
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
------ back to Story :
Malam itu, roof top sebuah restoran yang dipesan secara private oleh Yena. Los Angeles, Amerika.
Terlihat, Zaid sudah berdandan dengan setelan ekslusif dan tercium wangi maskulin menempel lekat di tubuhnya.
Yena terlihat gugup ketika menikmati steak di piringnya, sedang Zaid terlihat santai dalam tiap suapan di mulutnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Mm, Zaid ...," panggil Yena gugup sembari menghapus noda saos steak di bibirnya.
"Yes?" jawab Zaid sembari mengunyah daging steak di mulutnya.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan dan ini serius," ucapnya gugup.
"Yes, katakan saja, Babe," ucap Zaid yang kini menatap wajah kekasihnya lekat.
Yena membenarkan dudukkannya. Ia terlihat gelisah dan hal itu menarik perhatian Zaid untuk terus menatap kekasihnya.
"Apa kau sungguh mencintaiku dan berkeinginan menikah denganku?"
Zaid terkejut bahkan sampai menghentikan kunyahan di mulutnya. Ia meletakkan garpu dan pisau di piring perlahan.
Yena melihat Zaid mengelap bibirnya dengan serbet dan meneguk air mineral di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa? Kau meragukanku?" tanya Zaid menggeser piringnya menjauh dari dua tangannya yang kini berada di atas meja.
"Bukan begitu, hanya saja ... aku ingin kita hidup bersama, Zaid. Aku tak memiliki siapapun kecuali keluarga dari bibi Manda, begitupula kau, keluarga dari nyonya Vesper. Kita dua orang yatim piatu yang dipertemukan dalam sebuah misi tak terduga," jawab Yena dengan wajah tertunduk meski sesekali melirik ke arah kekasihnya.
Zaid tersenyum. "Kau mencintaiku?"
Wajah Yena merona, tapi ia mengangguk. Zaid mengulurkan kedua tangannya dan Yena memberikan dua tangannya perlahan terlihat malu.
Zaid mencium jemari kekasihnya lembut dan membuat jantung Yena makin berdebar kencang tak karuan.
"Aku juga sangat mencintaimu, Yena. Kau berbeda dan kau bisa menerima perbedaan kita dengan baik, meski aku tahu kau kesal dengan segala permintaanku," ucapnya yang praktis membuat Yena memonyongkan bibirnya. Zaid terkekeh.
"Hanya saja, kau tahu ada benteng besar menghalangi penyatuan kita, Yena. Aku pernah mengatakan jika ... aku tak bisa meninggalkan agamaku. Selama ini, penolongku adalah Tuhanku. Dia mengirimkan orang-orang baik yang peduli padaku melalui doaku. Kau bisa mengerti 'kan?" tanya Zaid menatap wajah kekasihnya lekat dan Yena mengangguk.
Zaid menarik nafas dalam. "Lalu kau sendiri bagaimana?" tanya Zaid terlihat sedih.
"Aku ... entahlah. Aku sudah membicarakan hal ini pada Sia. Aku sudah memikirkan hal ini seharian bahkan aku sampai tak bisa konsenterasi mengerjakan berkas-berkas setinggi gunung itu," jawabnya dengan pandangan teralih tak berani menatap mata kekasihnya yang terus memandanginya.
"Hei, jangan menangis. Kau tahu jika aku orang yang realistis. Aku berusaha jujur meski terdengar menyakitkan dan mungkin akan mengecewakanmu. Melupakanmu bukan hal yang mudah, Yena. Kau terlalu berperan banyak dalam hidupku dan aku ingin kau terus mengisinya sampai tak ada lagi nama wanita lain di hatiku selain kau," ucap Zaid semakin menggenggam erat tangan kekasihnya.
Yena meneteskan air mata. Zaid beranjak dari kursinya dan memeluk kekasihnya erat. Yena menangis di pelukan sang kekasih.
"Aku tak mau memaksamu. Yah, mungkin akan terdengar sedikit menyinggung, tapi aku ingin kau ikut dalam agamaku, Yena. Aku tak akan memaksamu melakukan 100 persen ajaran agamaku untuk membuatmu sempurna seperti perintah-Nya. Karena aku saja, menyimpang. Aku bahkan memiliki tatto! Aku juga melakukan praktek ilegal dan aku juga sadar jika Tuhanku pasti kecewa padaku akan hal itu," ucap Zaid dengan desahan panjang di akhir kalimatnya.
Yena terkekeh dan mulai menghentikan air mata sembari melepaskan pelukan sang kekasih.
Zaid tersenyum karena Yena tak menangis lagi. Ia merapatkan dudukkannya dan menatap wajah kekasihnya lekat sembari menghapus air matanya.
"Kita mahluk tak sempurna, Yena. Kita pasti mati suatu saat nanti. Kita akan terus melakukan kesalahan entah kecil atau besar tiap harinya, tapi aku ingin kita berdoa pada Tuhan yang sama untuk memohon ampun pada-Nya agar tak disiksa terlalu pedih di neraka nanti," ucapnya pelan, tapi membuat Yena kembali tertawa pelan.
"Jadi, kau ingin aku memeluk agama Islam, sepertimu?" tanya Yena lirih dan Zaid tersenyum.
__ADS_1
"Ya dan aku sadar jika ada beberapa perbedaan dalam ajaranmu dengan agamaku, tapi kita ambil jalan tengahnya agar tak menimbulkan konflik saat kita berdua menjalaninya nanti. Malah bisa dibilang, kita menjadi pelopor dalam hal ini. Aku rasa, banyak orang akan setuju dan mengerti. Tak harus aku, Javier, Eko dan Seif saja menyimpang. Bahkan orang-orang itu melakukan dosa lebih besar dariku karena mereka mafia sejati, meski mereka juga sadar jika membunuh, menjual narkoba dan ganja itu haram, tapi ... tetap dilakukan. Yah, seperti itulah kehidupan kita, Yena. Kita melakukan dosa dan kita berdoa mohon ampun. Semoga Tuhan tak muak dengan orang-orang seperti kita," ucap Zaid terlihat tertekan jika teringat orang-orang dalam jajarannya.
Yena kembali terkekeh dan hal itu membuat Zaid bahagia.
"Begitupula dengan agamaku, Zaid. Orang-orang yang kukenal juga melakukan hal yang sama. Apa bedanya? Kita semua menyimpang, kita ... tidak normal," sahut Yena mempertegas dan Zaid mengangguk pelan dengan senyuman lebar.
"Jadi ... menikah denganku?" tanya Zaid dan Yena mengangguk cepat.
Senyum Zaid merekah. Yena terlihat begitu bahagia karena akhirnya mereka bisa bersama meski ia harus merelakan keimanannya.
Yena merasa ia bukan seorang umat yang taat dan terlalu banyak kenangan dengan ibunya dulu ketika ia memeluk agamanya itu.
Yena tak bisa melepaskan ingatan itu dalam pikiran dan hatinya. Sepeninggalan ibunya, tak ada lagi yang menuntunnya bahkan sang ayah.
Hingga akhirnya, Yena memutuskan untuk beralih dan berharap jika pilihannya kali ini tepat.
***
Uhuk baiklah. Eps kali ini agak berbeda ya. Sengaja lele sertain karena terkadang kita menghadapi pilihan sulit apalagi soal agama.
Namun, lele itu tipe orang yang menyikapi suatu hal dengan mempertimbangkan hal positif lebih besar ketimbang negatifnya. Semua itu pilihan masing-masing, sebagai orang lain kita hanya bisa menghormati jangan menggurui.
Bisa dibilang kalo kaya lele, lakum dinukum waliyadin artinya "bagimu agamamu dan bagiku agamaku" yang menjadi dasar bagi lele gak suka ikut campur dalam keimanan seseorang.
Eps ini hanya sebagai contoh. Tanggapi kisah ini dengan bijak karena lele berusaha untuk gak melibatkan agama atau ras suatu kaum dalam tiap eps yang disajikan. Kalopun ada pasti ada kandungan di dalamnya berisi nasehat dan nilai toleransi yang tinggi.
Itu aja dan tengkiyuw tipsnya. Cuma keknya hari berikutnya gak dobel eps krn gak ada tips masuk di SM. Masuknya di 4YM semua😆
Lele padamu💋💋💋
__ADS_1