
Sia kebingungan setengah mati sampai-sampai ia memegangi kepalanya karena hal mengejutkan ini.
Hingga akhirnya, sebuah suara peluit mengagetkannya. Verda mendekatinya yang sudah memakai topi tentara lengkap dengan seragamnya.
Sia menelan ludah dengan jantung berdebar menatap Verda dengan seksama.
"Kenapa kau masih berdiri di sini? Cepat, segera bergabung dengan pasukanmu. Kau lihat wanita Asia berambut putih itu? Pergi ke sana, ia komandan dalam pasukanmu," ucap Verda menatap Sia tajam dan Sia mengangguk dengan cepat.
Ia segera berlari dimana ia merasa jika roknya di dalam celana panjang tentaranya itu seperti robek dan ia sudah tak peduli dengan hal itu.
Ia berdiri di depan wanita Asia yang menatapnya dengan sorot mata tajam tanpa berkedip, sikap siap sempurna bak prajurit.
"Kau terlambat. Sit up 10 kali," ucap wanita Asia itu tegas dan Sia terkejut setengah mati.
"Si-sit up?" jawabnya tergagap karena tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Cepat lakukan! Jangan banyak bicara!" pekik wanita Asia itu garang dan Sia segera melakukan apa yang diperintahkannya.
Sia yang dulu seorang cheerleader tak mengalami kesulitan saat melakukan sit up yang tak terasa sulit baginya. Semua orang menatapnya tajam.
"Badanmu lentur. Sekarang push up sepuluh kali," ucap wanita Asia itu lagi.
Sia terkejut, tapi ia tak bisa menolak karena semua mata kini tertuju padanya. Sia mengangguk dan segera memposisikan diri untuk melakukan push up.
Baru lima hitungan, wanita Asia berambut putih itu malah duduk di punggung Sia dan sontak, Sia langsung roboh dengan dada menimpa permukaan tanah di bawahnya.
"Gunakan seluruh otot tanganmu. Lagi!" pekik wanita Asia itu yang menjadikan punggung Sia seperti alas kursi.
Sia mengerahkan seluruh kekuatan di kedua tangannya hingga ia gemetaran. Wanita Asia itu tersenyum tipis.
"One ... two ... three ... four ... five ... good!" ucap wanita Asia itu yang kemudian berdiri setelah Sia berhasil menyelesaikan push up 10 kali.
Kepala Sia sampai pusing karena latihan yang tiba-tiba itu. Wanita Asia itu kembali berdiri di depan pasukannya yang berjumlah 6 orang dan kini ditambah Sia menjadi 7 orang.
Sia berdiri dengan sempoyongan memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Ia segera masuk ke barisan dan berdiri paling belakang.
Ia mengikuti para wanita di depannya yang sudah berdiri dengan tegak.
"Oke, listen up! Aku Yuki, yang akan melatih kalian selama di camp militer. Kalian akan berada di sini selama 1 bulan. Ingat nama kawan kalian dalam regu yang kunamakan "STONE". Saat kuminta kalian berkumpul, kalian harus segera kemari, aku tak peduli kalian sedang makan, tidur atau bahkan sedang mandi. Kalian mengerti?!" pekik Yuki lantang dan dijawab semua orang meski Sia tak menjawab karena masih bingung.
"Sia! Apa kau mengerti?!" teriak Yuki lantang karena tak mendengar jawaban Sia yang berada di paling belakang.
"Yes, Mam!" jawabnya dengan jantung berdebar kencang tak karuan.
__ADS_1
"Good. Sekarang bubar. 20 menit kalian harus selesai makan siang lalu kembali lagi kemari. Bubar!" ucap Yuki dan kembali, semua wanita dalam pasukannya berteriak lantang menjawab instruksi komandan pasukan mereka.
Sia kebingungan. Ia mengikuti keenam kawannya itu dengan gugup ke sebuah tempat dimana itu adalah aula besar yang ternyata sebuah kantin di markas bawah tanah.
Mulut Sia kembali melongo. Tempat itu mirip markas "Sarang Semut" di Grey House. Ia melewati koridor dimana terdapat latihan militer di dalam sana.
Para lelaki sedang latihan tinju dari berbagai ras dan usia. Sia makin gugup berada di tempat itu.
Hingga akhirnya ia ikut mengantri untuk mengambil makan siang bersama regunya.
Sia menatap makanan itu dengan bingung. Makanan gaya Asia dimana terdapat nasi, telur rebus, sayuran rebus, buah pisang, susu cokelat dalam gelas dimana itu adalah susu murni.
Tak ada roti, sosis, puding ataupun ice cream kesukaannya. Sia lemas seketika. Baginya makanan itu seperti makanan orang diet dan ia tak ada rencana untuk menguruskan badan.
Ia berjalan lesu bergabung dengan kawan-kawan regunya. Sia makan dengan malas dan keenam gadis di depan dan yang sederetan dengannya menatapnya dengan keheranan.
"Kau harus makan, atau kau akan mati dengan perut kelaparan," ucap kawan wanita di sebelahnya itu.
Tiba-tiba, Sia menatap wanita di sampingnya itu dengan raut wajah penuh kesedihan.
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut seketika karena Sia menangis sesenggukan. Ia terlihat seperti begitu menderita dan tertekan.
Tangisan Sia menarik perhatian orang-orang di sana. Sia tak peduli jika ia dibicarakan ataupun diledek karena hal itu.
Hingga tiba-tiba ....
"Jangan menangis, kau akan meruntuhkan bangunan yang susah payah ibuku bangun," ucap seorang wanita di depannya yang sontak menghentikan tangisan Sia.
Sia tertegun melihat seorang wanita yang kira-kira seumuran Yuki sedang menatapnya dengan senyum menawan. Berambut cokelat panjang dengan pakaian militer sama sepertinya.
Semua anggota regu Sia yang melihat wanita itu membungkuk hormat. Wanita itu balas dengan menganggukkan kepala.
Sia segera menghapus air matanya dan tangisannya lenyap seketika.
"Hai, aku Lysa. Sekilas, nama kita hampir sama," ucapnya ramah sembari duduk di depannya.
Sia diam saja mencoba menenangkan hatinya yang sedang kalut itu. Wanita itu meletakkan kedua tangan di atas meja makan panjang dan tersenyum manis padanya.
"Yuki memang seperti itu. Dia hanya bersikap tegas karena memang begitulah cara kami mendidik para penerus anggota dewan. Kau lihat kawan satu regumu ini. Mereka juga penerus dari jajaran mafia anggota dewan. Hanya saja, mereka bukan anak dari ketiga belas anggota 13 Demon Heads, sedang kau ditunjuk sebagai salah satu penerus anggota dewan. Tuan Antony Boleslav bukan lelaki sembarangan. Ia pernah menjabat menjadi ketua dewan. Bebanmu cukup berat, Sia. Sama sepertiku," ucap Lysa pelan.
"Be-benarkah? Da-daddy ... ah maksudku, Antony Boleslav pernah menjadi ketua dewan? Oh, lalu ... ibumu, apakah dia ...." ucap Sia tergagap.
"Yes. Vesper, dia ibuku," ucap Lysa tersenyum manis.
__ADS_1
Entah kenapa Sia merasa ada yang senasib dengannya. Hatinya lega seketika. Lysa lalu berdiri dan masih menatap Sia dengan senyum menawannya.
"Berlatihlah dengan giat dan tunjukkan jika kau memang layak menggantikan posisi ayahmu sebagai anggota 13 Demon Heads berikutnya," ucap Lysa serius.
Sia mengangguk pelan. Lysa pergi meninggalkan ruang makan dimana semua orang seperti terpesona akan sosoknya itu. Bahkan keenam anggota regunya seperti mengagumi anak pertama Vesper itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Sia penasaran karena kawan-kawan satu regunya terlihat mengobrol asyik membicarakan Lysa.
"Kau tak tahu? Dia itu sangat keren. Selain cantik, dia itu isteri dari anggota dewan 13 Demon Heads termuda, Javier. Seorang pangeran dari negeri Timur Tengah. Mereka berdua hot couple, ahhh ... aku iri," ucap kawan satu regu Sia terlihat memelas hingga matanya terpejam.
Sia hanya mengangguk dan mendengarkan dengan seksama.
Ketujuh gadis itu malah asyik mengobrol dan melupakan batas waktu yang diberikan oleh Yuki yang hanya 20 menit. Saat ketujuh gadis itu asyik bercerita, tiba-tiba ....
"Berdiri! Lari 3 kali putaran. Now!" pekik Yuki lantang hingga mengejutkan semua orang yang ada di sana.
Ketujuh gadis itu segera berdiri dan bergegas pergi dengan panik. Yuki mengepalkan kedua tangannya mencoba menahan amarah hingga matanya terpejam.
Semua orang di sana yang ikut tertegun karena suara Yuki yang menggelegar ikut pucat seketika. Mereka segera bergegas menghabiskan makanannya.
"Hah, jika seperti ini terus, aku benar-benar akan beruban! Aku harus mengganti semir rambutku!" pekik Yuki kesal setengah mati karena harus menjadi instruktur para anak mafia yang manja.
Sia dan keenam anggota regunya kini berlari mengitari lapangan sebanyak tiga kali dimana Yuki mengawasi mereka dengan mata sipitnya. Lysa mendekati Yuki dengan senyum meledek.
"Hmm, bagaimana? Apakah merepotkan?" tanya Lysa ikut melihat Sia yang berlari dengan ritme stabil seperti tak terlihat kelelahan.
"Hati-hatilah, Lysa. Pacarnya orang CIA dan sedang mencarinya. Aku khawatir jika agent itu akan datang kemari. Entah kau tahu hal ini atau tidak," ucap Yuki lirih tanpa menatap Lysa.
Lysa tertegun dan menatap Yuki seksama.
"Who?"
"William Tolya. Dia ingin membawa Sia kembali padanya dan kita harus menghentikan aksi gilanya itu. Jangan sampai Tuan Boleslav yang turun tangan, atau agent itu akan tewas mengenaskan. Ini sebenarnya masalah keluarga Nyonya Amanda, tapi kenapa kita harus dilibatkan," keluh Yuki terlihat tertekan.
Lysa tersenyum tipis dan kembali menatap Sia di kejauhan dari tempatnya berdiri.
"Yah, anggap saja latihan," jawab Lysa santai.
Yuki terkekeh dengan wajah tengilnya dan Lysa hanya tersenyum tipis menanggapi tawa garing dari sahabatnya itu.
Lysa menatap Sia tajam dan malah penasaran akan sosok William yang dikatakan Yuki barusan.
-------
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE & PINTEREST
kalo ad tipo harap mklum aj. autor salahin umur😆