Secret Mission

Secret Mission
Mission*


__ADS_3

William duduk di pinggir ranjang berpikir keras mencari cara agar ia bisa bertemu dengan Sia dan menjauh dari komplotan mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.


"Semakin lama Sia bersama mereka, semakin ia akan terjerumus dalam dunia hitam ini. Aku harus segera membebaskannya, tapi bagaimana?" tanya William dalam hati.


Saat William akan berdiri ....


"Agh, sial. Luka ini sungguh menyakitkan. Pelacak itu ditanam sangat dalam, Rajesh juga semena-mena saat mengambilnya. Sakit sekali," rintih William yang merasa tubuhnya seperti demam.


William memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya lagi agar lukanya segera pulih. William meminum pil pereda nyeri yang diberikan oleh medis saat mengobati lukanya.


Ternyata gerak-gerik William di dalam kamar itu dipantau oleh kamera CCTV tersembunyi di balik patung Dewa Wishnu yang ada di atas meja.


Jamal mengetuk-ngetukkan abu rokoknya dalam asbak dimana Rahul dan Rajesh berdiri di depannya terlihat gugup.


Jamal lalu menaikkan pandangannya dan menatap dua lelaki itu dalam diamnya.


"Aku butuh pembuktian jika William memang berada dipihak kita. Berikan dia misi kelas A. Aku ingin Axton disingkirkan dari muka bumi ini," ucap Jamal santai.


Sontak Rahul dan Rajesh terkejut.


"What? Kau ingin melakukannya sekarang? Di saat pelantikan dewan akan segera dilaksanakan? Apa itu tak terlalu beresiko?" tanya Rahul menasehati.


"William masih masuk dalam jajaranmu, Rahul. Jangan jadikan dia bodyguard-ku sebelum pembuktian. Aku tak bisa melakukan pembunuhan itu karena aku calon anggota dewan. Namun, kau dan Rohan bisa melakukannya. Jadi, pilihlah. William yang melakukannya atau Rohan?" tanya Jamal melirik adiknya itu dengan senyum miring.


Rahul mendengus keras. Ia paling tidak suka jika Rohan, anak ketiga dari Raja Khisna disebut dan dibandingkan dengannya.


Rahul mengangguk menyanggupi misi yang diberikan Jamal padanya.


"Baiklah. Lakukan dengan rapi. Aku ingin melihat hasil kerjamu dan bodyguard Amerika-mu itu. Good luck, Brother," ucap Jamal sembari mengelus kepala harimaunya tak memandang Rahul.


Rahul pamit mohon diri dimana Rajesh masih berada di ruangan menatap Tuannya seksama.


Rahul keluar dari ruangan terlihat kesal. Ia yang sedang emosi itu langsung menuju kamar William.


William yang sedang tidur untuk menyembuhkan lukanya itu tak menyadari kedatangan Rahul yang malah ikut merebahkan diri di atas ranjang dan kini ada di sebelahnya.


Rahul menyenderkan punggung pada tumpukan bantal dimana William tak memakainya karena ia tidur telengkup di pinggiran ranjang.


Rahul meluruskan kaki dengan dua tangan menyilang di depan dadanya.


"Menyebalkan. Aku paling benci jika Rohan harus disangkut pautkan dalam hal ini. Hmm, Axton ya. Bagaimana ya mendekatinya tanpa harus ketahuan jika ini adalah perbuatan kami? Hmm, bagaimana ya?" tanya Rahul sambil memonyongkan bibir terlihat berpikir keras.


Hingga entah sudah berapa lama ia berpikir, Rahul malah tertidur di atas ranjang samping William.


Tak terasa, matahari sudah membenamkan dirinya dan kini rembulan muncul menampakkan diri beserta kawan angkasanya. Bintang-bintang terlihat berkelip redup di langit.


William terbangun karena merasa ada tangan yang memegangi pinggulnya. William yang tengkurap itu membuka matanya perlahan yang masih terasa berat dan malas.


Saat William bangun seperti orang sedang push up, ia terkejut ketika melihat Rahul tidur di sampingnya dalam posisi miring masih berpakaian lengkap.


Kaki Rahul bahkan naik di betis William dan menjadikannya seperti guling. William tertegun dan kebingungan dengan hal ini.


Ia lalu bangun perlahan sembari menyingkirkan kaki serta tangan Rahul di tubuhnya. William merinding seketika.


Ia tak pernah bersentuhan dengan lelaki sebelumnya ditambah, Rahul orang baru dalam hidupnya.

__ADS_1


William berdiri sembari menahan sakit di punggungnya dan menatap Rahul seksama yang tidur pulas seperti orang dibius.


William mengabaikannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena ia belum mandi sejak kedatangannya ke India.


William yang tak ingin berlama-lama itupun, mandi dengan cepat.


Saat ia keluar, William terkejut melihat Rahul sudah bangun. Ia kini duduk dengan santai di pinggir ranjang menikmati makan malam yang disajikan untuknya entah datang dari mana makanan-makanan lezat itu.


William yang kelaparan menelan ludah seketika.


"Oh! Hai, Will. Duduklah, kita makan bersama. Kakakku pergi jadi mansion sepi. Aku makan di sini saja," ucap Rahul santai sembari memakan sebuah makanan yang terlihat seperti kari.


William yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana kain panjang itupun mendekati bosnya perlahan lalu duduk di sofa yang ada di sampingnya.


Meja di depannya itu dipenuhi oleh makanan India dan William hanya menatapnya seksama.



Ia belum pernah mencoba makanan India sebelumnya karena ia tak pernah ditugaskan ke negara tersebut.


Ia menatap Rahul yang makan dengan lahap bahkan seperti orang kelaparan tanpa jeda. William menelan ludah.


"Makanlah, Will. Aku tahu kau mungkin tak terbiasa dengan makanan negara ini, tapi belajarlah karena kau kini bukan hidup di Amerika, melainkan di India. India," ucap Rahul menegaskan.


William mengangguk paham dan mengambil sebuah roti yakni Chapati.


William mencoba memakannya dan ia terlihat seperti mencari tahu sensasi dari roti tersebut. Rahul tersenyum miring sembari mengunyah makanannya.


"Not bad, huh?" ledek Rahul dan William mengangguk.


Sebuah Naan ia masukkan dalam mulutnya perlahan. Lidah William mulai terbiasa dengan dua roti tersebut dan ia mulai lahab memakannya.


"Welcome to India, Bro," ucap Rahul sembari menggoyangkan kepalanya dan menaikkan salah satu tangannya di depan wajahnya seperti khas gelagat orang India.


William terkekeh dan mengangguk. Mereka berdua makan dengan lahap meski William belum berani mencoba makanan yang warnanya mencolok dan memiliki bau asing untuknya. Rahul tak mempermasalahkannya.


"William. Kita diberikan misi oleh Jamal dan kau harus melakukannya," ucap Rahul serius dengan makanan masih dimulutnya dimana ia makan menggunakan tangan.


"Apa itu?" tanya William sembari mencomot sebuah Pani Puri yang berbentuk bulat yang menurut William lucu itu.



"Menyingkirkan Axton," jawab Rahul santai dan sontak mata William melotot seketika.


"What?" tanya William tertegun dengan apa yang di dengarnya barusan bahkan Pani Puri tersebut hampir jatuh dari tangannya.


"Yup. Untuk membuktikan jika kau memang benar bukan sekutu Axton. Hanya saja sedari tadi aku mencoba berpikir, aku tak menemukan satupun ide bagaimana membunuhnya. Bagaimana denganmu?" tanya Rahul santai.


William menelan ludah. Padahal ia bermaksud untuk mencari tahu keterlibatan Axton dengan Boleslav agar ia bisa mendekati Sia.


William meletakkan makanan berbentuk bulat itu kembali ke piring lalu mengusap dagunya. Ia terlihat berpikir keras dan Rahul menatapnya seksama.


"Oia. Tumbuhkan jambangmu. Wajahmu itu tak garang dan aku tak suka ketampananku tersaingi. Tutupi ketampananmu itu dengan brewok. Kau paham, William?" ucap Rahul menunjuknya dan lagi-lagi ucapan Rahul membuat William menilai Rahul tipe mafia yang aneh.


"Yah, terserah kau saja," jawab William pasrah.

__ADS_1


Rahul mengangguk sembari mencuci tangannya yang kotor dengan sebuah baskom berisi air yang sudah tersedia di bawah meja itu.


William masih diam memikirkan permintaan Rahul tersebut. Rahul mengelap mulut dan tangannya yang kotor dengan serbet yang diletakkan di meja makan itu.


"Aku tak mungkin mendekati Axton karena aku sudah tersingkir dari penyeleksian bodyguard-nya. Ditambah, kalian menemukan alat pelacak yang ditanam dalam tubuhku dan sudah dihancurkan. Mereka akan curiga jika aku kembali ke sana," ucap William mengutarakan pemikirannya dan diangguki oleh Rahul.


"Namun, kita masih bisa mencari tahu tentang Axton. Aku memiliki dua teman yang bisa membawa kita padanya," ucap William tersenyum miring.


"Oh, benarkah? Siapa?" tanya Rahul antusias seketika.


"Shamus dan Ace. Mereka juga gagal menjadi bodyguard Axton karena Arjuna mengalahkan mereka saat penyeleksian. Ace mengirimkan pesan padaku kemarin saat aku menunggumu di basement apartment Theresia. Hanya saja, bisakah kau berjanji padaku, Rahul?" tanya William yang mengajaknya menyepakati sesuatu.


"Apa itu?"


"Jika Axton berhasil disingkirkan, aku ingin Shamus dan Ace menjadi bagian dari kita. Kau membutuhkan keahlian mereka," ucap William dengan jantung berdebar dimana ia malah mengajak seorang mafia kelas elite bernegosiasi dengannya.


"Hmm, oke," jawab Rahul setuju dan William tersenyum lebar.


"Hanya saja masalahnya, Sergei dan wanita bernama Yuki. Mereka terlihat tangguh, akan sulit untuk menjatuhkan mereka. Kita harus menjauhkan Axton dari keduanya. Mereka berdua orang kepercayaan Axton. Black Armys, itu urusan mudah," ucap William santai dan seringai Rahul terpancar seketika.


"Aku tak salah memilihmu, William. Tak hanya tampan, kau juga cerdas. Baiklah, kita harus bersiap," ucap Rahul semangat.


"Dan satu hal penting lagi," ucap William menegaskan.


"Apa itu?" tanya Rahul yang sudah berdiri.


"Kita harus kembali ke Amerika," ucap William mengingatkan.


"Right. Aku akan bicarakan hal ini pada Jamal saat ia pulang nanti. Persiapkan dirimu dan juga dua kawanmu itu agar bersekutu pada kita. Pastikan mereka mendukung aksi kita, bukan sebaliknya," ucap Rahul menegaskan dan William mengangguk paham.


Rahul segera pergi dari kamar William. William lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Ace.


Ace dan Shamus yang kini selalu pergi berdua karena tak memiliki pekerjaan itu terkejut mendengar permintaan dari William.


"Kau ingin kami melakukan apa? Kau gila, Axton itu anggota dewan!" pekik Ace di kamar hostel tempat ia menginap sekarang.


"Oleh karena itu, aku menjanjikan pada kalian sebuah pekerjaan. Aku kini menjadi bodyguard salah satu anggota dewan, Rahul, anak dari Raja Khrisna. Aku berada di India. Kalian bisa hidup sepertiku, terfasilitasi. Hanya pembunuhan kecil dan tak melibatkan Raja Khrisna atau Jamal. Bagaimana?" tanya William dari sambungan teleponnya.


Shamus yang ikut mendengar ikut memikirkan hal tersebut. Ace dan Shamus saling memandang yang akhirnya mengangguk bersamaan. Ace mengatur nafas dan memantabkan hatinya.


"Oke. Anggap saja jika nanti kita ketahuan, sebarkan saja rumor bahwa kami sakit hati pada Axton karena tak dijadikan anak buahnya. Apakah alasan itu masuk akal?" tanya Ace bingung memikirkan alibi untuk kejahatannya nanti.


"Yep. Alibi diterima. Oke, guys. Sampai bertemu di Amerika," ucap William puas dan dijawab antusiasme dari Ace serta Shamus.


William menutup sambungan teleponnya. Ia tak menyangka jika harus melakukan pembunuhan anggota dewan dimana hal itu sebenarnya tak termasuk dalam agenda.


William mengatur nafasnya dan kembali mencomot semua makanan yang tersaji di meja depannya itu.


Ia tak peduli dengan rasa makanan itu. Ia terlalu frustasi untuk menilai dari rasa makanan-makanan tersebut dimana ia sedang tertekan karena misinya untuk mendapatkan Sia kembali.


------


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST DAN GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2