
William menatap Rajesh seksama, ia terpikirkan sesuatu. Rajesh yang sudah mendapatkan energinya kembali balas menatap William.
"Now what?" tanyanya serius.
"Kita harus segera ke Boston," jawab William dan diangguki oleh Rajesh.
Mereka berdua kembali ke kasino kamar hotel. Rajesh segera mempersiapkan penerbangan esok hari.
William diam-diam mengirim video dari hasil pengejarannya tadi ke ponsel khususnya kepada Jack.
"Jack, cari tahu logo ini dan segera informasikan padaku kemana aku harus mencarinya. W," tulis William dalam pesan elektroniknya.
"Oke."
Jack dengan cepat segera membalas pesan William dan lelaki bermata biru itupun segera menghapus pesan itu secara permanen.
William yang memiliki daya ingat kuat tak mempermasalahkan ketika ponselnya tak memiliki nomor satupun dari para agent CIA.
William merebahkan diri di kasur dimana Ace sudah tertidur lelap di ranjangnya.
William yang penasaran akan sosok Ace memotret dirinya diam-diam dan mengirimkannya ke Jack agar diselidiki latar belakangnya.
Jack kembali membalas pesan William dan dengan cepat, William menghapus pesannya.
William mulai memejamkan mata agar tubuhnya yang lelah beristirahat. Tak lama, iapun tertidur lelap.
Rajesh yang penasaran akan sosok William mengawasinya dengan ketat dari balik bayangan.
Hari berikutnya di Boston. Bandar Udara Internasional Logan.
Penerbangan selama kurang lebih 6 jam dari Las Vegas ke Boston. Axton yang sudah tiba dengan rombongan terlebih dahulu, segera menuju ke mansion.
Namun, di hari yang sama, sebuah pesawat juga mendarat dimana Sia dan rombongan juga tiba pada hari itu saat siang hari.
Sia menyelesaikan pelatihan militernya di camp Vesper dengan baik. Terlihat ia lebih tangguh dan tak cengeng seperti saat pertama kali datang ke camp tersebut.
Sia yang dijaga ketat oleh Maksim dan Yuri menunggu jemputan di area khusus dekat hanggar pesawat pribadi.
Saat Sia sedang berjalan perlahan, pandangannya terfokus pada sebuah kendaraan terparkir di hanggar yang berdekatan dengan pesawat pribadi ayah tirinya itu.
Sia membelokkan langkahnya dan berjalan dengan sendirinya mendekati sebuah mobil sedan hitam yang ia kenali.
Mulut Sia menganga lebar saat ia menyadari jika itu adalah mobil Mustang milik William. Jantung Sia berdetak kencang seketika. Ia tak percaya jika akan melihat mobil itu lagi.
Sia dengan gugup melihat sekitar dan berlari mencari keberadaan kekasihnya itu yang ia pikir jika William ada di sana. Sia berlarian ke tiap sudut bahkan sampai masuk ke hanggar.
Maksim dan Yuri yang baru menyadari jika Nona mereka tak mengikuti mereka di belakang terkejut seketika karena Sia menghilang dari pandangan.
"Mana Sia?" pekik Maksim panik.
Yuri ikut kebingungan dan akhirnya mendapati sosok Sia yang berada jauh di sebuah hanggar pesawat lain seperti orang kebingungan di dekat mobil.
Yuri dan Maksim segera berlari mendekati Sia. Sia yang berdiri di samping mobil William melihat kedatangan Yuri dan Maksim dari kaca jendela yang terpantul. Sia panik seketika.
Ia bergegas membuka tasnya dan mendapati sebuah tisu dan lipstik miliknya.
Sia menuliskan sesuatu dalam tisu itu dan melipatnya seringkas mungkin lalu memasukkannya dalam lipstik miliknya.
Sia meletakkan lipstiknya itu di wiper mobil. Sia lalu berpura-pura merapikan pakaiannya di depan kaca mobil William seolah-olah tak terjadi apapun padanya.
__ADS_1
"Hah, Nona Sia. Apa yang kau lakukan?" tanya Yuri panik dengan nafas tersengal.
"Oh maaf. Mobil ini keren dan aku tertarik. Siapa pemiliknya ya?" tanya Sia gugup.
"Entahlah, tapi ... eh sebentar. Ini bukannya hanggar khusus milik salah satu anggota dewan. Siapa Maksim si pria India itu?" tanya Yuri teringat akan sosok anggota dewan.
"Oh. Raja mmm ... Raja Khrisna! Ya benar itu namanya," jawab Maksim yakin.
Sia tertegun. Ia heran kenapa William terlibat dengan salah satu anggota dewan. Sia memiliki banyak dugaan dalam pikirannya.
"Anak Raja Khrisna penyuka mobil. Ia mengoleksi mobil-mobil modifikasi. Jadi ya wajar saja jika ada mobil keren ini. Sepertinya sudah dimodifikasi, lihat saja bagian dalamnya, interiornya sudah berubah," imbuh Maksim sembari mengintip di balik jendela mobil Mustang itu.
Tiba-tiba ....
"Hei! Siapa kalian?" tanya seorang lelaki berwajah garang dan memiliki brewok berjalan mendekati Sia, Maksim dan Yuri dengan penuh curiga.
"Oh, maaf. Ngomong-ngomong apa kau anak buah Tuan Khrisna?" tanya Yuri santai dan sontak lelaki itu terkejut mengeluarkan pistolnya.
Sia dan dua bodyguard-nya panik seketika.
"Wow! Hei. Kita sekutu. Kau tak kenal kami? Kami adalah anak buah Tuan Antony Boleslav. Pesawat Tuan Boleslav ada di hanggar sebelahmu ini," timpal Maksim cepat dengan kedua tangan di depan dada.
Lelaki itu berkerut kening dan menatap tiga orang itu seksama.
"Kau siapa?" tanyanya lagi yang masih tak percaya.
"Aku Maksim, dia Yuri dan ini anak Tuan Boleslav, penerus kursinya. Sia," jawab Maksim cepat dan Sia ikut mengangguk mengiyakan.
Lelaki itu menurunkan pistolnya perlahan dan mengangguk pelan. Sia dan lainnya bernafas lega sembari menurunkan tangannya.
Tak lama, mobil jemputan datang. P-807 menjemput bersama sebuah mobil yang akan menjaga mobil utama.
Jantung Sia berdebar kencang tak karuan selama perjalanan dimana ia akan pergi ke mansion Arjuna karena ada pesan dari Vesper untuknya yang dititipkan pada anaknya Arjuna.
Selang dua jam kemudian, pesawat Rahul sudah tiba di bandara yang sama tempat Axton dan Sia mendarat.
Rahul yang ingin cepat-cepat menyelesaikan misinya itu terlihat terburu-buru.
Lelaki yang menjaga mobil Mustang William segera mendekati bosnya dan membungkuk hormat.
William dan lainnya mengikuti Rahul dari belakang. Shamus yang menunggu di bandara Las Vegas ikut terbang bersama rombongan Rahul.
"Aku akan mengemudikan sendiri mobilku," ucap Rahul kesal.
Semua orang mengangguk paham. Lelaki brewok itupun memberikan kunci mobil pada Rahul.
Semua orang berdiri di dekat mobil itu dan bersiap untuk mengendarai mobil lain yang sudah dipersiapkan.
Saat Rahul akan melaju, ia membuka kaca jendelanya dan berteriak lantang.
"Hei! Singkirkan benda itu dari wiper mobilku! Siapa yang meletakkan lipstik di sana! Kaca mobilku akan tergores!" teriak Rahul kesal.
Lelaki brewok itu segera mengambil lipstik tersebut dan menjauh dari mobil. Rahul mendengus keras dan segera menyalakan mesin mobilnya.
Lelaki brewok itu melemparkan lipstik tersebut ke tempat sampah yang di lewati, tapi lipstik itu malah terpental di pinggiran tong dan membuatnya menggelinding di aspal.
William menatap lipstik itu seksama yang menggelinding di bawah kakinya. Ia mengambilnya dan bermaksud untuk membuangnya ke tempat sampah tadi.
Saat William berjalan perlahan ia melihat tutup lipstik itu terbuka, tapi William tak peduli. Ia melemparkannya ke dalam tong dengan cuek.
__ADS_1
Namun, matanya melebar seketika saat tutup lipstik itu terlepas dan terlihat sebuah lembaran tisu dengan tulisan berwarna merah dari lipstik tersebut.
William mendekati tong itu dan mengambil tisu tersebut yang bertuliskan "Sia" dan sebuah nomor ponsel di sana. Jantung William berdebar seketika serasa nafasnya tercekik.
"Will! Apa yang kau lakukan? Kau ingin menjadi pemulung sampah? Cepat pergi dari sini!" teriak Rajesh di kejauhan dimana semua orang sudah masuk ke dalam mobil untuk segera pergi.
William mengambil kembali lipstik itu berikut tisunya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
William menarik nafas panjang dan mengatur nafasnya agar tak terlihat mencurigakan. Semua hal yang berhubungan dengan Sia membuatnya seperti orang gila.
William segera berbalik dan berlari ke arah mobil menghampiri lainnya. Ia lalu duduk di kursi dekat sopir dimana lelaki brewok tadi yang menjadi pengemudinya.
Tiga buah mobil pergi meninggalkan hanggar menuju ke sebuah Villa yang Rahul sewa di daerah Boston untuk meneruskan misinya melenyapkan Axton.
William semobil dengan Ace dan Shamus serta lelaki brewok tersebut.
Rajesh dan dua anak buahnya menaiki mobil lainnya yang berada di baris nomor dua.
Rahul memimpin di depan dengan mobil Mustang dan William serta team sebagai penutup konvoi.
William yang penasaran itu melirik lelaki brewok tersebut. Ia memikirkan skenario untuk mencari tahu kebenaran dari pemilik lipstik tersebut.
"Hei. Apa kau di hanggar sedari tadi?" tanya William memulai obrolan dan kini pandangannya ke arah sopir itu.
"Ya. Kenapa?" jawabnya datar.
"Adakah, mm ... yang mendekat mobil Mustangku? Am ... maksudku, mobil Mustang Rahul?" tanya William yang kembali bodoh karena lupa jika mobil itu sudah bukan miliknya.
"Ya. Mereka mengaku jika orang-orang Boleslav, salah satu anggota dewan. Kenapa?" tanya lelaki brewok itu yang kini melirik William tajam.
Nafas William kembali tersekat. Ia semakin yakin jika lipstik itu benar milik Sia.
"Ada seorang gadis bersama mereka yang mengaku penerus Boleslav. Cantik juga, kalau tidak salah namanya Sia," imbuhnya lagi dan sontak ucapan lelaki brewok itu membuat mata William melebar seketika.
Ia segera mengalihkan pandangannya dan memandang keluar jendela mobil mencoba menenangkan hatinya yang sedang kalut itu.
"Sangat dekat ... ia sangat dekat ...." ucap William merintih dalam hati dimana ia kembali merindukan kekasihnya itu.
William mencengkeram kaos di dadanya yang terasa begitu sakit jika mengenang Sia.
"Ada apa, Will? Apakah karena gadis bernama Sia yang kau bilang mengenalnya saat di mansion Arjuna? Kau bilang temannya saat kuliah dulu 'kan?" tanya Shamus penasaran.
William mengatur nafasnya dan mencoba terlihat senormal mungkin. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum tipis.
"Yah. Aku tak menyangka jika Sia tadi ada di sana. Aku penasaran bagaimana kabar temanku itu sekarang. Siapa yang tahu jika ia anak seorang mafia besar dan kini malah akan menduduki kursi dewan," jawab William tenang.
"Hahahahaha!" tawa lelaki brewok itu tiba-tiba dan mengagetkan William, Shamus serta Ace.
"Hah, dia terlihat lemah dan tak mungkin duduk di kursi dewan. Tuan Jamal yang akan duduk di kursi dewan. Ia berkuasa, kuat dan pintar. Meski gadis bernama Sia itu cantik dan sangat kaya karena warisan dari kedua orang tuanya, hanya saja ... dalam sekali lihat aku sudah tahu. Ia sangat jauh dari kategori untuk menjadi seorang anggota dewan," ledek pengemudi itu.
"Yah, aku setuju. Sia itu terlalu lemah jika harus menjadi anggota dewan. Ia tak pantas dan tak akan mampu bersaing. Semoga ia sadar akan keterbatasannya itu dan memilih mundur dengan terhormat sebelum dipermalukan," jawab William menambahkan.
Lelaki brewok itu mengangguk tanda setuju. Entah kenapa ucapan tersebut terlontar begitu saja dari mulut William.
Ia memang tak menginginkan kekasihnya itu menjadi seorang mafia mengikuti jejak orang tuanya.
William kembali mencemaskan keadaan Sia yang semakin jauh masuk dalam dunia mafia dan William berniat menghentikannya.
------
__ADS_1
jangan lupa vote yg byk yaa sp tau novel SM bs nangkring di 20 besar😆 ngarep