
Maaf telat up, lele baru mendarat di jakarta subuh tadi dan langsung terkapar. Ni aja begitu bangun belom mandi lgsg ngetik. Tanggung, bentar lagi tamat soalnya. Jadwal masih agak sedikit berantakan ya. Trims tips nya. Lele padamu💋💋💋
------- back to Story :
Sesampai di rumah, William panik karena takut jika Sia marah. Malam sudah larut dan ia tak pulang tepat waktu seperti janjinya.
William memarkirkan mobilnya di garasi dan segera mendatangi kamar, tapi ia tak menemukan Sia di sana.
WIlliam bingung dan kembali menyusuri tiap ruangan di mansion tempat ia tinggal untuk menemukan sang isteri.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh, kau sudah pulang. Aku baru selesai memasak. Kau ingin mandi dulu lalu makan malam atau ...," tanya Sia terlihat repot di dapur dengan seorang pelayan menyiapkan makanan di meja makan.
William bernafas lega. Ia pikir akan melihat sosok lain dari sang isteri yang seperti monster ketika marah. William mendatangi Sia dan mengecup keningnya lembut, Sia tersenyum.
"Tapi sepertinya ... kau mandi dulu. Kau kumal dan bau," keluh Sia memonyongkan bibir.
William tertawa pelan dan mengangguk setuju. Sia menyerahkan penataan makan malam kepada pelayan. Sia mendampingi William ke kamar sembari berganti pakaian.
"Kau tidak sedang sakit 'kan? Kenapa memakai mantel? Apa kau tadi pergi keluar?" tanya William heran karena mendapati sang isteri memakai mantel jas di tubuhnya.
Sia diam sejenak. Ia melepaskan mantel itu dan menggantungnya di besi pakaian samping pintu.
"Oh, kau pulang terlambat. Aku cemas. Aku khawatir kau lupa jalan pulang. Jadi ... aku menunggumu di luar," jawabnya berbohong.
William menatap sedih sang isteri yang terlihat letih. Ia kembali mendekatinya dan mencium keningnya.
Entah kenapa, Sia merasakan William yang baru, lebih hangat dan murah senyum, tak seperti dulu.
"Ish, badanmu kotor. Aku mandikan saja," ucap Sia saat mendapati tubuh suaminya banyak terkena angus mobil.
William terlihat terkejut, tapi ia mengangguk. Sia menyiapkan air hangat untuk berendam sang suami di bath up. William terlihat gugup karena merasa baru pertama kali melakukannya.
William melepaskan pakaiannya perlahan dan meletakkannya di keranjang laundry. Ia berjalan pelan terlihat canggung saat Sia memasukkan sabun untuk membuat busa di bath up.
"Kenapa kau bengong begitu? Kau lapar? Kalau begitu, segeralah mandi dan kita makan malam. Airmu sudah siap," ucap Sia yang terlihat biasa saja menonton tubuh atletis sang suami yang tak terbungkus sehelai kain.
William canggung dan menutupi kejantanannya dengan kedua tangan. Sia terkekeh dan malah gemas dengan tingkah sang suami yang sok perjaka.
"Apa yang kau tutupi? Kau takut milikmu terbang? Tenang saja, akan kutangkap," jawabnya genit sembari melepaskan paksa tangan William yang menutupi keperkasaannya.
"Haha, jangan. Hei, hei, aku malu," ucapnya dengan wajah merah merona menghindari tangan jahil sang isteri.
Sia tertawa terbahak karena seingatnya, dulu William begitu membanggakan keperkasaannya bahkan tak tahu malu.
Sia makin gemas. Ia malah ikut melepaskan pakaiannya dan masuk lebih dulu ke bath up yang sudah berisi air hangat
"Aku kesulitan menggosok tubuhku karena perutku yang besar, Will. Tolong," rengeknya.
William tersenyum dan pada akhirnya ikut masuk ke bath up meski canggung. William menggosok punggung mulus sang isteri perlahan dengan spons yang sudah dilumuri sabun mewah.
__ADS_1
"Hmm, aromanya enak, seperti tubuhmu," ucap William sembari menggosok tengkuk sang isteri.
"Ehem, ini aroma parfum sabun kesukaanmu. Mulai sekarang ingatlah, jika habis, kau yang beli ya," jawab Sia menoleh dengan cemberut.
William tersenyum dan mengangguk sembari mengambil botol sabun untuk mengingat merk-nya.
William menggosok tubuh isterinya perlahan dan terlihat begitu detail bahkan sampai ke celah-celah jari. Sia tersenyum melihat William begitu perhatian padanya.
"Sini, gantian. Kau kotor sekali," ucap Sia meminta suaminya berputar dan William segera mengubah posisinya, memunggungi sang isteri.
William kaget karena gosokan Sia cukup kuat di tubuhnya. Sia juga menggosok tiap lekukan tubuh sang suami untuk memastikan jika tak ada kotoran yang menempel di sana.
"Oh, hei," kejut William saat tiba-tiba Sia memegang kejantanannya yang terendam dalam air, tertutupi busa mewah.
"Ini yang paling penting dan tak boleh terlewat," bisiknya gemas di telinga sang suami dan WIlliam tersipu malu.
"Kau sangat menyukainya?" canda William dan Sia dengan agresif malah mengocoknya hingga menimbulkan gelombang di dalam bath up.
William berkerut kening saat Sia melakukan sentuhan bergairah di tubuhnya dan tangan kirinya terus mengocok kejantanannya.
William berpegangan kuat pada pinggir bath up dan berusaha untuk tetap tenang menahan gairahnya.
"Will, aku penasaran, bagaimana rasanya bercinta dengan perut besarku?" ucap Sia manja meletakkan dagu di pundak sang suami.
"Hem, jujur, aku juga penasaran. Apa ... tidak beresiko?" tanya William gugup.
"Aku rasa tidak," jawab Sia memeluk William dari belakang.
William mengajak Sia keluar dari bath up dan bilas bersama di bawah guyuran shower air hangat.
Meski William merasa canggung, tapi ia juga penasaran bagaimana rasanya bercinta dengan wanita hamil. William merangkak di atas tubuh sang isteri dan mencium bibirnya lembut.
Sia bergegas menyambut ciuman itu dengan penuh cinta. Mata mereka terpejam agar bisa saling merasakan kasih sayang diantara keduanya.
William dan Sia mulai terbuai. Aroma wangi parfum sabun mandi, membuat keduanya terlena seperti aromatherapy yang menenangkan.
William tak henti-hentinya menciumi tubuh sang isteri yang baginya tetap terlihat menggairahkan meski perutnya buncit.
Sia bahkan dengan sendirinya melebarkan kakinya dan William dengan sigap, segera memposisikan dirinya.
"Pelan-pelan saja, Will," pinta Sia menarik nafas dalam.
William terlihat berhati-hati karena tak ingin melukai buah cintanya di perut sang isteri. William mendorong miliknya perlahan tak memaksa, agar Sia tak merasakan sakit dan terkejut saat kejantanannya bersemayam di sana.
Sia terlihat menikmati sodokan pelan dari kejantanan William yang masih berusaha menerobos lubang kenikmatannya.
Berulang kali Sia mengatur nafasnya karena rasa sesak sedikit ia rasakan. Kehamilannya sedikit mengganggu pergerakannya dan membuatnya tak bisa melakukan banyak gaya bercinta.
"Hem, kau baik-baik saja, Sayang?" tanya William saat miliknya berhasil singgah di sana dan diam sejenak. Sia mengangguk dengan senyum tipis terpancar di wajahnya.
"Jika kau merasa tak nyaman, katakan ya. Jangan memaksakan diri," ucap William sembari mencondongkan tubuhnya, mencium perut besar sang isteri. Sia mengangguk pelan.
__ADS_1
William kembali memposisikan diri seperti orang merangkak. Ia ingin sekali bisa memandangi wajah cantik sang isteri yang terlihat lebih bercahaya ketika sedang hamil.
Sia meraih kepala William dan menciuminya ganas. William mulai mendapatkan sensasi bercintanya karena pijatan tangan Sia di tubuhnya. Ia mulai mendorong miliknya makin dalam penuh tekanan.
Sia tak bisa menahan kenikmatan di liangnya yang sudah lama tak tersentuh oleh sang suami karena banyak kejadian buruk menimpa hidup mereka.
"Agh, kakiku pegal, dari samping saja," pinta Sia terlihat masih sanggup bercinta.
"Oke," jawab William yang tak ingin segera berakhir karena ia belum mencapai puncaknya.
William kembali menyodokkan miliknya semakin kuat. Ia memegangi pinggul sang isteri sembari terus menciumi wajahnya.
Sia tak bisa menahan desahannya. Ia mulai merasakan titik puncaknya. William semakin agresif dan kini menghisap buah dada yang menggemaskan itu dengan mulutnya.
Sia meronta dalam kenikmatan dan membuat William semakin tak bisa menghentikan aksinya.
"Aku keluarkan di dalam tak apa?" tanya William yang mulai mendekati titik puncak.
Sia tak bisa menjawab dan hanya bisa mengangguk dengan mata terpejam karena terlalu nikmat.
William makin kuat menyodokkan miliknya hingga kedua tangan Sia mencengkeram erat pergelangan tangan sang suami yang digunakan untuk menopang tubuhnya.
"Will, aku tak sanggup menahannya lebih lama lagi," keluh Sia yang semakin merintih dalam kenikmatan.
William menggertakkan gigi saat ia mendorong miliknya kuat dan menyemburkan cairannya di dalam sana. William dan Sia mengerang bersama tak bisa ditahan lagi.
Tubuh William menegang dan meletakkan wajahnya di kepala sang isteri setelah ia menggelontorkan seluruh amunisinya.
Sia terkekeh dan memiringkan wajah. Ia melihat William seperti orang kelelahan karena sudah lama tak bercinta.
"Mungkin, setelah melahirkan nanti, kita bisa lebih puas bermain, Sayang. Tumben, kau cepat keluar," ledeknya.
William hanya bisa tersenyum dan mencium pipi sang isteri lembut.
"Apakah dulu ... aku bermain sangat hebat? Mungkin, beberapa ronde?" tanya William terlihat penasaran.
"Ya begitulah. Kau sangat agresif," jawab Sia gemas.
William terlihat bangga akan dirinya meski ia tak ingat. William segera bangun dan mengajak sang isteri membersihkan diri sebelum berpakaian.
Keduanya terlihat begitu bahagia. William mulai terlihat tak canggung akan sentuhan dari sang isteri, malah ia merasa kecanduan untuk terus berdekatan dengan wanita cantik yang sedang mengandung anaknya.
William menopang dagunya dan memandangi gerak-gerik sang isteri yang terlihat begitu bahagia, tak seperti saat pertama kali ia bertemu ketika akan kabur. Terlihat wajah sedih dan kekecewa di matanya.
"Sia, apakah kau bahagia hidup bersamaku?" tanya William sembari meraih tangan sang isteri di atas meja makan.
"Tentu saja, Sayang. Aku harap kau juga demikian," jawabnya tersenyum.
"Aku sangat bahagia," balasnya sembari mencium jemari sang isteri lembut.
Keduanya mengobrol ringan sembari menikmati makan malam. William menceritakan kegiatannya saat di bengkel dan terlihat ia begitu menyukai pekerjaan barunya.
__ADS_1
Sia terkekeh saat William tidur lebih dulu bahkan suara dengkuran kecil terdengar, terlihat ia begitu kelelahan. Sia mendekati sang suami dan mencium keningnya lembut
"I love you, Will," ucapnya dengan senyum terkembang.