
Keesokan harinya. William pergi ke Rumah Sakit ditemani Sia dan Arthur. William akan melakukan control check up untuk mengetahui perkembangan dari kesembuhan kakinya.
Ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Tulang William hampir pulih sepenuhnya. Gips di kakinya akan dilepas. Perasaan lega menyelimuti hati semua orang.
William bahkan membiarkan pen terpasang di tulangnya karena ia tak mengalami keluhan seperti yang ditanyakan oleh dokter.
Mantan agent itu terlihat senang karena ia sudah hampir pulih dan tak sabar untuk ikut misi ke Guatemala meskipun masih masa penyembuhan.
Arthur segera mengirimkan hasil CT-Scan kepada Jeremy yang berada di Filipina untuk memutuskan apakah William bisa menggunakan kaki robot atau tidak.
Mansion Boleslav, Los Angeles, Amerika.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Penggunaan bahasa tak baku-Indonesia.
"Maaf, Will. Jeremy belum bisa mengizinkanmu menggunakan kaki robot. Jika kau mau bersabar sedikit lagi, Tuan Kai sedang melakukan modifikasi kaki robot baru. Malah bisa dibilang, kau yang akan menjadi orang pertama mencoba hasil karyanya nanti," ucap Red setelah menerima telepon dari Jeremy.
"Ya, itu karena Nathan yang kasih ide. Kaki robot generasi ketiga super keren. Bisa dikendalikan pakai remote, kaya mobil buatan Nathan. Jadi, kalau pengguna masih sakit kaya kamu dan kesulitan melangkah, cukup pakai kaki robot, kamu bisa jalan dengan sendirinya. Ada mesin penggerak yang bisa membawamu pergi kemanapun tanpa harus menggunakan energi berlebih yang bikin cidera kaki tambah parah. Seperti pakai skuter elektrik. Akan ada roda tambahan di bagian bawah kaki robot," sahut Jonathan riang.
"Oh, benarkah? Wah, itu akan sangat membantu. Kaki robot cukup berat," ucap Torin ikut kagum.
Jonathan mengangguk penuh kebanggan.
"Kira-kira, kapan itu akan selesai?" tanya Arthur ikut penasaran.
"Harusnya bulan depan. Sebenarnya, kita juga gak buru-buru ke Guatemala 'kan? Kalau saran Nathan, kita ke Wilmington dulu saja untuk mencari petunjuk tentang masa lalu William. Dari pada bengong nunggu sampai bulan depan. Nathan juga pengen liat hasil dari generasi kaki robot ketiga setelah William pakai. Bagaimana?" saran Jonathan dengan mata berbinar.
"Yah, boleh. Aku tak masalah. Jujur, sebenarnya aku sangat merindukan misi ketika kita berperang. Aku merasa jiwa tempurku meredup," sahut Torin lesu.
"Wiliam punya banyak pekerjaan yang belum tuntas. Ikut aja, Torin. Kita bertujuh bersama-sama selesaikan semuanya," ajak Jonathan semangat.
__ADS_1
Namun, Jordan malah beranjak seperti tak ingin ikut terlibat. Dengan cepat, Jonathan langsung menarik tangannya dan malah mendekap Jordan hingga anak Boleslav itu melebarkan mata karena kaget.
"Jangan kabur. Udah ikut aja. Gak nurut, Nathan iket loh. Lagian mau ngapain sih? Afro gak usah dicari, dia bilang bakal serahin diri sama kamu ketika waktunya tiba. Ia masih butuh waktu buat selesein semua. Udah percaya aja sama Afro, bagaimanapun dia itu orang baik. Buktinya, Dara dikembaliin sama dia, utuh, gak lecet dan ... masih perawan," bisik Jonathan di kalimat terakhir ke kuping Jordan.
Remaja itu langsung menoleh ke arah Jonathan yang tersenyum lebar penuh dengan maksud.
"Udah diem. Intinya, ini tim kita. Tujuh orang. Sayang ada satu ceweknya, padahal tadi mau Nathan kasih nama "Tim Lelaki Tampan". Gagal deh," desahnya kecewa masih memeluk Jordan di sofa.
Sia terkekeh. Ia tak menyangka jika alat translator milik Eiji bahkan bisa menerjemahkan bahasa Indonesia tidak baku.
"Aku bisa membayangkan pusingnya Eiji mengumpulkan kosa kata dari semua ucapan Jonathan dan Eko yang ia simpan dalam database alat ini. Aku harus memujinya secara langsung jika bertemu," ucap Red terkekeh saat ia ikut memakai alat translator tersebut berikut semua orang kecuali Jonathan dan BinBin.
"Tentu aja, satu tahun dia membuatnya. Jonathan dan Eko sibuk diinterogasi oleh Eiji hampir setiap hari. Karena hanya mereka berdua yang menggunakan bahasa Indonesia aneh," sahut BinBin terkekeh.
Semua orang tertawa, tapi hanya Jordan saja yang tertunduk diam entah apa yang dipikirkannya.
Akhirnya, sore itu. Strategi baru dibuat hingga malam menjelang untuk mencari tahu tentang keterlibatan William yang disinyalir dekat dengan keluarga Flame di masa lalu.
"Oke, kita berangkat besok pagi. Kita sudah membagi tugas dan harusnya ini tak sulit. Kita hanya mengintai dan mencari tahu. Baiklah, selamat beristirahat. Kalian akan terbang besok pagi," ucap Red menutup rapat dan diangguki semua orang.
"Kau terlihat gelisah, Sayang," tanya Sia saat ia sudah membaringkan tubuhnya di kasur.
"Aku ingin sekali bisa segera berjalan, Sia. Hanya saja, aku tetap ingin mencoba kaki robot itu. Aku penasaran seperti apa kemampuannya. Pasti akan sangat membantu dalam misi nanti," jawab William antusias.
"Aku tahu. Bukan hanya kau, kami semua penasaran. Baiklah, sebaiknya kau tidur karena besok kita akan terbang pagi-pagi sekali," ucap Sia mengingatkan dan William mengangguk pelan.
Pagi itu, team William beranggotakan tujuh orang terbang menggunakan pesawat pribadi peninggalan Tuan Charles menuju ke Charlotte Douglas International Airport dengan tujuan Wilmington, Carolina Utara.
Semua akomodasi telah diatur oleh Arthur selama di Wilmington. Dua buah mobil SUV mereka sewa sebagai akomodasi untuk menjalankan misi di kota tersebut.
Arthur sebagai navigator membawa timnya ke sebuah rumah yang sengaja di sewa dekat dengan kawasan elite yang diceritakan oleh William saat rapat kemarin.
__ADS_1
Terlihat orang-orang itu merasa nyaman dengan rumah sewa yang dipersiapkan oleh Arthur.
Usai menurunkan barang-barang dan mempersiapkan perlengkapan untuk mengintai, Arthur mendekati William yang terlihat sibuk mengotak-atik tablet yang dipinjamkan Sia untuknya.
"Bagaimana? Kau yakin jika di sana tempatnya?" tanya Arthur serius.
"Aku ingin melihatnya sekarang. Bisakah kita pergi untuk memastikan lebih dahulu jika itu memang rumah yang sama?" tanya William balas menatap Arthur dan lelaki itu mengangguk.
"Sebaiknya Jordan, Jonathan dan Paman BinBin tetap di sini. Cukup aku, William, Sia dan Torin yang pergi untuk menyelidiki. Bagaimana?" tanya Arthur dan orang-orang itu setuju.
Arthur segera menyiapkan mobil. William dan Torin menyiapkan alat mata-mata mereka. Sia menyiapkan perbekalan dan juga alat medis meski bisa dibilang ini hanya misi pengintaian saja, tapi semua tetap harus dipersiapkan untuk berjaga-jaga.
Malam itu, sebuah mobil SUV hitam memasuki kawasan elite dengan jarak rumah yang cukup berjauhan antara satu dengan yang lain.
William dan lainnya beralasan sudah memiliki janji temu dengan seorang developer yang ingin menjual salah satu rumahnya.
Para petugas penjaga gerbang utama kawasan itu pun percaya dan mempersilakan mereka masuk. Arthur meninggalkan identitas palsunya sebagai jaminan.
"Yang mana, Will?" tanya Sia penasaran.
"Hmm, sebentar. Sudah banyak yang berubah. Ini akan sulit," jawab William berkerut kening mencoba mengingat rupa rumah tempat ibunya bekerja dulu.
"Bisa kau jelaskan seperti apa ciri-cirinya? Agar kami juga bisa membantumu," tanya Torin menyarankan yang duduk di kursi tengah bersama Sia.
"Ya. Cet rumah berwarna putih dan memiliki pohon palm di sekitarnya," jawab William menggambarkan.
"Oh! Apakah seperti rumah itu?" tunjuk Sia saat mendapati sebuah rumah yang memiliki ciri-ciri seperti yang William sebutkan tadi.
Mata William melebar. "Yes! Itu rumahnya!" pekiknya ikut menunjuk rumah di sisi timur laut dengan wajah berbinar.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST