
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
---- back to Story :
Tim Guatemala yang dipimpin oleh Red menuju ke sebuah rumah sewa yang akan dijadikan sebagai markas sementara selama menjalankan misi di tempat tersebut.
Terlihat para anggota The Shadow sudah menempati rumah tersebut dengan perlengkapan serta persenjataan yang tersedia.
Sebuah kamar dijadikan pusat komando dengan alat komunikasi dan petugas di sana yang akan memantau pergerakan tim Red nantinya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Baiklah. Kita akan berangkat pukul 3 dini hari. Jadi, pastikan semua perlengkapan kalian sudah disiapkan sebelum tidur," tegas Red dan anggota timnya mengangguk paham.
Salah satu anggota The Shadow mengantarkan para tamu ke kamar masing-masing yang di tempati dua orang.
Sia satu kamar dengan Yuki. Terlihat Sia masih sungkan dengan mentornya. Yuki menyadari jika sedari tadi Sia mencuri-curi pandang padanya.
"Hei, ini bukan di Camp Militer. Santai saja, tapi ingat yang sudah kau pelajari saat berlatih di sana. Gunakanlah senjata yang cocok untukmu. Kau pintar menembak dengan pistol. Jadikan benda itu sebagai senjata andalanmu," ucap Yuki menegaskan.
Sia mengangguk pelan. Ia kini terlihat sedikit santai karena sikap Yuki berbeda, tak seperti saat ia menjadi instrukturnya ketika di Camp Militer, China.
Yuki dalam ingatannya begitu galak dan garang. Meski demikian, Yuki sangat tangguh dan tangkas dalam bertempur. Sia mengagumi gadis Asia di depannya ini.
Yuki membantu Sia mengemasi perlengkapannya di tas ransel khusus. Sia sudah menyiapkan berbagai bekal makanan termasuk suplemen selama misi berlangsung.
Diperkirakan akan memerlukan waktu 3 hari untuk menyelesaikan misi karena medan menuju ke lokasi tersebut cukup sulit.
Kawasan hutan yang dikenal dengan sebutan Biotopo Protegido San Miguel La Palotada El Zotz dekat dengan situs peninggalan Suku Maya, di mana dulu ada sebuah pemukiman di sekitar area itu.
__ADS_1
Namun, ketika tim Komandan Zeno tiba, tempat tersebut sudah luluh lantah seperti mengalami penyerangan dan menewaskan semua warga, tak ada yang selamat.
Ketika tim tersebut menelusuri kawasan untuk mencari tahu apa yang terjadi, mereka malah disergap oleh pasukan khusus dan ditangkap.
Orang-orang itu kemudian dijatuhi hukuman mati karena pihak militer yang mengirimkan mereka cuci tangan, tak mau disalahkan atas tragedi pembantaian tersebut.
Pemerintah dari negara orang-orang itu berasal tak mengakui keberadaan mereka. Bahkan, riwayat misi selama masa tugas bertahun-tahun di militer ketujuh orang tersebut dilenyapkan, agar PBB dan pemerintah Guatemala tak menyalahkan agensi.
Tentu saja hal ini menimbulkan dendam dan kebencian di hati tujuh anggota tim yang ditugaskan karena malah dikambing hitamkan oleh pemerintah.
Oleh karena itu, saat Tuan Charles meminta orang-orang tersebut membelot dari militer yang menaungi mereka sebelumnya untuk masuk ke dalam dunia mafia, tanpa pikir panjang, ketujuh orang itu langsung menyetujuinya meski Hideaki memiliki maksud terselubung di dalamnya.
Akhirnya, waktu untuk menjalankan misi tiba. Red membangunkan semua orang untuk segera bersiap. Sia yang masih mengantuk memaksa dirinya bangun.
Dua buah mobil sudah disiapkan untuk membawa tim Guatemala yang dipimpin Red dengan dua sopir anggota The Shadow ikut mendampingi.
Jalanan yang gelap dan hutan rimbun, membuat suasana horor selama perjalanan. Semua orang terdiam melihat kanan kiri mereka yang hanya dipenuhi semak dan pepohonan.
Hingga akhirnya, mereka sampai di titik penurunan di mana mobil tak bisa masuk lebih dalam lagi karena medan yang tak mendukung.
"Aku dan Jonathan akan menunggu di sini. Berhati-hatilah," ucap BinBin kepada orang-orang yang sudah turun dan berkumpul untuk mulai menjelajah.
Red dan lainnya mengangguk. Red memimpin tim dengan berjalan terlebih dahulu mengikuti arahan GPS.
Sia dan lainnya mengikuti di belakang sesuai dengan urutan dalam rencana yang telah di susun.
"Tes ... tes," panggil Jonathan mengetes sambungan komunikasi dengan tim Guatemala.
"Ya, Jo. Kami baru berjalan 5 meter. Tentu saja sambungan komunikasi masih bagus," jawab Red menggelengkan kepala.
"Hehe, kalian udah gak keliatan. Gelap banget, serem! Hati-hati. Kata om Eko, di hutan banyak hantunya. Tempat buang jin dan buang mayat," ucapnya berbisik.
"Jonathan!" pekik Yuki ketakutan seketika.
__ADS_1
"Sstt! Jangan berisik," tegas Torin melotot pada gadis berambut merah muda yang ditutupi topi berwarna hijau mirip dedaunan.
"Maaf," jawab Yuki meringis.
Sia dan lainnya tersenyum. Sebenarnya, Sia juga takut. Hal ini mengingatkannya saat jelajah hutan di malam hari ketika pelatihannya di Camp Militer mencari jejak.
Namun, kali ini bukan latihan melainkan misi sesungguhnya. Sia menguatkan mentalnya. Ia berharap bisa menemukan William di tempat yang ia tuju.
Di sisi lain.
Di sebuah ruangan bercahaya redup, terlihat William di dudukkan pada sebuah kursi rancangan khusus yang bisa direbahkan seperti ranjang pasien di rumah sakit.
Kedua pergelangan kaki dan tangan William diikat. Dahinya juga ditahan dengan sebuah kain hingga kepala belakangnya menempel pada sandaran kursi yang memiliki bantalan empuk.
Kalung pemenggal masih terpasang di lehernya. William tak sadarkan diri hingga ia mendengar suara yang memanggil-manggil namanya.
"William! William!" panggil suara seorang wanita yang terdengar samar di telinga mantan agent tersebut.
"William! Wake up! Willy!" panggil suara lain yang kini seperti seorang lelaki.
Kening William berkerut. Tidurnya mulai terusik karena suara-suara yang mengganggunya.
William mulai membuka matanya yang terasa lengket dan berat dengan susah payah. Pandangannya masih samar dan sedikit kabur.
William masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Hingga akhirnya, ia sadar sepenuhnya dan matanya melotot seketika.
Ia melihat Catherine, Ara, Jack dan Rika berada dalam sebuah jeruji penjara sedang berdiri memanggil-manggil namanya.
"Hei! Agh!" rintih William ketika ia menyadari jika tubuhnya tak bisa digerakkan karena terikat kuat pada sebuah kursi besi.
Nafas William menderu. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Hingga sebuah pintu di ruangan tersebut di buka dan muncul Tessa serta seorang lelaki yang memiliki tato menyeramkan, membuatnya terlihat seperti manusia tengkorak berjalan.
"Hallo, Will. Selamat datang kembali ke dunia nyata. Mimpi indahmu telah usai. Kini ada pekerjaan yang menunggumu," ucap Tessa tersenyum licik sembari berjalan melenggang masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Apa maumu?" tanya William dengan nafas menderu dan tangan mengepal, masih berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan yang membelenggu tubuhnya.
"You," jawabnya tersenyum manis.