ikut berpikir dan malah membuatnya kembali mual.


Di salah satu Rumah Sakit di Krasnoyarsk, Rusia.


Antony Boleslav segera mendapatkan perawatan intensif dari pihak Rumah Sakit. Jason dan Jordan terlihat panik.


Mereka didampingi oleh Daniel, Mix and Match yang ikut cemas dengan keadaan Boleslav karena penyakit jantungnya kambuh.


"Apa yang terjadi?" tanya Daniel bingung karena ia tak ikut saat proses interogasi.


"Entahlah, Paman. Aku tak begitu yakin," jawab Jason cemas.


Daniel lalu meminta kepada Mix and Match untuk membawa Jason serta Jordan ke ruang tunggu.


Daniel segera mengurus administrasi perawatan Tuannya di mana Boleslav menggunakan nama alias lain agar sosoknya tak ditemukan oleh militer pemerintah Rusia.


Hingga akhirnya, Sia datang bersama Roza ditemani P-807. Sia terlihat panik mencari keberadaan ayah tirinya.


Daniel melihat Sia yang kebingungan mencari keberadaan Boleslav mengingat ia tak tahu nama alias yang digunakan ayahnya jika di tempat umum.


"Nona Sia!" panggil Daniel dan spontan Sia menoleh.


Sia berlari ke arah Daniel yang berdiri menatap dirinya. Daniel tersenyum.

__ADS_1


"Tuan ada di lantai 4 ruang VVIP. Temui dia," ucap Daniel ramah dan Sia mengangguk cepat.


Roza dan P-807 menemani Sia ke lantai tersebut. Jantung Sia berdebar ketika mendorong pintu ruang perawatan dan terlihat ayahnya terbaring di sana dengan peralatan medis tertancap di tubuhnya.


"Daddy," panggil Sia lirih terlihat seperti akan menangis.


Tiba-tiba, Jordan langsung mendatanginya dan menghadang Sia agar tak mendekati sang ayah. Sia bingung dan menatap Jordan seksama.


"Jordan, biarkan Sia kemari. Kalian keluarlah. Daddy ingin bicara dengan Sia," ucap Boleslav lemah.


Orang-orang mengangguk paham. Jordan dibawa paksa oleh Mix and Match yang masih mempelototi kakaknya.


Entah apa yang terjadi, Sia bingung dengan keadaan ini. Ia merasa semua orang marah padanya.


Sia mendekati Boleslav perlahan dengan wajah tertunduk dan sesekali melirik ke Ayahnya. Boleslav tersenyum dan hal itu malah membuat Sia bersedih.


"Daddy ... apa aku mengatakan hal buruk padamu hingga kau sakit?" tanya Sia meremat-remat kedua tangannya terlihat gugup.


"Tidak. Daddy hanya terkejut karena kau tiba-tiba masuk ke dalam," jawabnya berbohong.


"Begitukah? Hanya karena hal itu kau sampai terkena serangan jantung?" tanya Sia semakin merasa bersalah.


Boleslav diam sejenak menatap Sia yang terlihat begitu menghawatirkan keadaannya. Boleslav meminta Sia mendekat dan duduk di sampingnya. Sia menurut dan duduk di kursi dekat ranjang.


"Kau cukup tahu satu hal, Sia. Daddy sangat menyayangimu. Yang Daddy lakukan dan mungkin membuatmu tak nyaman, itu karena Daddy ingin melindungimu. Daddy tak ingin kau terluka. Daddy ingin kau bahagia. Dan ... jika si agent sialan itu memang bisa membuatmu bahagia, ya sudahlah," ucap Boleslav malas.


"Ka-kau sadar yang kau katakan 'kan, Daddy? Maksudmu ... ka-kau merestui hubungan kami berdua?" tanya Sia sampai tergagap.


Boleslav mengangguk pelan. Tangis Sia pecah dan langsung memeluk Ayahnya erat. Boleslav ikut berlinang air mata. Ia tak menyangka jika hanya sebuah restu bisa membuat Sia begitu bahagia.


"Apakah ... William sangat berarti untukmu?" tanya Boleslav membiarkan Sia menangis dalam pelukannya meski tangannya tertancap selang infus.


Sia mengangguk cepat dengan air mata mengalir deras dan membasahi baju pasien Ayahnya. Boleslav tersenyum dan membelai lembut rambutnya.


"Baiklah kalau begitu. Namun, ada hal penting yang harus kau lakukan untuk menyelesaikan ini semua, Sia," ucap Boleslav lirih dan Sia menarik tubuhnya.


Sia duduk sembari menghapus air mata dan menatap wajah sang Ayah lekat.


"Hiks, apa itu, Daddy?" tanyanya sudah bisa menghentikan tangisan.


"Misimu melenyapkan No Face harus tetap dijalankan. Apa yang akan kau lakukan, Nona Dewan?" tanya Boleslav tersenyum miring.


Sia balas tersenyum. Sia mengatakan rencananya pada sang Ayah. Boleslav mendengarkan dengan serius.


Boleslav tak berkomentar atau membantah ucapan Sia. Ia membiarkan Sia mengutarakan pemikirannya.


"Hmm, ide bagus. Kau memikirkan hal itu?" tanya Boleslav tak yakin karena pemikiran itu tak seperti hasil dari anak gadisnya.

__ADS_1


Sia hanya meringis dan mengangguk pelan.


"Sebenarnya, 80% rencana Nyonya Vesper. Hehe," kekeh Sia dalam hati.


"Baiklah. Daddy akan merahasiakan statusmu sebagai anggota dewan pada agent sialan itu," ucapnya mendukung.


"William, Dad. Dan dia mantan agent," ucap Sia menegaskan dan Boleslav hanya mendesah pelan.


Sia tersenyum lebar dan kembali memeluk Ayahnya. Entah kenapa, ia tak canggung lagi dengan perlakuan Boleslav padanya.


Mantan anggota dewan itu merasa bahagia karena sikap Sia seperti saat ia masih kecil ketika mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama.


"Dad, boleh aku minta satu hal lagi?" tanya Sia menaikkan wajah saat masih memeluk Ayahnya yang berbaring di ranjang pasien.


"Hem, apa itu?"


"Aku ... aku ingin mengingat semua hal tentang masa kecilku. Saat kau hidup di dalamnya. Pasti terjadi sesuatu padaku hingga aku tak mengingatnya. Aku ingin tahu kenangan saat bersamamu dulu," ucap Sia mau-malu.


Praktis, mata Boleslav melebar. Jantungnya berdebar kencang, tapi hal itu malah membuat Sia panik karena suara detektor jantung berbunyi cukup nyaring.


"Dad? Dad!" pekik Sia panik karena Boleslav diam saja.


Teriakan Sia ternyata mengundang orang-orang yang berjaga di luar. Mereka segera masuk dan memanggil dokter. Sia kembali di salahkan dan ia menyangkal kali ini.


"Aku tak melakukan apapun, sungguh!" jawabnya membela diri.


"Kau pasti bicara hal yang menyakitkan hati hingga Daddy kembali mengalami serangan jantung!" tunjuk Jordan melotot tajam padanya.


"Aku hanya bilang pada Daddy jika aku ingin mengingat masa kecilku bersamanya. Aku tak ingat sama sekali, Jordan! Aku tahu jika selama ini Daddy dan kalian semua ada dalam hidupku. Aku ingin mengingat kenangan itu, apa itu salah?" tanya Sia kembali berlinang air mata.


Semua orang terdiam. Boleslav mulai bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia melihat jika Sia didesak dan disalahkan.


Boleslav menarik tangan Daniel dan berbisik padanya. Daniel terkejut, tapi mengangguk.


"Yang dikatakan Nona Sia benar. Bahkan, Tuan Boleslav sudah merestui hubungannya dengan William. Kini, William Tolya sudah menjadi bagian dari keluarga kita," ucap Daniel yang praktis mengejutkan semua orang.


"Kau pasti mengancam Daddy hingga ia bisa merestui hubunganmu dengan William. Iya 'kan?!"


"JORDAN!"


"Tuan, sudah. Anda istirahat saja, biar saya dan yang lainnya menyelesaikan hal ini," ucap Daniel panik karena Boleslav kembali emosi dan hal itu bisa memperburuk kesehatannya.


Tak lama, Dokter datang dan semua orang diminta keluar dari ruang perawatan itu. Sia enggan keluar, tapi perawat memaksanya.


Sia terlihat sedih dan Roza mendekatinya. Ia memeluk Sia yang menangis karena selalu di salahkan. Hati dan pikiran semua orang dibuat kalut akan hal ini.


"Kalian sebaiknya kembali ke Kastil. Serahkan Tuan pada kami," ucap Daniel memberikan pengertian dan orang-orang mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya, Sia kembali ke Kastil, tapi ia enggan semobil dengan Jordan dan remaja itu pun melakukan hal yang sama. Semua orang serba salah karena Sia dan Jordan kini malah berselisih.


__ADS_2