
Sia mengendarai mobil BMW i8 dengan mantap dan terlihat senyum merekah di wajah. William ikut tersenyum melihat sang isteri begitu bahagia dengan mobil barunya.
Namun, ia mencemaskan masa depannya saat merasakan jika Sia mulai menikmati kehidupan mafianya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh! Kita sudah sampai, Sayang," ucap Sia membuyarkan lamunan William.
Lelaki bermata biru itu pun mengangguk. William dan Sia terlihat gugup karena hal ini pertama kali dilakukan oleh keduanya.
Sia turun terlebih dahulu untuk menyiapkan kursi roda William. Terlihat William tak enak hati karena Sia jadi kerepotan untuk membantunya.
Sia memapah William sampai ia duduk di kursi roda. Bykov dan lainnya hanya berdiri diam tak membantu karena Boleslav memerintahkan demikian.
"Biarkan mereka berdua berjuang. Aku ingin liat bagaimana keduanya menjalani hidup selama misi perekrutan ini. Bertahan atau menyerah?" ucap Boleslav sebagai pesan kepada Bykov dan Olya saat itu yang diteruskan keduanya kepada anak buah mereka.
Sia dan William sama-sama tersenyum saat keduanya berhadapan. Sia mendorong kursi roda William menuju ke sebuah gang yang sudah ditandai Olya dan Bykov.
"Nona Sia. Mereka di sana," tunjuk Bykov ke sekumpulan anak geng yang sedang berkumpul sembari menikmati minuman dan rokok.
Sia mengangguk dan menarik nafas dalam. Sia dan William saling berpandangan. Keduanya siap.
Sia mendorong kursi roda William menuju ke kumpulan orang-orang itu. Seketika, pandangan mereka langsung teralih dan kini menatap Sia serta William tajam penuh curiga.
Mereka berbicara dalam bahasa Rusia.
"Apa mau kalian?" tanya salah seorang wanita dengan tatto di tubuhnya bahkan sudah ada tatto burung hantu di lengan meski berbeda gambar dengan simbol Athena.
Sia tersenyum tipis. William diam saja berikut semua orang yang berdiri di belakangnya.
"Hai. Apa ... kalian kenal kelompok Beruang Hitam atau Red Skull?" tanya Sia to the point.
Seketika, mata orang-orang itu melebar dan terlihat takut melihat Sia serta rombongannya.
"Kami tak membuat masalah dengan kalian. Kenapa datang kemari?" tanya wanita bertato.
"Jika kalian menolak, akan menjadi masalah nantinya. Jadi, aku menawarkan sebuah kesepakatan yang hanya akan terjadi saat ini," jawab Sia santai.
"Kesepakatan? Apa itu?" tanya lelaki berambut punk.
"Menjadi bagian dari anggota kelompok baru bentukanku. Athena," jawab Sia tenang.
"Athena? Apakah itu ... kelompok pecahan dari Red Skull?" tanya wanita berambut merah.
"Bukan pecahan, tapi pasukan baru yang nantinya berada di bawah naunganku. Kami memiliki misi khusus dengan kelompok baru itu," jawab Sia lagi menjelaskan.
Kening anggota geng berkerut.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya wanita bertato.
"Sia. Anak dari Antony Boleslav."
Kembali, orang-orang itu terkejut.
"Maksudmu ... Boleslav anggota dewan 13 Demon Heads? Eh, ayahmu pernah menjadi ketua dewan juga 'kan?" tanya lelaki berambut punk.
Sia mengangguk. Mata William menajam. Ia melihat gerak-gerik sekumpulan orang di depannya.
"Hanya menyebut nama Antony Boleslav mereka sudah ketakutan begitu. Aku belum lihat secara langsung kemampuan mertuaku itu. Sepertinya, dia tak bisa diremehkan," batin William tegang seketika.
"Apa yang kami dapatkan jika menjadi anggota kelompokmu? Lalu ... bagaimana dengan para kawan lelaki kami? Mereka juga harus terlibat," tanya wanita bertato yang terlihat seperti ketua mereka.
Sia tersenyum.
"Fasilitas tempat tinggal sebagai markas. Pelatihan khusus. Upah, tentu saja. Akomodasi dan persenjataan untuk misi yang dijalankan. Serta ... jaminan makan dan kesehatan selama di bawah naunganku," jawab Sia berlagak.
Orang-orang itu mengangguk terlihat puas seperti tertarik dengan penawarannya.
"Aku mau!" jawab wanita berambut merah semangat mengangkat tangan.
"Hanya saja ...," potong Sia.
Orang-orang itu kembali terlihat serius.
Orang-orang itu saling memandang terlihat memikirkan kembali penawaran Sia. Lelaki berambut punk melirik William.
"Kau siapa?" tanyanya yang praktis membuat semua orang kini memandang William tajam.
William menarik nafas dalam. Ia tak menyangka malah terlibat dalam dunia mafia yang seharusnya ia tumpas.
"Panggil saja Blue," jawabnya teringat akan Jonathan yang memuji matanya.
"Blue? Apa kau salah satu anggota mafia juga? Gayamu seperti bukan seorang penjahat dan lebih seperti polisi. Kenapa kau pakai kursi roda? Kau cacat?" tanya lelaki punk bertolak pinggang menatapnya penuh curiga.
Sia dan kelompoknya terlihat gugup. Mereka khawatir jika calon rekrutan malah curiga dan membangkang.
"Aku CIA."
Praktis, para anggota geng itu langsung mengarahkan senjata apapun yang mereka miliki ke arah William dan kelompok Sia.
Bykov dan lainnya ikut mengarahkan pistol ke para anggota geng. Suasana tegang seketika.
"Aku akan menjadi pelatih militer kalian nantinya. Aku mantan Agent CIA lebih tepatnya."
Anggota geng itu terkejut dan saling memandang sembari menurunkan senjata.
__ADS_1
"Ma-maksudmu ... kau membelot dari militer dan bergabung dengan mafia begitu?" tanya wanita rambut merah.
William hanya tersenyum. Entah kenapa ucapan wanita itu membuat dadanya sesak seperti bertolak belakang dengan hatinya.
"Wow! Ini keren. Oke aku akan bergabung," sahut wanita bertato antusias dan diikuti oleh anggota lainnya.
Senyum Sia merekah. Bykov dan lainnya tak menyangka jika William bisa ikut mensukseskan misi perekrutan dari Sia. William diam saja. Dari semua orang hanya dia saja yang tak tersenyum.
Olya menggiring mereka untuk ikut ke markas Red Skull di mansion milik Rebecca dulu yang sudah dibangun ulang oleh Manda karena sebelumnya dihancurkan Flame dan menewaskan Rebecca, kakak iparnya.
Sia bersama William mengendarai mobil BMW modifikasi Jonathan ke mansion tersebut.
Sia dan William pertama kalinya mengunjungi tempat tersebut. Sia bahkan menunjukkan kemampuan mobil tempur Jonathan. Para anggota geng itu makin terkagum-kagum.
"Maksudmu ... Jonathan anak dari Vesper dan Benedict? Woah ... ini sungguh hebat!" sahut lelaki punk dengan wajah berbinar.
"Baiklah. Selama kalian berada di sini melakukan pelatihan untuk misi yang akan aku sampaikan nanti, kita awali dengan pengesahan dan perjanjian dari kerjasama," ucap Sia tegas dan orang-orang itu mengangguk.
"Pasukan pria nantinya akan aku beri nama Blue, seperti nama suamiku," jawab Sia tegas.
Orang-orang kembali heran.
"Maksudmu ... mantan CIA itu suamimu?" tanya lelaki punk memastikan. Sia mengangguk dengan senyuman.
Para rekrutan baru saling berbisik entah apa yang mereka bicarakan, tapi William yakin jika mereka membicarakan hubungannya dengan Sia.
Olya sudah menyiapkan berkas untuk dicap darah, tanda tangan dan rekam data yang nantinya akan disimpan dalam database GIGA SIA.
Sia terlihat puas meskipun anggota baru yang barusaja ia rekrut hanya berjumlah 20 orang, tapi ia cukup puas.
Namun, Sia baru menyadari jika William tak ada di sampingnya. Sia pamit mencari keberadaan suaminya. Sia terlihat panik saat tak menemukan William di manapun.
"Oh, kau membuatku cemas, Sayang. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sia lega saat mendapati sang suami berada di pinggir kolam.
William tersenyum tipis di kursi rodanya. Sia menyadari jika sang suami seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Will?" tanya Sia memeluknya dari belakang.
William mengelus punggung tangan Sia lembut dengan senyuman.
"Tak ada. Hanya saja ... entahlah, Sia. Mungkin ... jika aku masih menjadi agent CIA, tempat-tempat para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads yang kuketahui, pasti sudah kulaporkan pada pusat untuk dibasmi. Namun ...."
"Apa kau merencanakan semua ini? Kau berpura-pura untuk menghancurkan kami semua? Termasuk aku?!" pekik Sia langsung melepaskan pelukannya dan menjauh dari William menatapnya tajam.
William terkejut dan langsung memutar kursi rodanya. Ia menatap Sia yang terlihat panik.
__ADS_1
huhu levelnya belom masuk big 3 nih😩 dr level 3 naiknya ke level 7. kenapa gak 8 gitu. haduh sedih lele, tapi ya sudahlah tetep bersyukur dan alhamdulilah. semoga bulan depan naik jadi 9 atau 10. amin~