Secret Mission

Secret Mission
Berpihak Untuk Hidup


__ADS_3

Di sebuah laboratorium.


Terlihat, mantan agent CIA, William, sudah seperti orang lain. Tak ada senyum menawan terbit di wajahnya.


William didudukkan pada sebuah kursi dengan kacamata khusus mirip scuba. Alat itu menampilkan cuplikan-cuplikan dari gambar-gambar yang harus William ingat tentang siapa saja target yang harus dibunuh.


Ia juga mengenakan headphone khusus berwarna silver yang memperdengarkan instruksi-instruksi mengenai data diri dari target.


Berjam-jam lamanya William berada di kursi panas itu. Semua gerak-geriknya dipantau oleh para petugas penjaga di laboratorium tersebut.


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.


"Nona Tessa, kita harus menghentikan proses perekaman ulang memori misi untuk William saat ini. Komputer menganalisis jika kemampuan otak William sudah hampir mencapai batas maksimum per hari," lapor seorang petugas laboratorium yang mengawasi proses penyetelan ulang memori William.


Tessa mengangguk paham dari tempatnya berdiri. Petugas itu pun menghentikan aktivitas perekaman memori baru di otak William.


Tiba-tiba, muncul sebuah alat injeksi dari samping sandaran kursi tempat William duduk.


Lelaki bermata biru itu dibius agar tubuh dan otaknya yang lelah bisa beristirahat. William tersentak saat merasakan sebuah jarum runcing menusuk samping lehernya.


Tak lama, William memejamkan mata dan tertidur.


"Black. Bawa dia dan pastikan agar William siap untuk menjalankan misinya secepat mungkin. Jika perlu, berikan dia kaki robot milik Tobias," perintah Tessa.


"Jika Tobias menolak?"


"Gunakan King D," jawab Tessa tegas.


Pandangan Tessa terfokus pada William yang terbaring dengan mata terpejam di kursi cuci otak.


Lelaki bertato bernama Black segera melaksanakan perintah Tuannya. Hingga tiba-tiba, terdengar suara derap langkah memasuki ruangan tempat Tessa berada.


Tessa menoleh dengan sorot mata tajam ke segerombolan orang yang mendatanginya.


"Jika ini sebuah kabar buruk, sebaiknya cepat kalian selesaikan," ucap Tessa tegas.


"Yes, Mam!" jawab orang-orang itu serempak.


Segera, orang-orang itu pergi meninggalkan ruangan dengan tergesa. Tessa terlihat kesal.


Ia pun ikut pergi dan bergegas menuju ke pusat kendali untuk mengecek apa yang sedang terjadi di markas tersembunyi miliknya.


"Dasar bodoh! Kalian membiarkan mereka kabur? Kita tidak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi. Segera siapkan kepindahan! Kita pergi dari tempat ini," perintah Tessa lantang.


Kembali, para anak buah Tessa dibuat panik. Mereka segera melaksanakan perintah dari Nonanya.


Sedang di sisi lain, keesokan harinya.


Terlihat kaki Ara yang mengalami keseleo sudah diobati. Namun, Jack, Catherine dan Ara dibuat kebingungan karena mendapatkan fasilitas nyaman dari orang-orang yang menemukan mereka di hutan.

__ADS_1


Mereka diperlakukan bak tamu istimewa, tak seperti tahanan saat disekap Tessa. Mereka diberikan kamar untuk tidur, sarapan enak, bahkan mandi air hangat.


Ketiga orang itu didudukkan di sebuah sofa panjang, dikelilingi oleh segerombolan orang yang menetap mereka tajam di ruang tengah.


"Bisakah kalian perkenalkan diri? Kalian sepertinya mengenal William. Bahkan kau bilang mengenal Sia," tanya Jack terlihat gugup menunjuk Lysa.


"Dan bisakah kau jelaskan pada kami? Kenapa kalian bisa tiba-tiba berada di hutan saat tengah malam? Dan temanmu yang bernama Ara mengatakan, bawa kalian kabur dari Tessa," balas Martin bertanya.


Jack, Catherine dan Ara terlihat panik seketika.


"Baiklah. Jawab pertanyaanku dulu. Siapa kalian?" tanya Jack tegas.


"Orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," jawab Lysa cepat, melipat kedua tangan di depan dada, berdiri tegap di hadapan tiga orang CIA.


"What?!" pekik Jack, Ara dan Catherine terkejut.


Ketiganya langsung saling merapatkan dudukan dan berpegangan erat. Terlihat wajah ketakutan di hadapan para mafia itu.


"Kami memberikan kalian dua pilihan. Opsi pertama. Jawab semua pertanyaan kami dengan jujur. Berbohong, satu peluru akan bersangkar di tubuh kalian dan akan terus terjadi sampai kalian mengatakan yang sebenarnya. Semakin banyak kalian berbohong, semakin cepat peluru-peluruku menewaskan kalian. Adikku sangat pintar melihat kebohongan," ucap Lysa tegas sembari menunjuk Sandara yang duduk diam tanpa ekspresi di wajahnya.


Tiga orang CIA itu bergidik ngeri. Mereka menelan ludah.


"Opsi kedua. Kalian tak mau bekerjasama dengan kami, maka kami akan tinggalkan kalian di hutan saat ditemukan tanpa Jack. Dia tetap harus ikut denganku," ucap Lysa lagi.


Ara dan Catherine melotot tajam pada lelaki berkacamata kawan mereka. Terlihat Jack terpojok. Dalam hal ini, hanya dia yang di anak emaskan.


"Tapi berjanjilah, apapun yang kami katakan, jangan bocorkan ini pada siapapun. Untuk saat ini kami percaya pada kalian," jawab Jack takut-takut.


Akhirnya, Ara menceritakan kronologi kejadian ketika mereka ditangkap oleh atasan mereka sendiri, Yes, karena dianggap berkhianat kepada CIA. Terlihat, Martin dan lainnya serius menyimak.


"Dara?" panggil Lysa.


"Dia berkata jujur," jawab Sandara pelan.


"Baiklah. Kau bisa pergi ke menara. Hati-hati. Laporkan apapun yang kau temukan," ucap Lysa menoleh ke arah Sandara yang masih duduk dengan manis.


Sandara mengangguk dan beranjak dari dudukkannya. Tiba-tiba, Jordan mengikuti langkah Sandara di belakangnya.


"Jordan. Jaga adikku dengan baik. Jangan sampai ia terluka. Aku percaya padamu," ucap Lysa saat keduanya akan pergi meninggalkan ruangan.


Jordan menghentikan langkah sejenak dan mengangguk meski tubuhnya memunggungi semua orang. Lysa dan lainnya hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


"Jujur, aku heran dengan anak itu yang masih terus mengejar Sandara. Kenapa dia bisa begitu menyukainya?" tanya BinBin heran.


"Hanya Jordan yang tahu, Paman. Tak ada satupun dari kita yang mengerti isi pikiran dan hatinya," sahut Red dan BinBin mengangguk setuju. Mix and Match saling melirik dalam diam.


"Lalu di mana Cecil?" tanya Red melanjutkan interogasinya.


"Dia berhasil kabur saat kami akan dipindahkan dari CIA ke sebuah tempat dengan mobil tahanan. Kami tak tahu rencana Rika dan Cecil saat itu karena tak dilibatkan. Saat sudah berada di markas Tessa, Rika bilang jika dia sengaja membiarkan dirinya ditangkap agar Cecil bisa lolos. Peluang Cecil kabur lebih besar dibanding kami berempat katanya. Saat di penjara, kami sangat berharap bisa diselamatkan olehnya, tapi sampai sekarang Cecil tak muncul hingga Rika tewas," jawab Catherine yang terlihat sedih mengingat Rika tewas di tangan anak angkatnya

__ADS_1


"William berubah? Mungkinkah ...?" tebak Martin.


"Dia pasti di cuci otak. Ini gawat. Kita tak tahu siapa targetnya. Namun, aku yakin jika orang-orang dalam jajaran dewan 13 Demon Heads," sahut Red cepat.


"Kita harus mendatangi markas itu. Kita hancurkan sebelum mereka menghancurkan kita," saran Lysa berwajah serius.


Orang-orang mengangguk setuju. Namun, tiga orang CIA itu malah terlihat panik.


"Se-serang? Ma-maksudmu ... Seperti penyergapan?" tanya Catherine gugup.


"Lebih seperti pembasmian. Pemusnahan masal," sahut Martin dan Catherine pucat seketika.


"Mm ... Bolehkah saat kalian melakukan penyerangan itu, ka-kami tak terlibat? Dan ... Bisakah jangan lukai William? Aku yakin jika teman kami berada dalam pengaruh obat yang membuatnya jahat," imbuh Ara ikut cemas.


"Baiklah. Jack! Besok kau akan kami terbangkan ke Rusia. Kau tidak boleh membantah dan menolak," ucap Lysa tegas.


Jack hanya bisa mengangguk pasrah. Sedang Catherine dan Ara terlihat gugup menunggu kejelasan dari nasib mereka.


"Kalian berdua akan ikut aku ke Kolombia. Namun, beritahu kami terlebih dahulu di mana lokasi markas Tessa," ucap Martin menunjuk dua gadis itu bergantian.


Ara dan Catherine mengangguk pelan. Kali ini, mereka hanya bisa pasrah menerima nasib.


"Aku sungguh tak menyangka kita akan bekerjasama dengan para mafia ini. Mereka kan musuh kita. Tapi, melihat kondisi kita yang menyedihkan, aku tutup mata untuk kasus kali ini," bisik Ara memelas. Jack dan Catherine mengangguk setuju.


Red segera memberikan peta dari pantauan satelit. Tiga orang CIA itu cukup kaget dengan teknologi yang dimiliki para mafia.


"Apa gak apa, mereka mengetahui tentang cara kerja kita, Non? Gaswat kalo mereka informasikan ke CIA," tanya Sumanto Red Ribbon khawatir dengan logat Jawa dan Indonesia campuran.


"Mudah saja. Tinggal berikan gas halusinasi dan ... mereka akan melupakan kejadian ini," sahut Lysa santai.


Orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads tersenyum miring. Sedang tiga anggota CIA terlihat kebingungan karena Sumanto dan Lysa berbicara dalam bahasa yang tak mereka mengerti.


Akhirnya, selama seharian hingga sore menjelang, Jack, Ara dan Catherine dimintai kejelasan tentang rute yang mereka lewati sampai ke titik mereka ditemukan.


"Aku akan terbangkan CD untuk mengintai," sahut Mix.


"Aku akan membantu," timpal Match dan diangguki semua orang.


Mix and Match meninggalkan ruang pertemuan untuk segera melaksanakan pekerjaan mereka demi menyelesaikan misi.


"Aku akan siapkan persenjataan," imbuh Red.


Martin dan Lysa mulai terlihat sibuk dengan ponsel serta layar laptop mereka sembari memberikan instruksi-instruksi kepada para lelaki berseragam hitam.


Jack, Ara dan Catherine hanya bisa duduk diam menyimak sembari melihat dua orang di hadapan mereka terlihat sungguh berkuasa layaknya seorang pemimpin.


***


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi teman2 yg beragaman Islam dan Kenaikan Isa Almasih bagi teman2 yang merayakan.

__ADS_1


Semoga novel SM bulan depan bisa naik level jadi biar segera tamat dan lanjut ke 4YM. Jangan lupa vote poin, koin dan vocernya ya. Tengkiyuw~


__ADS_2