Secret Mission

Secret Mission
Dinner & Business*


__ADS_3

Di sisi lain, mansion Han yang kini di tempati Arjuna, Amerika.


"Bagaimana?"


"Yup, si gadis bernama Sial itu sepertinya masih mencintai agent CIA, Mom. Sudahlah, aku malas harus bersandiwara seperti ini. Suruh orang lain saja melakukannya!" pekik Arjuna kesal yang berada di pinggir kolam renang bertelanjang dada.


"Oh ya? Kudengar dari Alex jika kau sempat mencium dan memeluk Sia. Yakin, kau tak menyukainya?" tanya Vesper berkesan menyindir.


"Kau gila? Gadis lemah, jelek begitu bukan tipeku," jawabnya cepat.


"Oh, lalu seperti apa? Kenapa kau tak mencari pacar? Ku lihat teman-teman Jonathan dan Zaid cantik-cantik," ledek Vesper dari sambungan teleponnya.


Arjuna memejamkan mata merasa pembicaraan ini malah semakin menyudutkannya.


Arjuna menoleh saat ia menyadari seseorang berjalan mendekatinya sembari membawa map.


"Tuan muda. Tuan Axton menghubungi dan meminta Anda untuk menemuinya perihal wine di tempat Tuan Torin," ucap sekretaris Arjuna asal Jepang dengan pakaian formal seperti wanita kantoran.


"Oh, oke," jawab Arjuna pelan.


Gadis cantik itu tersenyum. Namun, saat ia akan pergi, Arjuna menahannya.


"Mm, Naomi. Katakan pada Axton dan Torin aku mengajak mereka makan malam di kebun anggur untuk membahas hal ini. Aku ... bosan dan merindukan suasana alam. Jadi, katakan padanya agar menemuiku di kebun saja. Aku sedang malas ke kantor Torin," ucapnya lesu.


Naomi mengangguk dengan senyum manisnya. Saat ia akan berpaling, Arjuna kembali memanggilnya.


"Dan satu hal penting!" ucapnya lantang dan membuat Naomi membalik tubuhnya lagi.


"Apa itu?"


"Kau ... pakailah gaun yang indah. Anggaplah pertemuan nanti malam seperti jamuan special. Kau tahu 'kan jika Axton dan Torin pasti membawa wanita-wanita mereka. Berdandanlah yang cantik. Ja-jangan berpakaian seperti itu, santailah," ucap Arjuna gugup menunjuknya dengan ponsel masih dalam genggaman tangan kiri.


Naomi tersenyum dan mengangguk. "Ada lagi?"


Arjuna menggeleng. Naomi pamit dan pergi dari hadapan Tuan Mudanya. Arjuna masih diam menatap kepergian sekretarisnya tanpa ekspresi.


"Hehehe, aku mendengarnya. Oh, jadi seperti itu gadis pilihanmu? Baiklah. Aku penasaran reaksi Kak Han jika tahu hal ini, pasti seru," ucap Vesper tiba-tiba dari telepon yang masih menyala.


"A-apa yang kau katakan, Mom?" tanya Arjuna gugup karena ia lupa jika sambungan teleponnya masih tersambung.


"Baiklah, sampai jumpa, Juna sayang."


Arjuna kaget saat Vesper menutup panggilan teleponnya begitu saja. Jantungnya tiba-tiba berdebar, tapi pikirannya kembali teringat akan sosok William.


"Hmm, orang itu. Mama, Axton bahkan Nyonya Manda membiarkan ia masuk ke dalam jajaran 13 Demon Heads. Apa yang mereka rencanakan?" guman Arjuna menyipitkan mata.


Hari berikutnya menjelang sore.


William yang sudah tiba di Boston segera melajukan mobil ke mansion Axton. Saat mobilnya akan berbelok dan memasuki wilayah Axton, tiba-tiba ....


BLUKK! BLUKK!


CITTT!


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Agh, shit! Apa-apaan ini?!" pekik William kesal karena ban mobilnya terkena benda tajam hingga meletus.

__ADS_1


Dengan tergesa, William mengemudikan mobilnya ke pinggir. William berdecak kesal dan keluar dari mobil untuk mengecek ban depan.


Saat William membungkuk, tiba-tiba ....


CEKREK!


"Ikut kami atau isi kepalamu akan berceceran di jalanan, William Tolya," ucap seorang lelaki memasang wajah dingin dengan moncong pistol menempel di pelipis kanan agent muda itu.


William menaikkan tubuhnya. Saat ia berpikir bisa menyingkirkan lelaki tersebut, ia tertegun karena muncul banyak lelaki berpakaian serupa.


"Let me guess. The Circle?" tanya William melirik tajam dengan kedua tangan ke atas.


"Clever," jawab lelaki itu tersenyum tipis dan meminta William masuk ke dalam mobil.


William terpaksa menurut karena semua lelaki menunjukkan senjata dan terlihat tangguh, bukan seperti bodyguard biasa melainkan orang-orang terlatih.


William meninggalkan mobil milik Cecil di jalanan dan ikut ke mobil anak buah The Circle.


Kepala William ditutup kain hitam dengan bagian bawah memiliki tali yang ditarik kuat hingga kepalanya tertutup sempurna sampai ke leher.


Lelaki tampan itu terkejut saat kedua telinganya dipakaikan sebuah headphone dan terdengar lantunan musik metal memekakkan telinga.


Kedua tangan dan kaki William diborgol. Mulutnya dilakban. Agent itu tak bisa berkutik. Ia sungguh seperti orang buta.


"Sial! Mereka pasti berpikir jika aku akan melakukan penelusuran selama perjalanan. Mereka cerdik. Mereka bukan orang sembarangan," geram William dalam hati karena ia tak bisa berpikir jernih.


Bahkan mobil yang ditumpanginya melaju sangat cepat seperti terburu-buru. Mereka seperti sengaja melewati jalan berliku dan jelek. Terasa goncangan saat William duduk di bangku hingga tubuhnya terpontang-panting.


Hingga tiba-tiba, ia merasakan angin bertiup kencang menerpa tubuhnya. Kedua borgol di kedua kakinya dilepas. William ditarik dan ia berlari entah menuju ke mana.


"Oh ... shit! Mau dibawa kemana aku?!" pekiknya dalam hati.


William mencoba menenangkan hatinya. Musik gaduh membuat pikirannya kacau ditambah teriakan-teriakan dari vokalis membuat kupingnya berdengung. William kehilangan konsentrasinya.


"Tenang, William ... ingat pelatihanmu ... tenang ... tenang ...," ucapnya dalam hati dan berulang kali menarik nafas agar bisa mengendalikan kepanikannya.


Baru saja William bisa menenangkan hati dan pikirannya, ia merasakan helikopter tersebut sudah mendarat.


William kembali ditarik keluar dari helikopter. Ia merasakan seperti memasuki sebuah lift. Terasa dari kedua kakinya yang memijak, tanah tersebut seperti membawanya turun.


"Aku sudah berada di sebuah gedung," tebak William dalam hati.


Namun, hanya sekejap, ia kembali di tarik. William memprediksi jika ia hanya menuruni sekitar tiga lantai saja karena lift tersebut turun dengan cepat.


"Bukan gedung. Pasti sebuah rumah. Dia sangat kaya. Rumah yang memiliki fasilitas lift, atau mungkin seperti milik Axton? Tidak ... lebih besar lagi. Rumah yang memiliki bangunan tingkat lebih dari 3," tebaknya lagi dalam hati.


SRETT!


"Emph!" kejut William saat penutup kainnya terbuka dan ia melihat sosok lelaki yang terlihat berkuasa.


William gugup dan melihat sekeliling. Banyak lelaki berpakaian rapi dan bersenjata. Termasuk CCTV di sudut ruangan.


William berdiri dengan tegap, tapi mulutnya masih dilakban dan kedua tangannya di borgol.


"William Tolya. Didikan Agent Rika Yosela. Welcome to my house," ucap lelaki yang tak ia kenali menyapanya ramah.


William menelan ludah dan mengangguk pelan. William di dudukkan pada sebuah kursi besi dan ia pun menurut.

__ADS_1


Lelaki itu menyenderkan pinggangnya ke pinggir meja kerja dengan melipat kedua tangan depan dada.


"Aku ingin banyak bicara kali ini dan, kau ingat baik-baik. Aku tak akan mengulang ucapanku," ucapnya menunjuk William dan agent muda itu mengangguk pelan.


"Lakukan yang kuperintahkan, maka ... akan kubiarkan Cecil dan Rika hidup. Termasuk kawanmu Jack, Ara dan Catherine," ucapnya sembari mendatangi kursi kerjanya.


William yang dibungkam mulutnya dan kedua tangan diborgol ke besi pada sandaran kursi yang dicor di lantai, membuatnya tak bisa memberontak selain mendengarkan.


William menatap lelaki itu tajam hingga ia terkejut, saat melihat sebuah tayangan di lima monitor 21" di depannya. Tampak gerak-gerik dari kelima orang yang disebutkan lelaki tak dikenalnya.


Mata William terbelalak. Ia sungguh tak menyangka jika lelaki itu telah memantau pergerakan lima orang yang dikenalinya.


Nafas William menderu. Ia takut jika lima orang itu dilukai oleh orang tak dikenal tersebut.


"Pernah mendengar GIGA? Hmm ... aku rasa belum. Mereka, dalam pengawasan GIGA milikku, termasuk gerak-gerikmu selama ini, William. Aku melihat semuanya," ucap lelaki itu yang kini duduk di kursi kebesarannya tersenyum miring.


William sangat penasaran siapa lelaki di depannya ini.


"Apakah dia salah satu anggota 13 Demon Heads? Bukan ... ia anggota The Circle. Oh, apakah ... 8 Mens? Ya, pasti dia salah satunya. Sial! Berapa banyak jumlah penjahat ini?!" pekik William emosi dalam hati.


Lelaki itu tersenyum tipis. Sepertinya ia tahu jika William menggerutu dalam hati.


"Syarat dariku mudah. Aku tahu kau sudah bertemu dengan Adrian Axton dan anak dari Raja Khrisna. Jamal dan Rahul. Kau juga bertemu anak dari Vesper, Kim Arjuna. Lalu ... tugas dari CIA, memintamu melenyapkan Antony Boleslav. Wah, kau bertemu banyak mafia dalam waktu yang sangat singkat. Kau hebat, William. Kau memiliki banyak keberuntungan," ucap lelaki itu lagi memujinya.


William menyipitkan mata. Firasatnya mengatakan jika hal buruk akan terjadi, terasa sungguh nyata.


"Tahu yang kuinginkan? Yup. 5 nyawa ditukar 5 nyawa. Bunuh Axton, Jamal, Rahul, Arjuna dan Antony Boleslav. Maka, 5 kawanmu selamat," ucap lelaki itu santai.


"Ergghh! Emmphh!"


Lelaki itu tersenyum tipis melihat William seperti protes padanya, tapi suaranya tertahan karena mulutnya dilakban.


"Menolak? Dia akan menerima akibatnya," ucapnya sembari menunjuk layar dan terlihat wajah SIA sedang berbelanja bersama seorang wanita, tapi wajahnya tak terlihat karena memakai kacamata hitam dan topi besar.


Nafas William menderu. Ia tak ingin Sia terkena imbas dari kesepakatan sepihak ini.


"Ingat William. Yang kau bunuh itu, para penjahat. Mereka itu tero*is. Kau biarkan para iblis itu hidup dan membunuh orang-orang tak berdosa? Jika sampai sipil tewas, itu karena kau memihak para pembunuh. Bahkan Sia ikut terkena dampak karena kau salah memihak. Selain itu, Boleslav bukan ayah kandung Sia. Julius Adam sudah mati bahkan di tangan anak tirinya. Rio mati di tangan Sia. Kehidupan para mafia itu bagai sebuah rantai yang saling mengikat. Para mafia itu bukan siapa-siapamu," ucap lelaki itu penuh penegasan.


William terlihat bingung, wajahnya tertunduk. Ia terlihat pusing membuat keputusan.


"Kenapa menjadi semakin rumit? Agh, bagaimana ini? Sia bahkan ikut terlibat," keluhnya dalam hati terlihat tertekan akan hal ini.


William menaikkan pandangan. Ia seperti mengajak bicara lelaki itu. Mata lelaki tersebut menyipit. Ia meminta kepada salah satu anak buahnya yang berdiri dekat William untuk membuka lakban di mulutnya.


SRETTT!


"Hah! Hmpf, siapa kau?!" teriaknya lantang menyuarakan isi hatinya yang sedari tadi terpendam.


"Denzel Flame. Jadi ... terima, atau menolak?" tanyanya tersenyum miring.



 


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST

__ADS_1


__ADS_2