
Di villa Rahul, kamar yang digunakan sebagai pusat kendali.
"Bagaimana sekarang? William dibawa oleh Axton dan kini ia pasti sedang dihasutnya! Dia pasti akan menghianati kita dan akan membocorkan semuanya! Argghh!"
BRAKK!!
Semua orang tertegun. Rahul mengamuk lantaran William tertangkap dan tak tahu apa yang terjadi dengannya.
Sebuah kursi kayu menjadi pelampiasan amukan Rahul hingga retak. Semua sambungan dan komunikasi dengan William terputus. Rajesh dan seluruh team saling memandang.
****
Di mansion Arjuna keesokan harinya.
Sia yang begitu datang langsung diantarkan ke kamarnya, tak bertemu Arjuna. Sia memaklumi hal itu dan tak mempermasalahkannya.
Namun, saat matahari sudah menunjukkan sinarnya dan menembus kaca jendela kamar, Sia terbangun karena mendengar suara orang berteriak seperti sedang berlatih.
Sia membuka matanya perlahan. Ia yang kini sudah lebih sigap tak malas seperti dulu segera beranjak dari kasur empuknya dan membuka pintu teras menuju balkon.
Hembusan angin sejuk menerpa wajahnya yang cantik dan mengibaskan rambut panjang berkilaunya pagi itu.
Sia melihat di kejauhan, lelaki bertato yang dikenalnya sedang berlatih adu tarung dengan para bodyguard yang maju satu persatu mencoba menjatuhkannya.
Sia tertegun karena Arjuna mengalahkan mereka dengan mudah menggunakan gaya judo yang sempat ia pelajari juga.
Sia sampai melongo karena Arjuna terlihat seperti tidak lelah dengan serangan-serangan tersebut. Ia mengelak dengan mudah dan balas menjatuhkan dengan cepat.
Namun, saat para lelaki yang mengelilinginya mulai membawa balok kayu yang digunakan untuk melukainya, mata Sia melotot tajam.
Ketika salah seorang lelaki itu akan memukul punggungnya, Sia berteriak lantang dari atas balkon.
"Arjuna awas!" pekiknya lantang dan BRAKK!!
"ARGHH!"
"Tuan muda!" teriak para lelaki itu yang terkejut karena Arjuna terkena pukulan itu tepat dikepalanya dan seketika tetesan darah muncul di samping kepalanya.
"Oh my God!"
Sia terkejut dan langsung turun dengan tergesa dimana ia hanya memakai piyama tidur lengan pendek dan celana kain panjang.
Arjuna memegangi kepalanya yang sakit. Alex yang ada di lokasi ikut terkejut karena Arjuna selalu bisa mengelak dan tak pernah terluka saat berlatih. Semua orang panik seketika.
"Arjuna, are you oke?" tanya Sia panik disusul oleh Maksim dan Yuri yang kini berdiri di belakangnya.
"Agh! Kenapa kau berteriak? Lihat perbuatanmu! Kepalaku berdarah!" teriak Arjuna marah hingga seluruh tubuhnya memerah.
Sia terkejut. Sikap ramah Arjuna yang diingatnya sangat berbeda jauh dengannya hari ini. Sia gugup dan terlihat takut saat Arjuna mendekatinya dengan nafas menderu.
"Tuan, ingat ... dia sekutu kita," ucap Alex mengingatkan karena takut Sia akan kena amukkannya.
"Wanita semua sama saja. Pembawa sial. Harusnya namamu bukan Sia, tapi Sial!" pekik Arjuna dengan bahasa Indonesia dan Sia tak mengerti apa yang dikatakannya.
Namun, Sia tahu jika Arjuna marah padanya. Arjuna melotot tajam pada Sia dan berjalan masuk ke mansion diikuti anak buahnya untuk diobati lukanya.
Alex mendekati Sia yang tertunduk seperti terkejut akan sikap Tuan Mudanya ini.
"Maaf, Nona Sia. Tuan Arjuna hanya kaget saja. Sebaiknya saran saya, jangan mengganggu Tuan Muda saat ia berlatih. Itu saja dan bersiaplah. Anda datang kemari karena ada pesan dari Nyonya Vesper untuk Anda yang akan disampikan oleh Tuan Arjuna sendiri," ucap Alex sopan dan Sia mengangguk paham.
__ADS_1
Sia lalu kembali ke kamarnya masuk melewati ruang tengah. Ia melihat Arjuna yang bertelanjang dada sedang diobati lukanya oleh seorang lelaki.
Sia heran karena tak melihat pelayan wanita sejak kedatangannya semalam. Semua pelayan laki-laki bahkan koki di mansion itu.
"Mm, Alex. Apa tak ada wanita di sini?" tanya Sia gugup saat Alex mendekatinya diikuti Maksim dan Yuri.
"Sebelumnya ada, tapi sudah dipecat oleh Tuan Muda. Dia lebih nyaman dengan para lelaki di sekelilingnya. Jangan salah paham, Tuan Arjuna normal hanya saja dia ... mm," ucap Alex terputus saat Arjuna tiba-tiba mendekati mereka.
"Jangan bicara yang tidak penting. Segera siapkan berkas," ucap Arjuna yang kepalanya sudah dibalut perban.
Arjuna menatap Sia tajam. Sia hanya tertunduk karena merasa bersalah sudah membuat Arjuna terluka.
Arjuna tak bicara apapun pada Sia dan segera berpaling darinya. Sia merasa jika Arjuna membencinya.
Sia juga tak ingin membuang waktu. Ia merasa tak nyaman seketika di rumah itu dan ingin segera pergi dari mansion tersebut.
Sia segera bersiap dan menyantap sarapannya di kamar. Ia enggan keluar kamar.
Hingga akhirnya, Maksim dan Yuri memanggilnya karena sudah tiba waktunya bagi Sia bertemu dengan Arjuna di ruang kerjanya.
Sia terkejut karena Arjuna terlihat tampan dengan stelan jas hitam yang rapi. Rambutnya disisir dan perbannya juga sudah dilepas.
Sia duduk perlahan di depan Arjuna yang terlihat serius dengan dokumen yang ia pegang. Maksim dan Yuri berdiri di samping kanan kiri Sia. Alex berdiri di samping Arjuna.
"Kau gagal masuk seleksi anggota dewan," ucap Arjuna cepat dan tak memandang Sia sedikitpun.
Sia tertegun begitupula Maksim dan Yuri. Arjuna meletakkan map itu di depan Sia dan kembali menyenderkan punggung di kursi kerja memasang wajah garang.
Sia mengambil map itu dan membukanya perlahan. Ia membacanya seksama dimana banyak kriteria dari Sia yang di bawah standar, membuatnya tak bisa masuk ke dalam jajaran anggota 13 Demon Heads.
"Kau bisa mencobanya nanti. Saat sudah ada anggota dewan yang gugur atau bisa dibilang "mati" saat masa jabatannya. Jika kau hanya mengandalkan kecantikanmu, kau sebaiknya mendaftar Miss Universe saja," sindir Arjuna tersenyum miring.
Saat Sia keluar ruangan bersama Maksim dan Yuri dengan penuh emosi, ia terkejut ketika menaikkan pandangannya dan melihat seorang lelaki yang dikenalnya berdiri menatapnya seperti patung.
Jantung Sia berdebar kencang seketika. Mapnya bahkan jatuh dan ia tak memperdulikannya.
Sia melangkahkan kakinya dengan gugup dan tubuhnya gemetar seketika.
Orang itu juga melangkahkan kakinya perlahan. Kedua mata orang itu hanya terfokus pada Sia.
Saat mereka sudah saling tersenyum, tiba-tiba Sia dipeluk dari belakang dan sontak matanya melebar seketika begitupula mata orang yang mendekati Sia. Ia menghentikan langkahnya.
"Jangan cemberut, Sayang. Bukannya aku tak mau menghabiskan waktu denganmu. Hanya saja pekerjaanku banyak sekali. Kau memahaminya, 'kan?" ucap Arjuna mesra dan CUP.
Semua orang tertegun. Arjuna memeluk Sia dari belakang dan mencium pelipisnya mesra bertelanjang dada entah sejak kapan ia menanggalkan pakaiannya.
Mata lelaki itu bergerak tak beraturan. Ia tertunduk dan membalik tubuhnya seketika seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Will ... William!" teriak Sia yang ikut terkejut akan aksi gila Arjuna yang tiba-tiba.
Sia mencoba melepaskan dekapan Arjuna yang kuat itu, tapi Arjuna hanya tersenyum tipis seakan apa yang dilakukan Sia tak ada gunanya.
"William!" teriak Sia lagi yang melihat William semakin jauh pergi darinya.
Maksim dan Yuri bingung, tak tahu harus memihak siapa. Hingga akhirnya, Sia yang marah besar itu melakukan aksi balas pada anak kedua Vesper.
"Argh!"
Dekapan Arjuna terlepas saat Sia nekat menggigit tangan Arjuna hingga lecet. Sia segera berlari mengejar William yang sudah menaiki mobil dan bersiap pergi itu.
__ADS_1
BROOM!
"WILLIAM!" teriak Sia lantang yang sudah berderai air mata.
Ia sangat merindukan kekasihnya itu dan ketika bertemu malah kekecewaan yang dilihatnya.
Sia tetap nekat mengejar William. Ia melepaskan sepatu berhak dan bertelanjang kaki mengejar mobil kekasihnya yang sudah keluar dari gerbang mansion.
Sia mengumpulkan seluruh tenaganya pada kakinya dan berlari sekencang mungkin. Semua orang di sana kebingungan dan hanya saling memandang saat Sia sudah di depan gerbang yang ditutup berusaha untuk membukanya.
"Nona Sia! Kau berani keluar dari gerbang itu, maka kau akan dikeluarkan dari perkumpulan mafia!" teriak Alex lantang dari halaman mansion dengan Maksim dan Yuri terlihat panik melihat kondisi ini.
Sia menoleh dan menatap semua orang tajam. Sia mendorong dada dua bodyguard yang memegangi pintu gerbang dengan kuat hingga mereka berdua terdorong ke belakang.
Sia membuka gerbang itu dan kembali berlari mengejar William. Arjuna melihat dari kejauhan dengan terheran-heran.
"Sebesar itukah cinta Sia pada agent itu? Hmm menarik," ucap Arjuna dalam hati memasukkan kedua tangan dalam saku celananya.
Saat Sia berlari sekencang-kencangnya mencoba mengejar mobil William yang masih terlihat itu, tiba-tiba ...
DOR!
CIITTT!
William menghentikan laju mobilnya dan melihat dari kaca spion dimana Sia tergeletak di tengah jalan.
Mata William melotot seketika. Ia langsung memundurkan mobilnya dengan cepat mendekati Sia yang terlihat masih bergerak itu dengan panik.
"Ya Tuhan ... Sia ... Sia ...." ucap William dengan kepala menoleh kebelakang agar ban mobilnya tak melindas Sia.
"Agh," rintih Sia yang terkena tembak di bahunya.
Orang-orang dari dalam mansion segera keluar dengan senjata dan ikut berlari mendekati Sia.
Para bodyguard melihat pergerakan di pepohonan dan mulai menembak. Semua orang panik dan tegang seketika.
William segera turun dari mobil dan memegangi Sia. William melihat Sia pucat dan segera membopongnya masuk ke dalam mobil. Ia mendudukkan Sia di kursi tengah dan segera kembali ke kursi kemudi.
"Nona Sia!" teriak Maksim yang terkejut karena William malah membawa Sia bersamanya.
William melihat dari spion mobil dan menarik nafas dalam. Ia menginjak gas mobilnya dan BROOM!
"NONA SIA!" teriak Yuri lantang dan ikut menembaki mobil William agar berhenti melaju.
Namun, William menekan gas penuh dan mobilnya melaju kencang. William panik melihat Sia berdarah hebat hingga matanya terpejam menahan sakit.
William segera menyalakan GPS pada mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. William tak tahu apa yang terjadi. Namun, ia yakin jika pelakunya adalah anggota The Circle.
Axton sudah menceritakan banyak tentang kelompok mafia itu. Axton bahkan mendukungnya untuk melenyapkannya. Axton yang bahkan sudah tahu jika ia kini dalam jajaran Rahul tak mempermasalahkannya.
William tak menyangka, jika ia akan bekerjasama dengan seorang mafia. Bahkan Axton terlihat cuek saja saat akhirnya William mengaku aksi nekatnya menerobos mansionnya untuk mengambil Nandra, wanita Rahul.
Namun, jawaban Axton sungguh tak disangkanya yang membuatnya berpikir jika Axton salah satu mafia paling gila yang pernah ditemuinya.
"Enak saja. Nandra yang datang padaku. Jika Rahul menginginkannya kembali, dia harus membunuhku. Aku menyukai Nandra dan belum bosan dengannya. Aku tak mau menyerahkannya meski ia memberikan seribu wanita untukku sebagai gantinya," jawab Axton kala itu.
----
sampai akhir bulan nanti sm up ny masih jarang ya. akan lele usahakan up dobel tiap harinya nanti mulai sept. kalo ada tipo2 mohon maaf. ngetiknya pke hp soalnya dan nyambi kerja ini. lele sempatkan agar kalian gak penasaran dg lanjutan kisahnya. happy reading.
__ADS_1