Secret Mission

Secret Mission
Berkabung


__ADS_3

Mata semua orang melebar seketika. Jeremy dan para petugas medis langsung dengan sigap menindak Axton.


Namun, Axton mendekap bayinya kuat. Bahkan tangannya sangat sulit untuk dilepaskan. Bayi Ryan menangis.


Nandra tak tahu apa yang terjadi. Ia ikut panik dan khawatir jika hal buruk terjadi pada anaknya.


Namun, teriakan Jeremy yang terus memanggil nama Axton membuat jantungnya berdebar kencang.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Katakan sesuatu padaku!" tanya Nandra panik karena ia tak bisa melihat.


Banyak orang menutupi pandangannya ke ranjang tempat Axton berada.


"Siapkan kejut jantung segera!" perintah Jeremy lantang.


Mata Nandra kini tertuju pada bayinya yang digendong oleh perawat untuk di mandikan. Namun, pandangan Nandra beralih pada Axton yang terbaring diam tak bergerak dengan banyak petugas medis di sekelilingnya.


Nandra langsung membungkam mulutnya. Bahkan ia sampai tak sadar jika Dokter yang menindaknya telah selesai menjahit area usai ia melahirkan.


Mata Nandra kini terfokus pada Axton yang berusaha untuk dibangunkan oleh Jeremy dengan alat-alat medis di tubuhnya.


Hingga akhirnya, mulut Nandra menganga ketika melihat Jeremy menutup wajahnya dan memalingkan tubuh dari Axton yang tergeletak di atas ranjang pasien dengan mata terpejam.


Air mata Nandra langsung menetes begitu saja. Ia membungkam mulutnya rapat. Tangannya berusaha meraih Axton yang berada jauh darinya.


Semua petugas medis tertunduk lesu karena mereka tak bisa menyelamatkan Sang Casanova.


"Hiks, Axton ...," panggil Nandra dalam tangisannya dan tangan kanannya terus berusaha menggapai tangan kiri Axton yang terjuntai lesu di samping ranjang.


Jeremy memberikan kode pada petugas medis dan mereka mengangguk paham. Ranjang Axton di dekatkan ke samping Nandra.


Wanita India itu berusaha bangun dan kini menatap Axton lekat yang sudah memejamkan mata untuk selama-lamanya.


"Hiks, Axton ...."


Semua orang terdiam dan berlinang air mata. Nandra menangis dan memeluk Sang Casanova erat.


Torin dan semua orang yang melihat dari balik jendela yang kini telah dibuka oleh petugas ikut menangis.


Sambungan video live yang sengaja disiarkan oleh Arjuna dan dilihat oleh para jajaran dewan membuat para mafia ikut terhanyut dalam kesedihan.


Amanda menangis dalam pelukan suaminya. Boleslav balas memeluk sang isteri dan terlihat begitu berusaha menahan kesedihannya karena harus kehilangan lagi salah satu sahabatnya.


Sia yang bahkan belum begitu akrab mengenal Axton ikut menangis. Ia tak menyangka jika Axton akan tewas setelah melihat kelahiran puteranya.

__ADS_1


Sia kembali teringat akan William. Ia takut hal itu juga terjadi padanya nanti. Ia tak mau saat William tahu jika ia hamil dan akan melahirkan, itulah saat terakhir ia bersamanya.


Yena melihat Sia yang memegangi perutnya. Yena langsung menggenggam erat kedua tangan Sia dan menatapnya tajam.


"Kita akan cari William. Aku berjanji akan mempertemukanmu dengannya, Sia. William harus tahu jika kau mengandung anaknya dan ia harus mengakuinya," ucap Yena mantab dan Sia mengangguk pelan.


Vesper yang berada di Belize ditemani Kai, hanya bisa tertunduk sembari memeluk King D yang tidur dalam pelukannya.


"Kai. Panggil Raja Khrisna. Katakan padanya, Pengadilan 13 Demon Heads menunggunya. Ia menolak, hukuman mati di tempat berlaku untuknya," ucap Vesper tegas dan Kai mengangguk paham.


Kai segera pergi. Lysa dan orang-orang dalam jajaran Vesper terdiam melihat Sang Ratu seperti marah meskipun wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi mereka tahu, monster sebenarnya sedang mengamuk di dalamnya.


"Siapkan penerbangan ke Italia. Pastikan Jordan dan Sandara bersiap. Aku berikan waktu 3 hari untuk mengusut semua," ucap Vesper dengan pandangan masih tertuju pada layar monitor yang menayangkan kejadian live di ruang medis mansion Han.


Lysa mengangguk paham. Ia ikut beranjak dan segera menghubungi dua orang itu. Vesper lalu melirik anggota Red Ribbon yang berdiri di sekelilingnya. Orang-orang itu pucat seketika.


"Jika Lucy dan Yohanes datang. Trio Jawa, kalian yang bertanggungjawab atas mereka," ucap Vesper menatap tajam tiga lelaki tersebut dan mereka mengangguk cepat.


"King D akan ikut bersamaku. Jika Tobias ingin mengambilnya, biarkan ia datang padaku," ucap Vesper sembari memeluk cucu kesayangannya dan mengecup pucuk kepalanya penuh kasih sayang.


Orang-orang yang mendengar hanya bisa mengangguk dengan gugup.


Di sisi lain.


"Kau kalah cepat, Nona Tessa. Axton sudah digempur oleh orang lain meski sampai saat ini kami belum tahu siapa pelakunya," ucap pion Dexter melaporkan.


Nafas Tessa menderu seperti berusaha agar tak terpancing emosi. Blacky berdiri diam di samping Nonanya.


"Aku hanya mengulur waktu. Aku tahu kau menyisipkan surat pada Lysa saat mengirimkan King D. Namun, kau lupa satu hal, Tobias. Belize adalah rumahku. Seharusnya kau pastikan jika Damian becus dalam bekerja. Suratmu, ada padaku," ucap Tessa santai dan hanya melirik Tobias sekilas.


Mata Tobias terbelalak. Tessa tersenyum miring sembari mengiris steak-nya. Blacky mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkan di atas meja samping piring Tobias.


Tobias melotot, ia mengenali surat itu. Lelaki bertato itu segera membuka suratnya dengan nafas menderu.


BRAKK!


PRANGG!!


Tessa dan Blacky terkejut. Tobias menggebrak meja lalu menarik taplak hingga seluruh benda di atasnya jatuh ke lantai.


Para D yang berada di luar segera masuk ke dalam dengan pistolnya. Tessa dan Blacky waspada seketika.


"Kau ... Berani memanipulasiku, Tessa. Kau bahkan berani menyentuh King D. Kau menyatakan perang padaku? Baiklah. Aku suka cara licikmu. Lakukanlah yang kau mau, tapi ... Ingatlah, jika bukan aku yang membunuhmu maka akan kubuat si Arjuna yang melakukannya untukku. Kau bisa berenang 'kan? Selamat bersenang-senang," ucap Tobias dengan seringainya.


"No, no, Tobias! Tobias!" teriak Tessa saat para D mendatanginya dan menyeretnya keluar dari kapal begitu pula Blacky.

__ADS_1


Lelaki berwajah seperti tengkorak itu memberontak. Blacky mencoba melawan, tapi kekuatan para D lebih besar. Blacky dipukuli dan dihajar habis-habisan hingga ia lemas.


Yacht yang masih berada di perairan dangkal dekat dengan Cuba mulai menyalakan mesinnya.


Tessa berteriak histeris. Dua orang itu terlihat panik saat tubuh mereka di dorong ke pinggir kapal dan ....


"AAAA!"


BYURR!!


BREMMM!


"Hah, uhuk! Blacky!" teriak Tessa panik karena melihat bodyguard kepercayaannya seperti tenggelam.


Tessa melihat Blacky mencoba untuk tetap terapung. Wanita berambut pirang itu segera berenang mendekati Blacky dan mencoba membawanya ke pinggir pulau terdekat.


Yacht yang menganggkut Tessa pergi meninggalkan keduanya begitu saja.


Tessa terlihat kesulitan saat berusaha menolong Blacky yang hampir tak sadarkan diri dengan membawanya sambil berenang ketepian.


Hingga akhirnya, sebuah perahu layar melintas. Dua pasangan yang sedang menikmati pantai Cuba terkejut. Dua orang itu mendekatkan perahu mereka ke arah Tessa.


"Hei, hei, kau tak apa?" tanya pria berkacamata saat membungkuk berusaha menolong Tessa.


"Yes, tolong dia," ucap Tessa mengarahkan tubuh Blacky padanya, tapi lelaki itu terkejut karena sosok Blacky yang menyeramkan.


Wanita yang berada di perahu juga ketakutan. Tessa terlihat marah pada keduanya, ia tersenyum tipis. Seketika ....


DOR! DOR!


BYURR!


Tessa menembak keduanya dari pistol yang selalu Blacky siagakan di balik pinggangnya. Dua orang itu tercebur dengan luka tembak tepat berada di dada dan menewaskan mereka.


Tessa menaikkan Blacky di perahu tersebut berikut dirinya. Tessa berusaha menyadarkan Blacky dengan CPR.


"Ohok! Ohok! Hah ...."


Blacky mulai membuka mata setelah ia memuntahkan seluruh air dalam mulutnya. Tessa tersenyum sembari menyentuh wajahnya di mana tato yang menutupi paras aslinya ternyata bukan tato permanen.


"Pakailah topi ini, Blacky. Riasanmu luntur," ucap Tessa dan Blacky segera bangun.


Blacky mengambil topi yang ada di kapal itu. Saat ia akan memakainya, ia menemukan cermin di sana. Tessa melirik Blacky yang memandangi wajahnya dengan sendu.


"Kita berdua sedang mengusahakan cinta kita, Blacky. Bersabarlah, tinggal sedikit lagi. Seperti katamu, "Sandara akan selalu menungguku."," ucap Tessa yang mulai mengarakan perahunya menuju ke pantai.

__ADS_1


Blacky mengangguk pelan dan meletakkan cermin itu kembali. Ia memakai topi tersebut dan membantu Tessa membawa perahu layar ke pulau.


__ADS_2