
Akhirnya acara lelang pada siang hari itu dimulai. Aset-aset yang dimiliki oleh Adrian Axton Giamoco akan dijual sesuai dengan ketentuan kode etik 13 Demon Heads yang sudah ada sejak generasi pertama.
Salah satu pasal dalam kode etik itu menyebutkan, "Jika anggota dewan tersebut meninggal dalam keadaan tak diduga, tak meninggalkan surat wasiat secara resmi baik ditulis langsung (melalui pengacara, perwakilan dengan surat kuasa), maka Dewan Sekretariat berhak untuk melelang aset-aset yang disimpan dalam berkas arsip 13 Demon Heads kepada para mafia dalam jajaran."
Tentu saja hal ini merupakan sebuah berkah dan kesempatan emas para mafia dalam jajaran untuk merebut suatu wilayah dan kekayaan anggota dewan tersebut.
Tuan Wilson, Robert dan para Dewan Sekretariat mulai memasuki ruangan untuk memulai lelang dengan beberapa syarat yang telah ditentukan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Good afternoon, Ladies and Gantlemen. Hari ini, setelah sekian puluh tahun lamanya, untuk pertama kali, lelang aset akan dilakukan. Namun, sebelum acara lelang dimulai, ada beberapa permintaan dari para mafia yang ikut pada siang hari ini yang sudah disetujui oleh panitia lelang," ucap Wilson berdiri di atas mimbar sembari membawa sebuah kertas.
Kening Vesper, Amanda, Sia, Yena dan beberapa mafia berkerut. Mereka merasa tak tahu akan hal ini.
"Para mafia yang mengikuti lelang meminta agar Vesper, tidak diperkenankan untuk membeli aset lebih dari satu dikarenakan di antara semua mafia yang ada, kekayaan Vesper sudah di atas rata-rata. Kesenjangan akan terjadi jika Vesper membeli lebih dari satu aset dan ini sudah disetujui oleh para panitia lelang," ucap Wilson melirik Vesper sembari membaca surat keputusan tersebut.
Sontak, Vesper langsung berdiri dan terlihat marah. Ia menatap para peserta lelang tajam. Suasana tegang seketika.
"WHAT?! Kalian bersekongkol untuk membatasiku?!" pekik Vesper.
"Aku tak tahu sama sekali, Vesper. Sungguh," sahut Amanda cepat.
Sia dan Yena mengangguk cepat. Mereka juga tak tahu akan hal ini. Sedang orang- orang dalam jajaran Vesper termasuk Han, Jonathan, Lysa dan Arjuna mengalihkan pandangan tak berani menatap Vesper yang sedang mengamuk.
"Kau juga, Kai?" tanya Vesper menatapnya tajam dari tempatnya berdiri saat menyadari jika suami termudanya ikut memegang papan peserta lelang dengan Sandara di sampingnya.
Kai meringis sambil menggaruk alisnya yang mendadak merinding seketika. Nafas Vesper menderu. Ia bertolak pinggang terlihat kesal.
"Oh, oke. Aku hanya boleh satu ya. Baiklah kalau begitu," ucapnya geram.
Jantung semua orang berdebar.
"Jangan harap, Kastil Borka dan Mansion Ramos di Rusia akan kuberikan padamu, Lysa."
"What?!" pekik Lysa terkejut dan Vesper tersenyum licik.
"Dan kau, Arjuna. Jangan harap Camp Militer dan Grey House akan kuserahkan padamu. Tidak akan."
"Ha?!" pekiknya ikut kaget.
"Sabar, Mah, sabar. Nathan anak baik loh," sahut Jonathan tiba-tiba terlihat panik.
"Dan kau! Akan kutarik semua saham dan investasi dari Jonathan Innovation. Kau tak boleh lagi mengelola bengkel di Ceko. The Kamvret dan Paman BinBin adalah orangku. Kau tak boleh melibatkan mereka lagi," ucap Vesper dengan nafas menderu.
Semua orang kaget. Sandara langsung pucat saat Vesper meliriknya.
"Dan kau, Gadis kecilku yang manis. Mulai besok, keluar dari rumahku di Seoul. Minta Papamu mencarikan hunian baru selama kau berkarir di negara itu," ucap Vesper tajam.
"Vesper, jangan berlebihan, ini hanya aset bahkan semua kekayaan Giamoco yang dilelang tak sepadan dengan semua yang kau dapatkan selama ini," ujar Amanda mencoba menasehati sahabatnya.
Namun, Vesper malah mempelototinya. Entah kenapa, Vesper terlihat marah akan hal ini.
"Dan kalian semua. Harga senjata, Black Armys dan semua usaha di bawah naunganku akan kunanikkan 10% tanpa terkecuali," ucapnya tegas menunjuk semua orang.
__ADS_1
Semua orang di ruangan tersebut terkejut akan keputusan Vesper yang tak mereka sangka.
Tiba-tiba, Vesper membuang papan peserta lelangnya. Ia berjalan meninggalkan ruangan begitu saja dengan kedua tangan mengepal.
Orang-orang panik terutama dalam jajaran Vesper.
"Mama ngamuk, gimana nih? Kita keterlaluan kah?" tanya Jonathan khawatir.
Sia dan Yena memilih keluar dari ruangan untuk mengejar sang Ratu. Semua orang dibuat bingung, tapi beberapa dari mereka tersenyum miring karena kesempatan mendapatkan aset lebih besar.
"Nyonya Vesper! Nyonya!" panggil Sia yang ternyata di susul oleh Yuki dan Torin berikut Nandra.
"Mbak Vesper! Ojo nesu ... Mbak! Sampeyan kenapa?" tanya Eko yang diikuti oleh para bodyguard-nya.
Tiba-tiba, Vesper membalikkan tubuh saat mereka sudah berada di lobi Kastil. Orang-orang menatap Vesper seksama yang bertolak pinggang seperti berusaha menenangkan diri.
"Kau tak apa?" tanya Sia berjalan mendekatinya karena Vesper berlinang air mata.
Nandra diam saja menatap Vesper yang berulang kali mengatur nafas dan ternyata, Vesper sungguh menangis.
"Apa ada yang salah?" tanya Sia memberanikan diri memegang pundak Vesper.
"Kau ikut lelang?" tanya Vesper menatap Sia tajam sembari menghapus air matanya.
Sia menggeleng. Vesper mengangguk.
"Gantikan aku. Beli aset Giamoco terutama mansion yang kini di tempati bayi Ryan lalu peternakan dan perkebunan di Swiss. Itu adalah aset yang dulunya milik mendiang ibu Axton," ucap Vesper tegas memegang kedua lengan Sia erat.
Sia dan orang-orang yang berada di lobi terkejut mendengar penuturan Vesper.
"Eko akan mendampingimu. Apapun yang terjadi, dua lokasi itu harus kau dapatkan. Aku percaya padamu, Sia. Setelah itu, aku minta padamu untuk menyimpannya sampai Ryan berumur 20 tahun. Sebagai imbalannya, kau akan mendapatkan mimpimu dan William," ucap Vesper serius.
Sia terkejut, tapi pada akhirnya tersenyum dengan anggukan. Nandra mendekati Vesper perlahan.
"Terima kasih, Nyonya Vesper. Maaf, jika boleh tahu. Kenapa tempat itu harus di dapatkan?" tanya Nandra gugup.
"Akan kuberitahu nanti ketika Sia berhasil mendapatkannya. Kau, bantulah Sia saat lelang. Pastikan tak ada mafia lain yang mengambilnya demi masa depanmu dan Ryan. Kalian memiliki aset tersebut, setidaknya ... hidup kalian terjamin dan aman dari incaran mafia lain," jawab Vesper tegas.
Nandra, Sia dan Eko mengangguk paham. Vesper lalu melirik Torin dan lelaki itu mendatangi Vesper perlahan.
"Aset peninggalan keluargamu termasuk usaha akuisisi Axton yang kau kelola sekarang aman di tanganmu, Torin. Kau harus jaga aset itu dengan baik. Jangan sampai ada mafia lain merebutnya. Kau paham, Torin?"
Torin mengangguk pelan. Vesper tersenyum.
"Maaf Nyonya Vesper jika aku menyela. Bagaimana dengan kawasan di utara? Seingatku, Axton memiliki markas di sana," tanya Yuki menatap Vesper seksama.
"Ya. Kau benar. Utara. Aku hampir lupa. Yuki, kau dampingi Sia dan pastikan dia mendapatkan tiga aset itu. Aku mengandalkanmu," ucap Vesper serius dan Yuki mengangguk mantab.
Vesper lalu pergi meninggalkan orang-orang yang dipercayainya kembali ke kamar ditemani oleh Buffalo.
Para bodyguard Vesper memasuki ruang lelang bersama Sia dan lainnya. Semua mata kini tertuju pada segerombolan orang yang kembali duduk di kursi mereka.
Acara lelang belum dimulai karena aksi Vesper yang membuat orang-orang cemas. Tiba-tiba, Sia mengambil papan milik Vesper dan duduk di kursinya. Semua orang terkejut.
__ADS_1
"Ka-kau menggantikan Vesper?" tanya Amanda menatap anak perempuannya tajam.
"Aku kini milyader, Mom," jawab Sia sombong.
Orang-orang terkejut. Suasana kembali tegang. Robert terlihat seperti menghubungi seseorang dan mata para peserta lelang kini tertuju pada lelaki tua itu.
"Well, sudah dikonformasi dan diputuskan. Vesper mundur dari lelang. Deposit uangnya senilai 100.000 USD (Rp. 1.432.800.000,00) diserahkan kepada Sia. Selisih dari hasil pembelian nanti akan Sia bayarkan langsung ke rekening Dewan Sekretariat. Namun sebelumnya, mari kita cek terlebih dahulu nilai kekayaan Nona Sia untuk mengikuti lelang pada siang hari ini," ucap Robert serius.
Sia diminta naik ke panggung untuk melakukan input data. Dewan akan mengecek nilai kekayaan terbaru dari rekening yang dimilikinya.
Sia akan menunjukkannya ke hadapan para peserta lelang untuk memastikan jika wanita cantik itu memang layak dan sanggup membayar.
Sia terlihat gugup. Ia memasukkan password untuk membuka rekeningnya via e-banking pada laptop yang telah disediakan.
Sia terlihat ragu saat menekan tombol Enter. Sia memejamkan mata dan KLIK. Mata semua peserta lelang tertuju pada layar besar di depan mereka.
Sia bahkan terlihat takut karena ia sadar jika tak memiliki uang banyak, tapi tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang seperti kagum padanya.
Sia membuka mata perlahan dengan jantung berdebar. Seketika, tubuh Sia sampai terperanjat dan mundur ke belakang.
Nominal senilai hampir 300 miliyar rupiah terpampang jelas pada layar besar di hadapannya.
Sia bahkan sampai tak menyadari kapan Vesper melakukan pengiriman uang ke rekeningnya.
"Baiklah, Nona Sia. Anda layak untuk ikut lelang," ucap Robert dengan senyum lebar dan Sia mengangguk dengan gugup.
Sia kembali ke bangkunya. Mata semua orang tertuju pada perempuan cantik itu. Sia menggenggam erat papan peserta lelang.
Ia merasa jika bayi dalam kandungannya seperti ikut kaget karena uang yang dimiliki oleh ibunya sangat banyak.
Eko dan para bodyguard Vesper yang duduk di belakang Sia tersenyum tipis. Sia menoleh ke belakang dan mendapati Eko meringis lebar dengan kedua alis ia naik turunkan.
Di kamar Vesper, Black Castle.
"Sudah dilakukan, Nyonya. Kini kita tinggal berdoa dan berharap, Sia bisa melakukan tugasnya dengan baik," ucap Buffalo melaporkan dengan laptop di hadapannya usai melakukan transfer ke rekening Sia.
Di sisi lain, Kastil Boleslav, Krasnoyarsk, Rusia.
"Aman, Tuan. Untung Eko dengan cepat menghubungi kita. Setidaknya jika Nona Sia gagal, masih ada Nyonya Manda," ucap Daniel di depan laptop usai melakukan pengiriman uang ke rekening Sia.
"Hem. Baiklah. Tolong jangan ganggu aku seharian ini. Aku ingin istirahat dan pastikan Maksim, Yuri, Arthur dan Red tetap mengikuti pergerakan William. Kita belum tahu rumah siapa itu. Beruntung, kalung pemenggal si agent keparat masih terpasang. Kita tahu di mana dia berada meski harus membohongi semua orang dengan mengatakan tak tahu keberadaan William," ucap Boleslav dengan wajah sendu.
"Saya mengerti. Yang Anda lakukan sejauh ini untuk keselamatan Nona Sia, Tuan. Anda sangat menghawatirkan dan menyanyanginya. Jujur, ada pertanyaan besar dalam benak saya. Maaf jika menyinggung," ucap Daniel sungkan.
"Apa itu, Daniel?"
"Apakah ... Anda sungguh merelakan Nona Sia untuk pergi meninggalkan kita dan memilih hidup sebagai warga sipil seperti harapannya?" tanya Daniel gugup menatap Boleslav seksama.
Boleslav tersenyum. "Jika hal itu bisa membuatnya bahagia, aku hanya bisa mendukungnya saja."
Daniel balas tersenyum. Boleslav yang tak lagi memakai kaki robot berjalan tergopoh menuju ke ranjangnya di bantu oleh Daniel.
"Selamat istirahat, Tuan," ucap Daniel sopan sembari menutup pintu kamar.
__ADS_1
Boleslav mengangguk pelan dan tak lama matanya terpejam. Boleslav tertidur lelap di hari lelang diselenggarakan.