
Di sisi lain. Lysa dan Arjuna telah kembali ke rumah mereka masing-masing usai pelantikan berikut anggota dewan lainnya.
Sia terlihat berlalu-lalang di Kastil Borka selama singgah di sana. Wajah dan sosoknya mulai familiar di kalangan jajaran Vesper.
Pemandangan indah bagi kaum adam karena keberadaan Sia. Gadis muda yang cantik dan pintar serta cukup tangguh bagi pendapat beberapa orang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"So, you already understand all the functions of this car, right?" tanya Jonathan yang duduk di samping Sia.
Sudah seharian Sia bersama pemuda tampan itu untuk mempelajari mobil barunya.
"Ehem. This car is so cool, Jonathan," jawab Sia memuji sembari memegangi setir mobilnya dengan senyum merekah.
"Jelas dong! Keren kaya yang bikin. Nathan gitu. Hahahaha!" tawanya bangga.
Sia menatap Jonathan lekat.
"I want to learn Indonesian. Who can teach me?" tanya Sia tiba-tiba dan mengejutkan Jonathan.
"Nathan bukan guru yang baik, suer deh, Kak. Mm ... oh! Kak Zaid aja. Dia pinter. I mean, Zaid," ucap Jonathan yang mencampur bahasa Indonesia dan Inggris.
"Zaid? Oh, oke," jawab Sia mengangguk.
Sia berterima kasih pada Jonathan karena sudah meluangkan waktunya. Jonathan mengangguk.
Hari itu, mobil Sia akan dicet ulang di bengkel Kastil Borka menjadi hitam sesuai permintaannya.
Sia mencari Zaid yang masih berada di Kastil Borka di mana ia juga sedang berkonsultasi dengan ayahnya, Doug tentang pembangunan pos darurat baru.
TOK! TOK! TOK!
Ketuk Sia dari balik dinding kaca ruang kerja di mana Zaid dan ayahnya terlihat berada di dalam. Zaid tersenyum dan membuka pintu.
"Hai. Ada yang bisa kubantu?" tanya Zaid ramah.
"Mm, Jonathan mengatakan jika kau bisa menjadi guru bahasa Indonesiaku," jawab Sia meringis.
Zaid kaget begitupula Doug. Zaid meminta Sia masuk dan gadis cantik itu berdiri di depan keduanya dengan sungkan.
"Why?" tanya Doug ikut penasaran.
"Aku merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa yang kalian bicarakan. Aku rasa, ini akan jadi hal bagus mengingat hubungan kerjasama dan kekeluargaan antar jajaran 13 Demon Heads sangat kuat. Aku ... ingin bisa berkomunikasi dengan kalian. Aku merasa ... diantara semua anggota dewan, jajaran Vesper sangat menarik dan paling dekat dengan jajaran Boleslav," jawab Sia takut-takut.
Doug dan Zaid tersenyum tipis.
"Oke," jawab Zaid dengan senyum menawan dan Sia terlihat senang.
"Kalau begitu, Ayah mohon pamit dulu. Kita akan bertemu di Vietnam. Jaga dirimu baik-baik. Ayah menyayangimu," ucap Doug memeluk anak lelakinya erat dan Zaid melakukan hal yang sama.
Sia terlihat terharu karena kedekatan ayah-anak di hadapannya. Doug pamit dan Sia mengangguk hormat.
Sia kembali menatap Zaid yang baginya cukup tampan. Ia tak menyangka jika para mafia ini memiliki wajah rupawan bahkan tak terlihat seperti seorang penjahat.
Penilaian Sia tentang kelompok mafia seperti saat ia tinggal bersama ayahnya dulu, berwajah garang begitupula sikapnya.
"Hanya Mix and Match, Maksim dan Yuri yang benar-benar bertampang seperti kriminal," guman Sia membayangkan.
"Apa kau bilang barusan?" tanya Zaid yang mendengar ucapan Sia dan gadis itupun terkejut. Zaid terkekeh.
"Oke, duduklah. Aku akan mengajarimu dari yang paling dasar. Hmm, kalian berencana tinggal selama satu minggu sampai Jordan pulih 'kan? Aku rasa, kita tak bisa belajar banyak. Oleh karena itu, nanti kau pergilah ke Perpustakaan untuk belajar sendiri di sana. Harusnya kau pergi ke Camp Militer. Ku rasa, kau sangat membutuhkannya, Sia," ucap Zaid menilai.
"Aku sudah pernah ke sana, tapi hanya latihan saja. Aku tak ikut dalam tes kelulusan seperti yang lainnya. Lebih seperti pengenalan saja. Jika aku pergi ke sana, akan membutuhkan waktu hingga tahunan untuk bisa lulus. Sedangkan, aku harus menghimpun pasukan," jawab Sia murung.
__ADS_1
Zaid mengangguk. Lelaki itu kini juga telah mempelajari kinerja jajaran 13 Demon Heads. Ia paham kerumitan yang Sia hadapi.
"Oke. Pikirkan itu nanti. Tujuanmu mendatangiku adalah belajar bahasa Indonesia, bukan? Baiklah, muridku yang cantik. Ambil kertas dan pulpen itu. Kita mulai belajar," ucap Zaid dan Sia tersenyum lebar dengan anggukan.
Amanda melihat Sia begitu tekun mempelajari Bahasa Indonesia bersama Zaid hampir 1 jam lamanya.
Boleslav bahkan tersenyum saat melihat Zaid dengan telaten mengajarkan pengucapan yang benar kepada Sia.
"Hmm, mereka berdua terlihat cocok," ucap Boleslav tiba-tiba dan Amanda tertegun.
"Sayang," tegur Amanda mengingatkan jika anaknya sudah menikah, tapi Boleslav tak peduli.
Pria itu mengabaikan ucapan isterinya barusan. Amanda jengkel.
"Kau sedari kemarin mengabaikanku. Baiklah, awas saja mencariku," ucapnya sebal.
Antony kaget karena isterinya merajuk dan pergi meninggalkannya. Boleslav melangkahkan kakinya yang mulai terbiasa menggunakan kaki robot dengan tergesa meski ia masih merasakan nyeri di lututnya.
"Manda!" panggilnya hingga suaranya mengejutkan Sia dan Zaid yang berada dalam ruangan kaca.
"Oh! Mom and Dad," celetuk Sia dan Zaid mengangguk.
"Biarkan saja. Kau fokuslah belajar. Satu minggu waktu yang singkat, kau harus cepat," ucap Zaid mengetuk kertas di hadapan Sia dengan pulpen di tangannya. Sia mengangguk dan kembali belajar.
Hari berganti dengan cepat di Kastil Borka. Sia melihat orang-orang nomor satu dari Vesper terlihat sibuk melakukan pencarian keberadaan Sandara yang hilang dan belum ditemukan.
Sia mengintip dari balik pintu ruang kerja Vesper yang terbuka. Terlihat orang-orang Vesper seperti akan pergi ke suatu tempat.
Sia menyalakan aplikasi translator di ponselnya dan memasang earphone di salah satu telinganya. Ia penasaran yang dibicarakan oleh mereka.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Jejaknya terakhir berada di Baltic Sea. Pasti Afro melepaskan pelacak di jam tangan dan kalung Sandara," ucap Eiji dengan tablet dalam genggaman.
"Aku sudah menelusuri semua helikopter yang mendarat di hari itu dan hari berikutnya di sekitar Baltic Sea, tapi tak ada tanda-tanda kepemilikan dari Gold Coorporation, Robicon Coorporation bahkan Elios Group," sahut Buffalo salah satu bodyguard Vesper.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"What are you doing here?"
Sia kaget setengah mati saat mendapati sosok Han berdiri di sampingnya menatap tajam. Sia sampai mundur beberapa langkah memegangi dadanya dan membuat ponselnya jatuh.
Han mengambil ponsel Sia dan melihat aplikasi translator di sana. Orang-orang di ruang kerja Vesper mendekat Han dan kini berdiri di sekitarnya, menatap Sia tajam.
"I-i ... I am sorry. I didn't mean to eavesdrop," ucap Sia panik hingga kedua tangannya gemetaran karena orang-orang di depannya memancarkan aura pembunuh.
"Sia. Kau bohong. Kami tahu. Kau pasti sudah berkomplot dengan Jonathan dan lainnya. Kami sudah menyelidikinya dan mendengar pengakuan dari Jordan," ucap Kai tajam dan Sia makin ketakutan.
"Ka-kau ... sudah bicara dengan Jordan?" tanya Sia gugup dan semua orang di depannya mengangguk. Sia menelan ludah.
"So-sorry," jawabnya tertunduk.
"Apa yang akan kau lakukan sebagai penebusan dosamu? Kau membiarkan anakku dibawa pergi," tanya Kai masih menatapnya tajam dengan wajah dingin.
"I ... mm ...," Sia diam sejenak terlihat berpikir keras.
Orang-orang dalam jajaran Vesper menatap Sia tajam tanpa ekspresi di wajah. Hingga tiba-tiba, Sia menaikkan pandangan dan menunjukkan telunjuknya dengan wajah berbinar.
"William!" ucapnya mantab.
"Kami tahu kau merindukan suamimu itu. Bagaimanapun, kami masih menganggap dia musuh," sahut Drake cepat.
"Bukan. Maksudku, William! Dia pernah bertemu dengan Tessa. Ingat? Tessa yang pernah datang ke Mansion Ramos. Arjuna bahkan pernah bertemu dengannya. Tessa anggota No Face, dia masih satu kelompok dengan The Circle," ucap Sia semangat yang pada akhirnya bisa menyampaikan pemikirannya setelah beberapa waktu lalu tertunda karena tekanan dari Boleslav.
__ADS_1
Kening semua orang berkerut.
"William tahu di mana Tessa berada?" tanya Seif berasumsi dan Sia mengangguk cepat.
"Mungkin, Jonathan juga tahu secara tak langsung," imbuh Sia dengan mata berbinar.
"Apa maksudmu dengan Jonathan? Ia terlibat juga?" tanya Tora penasaran.
"Mm ... jadi begini," ucap Sia mencoba menjabarkan. Semua orang terlihat serius menyimak.
"Mobil Mustang yang dipakai William, itu pemberian Tessa. Jonathan pembuat Mustang modifikasi itu. Berarti, Tessa pernah bertemu dengan Jonathan atau mungkin Tessa mengirim orang untuk memesan mobil itu pada Jonathan. Jika digabungkan ...."
"Panggil Jonathan!" teriak Han cepat dan mengejutkan Sia karena ia belum selesai bicara, tapi sepertinya orang-orang Vesper paham kelanjutan dari penjelasannya.
Seif segera pergi mencari Jonathan.
"Hmm, kerja bagus, Sia. Lalu, apalagi yang kau ketahui tentang si Tessa itu?" tanya Kai mulai menunjukkan senyumannya.
Sia diam sejenak. Ia lalu menunjuk ponsel yang dipegang oleh Han. Suami tertua Vesper bingung menatap ponsel milik Sia yang diambilnya tadi.
"Itu ponsel milik Tessa. Ia memberikan padaku saat di Mansion Ramos," ucap Sia menunjuk ponselnya.
Mata Han dan lainnya melebar seketika. Sia terlihat bingung, tapi James mendekatinya dengan sorot mata tajam.
"Kau membawa ponsel pemberian The Circle selama ini? Bahkan kau bawa masuk ke Kastil Borka?!" tanyanya terlihat begitu marah.
Sia panik dan tak tahu jika itu sebuah kesalahan besar.
"A-aku tak pernah mengalami masalah dengan ponsel itu. Hanya saja ...," ucapnya menggantung.
Kai mendekatinya dan menatap Sia tajam.
"Hanya apa?"
Sia mengeluarkan ponsel pemberian ibunya yang terhubung dengan GIGA. Sia mencoba menyalakannya dan mendekatkan ponselnya di samping ponsel pemberian Tessa.
Seketika, "Area tidak aman untuk melakukan komunikasi," ucap GIGA SIA.
Mulut Sia menganga lebar. Ia baru menyadari jika selama ini ponsel dari Tessa-lah penyebabnya.
Orang-orang dari jajaran Vesper terlihat marah. Sia gemetaran dan ketakutan karena di tatap tajam.
"Relax. The Circle sudah tahu tempat ini. Biawak saja bisa menyusup kemari dan mengambil kaki robot kala itu karena seluk beluk Kastil Borka sudah diketahui. Bahkan militer saja pernah berkunjung," ucap Vesper tiba-tiba berjalan melenggang dan tersenyum menawan mendekati kumpulan orang-orang yang terlihat marah.
Jantung Sia berdebar kencang tak karuan saat melihat Vesper mengambil ponsel GIGA dan Tessa miliknya. Vesper menatap dua ponsel itu seksama.
"Eiji. Minta Manda untuk menelusuri ponsel milik Tessa ini. Mungkin, bisa memberikan kita petunjuk," ucap Vesper memberikan dua ponsel tersebut kepada Eiji dan lelaki Jepang itupun segera pergi.
"Kau sungguh ceroboh, Sia," geram James masih kesal padanya.
"A-aku minta maaf," ucapnya merasa bersalah.
Vesper tersenyum melihat Sia tertunduk dan terlihat ketakutan. Vesper lalu menggandeng tangan Sia dan mengajaknya menjauh.
"Lihatlah wajah kalian. Lebih menyeramkan ketimbang buaya paman Ketut. Untung kalian semua sudah menikah," ucap Vesper sembari berjalan meninggalkan orang-orang itu.
"Wooo, dipadakke boyo," sahut Eko langsung protes dan Vesper hanya tersenyum lebar memunggungi semua orang.
Sia berjalan di samping Vesper dengan keringat dingin. Ia menoleh ke belakang dan melihat orang-orang Vesper masih melotot tajam padanya.
Sia melirik Vesper yang masih menggandeng tangannya. Ia ikut saja kemana Vesper membawanya.
Ada perasaan lega karena secara tak langsung Vesper menyelamatkannya dari amukan orang-orang karena kecerobohannya.
__ADS_1
"Ta-Thank you, Mrs. Vesper," ucap Sia lirih.
"Your welcome," jawab Vesper tersenyum lebar dengan pandangan lurus ke depan.