Secret Mission

Secret Mission
Sepanjang Malam*


__ADS_3

Ara dan Catherine kembali menutup pintu. Mereka berdua panik. Jack terlihat seperti memikirkan sesuatu. Ia memberikan alat penyetrum itu kepada Ara.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Awas! Awas!" pintanya tergesa malah mendekati pintu yang tertutup sembari membuka celananya.


"Jack! Apa yang kau lakukan?!" pekik Catherine kaget setengah mati saat melihat Jack kencing di bawah pintu tersebut.


"Kau sungguh menjijikkan!" pekik Ara kesal.


Jack terlihat tak peduli. Hingga akhirnya, pintu itu didobrak paksa. Ara dan Catherine menjerit karena kaget melihat banyak orang di depannya berwajah garang membawa alat penyetrum.


Namun, para lelaki berseragam hitam itu terkejut ketika mendapati Jack tak ada di sana. Saat lelaki yang berada di paling depan menoleh ke samping ....


"Hai," sapa Jack.


CREETTT!!


"ARGHHH!"


Jack mengarahkan ujung dari alat penyetrum ke lantai tempat lelaki yang berdiri di depannya. Lelaki itu kejang seketika.


Ternyata aliran listrik itu merembet hingga ke lelaki yang berada di belakangnya karena ikut terkena dampak dari penyetrum akibat menginjak kencing dari Jack.


Ara dan Catherine dengan sigap mengambil alat penyetrum itu dari tangan para petugas yang roboh karena tak bisa menahan sengatan tersebut.


"Ayo! Cepat! Cepat!" pekik Jack saat pintu keluar terbuka lebar.


Ara dan Catherine segera berlari dengan menginjak tubuh orang-orang itu sebagai alas seperti jembatan sembari membawa alat penyetrum dalam genggaman.


Jack yang melihat orang-orang itu memiliki pistol di balik pinggang mengambilnya dan mengantonginya di dua saku celananya.


Jack berlari tergesa menyusul dua kawan wanitanya. Tiba-tiba, alarm peringatan terdengar. Tiga orang itu panik seketika.


"Jack! Kemana kita pergi?!" tanya Ara kebingungan karena tak tahu tujuan kabur.


"Cari jendela!" pekik Jack yang melindungi di belakang mereka berdua.


Ara dan Catherine berlari sembari membuka semua pintu yang mereka temui dengan tergesa.


Hingga akhirnya, Catherine menemukan sebuah jendela yang muat satu orang.


"Jack!" teriak Catherine menunjuk sebuah jendela pada ruangan seperti dapur.


Ara dan Jack segera masuk ke dalam lalu menutup pintu. Catherine berusaha membuka jendela itu, tapi tak bisa.


"Jack! Jendela ini menggunakan sidik jari untuk dibuka!" pekik Catherine menunjuk sebuah tombol.


Jack yang kesal mengarahkan ujung penyetrumnya ke alat itu. Seketika, percikan api muncul dari pemindai sidik jari dan jendela terbuka seketika. Ara dan lainnya tersenyum senang.


BRAK! BRAK! BRAK!


"Cepat, Cat! Mereka sudah di sini!" teriak Ara panik.


Catherine menggeser jendela itu dan terkejut saat melihat apa yang berada di bawahnya.


"Apa yang kau tunggu?! Cepat!" teriak Jack mengarahkan alat penyetrum ke pintu.


"Sebuah kolam sampah!" teriak Catherine jijik.


"WHAT?!" pekik Ara dan Jack kaget sampai melotot.


"Aku akan menyerah saja, aku tak mau terjun ke tempat menjijikkan itu," ucap Catherine mendesah pasrah.

__ADS_1


Ara gemas. Ia mengangkat kedua paha Catherine dan ....


"AAAAAAA!" teriak Catherine saat dilemparkan dari balik jendela oleh Ara yang jengkel.


"What?" tanya Ara saat Jack melongo melihat kawannya nekat melempar Catherine tanpa rasa bersalah.


BRAKK! KRAKK!


"Ara! Cepat!" teriak Jack ketika melihat kunci dari pengait pintu mulai rusak.


Ara segera melompat dengan menutup hidung dan mulutnya rapat. Jack mendekati jendela dengan berjalan mundur membawa alat penyetrum.


Saat ia akan naik ke bingkai jendela, ia melihat ada banyak bahan baku di ruangan tersebut. Jack menuang minyak, drum berisi arak ke lantai, tapi menyempatkan meneguk sekotak susu dari rak tersebut.


Jack naik ke bingkai jendela sembari membawa dua alat penyetrum miliknya dan Ara yang tertinggal. Tiba-tiba, BRANGG!


"Good bye."


KLANG! CREETTT!!


"Arghhhh!"


SWING! BRUKK!


"Ohok! Shit! Bau sekali!" pekik Jack saat punggungnya jatuh sebagai bantalan tubuh di kolam sampah itu.


"Jack! Jack! Kemari cepat!" panggil Ara dan Catherine yang sudah berada di pinggir kolam sampah.


Jack segera bangun dengan susah payah dan berjalan dengan menahan bau dari sampah-sampah yang diinjaknya.


Jack dan dua kawan wanitanya berhasil keluar dari kolam sampah. Namun, Ara melihat petugas melongok dari balik jendela seperti mencari keberadaan mereka.


Ara segera menarik tangan Jack dan Catherine hingga mereka jatuh di samping dinding kolam sampah. Ara meminta dua kawannya diam agar tak ketahuan.


Ara dan dua kawannya terlihat begitu gembira, tapi menahan tawa agar tak ketahuan. Mereka bahkan enggan berpelukan karena bau.


"Ayo, kita harus segera pergi dari sini. Kalian siap?" tanya Jack dan dua kawan wanitanya mengangguk mantab.


"Mana tongkat penyetrummu?" tanya Jack menatap Catherine yang berantakan.


"Mau mengambilnya? Ada ditumpukan sampah itu," jawab Catherine santai.


Jack menggeleng pelan. Akhirnya, Jack, Ara dan Catherine menyusuri hutan belantara tak tahu ada di mana.


Mereka tak tahu arah tujuan kabur, tapi Jack melihat sebuah danau ketika ia akan melompat dari jendela di balik dinding batu bukit yang ternyata di dalamnya terdapat markas tempat mereka disekap.


Jack meminta mereka untuk terus pergi ke barat. Ara dan Catherine menurut. Mereka terus jalan dengan tergesa meski harus menahan bau karena pakaian mereka yang terkena sampah.


Hutan yang gelap karena mereka kabur di malam hari, membuat pandangan sedikit terganggu karena hanya cahaya bulan sebagai penerang.


Tiga orang yang kabur tanpa membawa perbekalan itu pun hanya bisa terus berusaha agar selamat dari insiden mengerikan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.


"Hah, aku lelah. Kita istirahat sebentar ya," ucap Catherine yang merasa kepalanya pusing dan tenggorokannya kering karena lelah berjalan sepanjang malam.


"Jangan, nanti kau ... AAAA!"


"ARA!" pekik Jack terkejut karena Ara terperosot pada pinggir jalan setapak yang mendaki.


Catherine dan Jack melihat Ara jatuh bergulung-gulung ke bawah dengan cepat. Segera, dua orang itu ikut menuruni bukit dengan hati-hati.


SRAK! SRAK!


BRUKK!

__ADS_1


"Agh, aduh ... pinggangku ... sakit ...," rintihnya menahan tangis karena jatuh dari ketinggian dan seluruh tubuhnya semakin kotor.


Ara jatuh telengkup di atas tanah dan tak bisa bergerak karena tubuhnya merasakan sakit di semua bagian. Ara merengek.


"Jack! Catherine! Help! I am here!" teriak Ara mulai meneteskan air mata dan mencoba membalikkan tubuhnya agar bisa terlentang, melihat dengan lebih jelas di mana posisinya berada.


Ara melihat telapak tangannya yang kotor dan lecet. Ara menahan tangisannya karena takut ketahuan musuh yang mengejar. Saat Ara berusaha bangun untuk duduk, tiba-tiba ....


SHOOT! CLEB!


"AAA! Aku menyerah! Aku menyerah!" teriaknya lantang langsung mengangkat kedua tangan ke atas.


Ara memejamkan matanya rapat tak berani melihat karena takut. Sebuah anak panah melesat dan tertancap di batang pohon samping ia duduk, jaraknya begitu dekat dengan wajahnya.


"Dia tak memakai seragam seperti orang-orang itu? Apakah warga sipil? Namun, dia bukan seperti orang sini. Dia berwajah Asia," ucap seorang wanita yang membuat Ara membuka matanya perlahan.


Ara terkejut ketika mendapati orang-orang menatapnya tajam dan mengenakan seragam tempur lengkap serta bersenjata.


Ara menelan ludah dengan kedua tangan masih terangkat ke atas. Ia ketakutan hingga tubuhnya gemetaran.


"Siapa namamu?" tanya seorang lelaki berambut gondrong terlihat tampan.


"A-ara," jawabnya gugup.


"Kenapa kau bisa di sini?" tanya lelaki itu yang kini berjongkok di depannya, tapi tiba-tiba menjauh karena bau busuk dari tubuh Ara.


Lelaki itu sampai melangkah mundur sembari mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya. Ara baru menyadari jika ia berbau seperti sampah.


Tak lama, "ARA! ARA! Kau baik-baik ... wow!" pekik Jack langsung menghentikan langkah seketika dan ikut mengangkat kedua tangan bersama Catherine di belakangnya.


Lelaki gondrong itu menatap Ara dan kawan-kawannya tajam.


"Siapa kalian?" tanya lelaki gondrong melihat Jack dan Catherine bergantian.


"Jack, Catherine," jawab Jack jujur.


Kening orang-orang dari kubu lelaki berambut gondrong itu berkerut.


"Kalian ... kawan-kawan William? CIA?" tanya lelaki gondrong menunjuk ketiganya bergantian dengan mata melotot.


"Oh! Kau kenal William? Apakah ... hah! Kau pasti orang-orang dari Tessa! Tiidaakk! Usaha kita untuk kabur gagal, Jack! Mereka menemukan kita," ucap Ara merengek dan kembali menangis, masih duduk di atas tanah.


"Hei. Kalian salah. Kami kawan Sia. Hmm, jadi kau Jack ya? Ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu," ucap seorang wanita berambut cokelat dikuncir kuda dengan busur panah dalam genggaman.


"Aku? Siapa?" tanya Jack menunjuk dirinya sendiri.


Wanita cantik itu hanya tersenyum dan memalingkan tubuh, berjalan perlahan mendekati Sumanto, salah satu anggota Red Ribbon.


"Katakan pada Jonathan jika aku mendapatkan buruannya. Lalu ... katakan, Lysa ingin kapal pesiar," ucapnya tersenyum lebar.


"Siap, Non!" jawab Sumanto langsung memberikan hormat.


Jack dan lainnya bingung, tapi mereka merasa jika orang-orang ini tak akan mencelakai mereka.


Ara yang terkilir dibawa menggunakan tandu menuju ke mobil untuk dievakuasi. Jack, Ara dan Catherine dinaikkan dalam satu mobil.


"Red, kami menemukan sandera. Segera pergi dari tempat itu. Kita bisa menginterogasi mereka," ucap Martin di dalam mobil mulai melaju ke rumah sewa, markas sementara tim Red selama di Guatemala.


"Roger that."



ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : PINTEREST


__ADS_2