
Sudah 7 hari Sia menghabiskan waktu di Kastil Borka bersama orang-orang dalam jajaran Vesper.
Sia terlihat siap untuk menjalani kehidupan mafianya demi sebuah tujuan, hidup bahagia bersama William nantinya.
Perubahan sikap dan sifat Sia setelah berbicara dengan Vesper dirasakan oleh semua orang termasuk kedua orang tuanya, bahkan Jordan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Aku akan melanjutkan pembelajaran bahasa Indonesiaku dengan Jason nantinya. Aku sudah menghubunginya dan ia siap menjadi guruku, meski aku harus memberikan hadiah untuknya sebagai balas jasa. Guru macam apa si Jason? Setahuku, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, ia mengajariku dengan pamrih," ucap Sia di depan Zaid sebelum berpamitan.
Zaid terkekeh berikut semua orang yang mendengar. Kai bahkan memberikan kaki robot sesuai dengan ukuran Jordan karena anak Boleslav enggan menggunakan tongkat.
"Pakailah ketika nanti lukamu sudah benar-benar pulih. Jangan dipaksakan," ucap Kai sembari memberikan koper khusus berisi kaki robot kepada Match.
"Thank you, Mr. Kai," jawab Jordan di kursi roda.
Kai menatap Jordan seksama yang terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Sebaiknya ... kau lupakan Sandara, Jordan. Carilah gadis lain. Kau tak membuka hatimu. Oleh karena itu, hanya Sandara saja di pikiranmu. Pasti ada gadis di luar sana yang bisa mencintai dan memahamimu selain Sandara. Kau harus memberikan kesempatan pada hatimu," ucap Kai menatap Jordan tegas.
Jordan diam saja tak menjawab. Semua orang yang mendengar ikut diam. Amanda pamit kepada semua orang.
Mobil Sia akan diantarkan oleh The Kamvret ke Los Angeles begitu sudah selesai termasuk kepengurusan surat-suratnya.
"Sampai jumpa, Kak Sia!" teriak Jonathan dengan bahasa Indonesia melambaikan tangan.
"Sampai jumpa!" balas Sia yang mulai sedikit mengerti perkataan sederhana.
Orang-orang yang paham bahasa Indonesia tersenyum dan bangga akan ketekunan Sia dalam belajar.
Black Armys mengantarkan keluarga Boleslav ke Bandara yang selanjutnya mereka akan terbang ke Amerika di mana Sia akan tinggal di sana entah sampai kapan.
Di pesawat pribadi Amanda, penerbangan dari Rusia ke Amerika.
"Lalu, apa saja yang kau pelajari selama bersama orang-orang Vesper, Sia?" tanya Amanda sembari menikmati kudapan siang.
"Hmm. Paman Eko memberitahuku cara melakukan perekrutan tentara. Oia, orang itu aneh, Mom. Logat Inggrisnya lucu. Aku sebenarnya tak begitu paham yang ia katakan. Untung ada Paman Red. Ia selalu menggunakan akhiran -ya to (medok). Agh, ucapan anehnya itu malah membuatku terngiang-ngiang" jawab Sia memejamkan mata terlihat pusing.
Red terkekeh bersama Daniel. Mereka setuju dengan ucapan Sia di mana mereka juga merasa jika cara bicara Eko aneh.
"Memang dia mengatakan apa?" tanya Amanda hampir tersedak saat akan minum karena membayangkan sosok Eko.
"Dia bilang begini, 'So ... you have to determine the criteria of your army, ya to. And ... oh! Perkataan itu lagi. Itu yang kumaksud! Dia selalu mengakhiri ucapannya dengan kalimat 'ya to'. Agh, jangan biarkan aku bicara lagi padanya," keluh Sia memejamkan mata dan memegangi kepala terlihat frustasi.
Tawa Boleslav meledak dan hal itu mengejutkan semua orang termasuk Jordan. Mereka tak menyangka cerita Sia bisa membuat Boleslav begitu bahagia.
"Orang-orang Vesper memang tak ada yang waras. Beruntung kau hanya tinggal seminggu di sana, Sia. Jika lebih lama lagi, kau akan ikutan gila seperti mereka. Hahahaha!" tawa Antony menggelegar di cabin pesawat.
Sia hanya meringis. Entah apa yang lucu, tapi ia senang melihat Ayahnya bahagia. Amanda tersenyum tipis melihat suaminya jarang sekali bisa tertawa demikian.
Jordan diam saja melihat Ayahnya. Jordan menoleh ke arah jendela dan menatap awan-awan.
Ia memikirkan ucapan dari Kai, salah satu orang yang sangat ia harapkan restu agar bisa hidup bersama Sandara.
__ADS_1
Namun, ucapan Kai sudah jelas untuknya jika tak ada restu darinya. Jordan diam selama penerbangan dan Sia menyadarinya.
Akhirnya, penerbangan hampir 14 jam yang melelahkan itu berakhir. Mereka tiba dini hari dan sudah dijemput oleh anggota Black Suit yang berjaga di mansion tersebut, di bawah pimpinan Arthur.
"Hallo, Miss Sia. You look beautiful," sapa Arthur saat menyambut keluarga bosnya di pintu masuk Mansion.
"Hallo, Paman Arthur. Kau juga tampan," sahut Sia dan Arthur tersenyum tipis.
Amanda dan keluarganya masuk ke dalam rumah. Antony segera pergi ke kamar untuk beristirahat ditemani oleh Amanda, begitupula Jordan dan lainnya.
Arthur menunjukkan kamar Sia dan gadis cantik itu tersenyum merekah. Kamarnya terlihat sangat nyaman dengan warna pastel kesukaannya.
Sia langsung sibuk bereksplorasi di kamar barunya. Arthur tersenyum melihat Sia begitu antusias.
Arthur merasa jika Sia masih terlalu muda untuk menikah. Ia melihat Sia masih sering ragu dalam bertindak.
"Baiklah. Selamat beristirahat. Jangan begadang. Besok orang-orang dari Red Skull akan tiba. Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka sampaikan padamu," ucap Arthur.
Sia menoleh dan mengangguk. Arthur mengucapkan selamat malam dan menutup pintu. Sia balas mengucapkan salam lalu duduk perlahan di sofa dekat ranjang.
"Oke. Ini sudah keputusanku. Aku sudah memantabkan hatiku. Oke, just one word. William," ucapnya kembali meyakinkan hatinya dengan kepalan tangan di dada dan mata terpejam.
Sia segera membongkar isi koper dan memasukkan pakaian serta barang-barang di almari yang telah tersedia.
Sia terlihat begitu bersemangat dengan tempat tinggal barunya yang terasa nyaman.
Sia segera membersihkan diri dan pergi tidur karena ia juga ingin segera mewujudkan mimpinya agar bisa kembali bersama William.
Keesokan harinya, Sia terlihat sudah bersiap. Senyumnya merekah menyambut pagi meskipun udara dingin mulai mengusik karena memasuki musim dingin.
"Good morning, Sia!" sambut semua orang yang ternyata sudah ramai dengan banyak makanan di atas meja serta pernak-pernik pesta.
"Hei, good morning. Wow, apakah ada pesta?" tanya Sia bingung.
"Hanya penyambutan di rumah baru. Semoga kau suka," jawab Merry.
"Rumahnya indah, aku suka," jawab Sia dengan wajah berbinar.
"Oke, sarapan dulu lalu kita lanjutkan mengobrol," sahut Amanda dan semua orang berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
Namun, Jordan tak ada di sana, ia masih berada di kamar. Ia tak menyukai keramaian. Boleslav ikut menemani anak lelakinya karena ia juga tak suka kebisingan.
"Hmm, jadi ... kau ingin melakukan perekrutan di Amerika?" tanya Julia memastikan dan Sia mengangguk dengan kentang goreng di mulutnya.
"Oke. Kami akan bantu. Sebelumnya memang banyak yang ingin bergabung dengan Red Skull. Hanya saja, semenjak adanya penyusup dalam jajaran 13 Demon Heads dari kubu The Circle dan pemerintah, kami menutup perekrutan. Namun, ini akan jadi tantangan jika kau berhasil menghimpun pasukan tanpa adanya penyusup di sana," sahut Monica dan Sia mengangguk.
"Sebenarnya, ada satu hal yang membuatku merasa jika ini lebih utama ketimbang perekrutan," ucap Sia serius.
"Apa itu?" tanya Amanda penasaran.
"Tessa. Anggota No Face. Kelompok The Circle. Entah kenapa aku merasa jika Tessa ini sedikit berbeda. Aku ingin bertemu dengannya dan berbicara. Dia berselisih dengan Denzel. Kini, Denzel sudah tewas, apalagi ia mati di tanganku. Aku ingin tahu bagaimana respon Tessa mengenai hal itu," jawab Sia penuh keyakinan.
"Namun, Vesper sendiri tak tahu di mana Tessa berada. Sosoknya pun tak ditemukan GIGA," sahut Amanda bingung.
__ADS_1
"Ada yang tahu dan hanya padanya kita bisa menguak tentang organisasi No Face ini," ucap Sia tegas.
"Who?" tanya Julia dengan kening berkerut.
"William."
Sontak, mata semua orang melebar.
"No! Tak boleh melibatkan orang CIA itu lagi dengan alasan apapun," sahut Boleslav tiba-tiba ikut bergabung di ruang makan.
Sia menarik nafas dalam. Ia tak menyangka jika kini harus berurusan dengan Ayah tirinya.
"Daddy, dengar. Jajaran Vesper sudah melakukan penyelidikan untuk mencari Tessa dari informasi Jonathan dan Arjuna ketika di Kastil Borka, tapi hasilnya nihil. Hanya William yang tahu di mana kediamannya karena ia pernah ke sana. Kediaman Denzel saja ia yang mengetahuinya padahal kalian sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Kita jangan membuang waktu lagi. Kita sudah menemukan kuncinya dan akan sangat bodoh jika kita tak memanfaatkannya."
"TIDAK! Sekali kukatakan tidak ya tidak!" bentak Boleslav dengan mata membulat penuh.
Semua orang terkejut karena Boleslav marah. Sia menatap Ayah tirinya dengan nafas menderu.
Sia memejamkan mata, ia teringat akan nasehat Vesper. Sia mencoba untuk tetap tenang.
"Aku tahu kau sangat membenci William, Daddy. Aku tahu kau tak menyukainya. Padahal, ia mengagumimu. Katanya ... ya begitulah, percuma juga kuceritakan kau takkan peduli," ucap Sia terlihat kesal sembari mengambil sekotak susu cair dan menuangkan di gelasnya.
"Apa yang ia katakan?" tanya Boleslav tiba-tiba.
"Lupakan saja. Aku tak tertarik untuk bercerita. Tak ada gunanya juga. Kau sepertinya tak peduli dengan jabatanku sebagai anggota dewan. Kau sama saja membiarkanku dipermalukan oleh mafia lainnya," ucapnya terlihat sebal tak menatap orang-orang dan sibuk dengan garpu serta pisau dalam genggaman.
"Apa maksudmu? Apa hubungannya dengan para mafia itu?" tanya Boleslav bingung menatap Sia seksama.
"Aku bisa membayangkan ketika mereka membicarakanku, 'Oh, lihatlah Sia. Gadis itu beruntung bisa membunuh Denzel. Namun, keberuntungannya telah habis. Ia tak bisa melakukan hal mengagumkan lainnya. Ia tak pantas duduk sebagai anggota dewan'. Ya begitulah," ucapnya dengan gaya mencibir. Kening semua orang berkerut.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Boleslav bingung.
"Daddy. Jika aku bisa menguak tentang No Face, para mafia itu tidak akan meremehkanku lagi. Mereka akan memandangku. Selama ini mereka santun padaku karena kau. Namamu menutupi kelemahanku. Jika aku bukan keluarga Boleslav, mungkin sudah sejak dulu aku dipandang sebelah mata. Siapa Sia? Dia hanya gadis lemah yang kebetulan hidup di keluarga mafia. Tak memiliki prestasi apapun selain menikahi seorang agent CIA. Kau mau aku disindir seperti itu tiap ada pertemuan dewan? Kau sama saja mempermalukanku secara tidak langsung, Daddy," jawab Sia malas sembari mengoles roti dengan selai cokelat.
Semua orang diam saling melirik.
"Itu hanya alasanmu saja," jawab Boleslav yang merasa dipermainkan anak gadisnya.
"Terserah kau saja. Tapi jangan sakit hati jika kau mendengar para mafia itu merendahkanku. Aku memiliki ide cemerlang untuk menaikkan kewibawaanku sebagai anggota dewan, tapi kau menghalangi," jawab Sia sembari mengunyah roti gandum di mulutnya.
Kening Boleslav berkerut menatap Sia yang terlihat cuek menikmati sarapannya. Seolah-olah ucapannya barusan seperti kedok saja untuk bertemu William.
"Apa dia mengetahui jika William di Krasnoyarsk dan menjadi tawananku? Tidak mungkin, ia tak tahu hal itu," ucap Boleslav dalam hati penuh selidik.
"Manda," panggil Boleslav melirik isterinya. Amanda terkejut.
"Entahlah. Aku tak mau berdebat denganmu. Semua keputusan ada di tanganmu," jawab Amanda santai dan ikut mengambil roti gandum seperti Sia.
Boleslav melirik semua orang, tapi mereka memilih untuk sarapan tak mau terlibat. Boleslav masih diam memikirkan ucapan Sia yang seperti bertentangan dengan hati nuraninya.
"Baiklah. Kita akan memanfaatkan William, tapi dalam pengawasanku," ucap Boleslav serius.
Ingin rasanya Sia melompat kegirangan, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap angkuh dan cuek.
__ADS_1
"Oke," jawabnya dengan anggukan melirik Boleslav sekilas.
Boleslav menatap Sia seksama dan terus memandanginya penuh selidik.