
Kwkwkw maap lele baru bangun. Lupa gak stokan naskah. Kemarin padet bgt jadwalnya. Mana lagi kejatohan rembulan merah lagi. Hadeh. Sabar sabar.
Eps selanjutnya up jm gak tentu ya tapi pastinya up hari ini. Lagi semrawut kerjaan lele segunung soalnya. Trims udh menunggu. Jangan lupa votenya biar lele semangat gitu.
----- back to Story :
Suasana pengadilan semakin tegang. Sistem keamanan baru yang diterapkan oleh Vesper dan Amanda membuat orang-orang yang berada di ruangan itu bergidik ngeri seketika.
Sosok Jordan saja sudah membuat mereka ketakutan, kini ditambah Mix and Match yang membantu dalam proses penangkapan tersangka untuk diseret ke meja pengadilan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Selama pihak dari kubu penetral mengutarakan hasil penyelidikannya, para terdakwa tidak diizinkan untuk bicara. Berani mengusik jalannya persidangan, CamGun akan melakukan pekerjaannya," ucap Vesper tegas.
"Namun, jangan khawatir. CamGun yang terpasang di sekeliling kalian adalah jenis baru. Mereka akan mengeluarkan aliran listrik yang akan menyengat tubuh kalian. Oleh karena itu, lantai terbuat dari besi begitu pula dengan kursi dan rantai yang membelenggu. Bayangkan saja, betapa menyakitkannya jika seluruh anggota tubuh kalian tersetrum. Jadi duduklah dengan tenang dan dengarkan apa yang akan disampaikan oleh tim penetral," sahut Amanda menambahkan.
"Apa kalian paham, Gentlemen?" tanya Vesper dengan seringainya.
Kesepuluh tahanan itu mengangguk paham. Terlihat, ketegangan begitu terasa di ruang persidangan. Bahkan para hadirin yang ikut datang serasa menjadi terdakwa tersebut.
"Kubu penetral yang akan diwakili oleh Sandara Liu, kami persilakan," ucap Amanda dengan uluran tangan diarahkan ke tempat Sandara duduk.
Sandera mengangguk dan berdiri dengan tenang tanpa ekspresi di wajahnya seperti biasa.
"Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh mafia dalam jajaran 13 Demon Heads atas ketersediaannya datang dan mengikuti proses pengadilan pada pagi hari ini. Saya, Sandara Liu sebagai pemimpin sekaligus perwakilan dari tim netral yang sudah melakukan penyelidikan selama 3 hari untuk menguak tragedi penyerangan yang terjadi di mansion Tuan Adrian Axton Giamoco, Boston, Amerika pada malam hari pukul 9 waktu setempat," ucap Sandara dari tempatnya duduk.
Semua wajah terlihat serius. Mereka mendengarkan penjelasan Sandara dengan saksama.
"Penyerangan dilakukan oleh 50 orang dengan seragam tempur bukan milik Black Armys, melainkan seragam tempur milik pasukan khusus Amerika. Penyerangan dilakukan melalui darat dan air. Armada tempur yang digunakan meliputi mobil tempur modifikasi dari Boleslav Industries tipe SUV sebanyak 5 unit. Lalu sebuah yacht yang mengangkut 2 buah jet ski yang menyerang dari arah laut," ucap Sandara sembari membalik kertas dalam buku binder besar yang berisi laporan penyelidikannya.
Mata semua orang menajam. Mereka mendengarkan detail laporan dari Sandara dengan serius.
Sepuluh orang dari pihak terdakwa terlihat pucat dan hanya bisa tertunduk. Sandara membalik lagi kertasnya dengan anggun.
"Selanjutnya. Senjata yang digunakan salah satunya buatan Vesper Industries. Ditemukan 10 granat tabung, 78 granat mini, 3 buah RPG dengan 12 misil. Lalu jenis senjata laras panjang type M16, AK-12 dan AK-47 yang disinyalir di dapat dari jajaran mafia di bawah naungan Raja Khrisna sebagai pemasok senjata serbu tersebut," ucap Sandara sembari membalik kertasnya lagi.
Kesepuluh terdakwa menelan ludah. Mereka makin tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Penyerangan dipimpin oleh anak ketiga dari Raja Krisna, Rohan. Di mana kita semua tahu jika Raja Khrisna adalah salah satu anggota dewan 13 Demon Heads. Menurut kode etik, sesama anggota dewan tidak boleh saling membunuh. Dalam hal ini, Raja Krisna tidak bersalah karena ia tidak melakukan pembunuhan secara langsung melainkan mengirimkan anaknya yang bernama Rohan untuk melakukan pembunuhan kepada Adrian Axton," ucap Sandara memulai pembelaannya.
Raja Khrisna terlihat menghembuskan nafas panjang. Rohan ikut lega berikut tahanan berbaju merah. Para hadirin yang ikut dalam pengadilan mulai saling berbisik.
DOK! DOK! DOK!
"Silence!" teriak Amanda lantang.
"Namun, terjadinya penyerangan yang dilakukan dalam jajaran dewan tetap dianggap menyalahi kode etik. Untuk mengungkap alasan penyerangan hingga menyebabkan tewasnya Adrian Axton, Sergei dan para bodyguard di bawah jajaran Giamoco, langsung saja, kita tonton hasil rekaman interogasi yang dilakukan oleh nyonya Amanda kepada tahanan bernama Rohan Krisna," ucap Sandara sembari melirik Monica yang bertugas sebagai operator.
Monica mengangguk paham. Tiba-tiba, dua buah layar besar muncul di sisi kanan dan kiri dari atas atap ruangan persidangan.
Semua orang menatap layar ukuran 60 inch itu seksama. Sebuah tayangan dari interogasi muncul dengan suara yang cukup santer terdengar bagaikan menonton bioskop.
Bahkan para terdakwa itu pun ikut menyaksikan tayangan tersebut, termasuk Rohan di mana ia tak ingat sama sekali dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Amanda Theresia.
Jantung semua orang berdebar. Sia mendadak merasakan sesak nafas. Pikirannya malah melayang dan membayangkan jika William yang nantinya akan duduk di sana.
Sia takut, mengingat sang suami sudah dianggap sebagai salah satu anggota keluarga Boleslav dan secara resmi, William sudah masuk dalam jajaran 13 Demon Heads. Sia panik.
Boleslav menyadari jika anaknya seperti memikirkan sesuatu. Mendadak Sia kembali pucat. Boleslav yang duduk di samping anaknya menatap Sia tajam.
"Dad, bagaimana jika William dieksekusi mati? Aku mendengar pengakuan Arthur dan lainnya ketika mereka menjadi sandera Tessa. Mereka bilang jika William mengadakan perjanjian dengan Tessa yang sebelumnya dilakukan oleh Denzel Flame. Tentang misi pembunuhan 5 orang. Namun, mereka tak tahu siapa saja orang-orang itu. Mereka hanya tahu jika Rahul salah satunya," jawab Sia berbisik hampir menangis.
Tiba-tiba, Boleslav memegang punggung tangan Sia lembut dan tersenyum manis. Sia terkejut dan menatap wajah Ayahnya lekat.
"Daddy sudah memikirkan hal itu. Oleh karenanya, Daddy mengutus Arthur, Maxim dan Yuri untuk mencari keberadaan William. Daddy juga mengirim Red untuk membantu. Percaya saja pada mereka dan yakinlah, William akan ditemukan sebelum dia melakukan aksi pembunuhan yang bisa mengancam nyawanya nanti jika sampai terseret di meja pengadilan," jawab Boleslav serius.
Sia mengangguk cepat. Ia langsung memeluk Ayahnya erat. Amanda melihat yang dilakukan oleh dua orang itu dari tempatnya duduk di kejauhan.
Amanda tersenyum. Ia yakin jika terjadi pembicaraan mengharukan diantara keduanya. Amanda kembali fokus pada jalannya persidangan.
Hingga akhirnya, Amanda mengetukkan palu kayu sebanyak 3 kali. Tayangan dari rekaman hasil interogasi pun dimatikan.
Semua orang mulai berbisik. Para terdakwa makin pucat bahkan Rohan kini tak bisa mengelak lagi setelah ia mendengar pengakuannya di bawah pengaruh gas halusinasi.
"Dari sini kita semua bisa menyimpulkan bahwa penyerangan yang dilakukan oleh Rohan atas perintah dari Raja Krisna memang sengaja sebagai bentuk balas dendam atas meninggalnya Rahul, anak kedua dari Raja Krisna. Namun, kematian Rahul bukan disebabkan oleh orang-orang Adrian Axton melainkan dari pihak militer pemerintah karena usaha Rahul saat itu yang ingin melenyapkan Denzel Flame. Rahul juga melibatkan banyak orang termasuk Sia, anak dari Amanda Theresia yang ternyata dijadikan sandera dan jaminan. Rahul juga melibatkan Wiliam yang saat itu masih berstatus Agent CIA dan 2 orang lainnya, Shamus dan Ace yang telah diketahui adalah agent rahasia menurut pengakuan dari 3 kawan William yakni Jack, Ara dan Catherine serta Sia yang terlibat dalam penyerangan tersebut dan hampir menewaskannya," ucap Sandara panjang lebar.
__ADS_1
Semua orang terkejut karena banyak yang tidak mengetahui hal ini. Tiba-tiba, muncul 3 orang yang diperkenalkan oleh Sandara adalah Jack, Ara dan Catherine. Praktis semua orang dibuat tertegun.
Tiga kawan William dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata alat penyetrum di kanan kiri mereka.
Mata semua orang kini menyorot tiga orang tersebut yang berdiri di depan meja empat Dewan Tertinggi.
"Kami sudah melakukan interogasi kepada tiga orang tersebut dan untuk lebih jelasnya, silakan Anda sekalian melihat tayangan yang akan kami tampilkan di mana mereka bertiga juga ikut dalam pengaruh gas halusinasi yang kami berikan," ucap Sandara sembari memberikan kode pada Monica.
Lagi-lagi, orang-orang itu terkejut mendengar pengakuan Ara, Jack dan Catherine dari hasil interogasi. Akhirnya, misi CIA kepada William terungkap secara gamblang. Bahkan nama Yes disebut.
Para mafia kembali berbisik sedang Jordan mulai terlihat bosan karena semua jatahnya diserobot oleh Sandara.
Hingga akhirnya, tayangan dari hasil interogasi itu pun usai. Jack, Ara dan Catherine hanya bisa pasrah di mana mereka sudah tidak mungkin lagi kembali ke CIA karena pasti akan dianggap berkhianat.
"Dari semua hasil rekaman yang kita lihat dan pengakuan dari orang-orang yang bersangkutan. Dengan ini, tim penetral memutuskan jika Raja Krisna dan Rohan tidak bersalah. Semua kesalahan dijatuhkan pada Rahul yang kini sudah tewas. Mengenai kematian Adrian Axton, Sergei dan orang-orangnya dianggap oleh tim netral sebagai resiko yang harus diterima oleh kubu Axton karena secara terang-terangan dan sadar telah mengambil Nandra, salah satu calon istri dari Rahul bahkan menghamilinya dan melahirkan anak darinya," ucap Sandara tenang.
Sontak, mata orang-orang terbelalak lebar terutama kubu yang berpihak pada Axton. Mereka tidak terima dengan keputusan dari Sandara. Pengadilan riuh seketika.
"Tidak bisa! Raja Krisna dan orang-orangnya harus dihukum mati! Mereka sengaja melakukan pembunuhan itu! Dengan matinya Axton, maka Raja Krisna bisa menguasai seluruh wilayah kekuasaan Axton yang selama ini mereka incar! Aku tahu niat busuk mereka!" teriak Bojan lantang dari tempatnya duduk menunjuk Raja Khrisna.
Sandara terlihat malas. Ia langsung menutup mapnya dan duduk dengan tenang. Jordan menatap Sandara yang terlihat masa bodoh dengan ucapan orang-orang yang menyalahkannya.
"Mereka juga sengaja ingin membunuh Nandra karena mereka tahu, jika keturunan Axton akan lahir dari rahimnya dan hal itu bisa membuat rencana mereka untuk menguasai Amerika gagal!" teriak Yusuke Tendo ikut menimpali.
"Ya, itu benar! Jika kalian melepaskan Raja Khrisna dan orang-orangnya, mereka akan menjadi ancaman untuk bayi Ryan! Anak itu belum bisa duduk sebagai anggota Dewan. Bayi itu bisa dibunuh dan mungkin akan terjadi setelah pengadilan ini selesai!" pekik Arjuna ikut protes.
"Axton menyelamatkan nyawaku dan bayiku. Dia mengorbankan dirinya agar kami berdua bisa hidup. Jika kalian membiarkan Raja dan orang-orangnya hidup, pengorbanan yang dilakukan oleh Axton, Sergei dan lainnya sia-sia!" ucap Nandra ikut berteriak.
"Beginikah caramu membalas budi keluarga Krisna pada Khan? Rahul berusaha untuk membebaskanmu dari cengkraman Axton, tapi kau malah memilih untuk tetap bersamanya. Kau mempermalukan keluargamu, Nandra!" teriak Jamal membalas dan menunjuknya dengan mata melotot.
"Axton memperlakukanku seribu kali lebih baik dari Rahul! Perjodohan itu hanya sebagai bisnis antara Khan dan Khrisna. Rahul memperlakukanku seperti budak s*ksnya! Dia tidak mencintaiku! Ia hanya mau tubuhku!" balas Nandra memekik.
Keempat Dewan tertinggi dibuat panik dengan hal ini. Suasana persidangan dipenuhi oleh ungkapan-ungkapan dari pemikiran para tamu yang datang. Hujatan-hujatan dilayangkan.
Sedang di sisi lain.
"Sandara, setelah ini ... apa kau mau makan ice cream?" tanya Jordan dari tempatnya duduk, mengabaikan hiruk-pikuk suasana kebencian di ruangan tersebut.
__ADS_1
Sandara tersenyum dan mengangguk pelan. Jordan balas mengangguk sembari bertopang dagu dan malah menatap Sandara lekat dari tempatnya duduk. Sandara gugup seketika.