Secret Mission

Secret Mission
Terseret Lagi*


__ADS_3

William kebingungan. Ia melihat jumlah para lelaki itu sekitar 10 orang. Jika ia nekat melakukan aksi tembak-tembakan, ia tak yakin bisa selamat, mengingat ia hanya memiliki sebuah pistol di balik pinggangnya.


Namun, bukan William namanya jika tak mengambil resiko.


KLANG!


"Ugh!"


DOR! DOR!


"ARGH!"


Dengan sigap, William melemparkan kaleng beer dingin miliknya ke wajah lelaki di samping kirinya hingga lelaki itu terkejut.


William segera menarik pistol dari balik pinggangnya dan menembakkan peluru-pelurunya ke dua lelaki di kanan kirinya tepat di dada mereka.


William segera berlari menjauh dari delapan lelaki yang berdiri bergerombol di belakangnya. Para lelaki itu segera mengejar William yang berusaha kabur melarikan diri.


William kembali menembakkan peluru-pelurunya ke para lelaki yang mengejarnya sambil berlari.


Ia sengaja membuat suara dari pistolnya itu. Ia lalu melemparkannya ke sembarang tempat begitu pistolnya habis peluru.


Untung saja kawasan itu tak begitu sepi. Ada beberapa orang yang berlalu lalang menikmati indahnya malam hari di pinggir pantai.


Semua orang terkejut akan suara tembakan yang tiba-tiba, mereka menoleh ke arah William seketika. William yang berlari kencang itu menjadi sorotan beberapa orang.


"Telepon polisi! Mereka pembunuh!" teriak WIlliam lantang yang sengaja membuat panik semua orang.


"AAAAA!"


Orang-orang yang mendengar apa yang dikatakan William ikut berhambur dari tempatnya duduk dan berkumpul.


Semua orang berlari menghindari segeromblan orang yang berpakaian rapi dalam jumlah banyak.


William melihat seorang lelaki yang tergesa memasuki sebuah mobil bersama kawan lelakinya. William segera berlari ke arah dua lelaki itu dan kembali bermain drama.


"Hei ... hei, ajak aku. Aku takut," ucap William dengan ekspresi ketakutan.


Dua lelaki muda yang sudah masuk ke dalam mobil saling memandang terlihat ragu.


"Please ...." mohon William dimana ia melihat para lelaki berjas itu seperti kebingungan mencari keberadaannya.


"Oke, masuklah," ucap lelaki yang mengemudikan mobil.


William terlihat senang dan segera masuk ke dudukan tengah. Mobil itu segera pergi meninggalkan lokasi pantai yang sedang kacau.


William menoleh dari kaca jendela dimana salah seorang lelaki berjas melihat sosoknya. William malah tersenyum tengil pada lelaki itu sembari menaikkan kaca jendela mobil.


Hingga tiba-tiba, suara sirine mobil polisi terdengar. Para lelaki itu segera pergi dari lokasi kejadian.


William lega karena ia berhasil selamat. Ia lalu menyadari jika rute yang dilewati oleh mobil yang ditumpanginya itu melewati kawasan kediaman Axton.


William meminta kepada lelaki yang menjadi sopir itu untuk menurunkannya di pinggir jalan. Lelaki itu mengangguk paham dan meninggalkan William di sana.


William bermaksud untuk mengambil mobilnya kembali. Ia pun nekat berjalan menuju mansion Axton dimana ia sudah gagal seleksi menjadi salah satu bodyguard-nya.


Namun, saat William sudah hampir dekat ke mansion-nya, ia terkejut saat melihat dua buah mobil keluar dari kediaman Axton.

__ADS_1


William segera bersembunyi di balik pepohonan. Ia kaget karena mobilnya dipakai oleh seseorang entah siapa karena tak terlihat. Mobil itu keluar dari kediaman Axton entah menuju kemana.


William keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan tergesa mencoba mengejar mobil itu hingga akhirnya ia berlari dan berteriak saat berusaha menghentikan laju dua mobil tersebut.


"Hei! Hei!" teriak William lantang dan spontan dua mobil itu berhenti.


Entah kenapa William malah jadi terkejut karenanya. Ia gugup saat pintu mobilnya terbuka dan muncul seorang pria yang memiliki gaya cukup unik menurutnya.


William menatap lelaki itu seksama yang berjalan mendekatinya diikuti oleh beberapa orang yang keluar dari mobil Hammer.


"Kau berteriak padaku?" tanya lelaki berjas itu.


William menelan ludah. Ia mengangguk pelan.


"Kau mengendarai mobilku," jawab William menunjuk mobil Mustang-nya.


Lelaki itu menoleh dan melihat mobil yang dikendarainya tadi.


"Aku membelinya dari Axton seharga (1,5 miliar jika dirupiahkan). Itu mobilku," ucap lelaki itu dan sontak mulut William menganga lebar karena Axton menjualnya dengan harga tak masuk akal.


"What? Axton menjualnya?! Tidak bisa, itu mobilku! Dia tak bisa menjualnya begitu saja!" teriak William protes hingga matanya melotot.


CEKREK!


"Wow ... wow ...." William mengangkat kedua tangannya seketika karena ditodongkan moncong pistol di dahinya.


"Kau siapa? Kenapa mobilmu bisa dijual oleh Axton? Kau berhutang padanya?" tanya lelaki itu dengan pistol masih diarahkan pada William.


William berpikir sejenak.


Lelaki itu tertegun begitu pula para bodyguard yang bersamanya. Spontan lelaki itu menurunkan pistolnya dan menatap William seksama dari atas dan bawah.


"Kau lulus tes?" tanya lelaki itu memastikan.


"Saat di mansion Axton, ya. Namun, saat di mansion Arjuna, tidak. Dia curang," ucap William mempertegas.


Lelaki itu tiba-tiba memeluk William. William terkejut dan diam saja.


"Kau bisa memiliki mobilmu kembali jika kau mau. Hanya saja, kau harus melakukan sesuatu untukku. Jadilah bodyguard-ku untuk mengganti uang yang sudah ku keluarkan untuk membeli mobilmu. Bagaimana?" tanya lelaki itu menawarkan dengan senyum merekah.


Bagaikan mendapatkan jackpot, William mengangguk setuju. Lelaki itu dan para bodyguard-nya terlihat senang. Namun, William masih penasaran.


"Kau, siapa?" tanya William curiga.


"Aku? Oh, perkenalkan. Aku anak dari Raja Khrisna, Rahul. Salah satu anggota 13 Demon Heads dari India. Aku penyuka mobil dan kebetulan aku sedang di Amerika. Tuan Axton menawarkan sebuah mobil padaku dan mobilmu keren. Seleramu bagus untuk seorang bodyguard, William," ucap mafia muda itu dan William membungkuk hormat.


"Terima kasih, sudah menerimaku menjadi bodyguard-mu, Tuan Rahul," ucap William sopan.


"Aku belum memiliki anak buah asal Amerika. Kau tampan dan sepertinya kau seumuran denganku. Sepertinya kita akan cocok. Baiklah, William. Siapkan dirimu, kita akan terbang ke India," ucap Rahul dan William menelan ludah.


Ia lagi-lagi terjebak dan tak bisa mengelak. Tujuannya untuk mendekati Sia kembali gagal.


Namun, William merasa lebih baik bersama lelaki bernama Rahul ketimbang sepuluh orang berjas yang terlihat menyeramkan itu.


William bahkan diizinkan untuk mengemudikan mobilnya lagi. Senyum William merekah, ia sangat menyukai mobilnya ditambah mobil itu memiliki kenangan dengan Sia.


"Oia, tapi sebelum itu. Aku masih ada urusan bisnis dengan mafia lain. Kau ikut denganku, tapi jangan berulah," ucap Rahul tegas menunjuknya.

__ADS_1


"Yes, Sir," jawab William sopan.


William merasa jika Rahul ini tipe mafia muda yang santai. Gaya bicara dan cara berpakaiannya modern.


Tak terlihat seperti seorang mafia. Lebih seperti seorang pebisnis dan playboy. Rahul duduk di depan bersama William. Tak ada bodyguard-nya yang ikut dalam mobil Mustang itu.


William yang sudah tahu mengenai Raja Khrisna, menganggap jika ia kembali mendapat keberuntungan karena bertemu salah satu anggota dewan lain dimana dalam berkas, Raja Khrisna masih belum tersentuh oleh CIA.


William merasa jika inilah saatnya untuk membongkar kejahatan Raja Khrisna dimana ia masih terbilang baru dalam jajaran 13 Demon Heads.


William akan memanfaatkan anaknya, Rahul karena William merasa jika Rahul ini tipe orang yang mudah diajak bicara tak seperti Rio atau bahkan Sergei.


Perjalanan malam itu cukup panjang hingga menghabiskan waktu selama 3 jam lebih. William hanya diminta untuk mengikuti rute dalam GPS yang dipasang di dalam mobilnya.


Tujuan mereka ke New York. William diam saja menuruti segala bentuk perintah dari Rahul.


Hingga akhirnya, GPS menunjukkan sebuah kawasan di Midtown Manhattan, Amerika Serikat. GPS mengerahkan ke sebuah perusahaan seluler dengan logo T di sana.


Rahul yang tertidur itupun terpaksa dibangunkan oleh William. Rahul sempat terkejut dan menatap William seksama karena ia lupa jika tadi ia merekrut bodyguard baru saat di kawasan kediaman Axton.


"Oh, sudah sampai ya. Hmpf, jam berapa ini? Oh, sudah pukul 11 malam. Kau, tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Berani kau membawa kabur mobilku, akan kuburu kau hingga ke seluruh penjuru dunia, William. Akan kupastikan, kau melihat potongan tubuhmu dengan matamu sendiri saat aku melakukannya," ucap Rahul mengancam dan wajah ramahnya pun sirna seketika.


William menelan ludah dan mengangguk. Rahul di turunkan di lobil depan perusahaan yang memiliki lantai lebih dari 40 itu.


William menunggu di mobil bersama dua orang bodyguard Rahul yang turun dari mobil Hammer dan kini duduk di kap mobil Mustang-nya.


"Hiss, jangan duduk di sana. Kalian membuat mobilku lecet," ucap William gemas dari kursi kemudinya.


William melihat sekitar dimana keadaan terlihat aman. Ia pun mengeluarkan alat dari dalam dashbord mobil dimana disediakan alat perekam khusus yang nantinya akan William gunakan untuk memberikan laporan pada CIA.


William melaporkan semua yang terjadi selama dalam misinya itu ke alat perekam yang berbentuk pulpen tersebut. William tetap waspada agar tak mencurigakan.


William berpura-pura menyanyi di dalam mobil dimana ia menyalakan mp3 khusus yang hanya berisi instrument musik klasik.


Dua bodyguard Rahul dan satpam yang menjaga di luar gedung hanya melirik William sekilas yang terlihat asyik menyanyi di dalam mobil, merekapun mengabaikannya.


Hingga akhirnya setelah satu jam lamanya, Rahul keluar di dampingi oleh beberapa orang yang terlihat santai.


Namun, mata William melebar seketika saat melihat sosok lelaki yang dikenalnya.


Lelaki yang menembak bius dirinya saat di mansion Rio hingga ia harus kehilangan Sia dan membuatnya nekat kembali masuk ke kelompok mafia demi gadis yang dicintainya.


Jantung William berdebar kencang tak karuan saat lelaki itu bersalaman dengan Rahul dan kembali masuk ke gedung itu diikuti oleh beberapa anak buahnya.


William langsung melihat gedung itu seksama sampai kepalanya mendongak dan terlihat berfikir keras.


"T? Ini perusahaan siapa? Apa hubungan lelaki yang bernama ... Bri-Brian? Yes, Brian. Eh, Brian dengan Rahul? Oh, apa mereka saling mengenal? Jangan-jangan, Sia ada sangkut pautnya dengan pemilik perusahaan ini?" tanya William dalam hati dengan banyak asumsi di pikirannya.



ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST


-------


jangan lupa like, komen dan vote yg buanyak ya. tengkiyuw😁

__ADS_1


__ADS_2