
Di dalam Aula di mana Vesper, Han dan Ivan masih bekerja keras untuk bisa mendekati Madam yang dijaga ketat oleh dua penjaganya yang bertubuh besar.
Vesper kesulitan mendekati Sierra Becca karena di sekeliling wanita tua itu dipenuhi oleh orang-orang The Circle dan juga tentara militer yang melakukan perlawanan dengan aksi saling tembak.
Militer sepertinya berusaha untuk membawa Sierra Becca hidup-hidup untuk diadili, tapi bagi Vesper, pengadilan sesungguhnya untuk wanita tua itu adalah kematian.
"Sierra Becca!" teriak Vesper lantang saat ia melemparkan pisau Silent Blue tepat ke arah tubuh wanita tua yang duduk di singgasananya.
Namun, JLEB!! BRUKK!
Seringai wanita tua itu muncul saat pisau Vesper ditahan oleh salah satu anggota The Circle yang mengorbankan dirinya agar majikannya tak tewas.
"Oh, begitu ya. Baiklah, akan lemparkan semua senjataku padamu!" teriak Vesper lantang yang kesal bukan main karena semua senjata tajam yang ia tujukan pada Madam ditahan oleh tubuh anak buahnya yang rela mati untuknya.
Vesper terus melangkah maju sembari terus melemparkan pisau dari set Silent Blue yang ia sembunyikan di balik jas anti peluru tanpa jeda.
Han dan Ivan melindungi Vesper di samping kanan kiri agar ketua 13 Demon Heads itu tak terluka.
Perlahan, Sierra Becca terlihat panik karena Vesper semakin dekat dengannya. Saat pisau dalam saku jasnya telah habis, dengan cepat, Vesper menembakkan pelurunya dari pistol Vesper.
Satu persatu, anak buah Sierra Becca mulai berkurang karena merelakan dirinya tewas tertusuk dan tertembak oleh senjata Vesper.
Vesper melihat kesempatan ketika wanita tua itu mulai kehabisan pengawalnya. Ia terlihat panik ketika Vesper berlari kencang ke arahnya dengan pedang Silent Blue ia nyalakan lasernya.
Namun, BRUKK!!
KLANGG!! SRAKKK!!
"LILY!" teriak Han lantang saat Vesper di hantam dari sisi kiri dan kanan hingga tubuhnya tergencet diantara dua lelaki besar berkepala gundul yang menyerangnya bersamaan.
Vesper roboh dan pedangnya terlempar jauh dari tempatnya jatuh. Vesper merintih, tubuhnya serasa diremukkan dan kedua lengannya sakit, sakit untuk bergerak.
Han tak tinggal diam isterinya disakiti. Ivan melihat Han berlari meninggalkannya untuk menyelamatkan Vesper yang mulai didatangi oleh dua orang bertubuh besar.
"Harghh!"
"Agghh!" rintih salah seorang lelaki gundul yang memiliki tato di lengan ketika Han menaiki tubuh bagian belakangnya dan menariknya kuat ke belakang hingga orang itu mundur dengan cepat.
BUKK!!
"Agh!" rintih Han saat punggungnya sengaja ditabrakkan ke dinding agar cengkeraman di kepalanya terlepas.
Vesper menoleh ke belakang. Ia melihat suami tertuanya mengerang karena lelaki besar yang dinaikinya tak bisa melihat sebab wajahnya ditutup dekapan tangan Han.
Tubuh Han terus dibenturkan ke dinding dengan kuat hingga lelaki Asia itu lemas dan akhirnya roboh.
Lelaki gundul bertato itu membalik tubuhnya dan kini berdiri tegap dengan nafas menderu.
Ia meraih baju di dada Han, mengangkat tubuhnya ke atas dengan dua tangan. Han menahan dengan menjadikan kedua kakinya tumpuan di lutut lelaki itu hingga keduanya seperti sebuah segitiga siku.
Dua lelaki itu saling beradu kekuatan dan mengerang. Han menggunakan kukunya untuk mencakar lengan lelaki itu hingga ia mengerang kesakitan..
Han menggunakan satu kakinya untuk terus menendang paha kiri lelaki itu kuat, tapi lelaki besar itu mampu menahan serangan Han yang bertubi-tubi dan tetap bertahan dengan posisinya.
Namun seketika, SWINGG!! BRUKK!!
__ADS_1
"Arghh!!" Han merintih saat tubuhnya dilempar ke samping dan ia jatuh bergulung-gulung di lantai Aula menahan sakit karena tubuhnya terbentur dengan keras.
Lelaki itu terlihat marah karena kedua tangannya terluka terkena cakaran yang cukup panjang bahkan sampai berdarah.
Rasa perih mulai dirasakan lelaki itu. Ia mendatangi Han dengan langkah gusar. Han berusaha untuk bangun meski rasa sakit ia rasakan di seluruh bagian.
Ivan segera berlari mendatangi Han dan dengan sigap, DUAKK!!
"Aggg!" rintih lelaki itu saat ia kini ditabrak dari samping dan kepalanya dibenturkan oleh Ivan ke dinding dengan kuat.
Pria besar itu linglung dan terhuyung. Ivan dengan cepat mendatanginya dan KLEK! Mata lelaki itu melebar seketika saat ia memegangi lehernya.
Ivan tersenyum menyeringai. Lelaki itu panik dan terlihat ketakutan. Kalung pemenggal kini terpasang di lehernya. Lelaki besar itu lalu berlari mengejar Ivan yang kini mendatangi Han.
Mata Han terbelalak saat melihat jas anti peluru Ivan ditarik hingga ia mundur ke belakang. Ivan di dekap kuat dari belakang. Ivan memberontak, tapi tenaganya kalah besar.
"Ivan! Melompat!" teriak Han.
Ivan melotot dan segera melakukan yang Han perintahkan. Ia melontarkan tubuhnya dengan melompat ke belakang. Seketika, DOR! DOR!
"Arrghh!" rintih lelaki itu saat Han menembak dua pahanya ketika Ivan melemparkan kakinya ke belakang seperti salto.
Ivan mendarat dengan kedua kakinya di belakang lelaki besar itu, berdiri sembari menarik kalung pemenggal kuat.
Lelaki itu terkejut dan takut terpenggal. Ia langsung jatuh bersimpuh menahan sakit karena kain di pahanya tak memiliki pelapis anti peluru.
Ivan kembali menarik kalung pemenggal itu dan membuat lelaki itu jatuh terlentang.
Matanya terbelalak saat Ivan dengan cepat memasangkan dua buah besi seperti gelang di kedua tangan lelaki itu.
Ivan hanya tersenyum. Pria gundul itu terlihat gugup ketika melihat gelang berwarna silver memiliki lampu indikator warna biru di sekelilingnya, membelenggu pergelangan tangannya.
"Aksesoris baru. Itu adalah gelang pemenggal. Jika kami tak bisa memenggal kepalamu, maka kedua tanganmu sebagai gantinya. Baik-baiklah pada Ivan, hanya dia yang bisa membukanya," ucap Han menunjuknya dan pria besar itu menatap Ivan dengan nafas tersengal.
"Duduk diam dan jangan bergerak jika masih ingin hidup," ucap Ivan dengan bahasa isyarat, tapi lelaki itu tak paham.
"Stay," ucap Han menunjuknya.
Lelaki itu menelan ludah saat Ivan dan Han meninggalkannya begitu saja.
Dua anggota dewan itu mendatangi lelaki gundul yang lain di mana ia kini sedang sibuk melawan Vesper yang terus mengelak dari tangkapannya.
"Hmm, dia masih gesit. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu dengannya di Colombia. Aku mengajaknya berdansa. Yah, banyak yang bilang jika kami serasi. Aku akan bergabung dan berdansa lagi dengannya," kata Ivan dengan bahasa isyarat.
Han yang mengerti gerakan itu langsung melotot tajam. Ia menjambak rambut Ivan kuat saat lelaki itu melangkah, berjalan meninggalkannya.
Ivan mengerang dan melepaskan cengkeraman tangan Han di rambut gondrongnya. Nafas Ivan menderu dan saling melotot tajam dengan Han.
"Dasar tak tahu diri! Kau sudah punya isteri dan masih mencoba menggoda isteriku! Aku tak segan menjadikan Sherly janda!" pekik Han menunjuknya dengan wajah garang.
Ivan malah terkekeh. Han kesal bukan main. Ia segera berlari mendekati isterinya yang mulai terlihat kewalahan melawan lelaki yang tubuhnya tiga kali lebih besar darinya.
Vesper yang di dekap dari belakang tetap berusaha untuk melawan. Ia menginjak punggung kaki lelaki itu secara bergantian, tapi tak berdampak apapun.
Vesper juga membenturkan kepala belakangnya ke wajah pria itu, tapi tak membuatnya lengah.
__ADS_1
"Kau makan apa, huh? Dasar manusia badak!" pekik Vesper kesal karena semua pukulannya tak memberikan dampak apapun.
"Kau wangi, Nyonya Vesper. Aku suka baumu," ucap lelaki gundul itu malah mencium leher Vesper menikmati aromanya.
"Kau pikir siapa yang kau sentuh, Keparat!" teriak Han murka dan seketika, KLEK!! BUAKK!!
"Agg!!" rintih lelaki gundul itu yang terkejut saat lehernya dipakaikan kalung pemenggal dan Han langsung memukul kepalanya kuat dari samping hingga ia terhuyung.
Vesper bernafas lega karena dekapan lelaki itu terlepas. Vesper membalik tubuhnya melihat Han memukul wajah lelaki itu bertubi-tubi dengan kepalan tangan dan membuatnya mundur beberapa langkah.
"Kak Han! Dia menyentuh dadaku!" teriak Vesper kesal menunjuk lelaki itu.
Mata Han melotot. Ia semakin murka. Vesper tersenyum licik. Ia sengaja berbohong dan memanfaatkan amarah suaminya yang dikenal gampang emosian itu.
"Akan kupotong tanganmu!" teriak Han marah.
DUAKK!!
Han melakukan putaran dengan sebuah tendangan kuat mengenai samping kepala lelaki itu hingga akhirnya ia roboh meski masih mampu menumpu tubuhnya dengan kedua tangan.
Han berlari ke arahnya saat lelaki itu kembali berdiri. Namun, Han menjatuhkan tubuhnya ketika lelaki itu siap melancarkan pukulan kepalan tangan kanan ke wajah Han.
DUAKK!! BRUKK!!
"Arrghhh!"
Han meluncur dan menendang kedua lutut lelaki besar itu kuat hingga ia jatuh berlutut.
Han segera berjongkok dan KLEK! KLEK!
Lelaki itu terkejut dan menoleh saat melihat pergelangan kakinya dipakaikan sebuah gelang besi berwarna silver seperti di lehernya.
JLEB! JLEB!
"Harghh!" rintih lelaki itu saat ia tak menyadari ketika Han sudah berjongkok di depannya dan menancapkan dua buah belati di punggung tangannya.
"Inilah akibatnya jika berani menyentuh isteriku," ucap Han bengis sembari mencabut dua belatinya.
Lelaki itu jatuh tengkurap dengan kedua tangan berdarah hebat. Ia mengerang kesakitan hingga kedua tangannya bergetar.
Dua lelaki gundul itu saling berpandangan di kejauhan. Ivan tersenyum mengejek saat melewati keduanya.
Ketika Han dan Ivan kembali berdiri berdampingan, mereka terkejut karena Vesper tak terlihat.
"Di mana dia?" tanya Han melebarkan matanya melihat sekeliling.
Ivan menepuk pundak Han kuat dan dua pria itu terkejut saat melihat Vesper berhadapan dengan Madam yang duduk di singgasananya.
Keduanya semakin kaget saat menyadari jika ternyata kursi yang diduduki Madam memiliki persenjataan untuk menyerang.
***
Aduh jadwal updatenya ambrul adul. Maapkan gaes dan terima kasih udah setia menunggu lanjutan ceritanya. Makasih juga tips koinnya. 4YM yg utang 1 eps nyusul ya. Lele lelah~ Akan lele up begitu luang. Lele padamu sampai ketemu besok lagi. Pegel uyy😩
__ADS_1