
William dan Sia berkumpul di pusat kendali bawah tanah markas Red Skull ditemani oleh Bykov.
William melihat para anggota rekrutan barunya berdiskusi di dalam kolam renang. Rencananya cukup efektif untuk membuat pikiran dan tubuh mereka dingin terkena air agar berpikir.
Mereka bicara bahasa Rusia.
"Caramu boleh juga, Sayang," ucap Sia memuji melihat dari tampilan layar CCTV yang menyorot kolam renang.
William tersenyum. Bykov menyampaikan laporan dari hasil kerjanya atas permintaan William tadi.
"Will. Aku sudah meminta anak buahku menelusuri tempat yang kau minta tadi. Hanya saja, tempat itu sudah bersih. Tak ada lagi jejak anggota gengster seperti informasimu saat bertugas dulu," jawab Bykov serius, duduk di samping Sia.
"He? Kau meminta Beruang Hitam melakukan perekrutan?" tanya Sia menebak dan William mengangguk.
"Ya. Dulu Liev pernah ditugaskan untuk memata-matai daerah tersebut hampir 3 bulan lamanya. Menurut laporan Liev saat itu, ada kumpulan mafia kelas teri yang melakukan perdagangan ilegal senjata buatan Amerika. Hmm, tapi jika penyelidikanmu mengatakan demikian, mungkin kepolisian Rusia sudah menyelesaikannya karena CIA tak mungkin melakukannya. Ini bukan wilayah kekuasaan mereka," ucap William serius.
Sia dan Bykov mengangguk. Tiba-tiba, ponsel Sia berdering. Ia terkejut karena Jonathan yang meneleponnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Yes, Jo?"
"Kak Sia! Cepat pulang. Kami menemukan penyusup! Ditunggu ya. Bye!"
KLEK! TUT ... TUT ... TUT ....
Mata Sia melebar seketika. William dan Bykov menatap Sia tajam.
"Ada apa?" tanya William curiga.
"Ada penyusup di markas Rio. Ayo, Will. Kita harus segera pulang," jawab Sia sembari beranjak.
William dan Bykov terkejut. Bykov ikut menemani bersama anak buahnya untuk melindungi Sia dan William.
Sia menyerahkan pelatihan sementara waktu kepada Olya dan ia menyanggupinya.
Sia segera melaju BMW-nya dengan kecepatan penuh. William cukup terkejut karena Sia seperti pembalap. William malah tegang karena Sia seperti pengendara ugal-ugalan.
__ADS_1
BROOMM!!
"Nona Sia!" panggil Maksim yang ternyata ikut datang ke tempat itu bersama dengan Yuri dan Jason.
"Oh! Kalian di sini?" tanya Sia bingung.
"Ya. Tuan Boleslav meminta kami untuk memeriksa markas Rio yang katanya dipersenjatai oleh Jonathan," sahut Yuri sembari mendekatinya.
"Ya. Kau tahu 'kan jika ayahmu itu masih kesal dengan anak ketiga Vesper itu. Ia tak percaya dengan pekerjaannya," bisik Maksim dan Sia hanya tersenyum tipis.
"Hai," panggil Jason saat ia mengulurkan tangan kepada William yang duduk di kursi roda.
William menyambutnya dan tersenyum. Jason dengan ramah mendorong kursi roda William dan membuat lelaki bermata biru itu sungkan.
"Aku ... bisa sendiri," ucapnya tak enak hati.
"Santai saja. Jika Jordan yang melakukannya pasti ia sudah mendorong kursi rodamu ini sampai membentur dinding hingga kau tewas. Beruntung aku melakukannya. Jason anak yang baik. Tak suka membunuh dan suka menolong. Ingat ya, Jason dan Jordan berbeda, jangan sampai lupa," ucap Jason yang membuat orang-orang meringis.
Saat William dan rombongannya masuk ke dalam, mereka terkejut ketika melihat Jonathan memakai pakaian seperti petinju, lengkap dengan sarung tinju di kedua tangannya.
"Jonathan?!" pekik Sia kaget karena ia menjadikan seorang lelaki yang diikat kedua tangan dan kakinya seperti bantalan untuk dipukul layaknya latihan tinju.
"Oh, hai! Perfect time! Sini sini, hah, Jojo lagi belajar tinju nih. Cuma ni bantalnya brisik banget. Lakban, Paman BinBin!" jawab Jonathan dengan bahasa Inggris yang dicampur Indonesia.
BinBin segera melaksanakan yang Jonathan lakukan. Lelaki itu memberontak dengan tubuh lebam karena menjadi sasaran latihan tinju Jonathan.
Sia dan lainnya mendekati Jonathan yang kembali melakukan pukulan-pukulan kuat di tubuh lelaki yang disisakan celana boker saja di tubuhnya.
"Oh!" pekik Sia dan William bersamaan menunjuk lelaki itu dengan mata melotot.
"Kalian mengenalnya?" tanya Jonathan langsung menghentikan pukulannya.
"Ya. Dia lelaki yang menjaga kontainer saat aku menyeberang bersama William dengan kapal kargo. Dia CIA! Anak buah Yes!" pekik Sia lantang.
Seringai Jonathan terpancar. BinBin tersenyum licik berikut para Black Armys penjaga.
"Hehe. Kayaknya pas banget ini buat uji coba warna-warna kematian, Paman BinBin," ucap Jonathan sembari melepas sarung tangan tinju dan melemparkan di atas sofa.
__ADS_1
Jason dengan cepat menterjemahkan apa yang diucapkan Jonathan. Sia dan lainnya terkejut.
"Pasti kalian diawasi oleh Yes selama ini. Atau hanya ada 2 kemungkinan. Pertama, William memang sudah keluar dari CIA, tapi Yes terus mengawasinya karena dia tahu kalau Will akan cari Sia. Hmm, atau yang kedua. Keputusan William untuk mengundurkan diri gak diproses sama Yes dan dia tetap ngawasi William dengan alasan ke CIA, William sedang bertugas dalam penyamaran," ucap Jonathan sembari mengelilingi orang suruhan CIA yang terlihat panik.
Jason kembali menerjemahkan. William dan lainnya kaget.
"Apakah itu benar?!" tanya William lantang menatap lelaki itu tajam.
Lelaki itu tak menjawab. William terlihat marah karena Yes membodohinya.
"Hehe, gak usah marah. Biarkan Tuan Muda Jonathan balaskan dendamu, Bro Will," ucapnya berlagak sembari memberikan kode pada salah satu Black Armys.
William dan lainnya menatap gerak-gerik Black Armys yang kini menyalakan sebuah tombol dan terlihatlah beberapa warna pada sebuah dinding. Kening William berkerut.
"Oke, warna apa ya? Hoho, Nathan mulai ya," ucapnya terlihat gembira sembari menutup mata dengan tangan kiri dan tangan kanan menunjuk papan warna-warna.
Jonathan berjoget-joget sembari menyanyi tidak jelas dan malah membuat BinBin tertawa bersama para anggota Black Armys, tapi tidak bagi Sia dan kelompoknya yang dibuat bingung.
"Oke ... stop! Nah, warna apa yang Nathan tunjuk?" ucapnya berhenti berjoget dengan tangan kiri masih menutup matanya.
"Hahaha! Yeah! Orange, Jo!" pekik BinBin lantang terlihat gembira dan bertepuk tangan.
Jonathan menarik tangannya dan ikut bahagia. Lelaki CIA itu panik saat tali yang menggantungnya dilepas. Ia dipegangi oleh 3 lelaki Black Armys di punggung, kaki dan tangan.
Jantung semua orang berdebar saat lelaki CIA dibopong menuju ke sebuah kolam dari saluran air yang ditutup dengan jaring besi di tiap ujungnya entah apa maksudnya.
Tiga Black Armys berdiri di pinggir kolam. Sia dan kelompoknya yang tak tau apa yang akan terjadi berdiri diam, fokus dengan gerak-gerik tiga lelaki itu.
"Lemparkan!" perintah Jonathan.
Mata William dan lainnya melebar seketika.
"AAAAAA!" teriak Sia histeris saat tiba-tiba kolam air yang keruh itu menjadi tempat pembantaian dengan ikan-ikan piranha bergigi runcing, merobek dan memakan lelaki CIA hidup-hidup.
BRUK!!
"Jason!" pekik Maksim panik saat Jason pingsan di tempat setelah melihat kejadian horor di depannya.
__ADS_1
Sia shock dan matanya melotot saat melihat tubuh lelaki itu tercabik-cabik dengan puluhan ikan sudah menggerogoti tubuhnya hingga terlihat daging dan warna merah darah di balik kulit.
Air dalam kolam itu langsung beriak. Tiga Black Armys menutup kolam itu dengan jeruji besi dan membiarkan lelaki itu tewas dengan rasa sakit luar biasa sebelum kematiannya.