
Malam itu, William mengantarkan Selena kembali ke villa pribadinya. Mereka berdua
sama-sama diam tak ada yang dibicarakan.
Sampai di pintu gerbang, Selena turun
dengan sendirinya dan William pun langsung menginjak pedal gasnya pergi begitu
saja melaju kendaraannya.
William kembali ke apartment mewahnya karena khawatir dengan kondisi Sia. Begitu tiba di rumahnya, William kaget bukan
kepalang.
Ia tak menemukan Sia di rumahnya. Ia langsung menghubunginya. Mereka berbicara bahasa Inggris.
TUTT ...
"Hallo,"
William diam sejenak, itu bukan suara Sia.
"Rio?" tanya William memastikan.
"Yes. Hallo, William. Kenapa kau tak datang ke rumahku dan menjenguk adikku?" tanya Rio santai sembari memandangi lautan dari teras belakang mansion-nya.
"Sia, di rumahmu? Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa dia bisa ada di rumahmu?"
tanya William cemas dengan rentetan pertanyaan.
"Wow, kau marah padaku? Apa kau
sadar siapa yang kau ajak bicara? Oke baiklah, aku memaafkanmu kali ini. Hmm ...
dari pada kau banyak bertanya sebaiknya kau segera datang ke rumahku atau aku
tak bisa menjamin keselamatan Sia," ucapnya sinis.
"Jika sampai terjadi hal buruk pada Sia, aku tak segan padamu Rio," ancam William
emosi.
"Haha ... oke, oke ... let's we see."
KLEK.
TUT..
Segera William meninggalkan apartment-nya dan pergi menuju ke mansion Rio dengan tergesa.
William begitu mencemaskan keadaan Sia. Dia melaju pesat dengan mustang hitamnya membelah jalanan menuju ke Virginia Barat.
William sampai pada sore hari. Dia langsung berlari tergesa masuk ke mansion Rio.
Ternyata Rio sudah duduk di sofa bersama Sia disebelahnya. Entah apa yang dilakukannya, tapi Sia diam saja tertunduk membiarkan Rio merangkul lehernya dan tersenyum miring.
"William. Kau cepat juga. Sepertinya kau memang pembalap handal. Sayangnya, aku tak menemukan satupun trofi kemenanganmu pada turnamen-turnamen yang diselenggarakan diseluruh dunia. Jadi, tuan pembalap, sebenarnya siapa
dirimu?" tanyanya serius sembari membelai rambut Sia.
William tertegun, ia berpikir keras. Ia tak mau menghancurkan rencana kerjasama CIA dengan Selena.
"Baiklah, aku mengaku. Aku bukan pembalap profesional seperti yang kau kira, aku masih
amatiran. Oleh karena itu, aku menjual narkoba dan ganja karena ... ya, kau tahu
sendiri 'kan, keuntungannya sangat menggiurkan. Jika aku dapat banyak uang dari penjualanku maka aku bisa ikut pertandingan," ucap William berdalih.
Rio mengangguk pelan entah apa yang dipikirkan. Sia melirik William dalam diamnya
dan William tersenyum tipis pada Sia sekilas.
"Lalu ... bagaimana bisa Sia mengenakan pakaianmu?" tanya Rio sembari melemparkan
sebuah tumpukan pakaian berwarna hitam di atas meja yang berada di depannya.
William bingung. Ia mendekati meja itu dan mengambil setumpuk pakaian hitam. William
terkejut karena itu adalah pakaian miliknya.
Sia menatapnya seksama dan mengedipkan sebelah matanya. William tertegun dengan kode dari Sia. Rio menatap William tajam menunggu jawabannya.
"Oh mm ... aku juga tak tahu. Sia kenapa pakaianku bisa ada padamu? Apa kau mencurinya?"
Sia terkejut padahal bukan itu maksud dari kedipan matanya. Kini Rio menatapnya saksama.
"What? Mm ... ya ... yes, yes, i stole it," jawabnya gugup.
"What?!" pekik William dan Rio bersamaan.
Sia terpojok. Ia bingung.
"William, kenapa kau tak jujur saja jika kau datang menyelamatkanku semalam dari dua pria yang mencoba memperkosaku? Meski ..."
Sia memalingkan wajahnya. William bingung.
"Meski apa?" tanya William.
__ADS_1
"Meski kau terlambat dan aku kehilangan keperawananku karena lelaki ********
itu," ucapnya kesal memalingkan wajah.
Dahi William berkerut. Ia masih tidak paham.
"Lihat kecerobohanmu, William. Kau tak menjaganya dengan baik. Meski kau sudah
membunuh dua keparat itu, tapi lihat akibatnya, adikku kehilangan keperawanannya. Oleh sebab itu, kau, harus mati," ucap Rio penuh penekanan.
KLEK!
"Wow ... wow ... wow ... easy
Rio, what are you doing?" pekik William panik karena Rio menodongkan pistol ke wajah William dan menarik pelatuknya.
"Hei, apa kau tak ingat? Kau yang memintaku membawa Selena ‘kan? Jadi aku melakukan
apa yang kau minta? Kenapa saat aku pergi melaksanakan perintahmu, tak ada bodyguard lain yang menjaganya?"
ucap William membela diri.
"Sial, aku benar-benar tak suka
situasi seperti ini, aku terlihat sangat lemah," batin William kesal karena selalu berbohong.
Rio terlihat berpikir keras. Sia menatap Rio saksama. Ia ikut bermain drama.
"Benar kata William. Kau membiarkanku pergi begitu saja dengan teman-temanku tanpa
pengawalan. Sepertinya kau sudah tak peduli padaku. Kau mulai sibuk dengan bisnis milik Roberto," ucap Sia berlagak kesal.
Kini Rio yang tertegun karena Sia menyalahkannya. William tersenyum miring, kini ia tahu bahwa Sia dipihaknya. William memprovokator.
"Sia, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang untuk memeriksa kondisimu. Setelah kejadian semalam kau langsung pergi sebelum aku sempat membawamu ke dokter. Hanya mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan."
Sia mengangguk setuju. Sia dan William menatap Rio lagi. Rio terlihat terdesak.
"Oke, baiklah. Pergilah. Jangan pulang larut malam. Dan William, pastikan Sia baik-baik
saja, dan pastikan ia tak hamil anak ********-******** itu. Kau paham?" kata
Rio melotot dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah William.
William mengangguk paham. Sia langsung berdiri dan mendekati Sia.
"Baiklah, aku pergi dulu kak. Bye," ucap Sia berjalan melenggang meninggalkan Rio dan William.
"William, come on!" panggil Sia
William mengikutinya dan pamit pada Rio. Mereka berdua berjalan menuju ke mobil Mustang William dan langsung menuju ke rumah sakit.
Selama di perjalanan William berulang kali menoleh ke arah Sia tapi Sia mengabaikannya. Ia melihat ke samping jendela dan memandangi jalanan.
William memegang tangan Sia perlahan. Sia terkejut. William tersenyum manis padanya.
Sia memalingkan wajahnya dan tersenyum tipis menghadap jendela.
Tak lama, merekapun tiba di rumah sakit umum di kota Virginia Tengah. Sia yang sudah memiliki kartu registrasi prioritas pun langsung bisa menemui dokter tanpa
harus menunggu berlama-lama.
"Hai, Sia. Long time no see," sapa dokter
muda itu dan langsung memeluknya.
William berkerut kening. Ia terlihat tak suka akan sikap dokter itu yang sok akrab
dengan Sia. Dokter itu tahu, tapi mengabaikan William.
"Jadi, ada apa Sia, sayang? Tumben kau berkunjung kemari," ucap dokter itu dengan
senyum merekah padanya.
"Mm ... Jose, bisa kau berikan surat keterangan padaku bahwa aku baik-baik saja, tak mengalami kekerasan seksual dan ... aku tak hamil," ucap Sia gugup.
"What? Memang ada apa? Kenapa kau meminta surat seperti itu? Apa kau mengalami hal buruk? Siapa yang melakukannya?" tanya Jose cemas.
"Sudahlah, tinggal buatkan saja. Kau bisa ‘kan?" pinta Sia memohon.
Jose mengerutkan keningnya. Ia menatap Sia saksama. Kini ia beralih pandang kepada William.
"Pasti kau yang menyuruh Sia melakukan hal ini ’kan? Hei! Paman, apa yang kau lakukan?
Kau jangan melakukan hal yang tidak-tidak pada temanku, ya," ucap Jose
emosi pada William.
Sia dan William tertegun.
"Eh, kau salah paham Jose, malah paman itu yang menyelamatkanku. Ini permintaan Rio, kau tahu sendiri kan jika dia itu posesif
padaku. Jadi, tolong buatkan ya, please ..."
ucap Sia memohon dengan wajah imutnya.
Jose menyeringai.
__ADS_1
"Tentu saja, tapi, ada syaratnya. Kau tetap harus diperiksa. Jadi, mm ... paman, kau bisa tunggu di luar. Sia akan baik-baik saja bersamaku, jangan khawatir. Ini ... pemeriksaan intim," ucapnya sembari menaikkan salah satu alisnya.
William marah, ia tahu maksud dari raut wajah Jose. Ia langsung berjalan tergesa-gesa
mendatangi Sia dan menarik tangannya. Sia terkejut.
William langsung mengajaknya keluar dari ruangannya. Sia kebingungan. Jose hanya duduk melongo melihat Sia ditarik paksa oleh William.
"William apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita!" ucap Sia panik.
William berhenti seketika. Ia melepaskan tangan Sia.
"Kau membiarkan dirimu dijamah oleh lelaki brengsek itu? Teman macam apa yang memegang kemal*an teman lawan jenisnya, hah? Kau sengaja, ya?" ucap William dengan mata melotot.
Sia terkejut. Ia merasa bahwa William marah padanya. Sia mendekatinya perlahan dengan tersenyum
"Kau cemburu, ya?" ledek Sia.
William kesal. Ia langsung berpaling dan berjalan tergesa meninggalkan Sia.
"Kau sudah berjanji akan melindungiku dan akan selalu menemaniku. Apa kau mengingkari janjimu?!" teriak Sia dari kejauhan.
William berhenti seketika. Ia tak menyangka jika Sia mengingatnya. Perlahan Sia berjalan mendekatinya tersenyum gemas. Sia merangkul lengannya.
"Ohh! Ternyata
kau tipe lelaki yang menepati janji. Jangan marah, kita pergi ke rumah sakit
lain saja, kali ini terserah padamu. Kau yang pilih," ucap Sia manja menatap William dengan genit.
Entah kenapa William tak bisa marah padanya. William langsung memeluknya dan Sia pun membalasnya.
"Kau ini memang sangat menyebalkan. Kau berhasil membuatku cemburu. Jangan lakukan lagi atau aku tak akan bertanggung jawab pada semua lelaki yang akan babak belur karena kemarahanku," ucap William memperingatkan.
Sia terkekeh mendengarnya. Ia mengangguk dalam pelukan hangat William. Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit dan pergi ke rumah sakit umum lainnya.
William mencarikan dokter kandungan perempuan. Ia tak mau Sia diperiksa oleh dokter laki-laki.
Akhirnya, Sia mendapatkan surat keterangan serta hasil lab atas pemeriksaannya. Sia dan William lega.
Ternyata mereka berdua sedari tadi sudah diawasi oleh Igor sejak dari mansion Rio.
Seusai dari rumah sakit, William mengajak Sia makan malam di restaurant mewah sebagai penebusan dosa karena saat itu ia mengajak Selena dan bukan dirinya.
Terlihat rona wajah kebahagiaan terpancar diantara mereka berdua. Sia begitu senang menghabiskan seharian itu bersama William, kekasihnya.
Tak terasa malam sudah menunjukkan pukul sembilan. William mengantarkan Sia kembali ke mansion Rio.
Sia tak ingin berjauhan dengan William, ia begitu manja padanya dan William pun menyukainya.
Sia duduk dipangkuan William yang sedang fokus menyetir. William yang ahli dalam berkendara pun tak masalah dengan Sia yang berada dalam pangkuannya.
"Sia, kita sudah hampir sampai. Kau duduklah di belakang," ucap William menghentikan laju kendaraannya dan menepikan dibahu jalan.
"Hmpf, aku tak mau tinggal di rumah itu lagi. Aku ... merasa tertekan," ucap Sia lirih dan masih duduk di pangkuan William.
"Aku tahu, Sayang. Aku akan mencari cara untuk membawamu keluar dari sana. Aku ada
satu ide tapi entah kau akan menyukainya atau tidak karena ini sangat berisiko," ucap William cemas.
"Apa itu? Jika itu bisa membuatku terbebas dari Rio dan ayahku, aku bersedia," ucap Sia yakin.
William diam sejenak. Ia berpikir keras akan idenya ini. Ide yang ia harap bisa menjebloskan Julius dan Rio ke penjara dan membebaskan Sia dari mereka selama-lamanya.
William memegang kepala Sia lembut dan membelainya perlahan.
"Sia. Aku ingin kau membantuku membongkar kejahatan Rio dan ayahmu, Julius. Mereka menjadi incaran pemerintah. Jika aku bisa memenjarakan mereka berdua, aku berjanji akan membuatmu terbebas dari semua keterlibatan dalam usaha gelap mereka," ucap William serius.
Sia tertegun dan langsung duduk tegap. Ia menatap William seksama.
"Jadi ... benar, kau seorang agent CIA?" tanya
Sia menatap William tajam.
"Kau tahu?! Sejak kapan?" tanya William kaget setengah mati mendengarnya.
"Mm ... saat di pondok Roberto," jawabnya lirih.
Entah kenapa meski jantung William berdebar kencang, tapi ia merasa lega dengan pengakuan Sia.
William begitu senang. Ia menyentuh wajah Sia dengan senyum merekah diwajahnya.
"Jadi, kau mau membantuku?" tanya William memastikan.
"Ehem, tentu saja. Aku sudah lelah dengan kehidupan seperti ini. Aku ingin hidup normal
seperti gadis lainnya," jawab Sia jujur.
William begitu bahagia mendengarnya. Ia memeluk Sia erat dan mencium kepalanya dengan penuh rasa cinta.
William lega karena Sia bersedia bekerjasama dengannya. Malam itu untuk pertama kalinya, Sia merasakan sebuah kebebasan akan hidupnya yang selama ini terkekang dalam kehidupan dunia mafia.
-------
jangan lupa like, vote dan komennya ya~
hari ini bonus 2 eps😁 biasa bertahap
__ADS_1