
William dan Sia saling meneteskan air mata. Mereka sungguh tak menyangka akan bertemu di tempat itu.
Sia memeluk William erat yang masih duduk di kursi roda dengan penuh kebahagiaan. Lelaki bermata biru itupun balas memeluk sang isteri tercinta.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh, Sia. Kita masuk ke dalam saja," ucap William saat melepaskan pelukan sang isteri karena ingin melihat wajah yang sangat dirindukannya.
Sia mengangguk dan membantu William mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar.
Sia menutup pintu kamar William sembari melongok keluar dan memastikan tak ada orang-orang dalam jajaran Boleslav yang mengikutinya.
William memutar kursi rodanya dan menghadapkan dirinya ke tubuh sang isteri. Sia tersenyum lebar mendekati William dan meraih kedua tangannya.
Sia duduk di pinggir ranjang dengan William di hadapannya. Ia menatap William seksama dan terlihat kakinya masih di gips.
"Apa yang terjadi padamu, Will? Apakah Daddy menyakitimu?" tanya Sia cemas.
William menggeleng dengan senyum tipisnya. Sia terlihat begitu iba dengan kondisi sang suami. Perasaan bersalah muncul di hatinya.
"Kau kenapa? Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Apa orang-orang Daddy menculikmu?" tanya Sia lagi menebak dan William kembali menggeleng.
"Lalu?" tanya Sia mulai bingung karena suaminya hanya tersenyum sedari tadi sembari menciumi jemari-jemarinya lembut.
"Aku sudah keluar dari CIA, Sia. Aku melakukannya untuk mewujudkan mimpi kita berdua," ucap William dengan wajah berbinar.
DEG.
Sia tertegun bahkan tubuhnya spontan tersentak ke belakang. Ia menatap William dalam dan senyum mantan Agent itu sedikit memudar.
"Kenapa? Kau tak senang?" tanya William heran.
"Oh, tidak. Tentu saja aku senang. Aku tak menyangka kau bisa melakukannya, Will? Apakah ... Yes mengizinkannya?"
"Aku memaksanya. Aku tak peduli apa katanya. Ini hidupku dan ini keputusanku," jawab William tegas.
Sia mengangguk pelan dengan wajah tertunduk. William menaikkan dagu Sia dan menatap wajahnya lekat.
"Aku sudah bertemu ayahmu dan orang-orangnya. Selama di sini, mereka menginterogasiku dengan gas halusinasi. Jujur Sia, awalnya aku takut, tapi ternyata gas itu memberikan dampak positif. Gas itu membawa ke masa kecilku. Aku mengingat kenanganku bersama ayah dan ibu. Aku sangat bahagia," ucapnya dengan senyum lebar.
Sia mengangguk pelan. Entah kenapa, kebahagiaan William tak bisa dirasakannya. Ia malah takut jika harus jujur dengan William.
Ia khawatir jika mengatakan rencananya, saat William diinterogasi, secara tak sengaja William akan membeberkan rahasianya. Sia terlihat tegang.
"Kau kenapa, Sayang? Kau sakit?" tanya William cemas memegang wajah Sia dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Tidak. Aku ... aku masih terkejut karena bertemu denganmu, Will. Aku minta maaf. Kau terluka dan aku tak ada di sisimu. Aku malah meninggalkanmu," jawab Sia terlihat bersalah.
William tersenyum dan mendekatkan kursi rodanya. Ia membawa tubuhnya untuk duduk di sebelah sang isteri. Sia membantu William yang terlihat kesulitan bangun dari kursi rodanya.
"Kenapa kau bisa terluka, Will?" tanya Sia dengan kening berkerut.
"Kau."
"Eh? Aku? Karena aku?" tanya Sia bingung.
"Senjata besarmu yang meluluhlantahkan rumah Denzel, puingnya menimpa kakiku. Kakiku patah. Bagaimana kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini?" tanya William berwajah garang.
Sia menelan ludah. Ia tak menyadari perbuatannya kala itu malah melukai suaminya.
"So-sorry," jawabnya kembali tertunduk.
William tersenyum. Ia merasa senang karena Sia merasa bersalah karena perbuatannya.
"Jadi, kenapa kau bisa berada di sini, Sayang?" tanya William menatap wajah sang isteri lekat.
"Mm, aku ...."
"Tak mungkin aku mengatakan jika ingin melakukan perekrutan pasukan di Rusia karena aku sudah menjadi anggota dewan 13 Demon Heads. William pasti akan sangat kecewa. Oh, apakah Daddy sudah memberitahu William jika aku menggantikan kursinya?" tanya Sia dalam hati panik seketika.
William memposisikan tubuhnya di atas Sia. Jantung Sia berdebar karena ia bisa melihat wajah rupawan William yang tampak jelas di matanya.
"Sayang, aku punya sebuah rencana gila agar Daddy-mu tak bisa memisahkan kita lagi," ucap William sembari mengelus pipi sang isteri lembut.
"Apa itu?" tanya Sia gugup karena William mulai melakukan sentuhan-sentuhan lembut di tubuhnya.
William tersenyum dan mulai mencium bibirnya lembut. Sia tertegun, tapi ia tahu rencana William. Sia tersenyum dalam ciumannya.
"Kau sedang sakit, Will," ucap Sia terkekeh geli saat melepaskan ciumannya.
"Ini hanya patah tulang. Ayolah, kita buat kejutan untuk Daddy-mu itu. Aku penasaran apa tindakannya jika tahu kau hamil. Apakah ia setega itu memisahkan kita?" tanya William sembari menyelipkan tangan kirinya ke dalam sweater yang Sia kenakan dan bersemayam di gunung menggemaskan itu.
Sia melingkarkan kedua tangan di leher suaminya. William menarik tubuh Sia dan membuat keduanya duduk berdampingan.
Keduanya saling melepaskan pakaian perlahan. William menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, menghalau udara dingin yang masih menyelinap dari balik celah ruangan.
William bisa merasakan kulit lembut dan hangatnya tubuh sang isteri yang selalu membuatnya terlena.
Sia menyambut ajakan bercinta suaminya di mana ia juga sudah sangat mengharapkannya. Sepasang suami isteri yang masih berusia muda itu tentu saja bersemangat dalam melampiaskan hasrat.
William tak henti-hentinya menciumi tubuh Sia yang selalu membuatnya kecanduan. Sia bahkan tak merasa terganggu dengan jambang yang tumbuh menutupi rahang sang suami.
__ADS_1
Baginya, rambut-rambut yang tumbuh di wajah William membuatnya terlihat seperti lelaki dewasa. Tubuh William menempel lekat dan tak membiarkan sang isteri pergi darinya.
Sia terpuaskan dengan gaya bercinta William yang selalu membuatnya mabuk kepayang. William yang ahli di ranjang tentu saja tak puas dengan satu ronde.
Sia tak berhenti merintih dan mendesah tiap William menyodokkan miliknya ke lubang kenikmatan itu.
Dua insan terlihat begitu menikmati waktu intim mereka yang telah lama tak tersalurkan.
Meskipun William tak bisa banyak bergerak, tapi ia terlihat seperti tak mengalami masalah dengan kakinya yang sakit.
Sia tak membiarkan suaminya berjuang sendirian, ia pun ikut mendorong miliknya kuat hingga William berkeringat sampai nafasnya tersengal.
"Oh, kau kuat sekali, Sayang," ucap William sampai dadanya naik turun karena Sia belum puas dengan aksinya.
Sia tersenyum gemas. Ia juga heran kenapa begitu bersemangat hari itu. Ditambah, ini pertama kalinya William sampai tak berdaya melawannya.
Sia makin kuat mendorong dan menggoyangkan pinggulnya. William mulai mengerang tak bisa menahan kenikmatan yang Sia berikan pada kejantanannya.
"Agh, Sia, tahan ... tahan, tunggu, agggg," rintih William pada akhirnya karena tak sanggup menahannya lagi dan menyemburkan miliknya ke rahim sang isteri.
Sia merobohkan tubuhnya di dada William dan memeluknya erat. Tubuh William menegang dan balas memeluk Sia hingga keduanya melekat seperti lem.
Sia tersenyum gemas saat menaikkan wajahnya. Ia melihat William memejamkan mata dengan nafas tersengal terlihat begitu letih.
"Sekali lagi?" tanya Sia sembari menciumi wajah suaminya.
"Hah?" jawab William seperti orang mabuk yang tak bisa berkata-kata.
Sia terkekeh karena jarang sekali ia melihat William tak berdaya seperti saat ini.
"Aku mandi dulu ya atau ... mau mandi bersama?" tanya Sia kembali menarik tubuhnya dan masih duduk di pinggul William.
"Mandikan ya. Aku kan sedang sakit," jawabnya mulai membuka mata.
Sia tersenyum lebar. Sia beranjak dari pinggul William dan melepaskan miliknya. Sia terkekeh melihat milik William yang sudah menciut ikut tak bertenaga seperti pemiliknya.
Sia menarik kedua tangan William dan mendudukkan sang suami. William masih terlihat letih dan berusaha berjalan dipapah Sia ke kamar mandi.
Sia memandikan William yang ia dudukkan di sebuah kursi di mana fasilitas kamar yang diberikan Boleslav kepada William sungguh minim.
Namun, bagi keduanya, itu bukan masalah besar. Mereka sudah memantabkan hati untuk mulai meninggalkan gaya hidup mewah mengingat rencana keduanya untuk hidup mulai dari nol tanpa belenggu CIA dan mafia.
adegan ranjangnya tipis-tipis aja. sengaja diup pas sahur. kwkw lupa gak kasih tau dieps berikutnya kalo ada adegan ehem. kwkwkw maap. oia Love is Henry udh up. 1 eps dulu😆
__ADS_1