
Acara lelang masih berlanjut. Banyaknya aset yang dimiliki keluarga Giamoco membuat para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads begitu bersemangat.
Mulai dari markas, usaha legal dan ilegal, bagaikan mendapat diskon besar-besaran dalam satu waktu.
Para mafia itu berlomba-lomba untuk memperluas daerah kekuasaan berikut aset untuk menaikkan level kekayaan mereka.
"SOLD!"
"SOLD!'
"SOLD"
Tak henti-hentinya Tuan Wilson mengetukkan palu tiap aset milik keluarga Giamoco terjual.
Dari 15 aset yang dilelang baik secara gabungan atau satuan, para mafia itu tak mau melewatkan satupun aset tersebut untuk tak dimiliki.
"Baiklah. Ini adalah aset terbesar yang sengaja kami simpan paling akhir. Sebuah pulau pribadi di Ontario, Canada, Amerika Utara. Tak banyak yang tahu karena ini dirahasiakan. Axton termasuk enggan untuk mengelolanya. Alasannya cukup sepele, tempat itu jauh dari peradaban. Jika kalian mengenal Axton cukup akrab, kalian pasti menyadari jika mansion Giamoco dekat dengan kawasan sipil," terang Robert dan para mafia mengangguk setuju.
"Ya. Axton suka berbaur dengan sipil padahal ia tahu jika hal itu membahayakan nyawanya. Namun, Axton percaya jika ia sulit untuk mati dan ... kurasa itu ada benarnya sampai ia ... tak usah dilanjutkan. Kita tahu kisahnya dengan Dewa Kematian," ucap Robert melirik Nandra sekilas dan kembali ke pendiskripsian aset tersebut.
Nandra diam tertunduk. Ia tahu jika dirinyalah penyebab kematian sang Casanova meski banyak orang mengatakan jika itu pilihan Axton dan bukan salahnya.
"Mengenai pulau ini. Sudah ada bangunan di atasnya yang dijadikan Villa untuk tempat peristirahatan. Ada dermaga dan tempat ini hanya disewakan untuk keperluan wisata. Pulau ini legal berikut usaha yang dijalankan. Baiklah kita mulai saja penawarannya di angka 50 juta USD (setara 714.250.000.000 rupiah)," ucap Wilson memulai lelang.
Para mafia mulai saling berbisik. Amanda terlihat serius dengan lelang terakhir ini. Sia melirik Yuki dan Torin di mana inilah yang Vesper sebutkan dalam salah satu aset yang harus mereka dapatkan.
"Tidak mungkin Nyonya Vesper menginginkan sebuah pulau yang tak memiliki apapun di dalamnya. Pasti ada hal tersembunyi dari pulau itu," ucap Sia yakin.
"Aku pernah ke sana sebelumnya, tapi Axton tak menunjukkan apapun padaku. Dia hanya menggunakan pulau itu untuk bersenang-senang dengan para wanitanya. Ups! Maaf, Nandra," ucap Torin keceplosan dan Nandra terlihat malas seketika.
__ADS_1
"Namun, aku pernah ikut sekali ke pulau itu bersama Sergei. Ada kiriman datang dengan yacht. Hanya saja, aku tak dilibatkan. Hmpf, jika saja Sergei masih hidup. Sekarang bagaimana? Kita bahkan tak memiliki uang sebanyak itu. Nilainya hampir 1 triliyun rupiah!" pekik Yuki gemas karena menjadi orang miskin.
Sia, Nandra, Torin, Yena, Yuki bahkan Eko pasrah. Kali ini sungguh di luar dari kemampuan mereka. Para mafia juga terlihat sedang berdiskusi tentang penawaran tersebut.
Tiba-tiba, terdengar suara nyaring seperti dering ponsel. Semua orang saling memandang seketika.
Mereka mencari asal suara dari suara yang mengganggu jalannya pelelangan di hari yang sudah memasuki sore.
Nandra yang baru menyadari hal tersebut segera membuka tasnya dengan tergesa. Para mafia yang berada dalam ruangan lelang terlihat malas karena kecerobohan Nandra.
Namun, saat Nandra mengambil ponsel itu, keningnya berkerut seketika. Sia, Yuki dan Torin menatapnya keheranan termasuk Amanda.
"Ada apa? Bukankah pemancar fatamorgana mengeblok semua sinyal yang masuk? Bagaimana bisa kau menerima panggilan telepon?" tanya Amanda curiga.
"I-ini bukan panggilan telepon. Ini, alarm dari pengingat sebuah acara," jawab Nandra yang pada akhirnya bisa mematikan suara nyaring tersebut.
"Memang kau menandai apa? Pengingat jika akan diadakan lelang hari ini?" tanya Torin menebak.
"Ini bukan ponselku, tapi milik Axton," jawab Nandra menunjukkan ponsel yang kini ada dalam genggamannya.
"Coba gunakan GIGA," saran Sia menatap ibunya seksama.
"Tidak bisa. Harus membuka pemancar agar sinyal GIGA bisa masuk ke dalam. Aku merasa, ini bukan sebuah kebetulan. Ini sudah diset sesuai dengan kejadian hari ini. Kira-kira, apa yang Axton rencanakan?" tanya Amanda heran.
Para mafia yang mendengar hal tersebut ikut dibuat penasaran. Acara lelang bahkan terhenti karena alarm ponsel Axton.
Tiba-tiba, NGEKK!
Mata semua orang kini teralih pada sosok Zaid yang memasuki ruangan terlihat serius. Zaid mendatangi Tuan Robert dan Wilson seperti menyampaikan sesuatu.
"Benarkah? Kau yakin itu namanya?" tanya Robert sampai matanya melotot.
__ADS_1
Zaid mengangguk mantab. Robert dan Wilson saling memandang. Mereka berdua mengangguk bersama mengizinkan.
Zaid segera memberikan info kepada petugas di luar ruangan untuk membawa tamu tersebut masuk.
Terdengar suara sepatu hak tinggi dengan ritme teratur memasuki ruangan. Para mafia peserta lelang saling berbisik membicarakan sosok yang tak mereka kenal memasuki ruangan.
"Siapa wanita tua itu?" tanya Yena berbisik dan Sia menggeleng tak tahu.
"Kau mengenalnya?" tanya Yuki ke arah Torin dan pemuda itu mengangkat kedua bahu.
Namun sepertinya, Tuan Robert dan Wilson mengenalinya. Wanita tua yang masih bergaya modis dan terlihat cantik dengan make up yang sesuai dengan umurnya, tersenyum di hadapan dua lelaki tua dengan uluran jabat tangan.
"Ka-kau masih hidup? Setelah sekian lama? Kau kemana saja?" tanya Robert sampai mengabaikan jabat tangan wanita itu.
"Kau akan membiarkan tanganku seperti ini? Kau sungguh kejam," jawab wanita tua berambut putih terlihat kesal.
Robert dengan sigap menerima jabat tangan tersebut, tapi malah tangan wanita tua itu ditarik kembali olehnya untuk membenarkan topi yang ia kenakan.
Robert mendengus sebal dan Wilson hanya menahan senyum.
"Hallo semuanya. Hem, wajah-wajah baru. Aku tak menyangka jika 13 Demon Heads akan bertahan sampai sejauh ini. Kalian membuat para leluhur bangga," ucapnya tiba-tiba menatap para mafia yang duduk di kursi lelang.
"Maaf. Anda siapa?" tanya Han sopan.
"Oh ya. Aku tak yakin kalian mengingat namaku. Aku dari keturunan keluarga Denan," jawabnya dengan angkuh.
Kening semua orang berkerut.
"Seperti kataku, tak ada yang mengenaliku," ucapnya sembari membalik tubuhnya tersenyum sinis.
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE