
Selena dicekik! Matanya membulat penuh, Selena menatap William tajam, ia tak bisa bernafas, urat-urat dilehernya mulai menegang, Selena mulai kesulitan bernafas. William mencengkeram kuat lehernya dengan tatapan membunuh. Seringainya keluar.
Mereka berbicara bahasa Inggris.
"Thank you, Selena. Kau sudah melayaniku dengan baik selama ini tanpa ku minta. Tapi.. aku sudah bosan dan sayangnya aku masih butuh pelayananmu sekali lagi. Jika kau menolak, kubunuh kau saat ini juga, jika kau menerimanya, akan kubiarkan kau hidup sekali lagi. Bagaimana? Take it or leave it?" Tanya William menaikkan kedua alisnya dan tersenyum licik.
Dahi Selena berkerut. Ia mengangguk sekuat tenaga. William tersenyum.
"Good girl."
William pun melepaskan cengkramannya. Selena roboh dan menyender pada dinding. Ia memegangi lehernya yang sakit. William jongkok di depannya dan menatapnya seksama. Ia membelai pipi Selena tapi Selena memalingkan wajahnya. William senang kini Selena sudah membencinya sepenuhnya.
"Kau akan menerima balasannya William." Ucap Selena menatapnya tajam.
"Hmm.. aku sudah sering mendengarnya." Jawabnya enteng.
Segera William menelepon seseorang. Selena diam menatapnya seksama. William berdiri dan merapikan jasnya.
"Kau akan dibawa ke suatu tempat. Sebaiknya kau katakan sejujurnya dan kau akan dilepaskan karena kami masih membutuhkanmu. Bekerjasamalah maka hukumanmu akan lebih ringan." Ucap William merapikan dasi yang dipakainya di depan cermin lemari pakaiannya.
BROOM..
Sebuah mobil merapat di pinggir trotoar depan apartment William dan ia pun menyadarinya. William mendekati Selena dengan langkah cepat dan menariknya hingga ia berdiri. William membawanya keluar dari apartmennya dan berjalan menuju lift. Tangan Selena dipegang kuat olehnya. Selena diam saja. Didepan, Catherine sudah menantinya bersama para agent lainnya. Selena menatap William tajam.
"Who are they?" Tanya Selena curiga.
Selena segera dimasukkan ke dalam mobil dan Catherine duduk disampingnya. Tiba-tiba ponsel William berbunyi. Sia meneleponnya. Senyuman muncul di wajah William, ia pun mengangkatnya.
"Hallo,"
"WILLIAMMM! HELP! AAAA LET ME GO, BASTARDS!" teriak Sia di ponselnya.
William panik seketika.
"Where are you?!" Pekik William cemas.
__ADS_1
"AAAA.. WILLIAM.. NO! DON'T TOUCH ME! WILLIAM!" teriaknya lagi.
William langsung mengotak atik ponselnya. Catherine dan yang lainnya bingung.
"Catherine, aku akan menyusul. Ada yang harus kulakukan." Ucapnya tergesa dan segera berlari menuju ke mobilnya.
"William! Where are you going? Ahh.. whatever.." ucap Catherine malas karena William sudah menginjak pedal gas mobilnya dan melaju kencang.
TUT..
"Yes Will, what's up?" Tanya Jack santai.
"Cari lokasi nomor ponsel ini. Cepat!" Ucap William memerintah.
"Oke.. state the number." Tanyanya cepat.
William menyebutkan nomor ponsel Sia. Jack langsung menginputkan nomor itu di keyboard komputernya.
"Oke, i got it. Kimberly Hills. Menuju ke Appomattox River. Apa yang kau lakukan tengah malam ke sungai, William?" Tanya Jack heran.
"Menyebalkan. Jika dia minta tolong lagi aku akan pura-pura tidak dengar." Ucap Jack kesal yang ternyata sedang asik main video games di markas CIA yang menjadi rumah tinggalnya karena harus lembur setiap hari membuat berbagai macam peralatan teknologi pendukung untuk agent-agent CIA.
William melaju kencang mobil Mustang hitamnya ke lokasi yang Jack sebutkan. William sangat mencemaskan keadaan Sia. Dia tak pernah sepanik ini. Perasaan yang hampir sama seperti saat ibunya akan meninggal dimana ia tak tahu harus minta bantuan kepada siapa untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
Saat itu William masih 10 tahun dan hanya hidup berdua dengan ibunya setelah kematian ayahnya. Mereka hidup disebuah pemukiman kumuh, William menggedor semua pintu kamar di pemukimannya tapi tak ada yang membukakan pintu untuknya karena malam sudah sangat larut.
Ibunya sudah muntah darah, menggigil dan wajahnya pucat. William menangis disepanjang jalan mencoba mencari bantuan. Akhirnya ia nekat membawa ibunya seorang diri ke rumah sakit. Ia meletakkan ibunya diatas selimut dan melilitkannya diseluruh tubuh ibunya. Ia mengikat selimut itu dengan tali. William menyeret selimut itu sampai ke jalanan dengan ibunya terbungkus di dalam selimut itu.
William sudah berkeringat banyak karena jarak rumah sakit yang jauh dari pemukimannya. Kalaupun ada orang yang melihatnya mereka hanya iba tapi tak membantu. William semakin sedih dan sakit hati. Dia tak menyerah meski wajahnya sudah basah dengar air matanya.
Sampai di depan pintu IGD saat satpam rumah sakit menolongnya ternyata ibunya sudah tiada. Ia meninggal saat perjalanan menuju ke rumah sakit. William menangis terisak di depan pintu IGD rumah sakit. Ia memeluk ibunya yang sudah terbujur kaku dengan air mata yang tak berhenti menetes dipipinya. Ia menjerit dan berteriak lantang. Ia begitu sakit hati pada semua orang yang tak memperdulikan mereka dan hanya menatap tanpa membantunya.
Satpam dan para suster yang melihat saat itu begitu iba pada kondisi William. Akhirnya mereka pun membantu memakamkan jenazah ibunya setelah para petugas dirumah sakit memohon pada pengelola rumah sakit untuk menyemayamkan jenazah ibu William dengan layak.
Rencananya William akan dibawa ke sebuah panti asuhan oleh pihak rumah sakit tapi saat diperjalanan William malah kabur. Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia tak mau berkumpul dengan orang-orang yang tak ia kenal bahkan harus menganggap mereka sebagai keluarga.
__ADS_1
Saat ia bertemu sebuah jembatan pagi itu, ia berdiri di atas pagar jembatan dan bermaksud bunuh diri agar bisa menyusul ayah ibunya. Saat itulah Rika sedang melintas dan melihat William melompat dari atas jembatan. Rika panik seketika dan meminta sopir menghentikan kendaraannya.
Rika keluar dari mobil dan melihat William jatuh tercebur ke dalam sungai. Ia meminta pada sopir agar dibawa ke bawah jembatan. Sungguh beruntung, William selamat dan hanya pingsan. Dari situlah Rika membawanya dan mengadopsinya yang akhirnya menjadikan William seorang agent rahasia.
***
William telah sampai ke pinggir sungai Appomattox tapi tak melihat keberadaan Sia. William makin cemas dan panik. Ia berlari menyusuri pinggir sungai yang redup itu dan hanya cahaya bulan sebagai penolongnya malam itu. Terdengar suara orang berbincang dari kejauhan dan suara tangisan. William langsung berlari sekencang - kencangnya. Ia melihat Sia sudah ditelanjangi dan sudah dipegangi kuat oleh seorang lelaki dan lelaki satunya sedang mengarahkan miliknya di liang Sia.
William marah besar, ia langsung mendatangi kedua orang itu dan BUAKK! BUKK! BUKK! BUKK! William menendang kuat lelaki yang terlihat sibuk memasukkan miliknya diliang Sia hingga jatuh terlentang, ia memukul wajahnya 3 kali hingga babak belur dan KRAKK! "AAAARGGGG!!" Teriak lelaki itu yang kejantannya diinjak kuat oleh William dengan wajah bengis terlihat diwajahnya dan DOR! William menuntaskannya dengan sebuah tembakan di kepalanya. Lelaki itu tewas seketika dengan babak belur diwajahnya.
Lelaki satunya yang memegangi tangan Sia langsung berdiri dan berlari karena panik tapi DOR! BYUURR.. Lelaki itu ditembak tepat dibelakang kepalanya dan langsung tercebur dipinggir sungai. Mayatnya dibawa oleh arus air sungai malam itu. Nafas William menderu, matanya melolot, ia begitu marah.
William segera menyarungkan kembali pistolnya ke balik pinggangnya. Ia mendatangi Sia yang sudah menangis terisak dan terlentang telanjang di atas rumput. William begitu sedih melihatnya karena wajah Sia lebam dipukul oleh para lelaki itu. William ikut gemetaran dan langsung membuka jasnya. Ia mendudukkan Sia dan langsung menyelimuti tubuh bagian atasnya.
Sia menangis terisak, William memeluknya erat. William ikut sedih. Hatinya berkecamuk antara sedih dan marah diwaktu bersamaan seperti saat kehilangan ibunya. William menguatkan hatinya, ia menggendong Sia dan membawanya kembali ke mobil meninggalkan mayat lelaki telanjang itu dipinggir sungai. William tak memperdulikannya, ia sengaja melakukannya.
William mendudukkan Sia di kursi belakang dan menidurkannya. Sia masih menangis sedih. Ia meringkuk di kursi belakang mobilnya. William begitu iba padanya. Segera ia menutup pintu mobilnya. William berdiri di samping pintu mobilnya. "AARGGHHHHH!" ia berteriak sangat kencang dan menendang velg mobilnya berulang kali sebagai bentuk kemarahannya.
Sia menatap William dari balik kaca jendela mobil dalam tangisannya. Amarah William mereda karena sudah ia luapkan, ia segera masuk ke kursi kemudi mobil dan langsung melaju kendaraannya kencang kembali ke apartmennya. William langsung kembali membuka kemejanya dan memakaikan ke badan Sia.
Sia hanya diam tertunduk pasrah dengan yang William lakukan. William kembali menggendong Sia dan menutup tubuh bagian bawahnya dengan jasnya. William buru-buru membawa Sia masuk ke rumahnya agar tak terlihat orang. Segera Sia ditidurkan di ranjangnya. William mengambilkan Sia minum. Sia pun meminumnya dengan tangan yang masih gemetaran. William begitu sedih melihat keadaan Sia.
Ia mengambil gelas Sia dan meletakkannya diatas meja. William menatap wajah Sia seksama yang tertunduk sedari tadi dan mendekap erat kedua tangannya sedari tadi tak mau menyentuh William. Segera William memeluk Sia erat, ia memejamkan matanya karena merasa bersalah sudah meninggalkannya karena pekerjaannya. Sia kembali menangis di pelukan William.
"Sorry Sia.. I am really, really sorry.." ucap William lirih.
Sia hanya diam saja tak menjawab, hal itu membuat William makin sedih. William kembali menguatkan hatinya dan membopong Sia lagi. Ia membawanya ke bathup dan memandikannya. Tubuh Sia kotor terkena rumput dan tanah. Ia juga mengelap wajahnya dengan penuh perhatian. Sia diam saja tertunduk tak mau melihat William.
William tahu Sia pasti kecewa padanya. William tak menyalahkannya dan ikut diam. Ia fokus membersihkan tubuh Sia dan mengobati luka di wajahnya. Setelah selesai, kembali William membawanya ke atas ranjang dan memakaikan baju miliknya ke tubuh Sia. William merebahkan Sia dan menyelimutinya. William ikut tidur disampingnya dan meletakkan kepala Sia dibahunya. William memeluknya erat dan menciumi kepalanya.
"Aku tak akan meninggalkanmu lagi, Sia. Aku berjanji. Kau percaya padaku?" Tanya William lirih menatap langit-langit di kamarnya dengan wajah sendu.
Sia menganggukkan kepalanya pelan. William begitu lega Sia menerimanya kembali. William mencium kening Sia sangat lama dengan penuh perasaan. Perlahan Sia memeluk William. Terlihat senyum mengembang di wajah William.
"I'm yours, Sia.. I'm yours.." ucap William dengan seluruh perasaan dihatinya.
__ADS_1
William sudah memantapkan hatinya. Ia sungguh mencintai Sia dan berjanji akan melindunginya.