
Tak terasa, tahun telah berganti. Usai merayakan pesta tahun baru di Kastil Krasnoyarsk dengan seluruh keluarga meski tanpa Amanda, Sia bersama William dan Jason bersiap terbang ke Krasnodar.
Amanda tak bisa berkumpul dengan keluarganya karena melakukan interogasi kepada Sandara yang memberikan kesaksian saat pergi bersama Afro bersama jajaran Vesper di Borka.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Aku akan melepaskan kalung pemenggal ini ketika misimu dan Sia berhasil. Jika tidak, sampai mati, kalung ini akan tetap terpasang di lehermu," ucap Boleslav saat mengantarkan kepergian William di depan Kastil.
William menarik nafas dalam dan mengangguk. Sia tak habis pikir dengan Ayahnya yang katanya memberikan restu, tapi masih mempersulit menantunya.
Akhirnya, Sia dan rombongan terbang ke Krasnodar dengan pesawat pribadi Boleslav. Sia dan William berpisah dengan Jason saat di Krasnodar International Airport.
Bykov dan Olya akan membantu dua sejoli itu selama masa perekrutan. Jason kini dalam pengawasan Maksim dan Yuri di kediaman Konstantin.
William masih duduk di kursi roda karena Boleslav tak mengizinkan mantan agent itu menggunakan kaki robot sepertinya.
William merasa seperti kembali ke masa saat ia bekerja untuk Rio di mana di tempat itu, pertama kalinya ia bertemu dengan Yena, anak Roberto.
"Sia, apa kau tahu kabar dari Yena, Selena dan Konstantin?" tanya William tiba-tiba.
Sia langsung melirik William tajam. William tertegun, Sia terlihat tak senang dengan pertanyaannya. Jantung William berdebar dan terlihat gugup seketika.
"Kenapa? Kau merindukan Selena?" tanyanya ketus.
"Hei, apa yang kau katakan, Sayang? Aku tak pernah mencintai Selena dan Yena apalagi Konstantin," jawab William menjelaskan, tapi Sia langsung beranjak dari dudukkannya, menjauh dari William.
Bykov dan Olya saling memandang. Mereka tak tahu sama sekali tentang kisah masa lalu dua insan itu. Keduanya memilih diam tak mau ikut campur.
William menghela nafas, ia tak menyangka jika Sia masih cemburu dengan dua wanita yang pernah dekat dengannya padahal mereka masih bersaudara.
"Kita bisa melakukan perekrutan besok. Olya sudah menandai beberapa tempat di mana para anggota geng sering berkumpul. Anda harus bergerak cepat, Nona Sia. Ku dengar, Lysa dan Arjuna juga melakukan perekrutan dalam jumlah besar akhir-akhir ini," ucap Bykov menjelaskan.
"Lysa? Arjuna? Anak dari Vesper? Kenapa mereka berdua ikut melakukan perekrutan? Memang apa yang sedang direncanakan para mafia? Kalian saling membantu untuk menghancurkan No Face, begitu?" tanya William menimpali.
Sia dan lainnya terkejut. Tiga orang itu baru ingat jika William tak tahu jika Sia sudah menjadi salah satu anggota dewan 13 Demon Heads.
"Yeah, rencananya begitu. Kenapa? Jangan bilang kau juga iba pada Tessa?" dalih Sia dan malah kembali mencurigai suaminya.
"Kau kenapa, Sayang? Kau sedari tadi mencurigaiku terus. Apa kau sedang menstruasi?" tanya William heran dan Sia menggeleng.
"Kau lapar? Ingin makan?" tanya William lagi karena tak habis pikir dengan sikap isterinya. Sia kembali menggeleng.
Olya menatap Sia seksama dan melirik Bykov. Dua orang itu seperti satu pemikiran.
__ADS_1
"Kapan terkahir kali kau menstruasi?" tanya Olya tiba-tiba.
Sia diam sejenak terlihat berpikir, tapi tiba-tiba William memekik yang malah mengejutkan semua orang.
"Oh! Benarkah? Apakah sesuai dugaanku?" tanya William riang.
"Dugaan apa?" tanya Sia bingung.
"Kau hamil, Sayang!" tegas William dengan wajah berbinar.
Sia tertegun. Ia diam sejenak memikirkan ucapan William yang duduk di seberangnya dengan senyum merekah.
"Entahlah," jawabnya cuek.
William mendesis. Ia minta tolong kepada Olya untuk membelikan test pack untuk isterinya. Olya dengan malas menyanggupinya.
Bykov tersenyum tipis ketika melihat William terlihat begitu bahagia sedang Sia masih cemberut karena terpikirkan sosok wanita yang dekat dengan suaminya dulu.
Hingga akhirnya, malam itu. Sia terlihat berbicara serius dengan Bykov dan Olya di ruang tengah. Red Skull berjaga di dalam markas dan Beruang Hitam di luar markas.
William duduk di mana kini ia ikut dilibatkan dalam perekrutan calon anggota baru mereka. William diam menyimak pembicaraan tiga orang di depannya.
"Semua aset peninggalan Julius Adam kini menjadi milikmu, Sia. Tuan Boleslav dan ibumu sudah mengurus semuanya dan kini kau bisa mengelolanya," ucap Bykov sembari memberikan berkas wasiat dari Julius Adam untuknya.
William mendorong kursi rodanya dan kini berada di hadapan sang isteri. Sia menaikkan pandangan terlihat sedih menatap suaminya seksama.
"Sebaiknya kita istirahat, Sayang. Kulihat kau sudah bekerja keras untuk menyiapkan perekrutan besok. Aku juga ingin fokus pada penyembuhanku agar aku bisa membantumu secara maksimal," ucap William penuh perhatian dan Sia mengangguk pelan.
Bykov dan Olya pamit pulang. Mereka akan kembali besok. Olya meninggalkan anak buahnya untuk berjaga begitupula Beruang Hitam.
Namun, Sia masih terlihat sibuk mempelajari berkas peninggalan sang ayah di kamar yang ia tempati bersama William.
"Sayang, istirahatlah. Jangan memaksakan diri. Jangan sampai kau sakit. Kau harus menjaga diri untuk mensukseskan misi kita," ucap William menasehati dan Sia menurut.
Sia merapikan pekerjaannya dan segera mendatangi William yang sudah menunggunya di ranjang. William dan Sia menempati kamar yang dulu di gunakan Rio karena lebih luas.
Sia tak banyak bicara dan segera memejamkan mata dalam pelukan sang suami. William mengelus punggung Sia lembut hingga sang isteri sudah tertidur pulas.
"Hmm, Tessa, No Face, The Circle. Entah kenapa aku merasa jika tak semudah itu menghancurkan mereka. Cerita Cecil tentang The Circle membuatku tak yakin jika kelompok ini sungguh musnah. Lalu ... tentang lelaki yang kembali muncul dalam ingatanku saat masih kecil. Kenapa firasatku mengatakan jika ia adalah salah satu anggota The Circle? Kenapa Denzel menginginkanku termasuk Tessa? Apa aku terhubung dengan sesuatu yang tak kuketahui?" tanya William menebak dalam hati dengan serencengan pertanyaan.
William menatap Sia seksama yang sudah tidur dalam pelukannya. William yang tak bisa tidur dan terjaga karena banyak pemikiran di kepalanya, mengambil buku catatan miliknya dan mulai melakukan reka kejadian ulang.
William duduk menyender pada sandaran kasur dan terlihat sibuk dengan kegiatannya.
__ADS_1
Ia mencoba mengingat kejadian saat ia masih kecil hingga direkrut oleh CIA. Lalu ketika menjalankan beberapa kasus sampai ia bertemu Sia dan berurusan dengan keluarga mafianya.
Sebuah diagram pohon muncul di buku halaman tengah setelah hampir dua jam William melakukan coretan-coretan untuk menarik benang merah atas kejadian di hidupnya.
Hingga akhirnya, mata William terbelalak saat ia menyadari sesuatu. "Yes?!"
Pekiknya tiba-tiba dan membangunkan Sia. William kaget dan segera menutup bukunya tergesa.
Ia menyelipkan di balik bantal dan kembali memposisikan diri dengan membaringkan tubuh di samping sang isteri.
"Kau belum tidur?" tanya Sia terlihat mengantuk dan William tersenyum.
"Aku terbangun, Sayang. Aku ... penasaran. Bisakah kau coba test pack itu sekarang? Mumpung kau bangun," ucap William sembari mengelus lengan isterinya lembut.
Sia terlihat malas, tapi ia mengangguk. William tersenyum dan dengan sabar menunggu Sia memberikan kabar dari hasil tesnya.
Tak lama, Sia muncul dan menggeleng dengan wajah cemberut dari kamar mandi. William mendesah kecewa.
Namun, ia tak ingin memaksakan diri agar isterinya bisa segera memberikannya anak mengingat ada misi penting yang harus mereka selesaikan dulu.
"Baiklah, kita tidur lagi. Good nite, Sweet heart," ucap William mesra mengecup kening sang isteri.
Sia kembali tidur dalam pelukan William. Tak lama, William ikut tertidur lelap.
Tak terasa, pagi sudah menjelang. Lokasi markas Rio yang berada di bawah tanah membuat mereka tak bisa melihat cahaya matahari, tapi waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Sia dan William segera bersiap hingga tiba-tiba, suara ketukan pintu membuat Sia bergegas membukanya.
"Nona Sia. Pesananmu sudah datang," ucap salah seorang anggota Red Skull dengan senyum mengembang.
"Pesanan? Aku tak memesan apapun," tanya Sia heran.
William yang ikut penasaran keluar dari kamar. Salah satu anggota Red Skull itu membawa Sia dan William ke atas menggunakan lift.
Wiliam tak tahu jika ada lift di sana padahal ia sudah pernah di tempat tersebut sebelumnya.
Saat sudah berada di luar markas, praktis, keduanya terkejut ketika mendapati sebuah mobil BMW i8 hitam terparkir indah di pinggir trotoar tersembunyi di balik markas.
"Hai, Kak Sia!" sapa Jonathan riang dengan bahasa Indonesia saat keluar dari pintu kemudi, tapi mengejutkan William.
"You!" pekik William menunjuk Jonathan dan remaja itu malah tersenyum tengil sembari melipat kacamata di kerah kaosnya.
"Hehe, hai, Will," sapa Jonathan penuh gaya, melipat kedua tangan di depan dada.
__ADS_1