
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
---- back to Story :
Axton tertunduk lesu. Seakan semua kemampuan bertempurnya sirna seketika.
Tak pernah ia merasa kehilangan yang teramat sangat seperti hari ini melebihi ketika kematian sang ibu tercinta bahkan kakek dan ayahnya.
Axton roboh dan menjadikan dua lututnya satu-satunya penopang tubuhnya yang mendadak terasa lunglai tak bertenaga.
Pikirannya melayang entah kemana, menyaksikan kematian orang yang baru saja ia yakini jika ia mencintainya.
"Kau melanggar janjimu, Dewa Kematian. Bukan seperti ini perjanjiannya. Aku akan menuntut janjimu di neraka nanti," geram Axton menunjuk langit dengan telunjuknya.
Hingga akhirnya, suara desingan peluru di sekitarnya membuat Axton kembali tersadar. Ia merasa tubuhnya ditarik oleh seseorang dan ternyata itu Torin.
Axton terlihat kebingungan saat Torin berteriak lantang padanya, tapi entah kenapa Axton tak bisa mendengar apa yang lelaki itu ucapkan.
Axton berdiri dan masih bingung dengan situasi di sekitarnya. Ia melihat Yuki menembakkan seluruh peluru-pelurunya ke arah segerombolan orang yang muncul dari terowongan tempat ia keluar bersama Nandra tadi.
Axton terdiam tak ikut melawan. Ia hanya menatap dua buah pistol dalam genggaman dan tak tahu harus ia apakan.
Hingga pandangannya kembali terarah pada sosok Arjuna yang berlari bersama Naomi menuju ke helikopter yang terbakar.
PLAK!!
"Agh! Aww," rintih Axton saat pipinya tiba-tiba ditampar oleh Yuki dengan sangat kuat hingga kesadarannya kembali seketika.
"Ada apa denganmu?!" pekik Yuki melotot lebar di hadapannya.
Axton kebingungan dalam menjawab. Pandangannya teralih ke sosok lelaki yang tiba-tiba muncul dari balik asap yang mulai memudar tertiup angin laut.
Pria itu bangkit dengan sebuah benda besar tertancap di punggungnya. Mata Axton melotot tajam.
Yuki kebingungan saat Axton berjalan tergopoh mendorong tubuhnya ke samping hingga Yuki bergeser. Yuki membalik tubuhnya dan langsung menjatuhkan pistolnya karena kaget.
Tubuh gadis berambut merah muda itu gemetaran seketika. Ia berdiri mematung saat Torin kini meneriakinya karena Yuki menjadi sasaran tembak para penyerang.
Torin mendekap Yuki dan membawanya menyingkir dari pertempuran. Yuki di dudukkan dengan bersender pada badan kapal Axton yang masih merapat.
"Yuki! Yuki! Kau kenapa?" tanya Torin panik dan masih berusaha melindunginya dari incaran para penyerang.
"Ser-Sergei ... hiks, Sergei ...," jawabnya tiba-tiba menangis dengan tangan gemetaran.
Kening Torin berkerut. Ia mencoba untuk berdiri dan mengintip dari balik badan kapal. Seketika, mata Torin melebar.
Ia melihat di kejauhan Sergei sudah sekarat dengan sebuah potongan baling-baling helikopter menancap di punggung sampai menembus dadanya.
Sergei roboh di atas pasir dengan tubuh tengkurap. Nandra terlihat tergeletak di atas pasir di samping Sergei.
Axton berlari mendatangi keduanya. Torin menatap Axton seperti berusaha membangunkan Sergei yang tak bergerak lagi.
__ADS_1
Torin kembali berjongkok dengan wajah pucat. Ia melihat Yuki yang meneteskan air mata dengan tubuh gemetaran. Torin langsung memeluknya dan Yuki menangis di dadanya.
"Sergei ... hiks, Sergei ...."
"Ya. Dia tewas, Yuki. Sergei tewas," ucap Torin berusaha menahan kesedihannya di mana ia juga cukup dekat dengan asisten kepercayaan Sang Casanova.
Yuki menangis histeris. Ia mencengkeram jas anti peluru Torin. Putera almarhum Bardi ikut sesak menyaksikan kejadian naas yang menimpa Sergei hingga menewaskannya.
Di sisi lain, tempat Axton sedang dirundung kesedihan yang mendalam.
Axton memeluk kepala Sergei erat di mana bodyguard kepercayaannya itu sudah tak bernyawa, tengkurap di atas pasir karena melindungi wanita yang mengandung calon anak dari majikannya.
"Sergei," ucap Axton sedih dan pada akhirnya meneteskan air mata.
Nandra perlahan membuka matanya. Axton terkejut karena Nandra masih hidup meski tubuhnya berlumuran darah.
Axton baru menyadari jika darah itu bukan dari tubuhnya, melainkan darah Sergei yang terciprat saat baling-baling tajam itu menembus tubuhnya.
Axton segera meraih Nandra dan memangku kepalanya di atas paha. Jantung Axton berdebar saat Nandra berusaha untuk sadar meski ia terlihat seperti orang linglung.
"Hei, hei, kau tak apa?" tanya Axton panik melihat sekujur tubuh Nandra untuk memastikan Ibu dari calon anaknya baik-baik saja.
Nandra tak bisa menjawab. Axton lega karena Nandra terlihat baik-baik saja. Axton berusaha mendudukkan Nandra perlahan di mana mereka harus segera berlindung agar selamat dari pertempuran yang belum usai.
Saat Nandra telah duduk dan kini menghadap Axton, tiba-tiba ....
DOR!
"Ohok!"
"Agh!" teriak Nandra terkejut.
Wanita India itu langsung memegangi pundak Axton saat Sang Casanova hampir roboh dalam pelukannya.
Kedua tangan Nandra gemetaran. Ia memeluk Axton dan terkejut, saat telapak tangannya terkena noda darah dari balik punggungnya. Nandra panik seketika.
"Oh, Axton! Axton!" pekik Nandra mencoba mendudukkan Axton lagi yang berkerut kening menahan sakit di punggungnya.
Axton hanya tersenyum dengan wajah yang sudah pucat. Nandra ketakutan. Ia melihat sekitar dan berusaha membawa Axton pergi dari tempat itu dengan memberdirikannya.
Axton berusaha bangun dengan sisa tenaganya. Nandra memapah Axton dengan merangkul tangan di pundaknya. Namun, saat Nandra akan membawanya pergi, lagi-lagi ....
DOR!!
"AXTON!" teriak Nandra yang ikut roboh karena menahan berat badan Axton di pundaknya.
Axton jatuh setelah kakinya tertembak dan membuatnya kini meringkuk di atas pasir merintih kesakitan. Nandra panik dan menangis. Ia tak tahu harus bagaimana.
Nandra melihat sekitar saat orang-orang Axton berusaha melindungi mereka berdua dengan segala jenis senjata digunakan untuk melumpuhkan musuh.
Nandra tak peduli dengan yang dilakukan orang-orang itu. Ia sangat cemas dengan kondisi Axton yang baginya sungguh memprihatinkan.
Nandra memeluk kepala Axton erat dan menangis. Seketika, Axton berhenti merintih. Tangannya bisa merasakan bayi dalam kandungan Nandra bergerak seperti tahu jika hal buruk sedang terjadi di sekitarnya.
"Hiks, kau berjanji padaku ... kau berjanji padaku akan ikut bersamaku. Kau ingin memastikan jika bayi yang kulahirkan nanti adalah anakmu. Kau sudah berjanji, Axton! Kau sudah berjanji dan kau harus hidup!" teriak Nandra dengan air mata sudah membanjiri wajahnya.
__ADS_1
Axton terdiam. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang tak karuan. Seketika, energinya seperti terisi kembali.
Axton masih bisa merasakan sakit di kaki dan punggungnya, tapi janjinya pada Nandra membuatnya kembali bangkit.
"Aku sudah berjanji dan aku bukan tipe lelaki yang ingkar janji. Akan kutepati janjiku, Nandra," ucap Axton meski suaranya bergetar, tapi masih terdengar jelas di telinga Nandra.
Calon Ibu dari bayi yang nantinya akan diberi nama Ryan, melepaskan dekapannya dan kembali menatap wajah Axton yang masih bisa tersenyum manis padanya.
Nandra tak bisa menghentikan tangis harunya. Ia mencium bibir Axton lembut dengan mata terpejam.
Axton bisa merasakan gelanyar aneh dalam hatinya dari ciuman yang Nandra berikan. Seperti sebuah ciuman yang tulus di mana ia tak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
"Sir! Sir! Ayo, kau bisa bertahan! Kami akan membawamu pergi dari sini," ucap Torin yang langsung menarik tangan Axton dan membantunya berdiri.
"Agh, sakit! Singkirkan tanganmu dari punggungku! Sini, gendong aku dari belakang," ucap Axton langsung emosi dan mendadak galak seketika.
Torin terkejut, tapi menurut. Ia menggendong Axton di punggungnya. Yuki ikut membantu Nandra berdiri dan melindungi di sampingnya.
Yuki memalingkan wajah karena tak sanggup melihat mayat Sergei yang masih membuka mata saat ajal menjemputnya. Yuki berusaha menahan tangisannya.
Arjuna dan Naomi masih terlihat sigap dengan yang mereka lakukan untuk memberikan kesempatan pada Axton serta lainnya untuk menyelamatkan diri.
"Hah, mereka banyak sekali, Naomi! Kau baik-baik saja?" tanya Arjuna dengan nafas tersengal, saling berpunggungan dengan bodyguard cantiknya.
"Yeah, kenapa, Tuan Muda? Kau lelah? Istirahatlah, akan kuberitahu jika sudah selesai," jawab Naomi menyindir.
Arjuna mendesis dan melirik Naomi tajam, tapi gadis Jepang itu mengabaikannya. Naomi kembali melakukan serangan dengan panah-panah dari senjata tembak otomatisnya seperti milik Lysa.
Arjuna dengan sigap menebas semua musuh dengan pedang Silent Blue di tangan kanan dan tangan kiri menembak menggunakan pistol.
Dua orang ini bertugas menjaga pantai sedang pasukan lainnya menghalau segala serangan di sekitar mansion.
"Tuan Muda! Axton berhasil melarikan diri," ucap Naomi melaporkan setelah melihat yacht yang dinaiki Axton serta lainnya berhasil meninggalkan dermaga.
"Bagus, hubungi tim BARACUDA untuk memastikan keselamatan mereka sampai ke titik penjemputan," perintah Arjuna cepat.
Naomi segera menghubungi tim pasukan air tersebut dari sambungan radio berfrekuensi khusus melalui earphone-nya.
Tak lama, muncul helikopter dari kubu 13 Demon Heads untuk mengevakuasi Arjuna dan Naomi yang masih bertahan di pantai.
Helikopter itu mendarat di pantai dan membuat terpaan anginnya menerbangkan pasir-pasir menerpa tubuh Arjuna serta Naomi. Keduanya memalingkan tubuh dan menutup mata.
"Arjuna! Kami sudah melumpuhkan semua penyerang! Ternyata ini bukan ulah William! Sepertinya, persidangan 13 Demon Heads akan ramai. Raja Khrisna yang mengirimkan orang-orang ini sebagai bentuk balas dendam karena Axton mengambil Nandra dan tewasnya Rahul. Kami menangkap salah satu penyerang dan memberikan gas halusinasi padanya," teriak Lopez dari bangku pilot helikopter setelah ia matikan mesin.
"WHAT?!" pekik Arjuna kaget bukan kepalang.
Naomi ikut terkejut. Keduanya saling berpandangan dan bergegas mendatangi helikopter di mana sudah ada Yusuke Tendo duduk di dalam.
Namun, mata Naomi dan Arjuna kembali melotot saat melihat seorang lelaki yang mereka kenal duduk di sebelah Yusuke seperti orang linglung.
"Rohan?!" pekik Arjuna menatapnya tajam.
"Yep, dialah penyerang itu. Raja Khrisna mengirim Rohan dan anak buahnya untuk membunuh Axton serta Nandra," jawab Yusuke memegangi Rohan dengan kedua tangan terborgol dan pandangan tak menentu.
Arjuna kini paham, penyerang yang diberikan gas halusinasi tersebut adalah Rohan, anak ketiga dari Raja Khrisna.
__ADS_1
***
wayooo jangan lupa like, vote poin koin vocernya ya. pastikan lagi eps2 yg belom di like karena keasyikan scroll dipencet itu jempolnya. jangan pelit. like gratis loh