Secret Mission

Secret Mission
Semakin Tertekan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Sepeninggalan Sia, Arjuna yang terbuai ciuman dari Tessa seperti lupa jika gadis pirang itu adalah musuh bebuyutan dari jajarannya selama berpuluh-puluh tahun.


Dua anak manusia itu malah terlena seakan dunia hanya milik mereka berdua. Saat keduanya hanyut dalam sebuah perasaan yang menghangatkan hati, tiba-tiba ....


DOR!


"AGH!"


Arjuna tertegun saat ciumannya terlepas. Ia melihat Tessa merintih kesakitan hingga wajahnya memerah dan seluruh ototnya menegang.


Dari seluruh anggota tubuh Arjuna yang terkena dampak serum pelemah syaraf, hanya bagian dari leher ke atas yang masih berfungsi normal.


Mata Arjuna melebar ketika mendapati Jordan berjalan dengan sorot mata pembunuh, menyalakan pedang laser Silent Red dalam genggaman.


Tessa mencengkeram baju Arjuna erat, menahan sakit di punggungnya yang terkena tembakan dari Jordan.


Arjuna bisa melihat kesakitan yang coba ditahan Tessa saat berada di atas tubuhnya.


"I-i love you, Juna," ucapnya dengan kening berkerut menahan sakit.


Arjuna terlihat bingung menyikapi hal ini. Muncul perasaan aneh dalam dirinya saat mendengar pernyataan cinta dari gadis tak dikenalnya.


Bukannya pergi, Tessa malah kembali mencium Arjuna lembut. Namun, kali ini Arjuna merasakan jika dalam ciumannya, bibir Tessa bergetar dan nafasnya menderu.


Arjuna melepaskan ciumannya dan Tessa roboh di bahu lelaki Asia itu.


"Jordan! Stop!" teriak Arjuna yang tak bisa menggerakkan tubuhnya.


Namun, Jordan tak peduli. Arjuna ketakutan dan kembali melihat wajah Tessa yang sudah pucat. Tiba-tiba ....


BLUARRR!


Mata Arjuna melebar ketika sebuah ledakan muncul di hadapan Jordan dan membuat anak dari Boleslav itu terpental hingga pedangnya terlepas.


Arjuna melirik ke atas. Terlihat sebuah helikopter mendekat. Arjuna mempertajam pandangannya.


Sebuah tangga tali diturunkan dan muncul lelaki bertato seperti tengkorak, mengangkat tubuh Tessa darinya.


Tessa mulai kehilangan kesadaran saat tubuhnya di tarik oleh lelaki seram yang menatap Arjuna tajam.


Arjuna melihat helikopter itu pergi meninggalkan mansion Ramos dengan meluncurkan granat dari senjata pelontar granat dan meninggalkan ledakan-ledakan di halaman Mansion saat Mix and Match muncul untuk memberikan serangan balasan.


"Arrghhh!" teriak Jordan kesal saat melihat helikopter itu berhasil kabur.


Jantung Arjuna berdebar-debar ketika Jordan mendatanginya dengan pedang Silent Red tanpa dinyalakan lasernya.


Ujung pedang itu di arahkan ke leher Arjuna dengan tatapan bengis.


"Kau ... aku bisa mencium bau penghianatan yang akan kau lakukan nanti, Kim Arjuna. Aku tak berpihak pada siapapun. Akan kulaporkan hal ini pada semua orang. Kau ... membiarkan musuh menyusup ke markas dan pergi. Kau, bersalah, Kim Arjuna," ucap Jordan tegas tanpa berkedip.


Arjuna menelan ludah. Mix and Match mendatangi Arjuna. Anak lelaki Han terlihat gugup ketika Match menarik lalu memanggulnya masuk ke dalam mansion.


Mix terlihat seperti menghubungi seseorang. Terlihat, Jordan dan Mix memeriksa para Black Armys yang terkapar terkena bius.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


"Alarm peringatan serangan bahkan tak mendeteksi serangan ini. Berarti ... ada penyusup dalam kawanan Black Armys, Mix," ucap Jordan menganalisis.


Mix mengangguk setuju. Jordan berjongkok di sebelah seorang prajurit Black Armys yang mulai sadar saat ia sengaja menggores pipinya dengan ujung pedangnya hingga darah mengucur dari balik kulit lelaki itu.


"Minta Eiji dan Monica datang kemari. Masukkan semua orang-orang ini dalam penjara. Kita akan memindai mereka satu persatu. Aku yakin, ada yang lolos dari tempat ini. Kita harus merubah sistem penyeleksian penugasan Black Armys di tiap markas," ucap Jordan tegas.


Jordan kembali berdiri setelah memastikan jika prajurit yang sengaja dilukai mulai mengerang kesakitan.


"Jordan! Mana Sia?" tanya Match saat berjalan keluar sendirian tak bersama Arjuna.


Jordan terkejut hingga matanya melebar. Ia melihat sekeliling dan tak menemukan kakak tirinya.


Jordan segera menghubungi Sia, tapi panggilannya ditolak berulang kali. Bahkan dipanggilan terakhir, nomornya tak tersambung.


"Berani-beraninya dia menolak panggilanku bahkan kini memblokirnya?" geram Jordan mempelototi layar ponsel.

__ADS_1


"Kita ke Pusat Kendali. Kita cek dari sana," ucap Mix mengusulkan dan Jordan mengangguk setuju.


Saat di Pusat Kendali, tiga orang itu terkejut ketika melihat dari kamera CCTV luar mansion jika Sia pergi meninggalkan kediaman Vesper dengan sebuah mobil.


"Hubungi Mommy! Sia kabur! Lacak dengan GIGA sekarang!" pekik Jordan lantang terlihat panik dan Match mengangguk paham.


Nafas Jordan menderu. Ia terlihat marah saat menyadari jika kakak tirinya pergi, bukan karena diculik melainkan memilih tak kembali pada keluarganya.


Jordan menoleh pelan ke arah Mix dan lelaki itu menatap Jordan tajam.


"Apa ... ini salahku?" tanyanya lirih dan Mix mengangguk pelan.


Jordan tertunduk terlihat murung. Mix menatap Jordan seksama dalam diamnya.


"Kau ... uruslah para Black Armys itu bersama Match. Masukkan mereka ke penjara," perintah Jordan lirih dan Mix mengangguk.


Mix segera pergi dari Pusat Kendali bersama Match untuk mengumpulkan para Black Armys yang bergelimpangan tak sadarkan diri di sekitaran Mansion Ramos karena ulah dari Tessa dan kelompoknya.


Di sisi lain, Apartement William, Virginia.


Terlihat lelaki itu segera bergegas untuk menjemput kekasihnya. Ia tak tahu dengan jelas alasan Sia memilih kembali padanya, tapi ia sungguh bahagia.


Namun, saat William membuka pintu rumahnya, ia terkejut ketika mendapati dua lelaki berpakaian rapi layaknya Agent CIA tersenyum tipis.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Hallo, William. Ada yang ingin bicara denganmu," ucap lelaki berkulit hitam dan berambut cepak.


William mengangguk dan kembali masuk. Ia meletakkan koper kecil berikut jas yang sudah ia tenteng di lengannya.


William merasa jika akan terjadi sesuatu, mengingat ia tak pernah didatangi sebelumnya oleh orang-orang CIA.


Hingga pandangan William teralihkan pada sosok lelaki yang wajahnya tak asing memasuki rumahnya bersama dua lelaki di belakangnya.


"William Tolya, right?" tanya lelaki berumur sekitar 40 tahunan, menunjuknya sembari melepaskan topi yang ia kenakan berikut kacamata hitamnya.


William mengangguk pelan dan menyambut jabat tangan lelaki yang terlihat memiliki kekuasaan itu.


"Mari duduk, Will. Aku tahu kau terburu-buru untuk menjemput Sia," ucapnya santai, tapi membuat William shock karena tak menyangka jika orang-orang itu tahu tujuannya.


"Anda siapa?" tanya William menatapnya dengan kening berkerut.


"Mereka memanggilku Yes. Jadi, aku duduk duluan," ucapnya tersenyum tipis sembari memberikan topi dan kacamata pada salah satu Agent yang ikut bersamanya.


William terlihat tegang atas kehadiran seorang lelaki yang kini menggantikan kedudukan Rika. William mengikutinya dan duduk berseberangan dengan Yes.


Dua Agent berdiri di belakang Yes dan menatap William tajam. William merasa tak nyaman padahal mereka satu agensi.


"Yes, Sir. May i help you?" tanya William mencoba untuk tetap tenang dan fokus karena ia merasa kedatangan Yes memiliki alasan.


"Tujuanmu Sia, benar 'kan?"


William mengangguk pelan mengakui karena ia merasa jika Yes sudah mengetahui semua, tak ada gunanya berdalih.


"Kau tak profesional, William. Kau menggunakan alasan cinta dalam menjalankan misi. Semua berantakan. Kau mempermalukan agensi dengan cerita cintamu," ucapnya tajam dan membuat William tertohok, dadanya terasa sesak akan ucapan bos barunya. William tertunduk.


"Namun, kulihat kau melangkah cukup jauh. Kau berhasil dekat dengan beberapa orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Hanya saja, tak membuatku terkesan, Agent Will. Benar kata orang-orang, kau orang yang memiliki banyak keberuntungan. Hanya saja, mau sampai kapan kau mengandalkan keberuntungan itu?" ucap Yes yang membuat William terasa familiar dengan perkataan Rika.


"Sorry, Sir," ucap William tertunduk.


"Kesempatan terakhir dan hanya ini yang kau miliki. Aku sudah membaca seluruh berkasmu dan kesaksian orang-orang yang bekerjasama denganmu selama ini," ucap Yes yang kini menyilangkan kaki dan meletakkan kedua tangan di sandaran sofa single.


William terlihat gugup dan mengangguk pelan ke hadapan bosnya.


"Gunakan Sia. Gadis itu sudah memilih. Namun, buat ia berpihak pada kita untuk meringkus orang-orang dalam 13 Demon Heads."


William terkejut. "Ka-kau ingin aku memanfaatkan Sia?"


Yes mengangguk. William terlihat bingung dengan hal ini. Yes menatap William tajam.


"Kau akan mendapatkan fasilitasmu lagi untuk merampungkan misi ini. Aku tak ingin kau digantikan. Kau yang memulai, kau juga yang harus menyelesaikan," ucapnya tegas.


William diam saja terlihat berpikir keras.

__ADS_1


"Bagaimana dengan The Circle?" tanya William tiba-tiba dan praktis, Yes mengerutkan kening termasuk para Agent di belakang bos CIA itu.


"Kau mengetahui The Circle? Sampai sejauh mana?" tanyanya menyipitkan mata.


"Mereka mendatangiku dan memperkenalkan diri. Mereka bermaksud untuk merekrutku, tapi Axton menyelamatkanku," jawab William serius.


Yes diam sejenak terlihat memikirkan ucapan William.


"Kau tahu tentang The Circle, Yes. Siapa kau sebenarnya? Kau bukan sekedar mantan Agent Senior," ucap William penuh selidik dalam hati.


"The Circle pasti akan mendatangimu lagi," ucap Yes pada akhirnya dan William mengangguk.


"Aku berencana ingin menghancurkan The Circle lebih dulu dengan bantuan Axton. Setelah The Circle hancur, aku akan menghancurkan 13 Demon Heads secara perlahan. Anggota mereka banyak dan para mafia itu kuat. Mereka hampir setara dengan militer kita."


"Hah? Hahahahah! Setara? Hahaha!" tawa Yes meledak begitu saja dan membuat William memicingkan mata melihat reaksi dari Yes.


"Ya begitulah. Aku belum melihat kehebatan The Circle. Jadi aku rasa, akan lebih mudah menumpas The Circle lebih dahulu baru 13 Demon Heads," sambung William santai.


"Aku kagumi semangatmu, Will. Baiklah, aku setuju. Manfaatkan Axton. Gunakan Sia untuk membunuh Boleslav. Setelah itu, habisi keluarga Khrisna. Aku tahu, kau kini masuk dalam jajaran pria India itu dan menjadi salah satu bodyguard-nya. Kerja bagus, Will. Negara berhutang banyak padamu," ucap Yes dengan senyum terkembang.


William mengangguk. Entah kenapa pujian kali ini malah membuat tekanan dalam dirinya.


Agent yang berdiri di belakang William memberikan sebuah koper hitam dan meletakkan di atas meja. William terlihat bingung dan membukanya.


"Perlengkapan terbaru dan hanya kau yang memilikinya. Bisa dibilang, prototype. Semua informasi yang kau dapatkan akan dilaporkan langsung padaku. Aku yang akan mengawasi langsung pergerakanmu, William. Aku tahu, kau tak bisa dipasangi pelacak ataupun penyadap karena para mafia itu pasti mengetahuinya. Namun, alat-alat yang kuberikan padamu ini, membuat kita akan selalu terhubung, Will. Jangan sampai hilang," ucap Yes tegas dan William mengangguk paham.


"Baiklah. Jemput kekasihmu, Sia. CIA akan melindungimu. Good afternoon," ucap Yes yang kembali memakai topi dan kacamata hitamnya saat meninggalkan kediaman William bersama keempat Agent-nya.


William menutup pintu dan terlihat berpikir keras. Ia melihat seisi rumahnya dengan curiga.


"Pasti mereka pernah masuk kemari saat aku sedang bertugas. Benar-benar tidak sopan. Mereka pasti meletakkan penyadap di suatu tempat. Kurang ajar, jika aku merusaknya pasti akan dicurigai. Agh, sial! Ini sungguh membuatku tidak nyaman," gerutu William menatap barang-barang yang tertangkap mata birunya penuh curiga.


William kembali menelepon Sia dari ponsel pemberian Tessa. Jantung William berdebar dan terlihat gugup saat menunggu panggilannya terjawab.


"Will! Aku sudah di Bandara," jawab Sia terdengar tergesa.


"Sayang. Menjauhlah dari pusat kota atau tempat-tempat yang terdapat CCTV. Kau diawasi. Aku akan terbang ke Rusia hari ini juga," ucap William sembari mengambil kembali jas dan kopernya.


"A-aku harus kemana?" tanya Sia panik.


"Carilah penginapan sederhana pinggiran kota. Beritahu aku lokasimu nanti. Aku akan segera menyusulmu. Jaga dirimu, Sayang. Aku akan mengeluarkanmu dari negara itu. Tunggu aku," ucap William melirik koper pemberian Yes.


"Oke, oke. Cepatlah Will. Aku takut jika orang-orang ayahku menemukanku," jawab Sia terdengar panik.


"Aku tahu. Sampai bertemu nanti. I love you," ucap William menutup panggilan teleponnya.


William mengambil sebuah jam tangan dari koper pemberian Yes dan segera ia kenakan.


Mata William menyipit saat kilatan lampu berwarna biru muncul di balik jam tangan yang menyentuh kulit di pergelangan tangannya.


Muncul sebuah tulisan di layar jam tangan itu dan William menekannya dengan telunjuk kanan.


Tulisan ACCEPT muncul dan layar pada jam tangan berubah lagi seperti jam tangan normal dengan jarum yang berdetak, berputar melewati angka-angka.


"Oke," ucap William lirih di mana ia merasa jika jam tangan itu telah aktif meskipun ia belum begitu paham fungsinya.


William segera pergi meninggalkan apartement menuju ke Bandara untuk terbang ke Rusia siang itu juga. William merasa jalannya dipermudah.


Ia mendapatkan penerbangan langsung dan kini pesawatnya sudah lepas landas meninggalkan Virginia menuju ke Kaliningrad.


"W sudah terbang, Sir," ucap salah seorang Agent memberikan laporan dari tempatnya duduk dengan sebuah laptop di depannya.


Terlihat tanda berkedip yang menandakan aktifitas William dari jam tangan yang ia kenakan.


"Good, terus awasi," jawab Yes berada di mobil menuju ke suatu tempat.



ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST


Btw votenya anjlok loh gak masuk 20 besar sejak awal publish. Jadi sedih😩 padahal Lele udh ksh dobel eps tiap hari. Diatas 1500 kata pula. Jadi ya to kudunya votenya dobel juga. Biar lele semangat nulis ditengah kerjaan setinggi langit. Lele tunggu votenya💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2