Secret Mission

Secret Mission
Tiba-tiba


__ADS_3

Belize, Guest House milik Tessa.


Kemunculan King D tentu saja membuat kebahagiaan di hati orang-orang yang berada di sekitarnya.


Lysa tak henti-hentinya menciumi anak lelaki yang sangat ia rindukan. King D sampai terbangun karena tidurnya diusik oleh sang Ibu.


Namun, King D malah menangis karena terkejut melihat banyak orang berada di sekelilingnya. Lysa baru ingat jika anaknya tidak suka dengan keramaian saat bangun dari tidur.


"Kalian keluarlah. Biarkan D beradaptasi dengan tempat ini. Segera hubungi Mama. Dia pasti akan sangat senang dan aku yakin dia akan langsung terbang kemari," pinta Lysa dengan senyum merekah sembari memangku King D.


"Siap, Non!" jawab Sumanto memberikan hormat.


Anggota Red Ribbon keluar dari kamar dan segera melaksanakan perintah dari Nonanya. Lysa terlihat bahagia karena King D kembali padanya.


Perlahan balita tampan itu berhenti menangis. Ia menatap wajah Ibunya seksama sembari membelai wajahnya dengan lembut.


Lysa tersenyum penuh haru. Air matanya tak berhenti menetes karena begitu bahagia.


"Mimi ...," panggil King D dengan imutnya.


"Yes, ini Mimi, D sayang," jawab Lysa teringat akan panggilan sayang dari anaknya yang menyebutnya "Mimi" seperti mama.


"Pipi?" tanya King D menoleh mencari keberadaan ayahnya.


Senyum Lysa sirna seketika. Ia tahu yang dicari King D adalah Tobias bukan Javier. Lisa memutuskan untuk turun dari ranjang sembari menggendong King D dalam pelukannya.


"Hei, bagaimana jika sarapan? Kamu lapar?" tanya Lysa mengajak anaknya keluar dari kamar.


King D mengangguk cepat. Ia minta diturunkan dan malah berlari dengan imutnya menyusuri koridor yang berada di rumah itu.


Lysa tertawa senang saat mengejar King D di belakangnya. Para anggota Red Ribbon yang melihat King D berlari cukup kencang ikut tertawa.


King D tak memakai baju. Ia hanya mengenakan celana popok dilapis celana panjang dan sepatu serta menggendong tas ransel kecil di punggungnya.


King D tertawa senang karena baginya sangat asyik bermain kejar-kejaran. Hingga akhirnya, balita mungil itu berhenti ketika melihat sebuah lukisan dengan gambar perahu di dinding.


"Bot ... Bot ...," ucapnya sembari menunjuk sebuah gambar perahu di lukisan itu.


"Yes, boat," jawab Lysa dengan senyum merekah.


Namun, perlahan kening Lysa berkerut. Ia menatap D seksama. Ia penasaran dengan isi dari tasnya.

__ADS_1


Ia teringat saat D datang ke salah satu mansion Vesper, ada surat di dalamnya. Lysa berjongkok dan bergegas membuka isi tas itu. Ternyata dugaannya benar, ada sepucuk surat di sana.


Lysa membaca surat itu dengan seksama. Seketika, Lysa langsung berdiri dan membalik tubuhnya.


Para anggota Red Ribbon yang muncul dari balik pintu karena penasaran dengan sosok King D yang menggemaskan bermaksud mengajaknya bermain.


Namun, Lysa malah berteriak lantang.


"Hubungi Axton sekarang! Katakan protokol D-XXX! Cepat!" perintah Lysa tegas.


Sontak, lima orang dari anggota Red Ribbon kaget bukan kepalang. Mereka langsung berlari menuju ke sebuah ruangan untuk melaksanakan perintah Nonanya.


Lysa meraih King D lalu menggendongnya. D menatap Ibunya seksama yang terlihat ketakutan. Lysa berlari kembali ke kamar dan menelepon seseorang.


"Lysa! Mama akan terbang hari ini juga bertemu D. Oh, bagaimana dengan cucuku yang lucu itu? Apakah dia makin gendut?" tanya Vesper sumringah.


"Mah. William membelot. Tobias menyelipkan surat dalam tas D. Sasarannya Axton. Entah Tobias tahu dari mana, tapi sebaiknya kau amankan semua markas. Selain itu, foto dan contoh topeng yang aku kirimkan mengenai pasukan seperti gagak, mereka bernama "Mask". Kita mendapatkan musuh baru, Mah. Kita harus berhati-hati," ucap Lysa serius dengan D duduk di depannya sembari meremat-remat kertas dari surat Tobias.


"Oh begitu. Ya sudah, biar orang lain yang mengurusnya. Serahkan saja pada jajaran Boleslav dan Axton. Mama ingin bertemu dan bermain dengan D. Oh, D ... Apa kau merindukan Oma?" jawab Vesper santai dan tak terintimidasi dengan ancaman perang baru.


Lysa menghela nafas. Ia yang awalnya panik ikut menjadi tenang dalam menanggapi berita menegangkan ini.


"Baiklah Oma Vesper. D akan menunggu. Hati-hati," ucap Lysa menirukan suara imut D.


Tak lama, para anggota Red Ribbon yang ditugaskan datang dengan nafas tersengal. Lysa menatap mereka seksama yang melakukan hormat.


"Non! Manto udah kabari Sergei. Mereka bersiap," ucapnya serius.


"Oke. Sekarang kabari Boleslav. Katakan jika William membelot. Biarkan mereka pikirkan bagaimana mengatasi hal ini. Dasar menantu kurang ajar, itulah jika kau terlalu mencolok, William. Kini dimanfaatkan oleh No Face," ucap Lysa menilai.


Sumanto dan lainnya terlihat bingung. Mereka pamit pergi untuk memberikan kabar ke jajaran Boleslav. Lysa lalu mengajak King D keluar kamar.


D kini lebih santai karena ada mainan kertas dalam genggamannya. Lysa menggandengnya ke ruang makan untuk sarapan bersama.


Mansion Axton, Boston, malam hari pukul 9 malam.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Amankan Mansion! Pastikan seluruh persenjataan siap dan amunisi penuh. Dasar William keparat! Begini caranya membalas kebaikanku? Akan kucongkel mata birunya," ucap Axton geram karena mendapatkan kabar mengejutkan begitu bangun tidur.


Sergei dan lainnya mengangguk paham. Mereka segera menyiapkan diri akan segala jenis serangan yang akan datang ke mansion setelah mendapat kabar dari Sumanto pagi tadi.

__ADS_1


Axton bergegas mendatangi Nandra yang sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.


"Oh, Axton. Bagaimana ini? Apakah aku sungguh aman jika berada di sana?" tanya Nandra gugup.


"Yes, kau akan aman dan melahirkan dengan nyaman sesuai prosedur," jawab Axton berusaha agar tak panik.


"Kau akan ikut bersamaku 'kan?" tanya Nandra cemas.


Axton meringis tak bisa menjawab. Nandra menatapnya penuh harap.


"Ya. Aku akan ikut denganmu. Aku ... Ingin memastikan jika mahluk itu memang anakku," ucapnya sembari menunjuk perut Nandra yang semakin membesar.


Nandra tersenyum senang dan memeluk Axton, tapi pria itu malah terkejut, diam mematung.


"Aku akan menyiapkan perlengkapanmu juga," ucap Nandra tersenyum merekah dan segera membuka sebuah koper lagi untuk barang-barang Axton.


Sang Casanova berdiri diam menatap Nandra yang begitu telaten memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper meski dengan perut besar yang membatasi pergerakannya.


Tanpa disadari, senyum tipis terbit di bibir Axton. Saat Axton melangkahkan kaki mendekati Nandra yang sedang memasukkan sepatu fantovel miliknya ke dalam kantong khusus, tiba-tiba ....


BLUARRR!!


Nandra terkejut sampai menjatuhkan sepatu itu ke lantai. Suara dentuman ledakan cukup santer terdengar dari luar mansion.


"Sir! Mereka sudah di sini! Mereka datang lebih cepat dari dugaan!" lapor Sergei panik yang muncul di pintu kamar Nandra.


"Siapkan mobil dan kapal! Kita pergi sekarang!" teriak Axton lantang dan Sergei mengangguk cepat.


Ia membawa anak buahnya untuk mengevakuasi Axton dan Nandra. Nandra mengabaikan barang-barang yang sudah dirapikannya. Axton menggandeng tangan Nandra erat dengan pistol dalam genggaman.


Langkah Axton sedikit lambat karena Nandra yang sudah hamil besar dan diperkirakan akan lahir sebentar lagi. Sergei terlihat kesal karena Nandra membuat proses evakuasi menjadi sulit.


"Sir!" panggil salah seorang anak buah Axton dari dalam mobil telah duduk di kursi kemudi.


Saat para anak buah Axton berjalan melindungi Tuannya mendekati mobil untuk membuka pintu, tiba-tiba ....


SWOOSHH!


"MISIL!" teriak Sergei lantang ketika melihat sebuah misil meluncur tepat ke arah mobil dan benar saja.


"NANDRA!"

__ADS_1


BLUARRR!!


__ADS_2