
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
------ back to Story :
William panik. Ia dipegangi kuat dan tak bisa melawan ataupun kabur. Terlalu banyak penjaga, terlalu banyak senjata yang kini ditodongkan padanya.
Bahkan seekor harimau kini sedang mengintimidasi, menatapnya tajam dan siap merobek tubuhnya.
William dirobohkan paksa dan kini tengkurap di atas lantai. Harimau itu bahkan ikut memegang kepala William untuk memastikan buruannya tak kabur.
Baju William dirobek oleh Rajesh dan terlihatlah punggungnya yang dipasangi alat itu. Rajesh kembali memindainya.
Rahul menatap William seksama dimana ia tak percaya jika bodyguard barunya seorang mata-mata.
Rajesh mengeluarkan pisau lipat dari balik saku celana dan mulai menyayat kulit mulus itu.
"ARRGHHHH!!"
William merintih kesakitan. Rajesh tak segan-segan melukai bodyguard baru Rahul.
Rajesh menusukkan ujung pisaunya itu makin dalam ke daging William. Ia mencongkel alat seukuran kapsul itu dengan kasar hingga seluruh tubuh William memerah dan berkeringat menahan sakit.
William dipegangi kuat karena meronta hebat mencoba meloloskan diri. Harimau Jamal bahkan sampai mengaum berulang kali ikut menahan agar William tak berontak.
Hingga akhirnya ....
"Tuan Jamal. Ini ...." ucap Rajesh terputus dimana ia memegangi alat itu dengan kening berkerut.
Jamal mendekati Rajesh dan mengambil alat seukuran kapsul yang sudah berlumuran darah.
"Ini dari perusahaan Boleslav. Ini ... alat pelacak," ucap Jamal menatap alat itu seksama dimana ada logo B di sana dan ada lampu berkedip samar.
"Hanya pelacak. Bukan penyadap. Setidaknya apa yang kubicarakan selama ini tak terekam di alat itu, tapi terekam di kepalanya," sahut Rahul santai.
Jamal melirik Rahul yang bertolak pinggang menatap William seksama yang sudah lemas di lantai.
Jamal melirik ke arah Rajesh dan merebut alat pemindainya itu. Seketika ....
PRANGG!!
"AGHH!"
__ADS_1
"Berani kau memberikan informasi salah lagi padaku, Rajesh. Hukumanmu berikutnya adalah kematian," ucap Jamal sembari mengelus kepala harimaunya dengan tatapan tajam ke bodyguard-nya yang lalai itu.
Rajesh memegangi kepalanya yang sakit dan berdarah. Alat pemindai itu rusak dan pecah karena Jamal gunakan untuk memukul kepalanya.
Jamal menjatuhkan alat itu dan menginjaknya hingga pelacak itu rusak. Ia lalu menatap William yang masih dipegangi oleh anak buahnya.
"Apa kau sengaja dilepaskan oleh Axton untuk memata-matai kami, William?" tanya Jamal dari tempatnya berdiri.
William menggelengkan kepala. Jamal lalu melirik pada Rahul dan adik lelakinya itupun mendekati kakaknya.
Rahul bicara dengan bahasa India pada Jamal entah apa yang ia bisikkan. William menahan sakit dipunggungnya yang teramat sangat.
"Oke. We will see," ucap Jamal sembari berpaling dari semua orang dan kembali duduk di kursinya.
Rahul lalu memerintahkan anak buah kakaknya untuk melepaskan William. Rahul meminta William bangkit sendiri untuk dibawa ke ruang medis diobati.
William jalan tergopoh dengan kening berkerut dan tubuh yang berkeringat. Harimau itu kini duduk dengan tenang menatap William dari tempatnya.
William jalan mengikuti Rahul di belakangnya bersama Rajesh yang ikut untuk diobati kepalanya.
Di ruang medis.
Rajesh dan William duduk bersebelahan, tapi saling diam. Dua-duanya kesal. Rahul hanya duduk di depan mereka berdua sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"William. Apa kau tak tahu ada alat pelacak di punggungmu?" tanya Rahul heran.
"Apa kau tak bisa membedakan alat pelacak dan penyadap?" tanya Rahul menaikkan salah satu alisnya.
"Mana aku tahu? Di alat pemindai, hanya terlihat dari bentuk alat itu. Namun, tak ada keterangan itu alat jenis apa. Alat penyadap yang kita punya, memiliki bentuk yang hampir serupa dengan alat yang tertanam pada tubuh orang Amerika ini. Mana aku tahu jika Boleslav membuatnya menjadi alat pelacak," jawab Rajesh kesal panjang lebar membela dirinya.
William dan Rajesh saling melirik dalam diam meski keduanya terlihat saling membenci. Rahul malah terkekeh melihat sikap keduanya yang unik ini.
William terpikirkan sesuatu mengenai kejadian ini. Kembali, ia memainkan dramanya.
"Kau bilang jika alat pelacak milik Boleslav mirip dengan alat penyadap milikmu. Memangnya, kalian tak memiliki alat yang sama dari tempat produksi yang sama?" tanya William memancing.
"Kami tak berpihak pada Antony. Ayahku lebih suka bekerjasama dengan Vesper. Vesper Industries dan Boleslav Industries saingan ketat meski mereka tak memiliki jenis usaha yang sama. Namun, hasil ciptaan mereka selalu mendominasi," ucap Rahul menjelaskan dimana kini ia meluruskan kakinya dan menyenderkan punggung pada kursi sofa yang ia dudukki.
"Apa perbedaan dari dua mafia itu?" tanya William makin mendetail.
"Vesper Industries menciptakan senjata kimia, biologis dan persenjataan tempur. Mereka juga memiliki jasa pembersihan mayat. Pelatihan tentara dan anak-anak mafia yang di sebut camp militer. Vesper juga menyewakan dan menjual tentaranya yang disebut Black Armys. Kau lihat para penjaga di sini, mereka bukan orang India. Mereka kebanyakan orang Eropa dan itulah para tentara Vesper yang disewa oleh Tuan Jamal," ucap Rajesh ikut menjelaskan.
"Oh, mirip dengan para penjaga di rumah Axton. Hanya saja panjaganya orang-orang Asia. Mereka Black Armys sewaan? Wah, sepertinya mereka tergabung dalam banyak ras," ucap William dimana ia sempat membaca berkas mengenai Black Armys.
"Nah. Kau cukup tahu banyak juga, William," timpal Rahul yang tak menyangka jika William mengetahui hal ini.
__ADS_1
"Lalu Boleslav?" tanya William dengan jantung berdebar karena kini mafia itu menjadi ayah Sia.
"Boleslav Industries mendominasi pada kendaraan tempur modifikasi dan teknologi komunikasi. Ia juga memiliki pabrik senjata. Hanya saja, senjata-senjata seperti yang biasa digunakan oleh militer. Kalau Vesper, senjata-senjatanya unik dan tak dimiliki oleh militer. Pernah mendengar kaki robot?" tanya Rahul melirik William.
William menggelengkan kepala. Ia tak melihat ada berkas itu dalam dokumen yang diberikan oleh Catherine atau Ara.
"Itu sebuah kisah peperangan yang tragis. Jika aku mengingatnya, aku sangat membenci militer. CIA, MI6, mereka benar-benar harus dibumi hanguskan," ucap Rahul geram seketika dan hal itu mengejutkan William.
"Mereka mencuri kaki robot Erik Benedict, almarhum suami Vesper. Yang lebih menjijikkannya lagi, mereka memanfaatkan kebencian Kai, suami Vesper saat itu untuk mendukung usaha mereka memproduksi kaki robot tersebut. Hingga akhirnya, usaha militer berhasil. Kaki robot itu diimplementasikan ke para tentara militer dan menggunakannya untuk menghancurkan13 Demon Heads. Beruntung, keempat anak Vesper yang menggagalkan usaha militer saat ratu mafia kami menghilang. Oleh karena itu, seleksi dewan kali ini, para mafia harus bertanding melawan keempat anak Vesper yang dijuluki "4 Young Mobster"," ucap Rajesh makin mendetail.
Jantung William berdetak tak karuan. Ia tak menyangka jika 13 Demon Heads memiliki kekaisaran seperti sebuah pemerintahan dunia.
Ia merasa jika dokumen yang ia baca tak sepenuhnya di tunjukkan oleh CIA. William makin penasaran akan para mafia ini dan akan menyelidikinya secara perlahan.
Ia tak mau gegabah seperti misi-misi sebelumnya dimana ia akan sulit memperoleh dukungan, ditambah ia kini berada di India. Sangat jauh dari rumah.
William hari itu diberikan sebuah kamar untuk beristirahat dan menyembuhkan luka. William berterima kasih atas keramahan Rahul dan Jamal yang akhirnya menerimanya menjadi salah satu bodyguard dalam jajaran mereka.
William tak bisa terlentang karena punggungnya yang sakit. Ia pun tidur dengan telengkup.
Meski tubuh William sakit, tapi otaknya terus bekerja memikirkan banyak hal tentang para mafia ini.
"Wait ... alat pelacak itu dari Boleslav Industries. Berarti ... oh, shit! Apakah mereka tahu jika aku memburu Sia? Mereka sengaja menanamkan pelacak itu saat aku ikut seleksi menjadi bodyguard Axton?" tanya William dalam hati yang baru menyadari hal tersebut.
"Tadi kata Rahul, jika dirangkum dan disimpulkan. Axton dan Antony adalah kawan karib. Begitupula Vesper, jangan-jangan ... tiga mafia itu sudah tahu jika aku seorang agent? Mereka tahu?!" pekik William dalam hati dan langsung duduk di pinggir ranjang dengan panik.
"Eh, tunggu dulu. Jika mereka tahu aku seorang agent, kenapa ... aku masih dibiarkan lolos dan tetap hidup sampai sekarang. Ini aneh, apa yang para mafia itu rencanakan padaku? Apakah ini ada hubungannya dengan Sia?" tanya William dengan makin banyak pertanyaan di pikirannya.
William terlihat tertekan seketika. Ia menundukkan kepala dan memegangi dengan kedua tangannya.
William tak menyangka jika ia sudah terjebak tanpa ia sadari. Ia bahkan juga yakin jika CIA tak tahu akan hal ini.
"Sekarang bagaimana?" tanya William lirih dengan kening berkerut dan pikiran yang berkecamuk.
------
jangan lupaaaa vote yang buanyak ya. sekali-kali boleh lah SM masuk rank vote 20 besar gitu, kwkwkwk ngayal dulu lah ya.
kalo ada tipo2 harap maklum, walaupun sebelum dan setelah publish lele udah baca berkali-kali tetep aja ada tiponya.
kwkwkw mata tua😆
Oia yang kemarin pada bilang "Pelacak apa penyadap" hehe udh ketauan ya di eps ini. Kalian ini lho, napsu aja main tebak-tebakkannya, tapi gpp itu tandanya kalian bacanya cermat dan lele terharuuu. Lele padamu😍
Itu bukan tipo ya tapi memang lele sengaja nulisnya begitu.
__ADS_1
kan ceritanya Jamal n the gank gak tau itu apaan. semua sudah dijelaskan pada eps ini. yang mau dobel eps angkat ketek!!!