
Akhirnya perjalanan William dan timnya berakhir. Mereka tiba siang hari di Portsmouth, New Hampshire.
William mengajak timnya berkumpul di Piscataqua River tak jauh dari prediksi kediaman Denzel Flame.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kalian lihat rumah yang memiliki helipad itu? Aku yakin jika itulah tempat tinggal Denzel Flame," tunjuk William dan mata semua orang kini tertuju pada rumah empat lantai yang megah tersebut.
"Oke. Kau atur strateginya. Aku akan mencari tempat untuk menunggu dan ... memantau pergerakan kalian dari jauh. Jadi, selesaikan dengan rapi dan jangan mengundang perhatian sipil. Kau mengerti, Agent William," ucap Rahul sembari menyentuh pundak William dengan senyum tengil.
William mengangguk pelan tak menjawab. William membagi kelompoknya menjadi tiga.
Saat Sia akan dilibatkan untuk masuk dalam tim, Rahul dengan sigap menarik tangan Sia dan mendekapnya.
Sia dan William terkejut.
"Dia tak ikut. Permintaan dari ayah mertuamu. Kau suami macam apa yang membiarkan isterinya ikut bertempur? Bagaimana jika Sia terluka? Apa kau bisa memaafkan dirimu, Wiliam? Apa yang akan kau katakan pada keluarga Sia jika dia sampai tewas?" tanya Rahul dengan aksi dramanya.
Sia berusaha melepaskan diri, tapi Rahul mendekapnya erat. Ingin rasanya William menghajarnya, tapi ditahan oleh Ace dan Shamus.
"Kau tahu watak Rahul, William. Setidaknya isterimu aman jika bersamanya," bisik Shamus menasehati.
William mendengus keras. Ia akhirnya merelakan Sia.
"Baiklah. Izinkan aku memeluk isteriku sebelum kami berpisah," ucap William yang malah membuat orang-orang tertawa geli karena sangat kekanak-kanakan.
Sia terlihat malu ketika William merentangkan tangannya. Sia mendekati William dan lelaki bermata biru itu memeluk isterinya erat.
Sia balas memeluk William dengan wajah merah merona karena menjadi tontonan.
"Ingat strategi kita, Sayang. Sampai bertemu di titik penjemputan," bisik William sembari memegangi kepala Sia dan terlihat seperti akan mencium pelipisnya.
Sia mengangguk paham. William tersenyum dan kini mencium bibirnya lembut.
William melepaskan isterinya untuk ikut bersama Rahul meski ia merasa geram melihat Sia dipegang-pegang olehnya.
"Kami mengawasimu, Will," tunjuk Rahul ketika masuk ke dalam mobil.
William kembali mengangguk dan berdiri diam menatap kepergian isterinya yang kini menjadi jaminan atas aksinya kali ini.
"Now what?" tanya Rajesh terlihat sudah bersiap.
"Kita berpencar, cari posisi. Kau bawa lima orang bersamamu dan bagi menjadi tiga. Masing-masing dua orang."
Rajesh dan anak buahnya mengangguk paham.
"Tim A ke sisi timur, Tim B ke sisi barat dan Tim C ke sisi utara bangunan kediaman Denzel. Amati pergerakan kendaraan masuk dan keluar sampai subuh nanti," ucap William memberikan perintah.
Rajesh mengangguk dan mengajak tim-nya untuk melakukan pengamatan. Rajesh membawa mobil SUV hitam dan sisanya berjalan kaki berpencar.
Ace dan Shamus menunggu perintah dari William.
"Kalian berdua ikut aku. Ace, seperti biasa, kau sniper. Carilah tempat untuk membidik dan menembak. Aku dan Shamus akan mencoba masuk dari tempat kamuflase saat keluar dulu," perintah William menatap dua lelaki di depannya serius.
"Dulu? Maksudmu ... kau pernah masuk ke rumah Denzel?" tanya Shamus terkejut.
"Hem, ceritanya panjang. Tak menarik."
"Aku tertarik," sahut Ace cepat dan Shamus ikut mengangguk.
__ADS_1
William tersenyum tipis. Ia mengajak dua orang itu masuk ke Mustang miliknya. William mengendari mobilnya perlahan, mencoba mengingat tempat saat ia keluar dari kediaman Denzel lewat jalan rahasia.
William menemukannya, tapi ia sengaja hanya melintasinya. William memberikan kode pada Shamus dengan lirikan mata dan lelaki bertubuh kekar itu mengangguk paham.
Agent muda itu memarkirkan mobilnya di sebuah tempat makan sederhana olahan sea food dekat dermaga kecil pinggir sungai.
Ace dan Shamus diminta untuk tetap bersikap wajah seperti turis yang mampir untuk makan siang.
William berjalan kaki mendekati kediaman Denzel ke jalan rahasia yang dulu digunakannya.
William mengeluarkan kacamata pemberian Yes sembari berjalan santai.
"Yes. Do you hear me?" panggil William berbisik sembari memasang earphone di salah satu telinganya.
"Yes."
"Kau lihat yang kulihat?" tanya William berjalan menuju sasarannya.
"Tak ada apapun di depanmu, Agent Will," jawab Yes berkesan menyindir.
"Akan kubuka jalan untuk pasukanmu nanti. Hanya saja, biar Denzel menjadi prioritasku. Rahul meminta agar aksi kita kali ini tak membuat kepanikan. Hanya saja, aku tak yakin. Denzel memiliki banyak anak buah," ucap William sembari mengambil sebuah kaleng bekas di tong sampah.
"Aku akan siapkan beritanya. SWAT yang akan mengurusnya. Pastikan kau, Shamus dan Ace tak tertangkap kamera jika wartawan meliput," tegas Yes.
"Kali ini salah satu jajaran 13 Demon Heads terlibat. Rahul menemukanku dan Sia. Kau bisa mendapatkan dua menu istimewa dalam satu waktu. Namun, berjanjilah jangan sakiti Sia. Dia menjadi sandera Rahul untuk memastikan aku berhasil melenyapkan Denzel," ucap William serius sembari meletakkan kaleng beer bekas di tangga sebuah rumah bertingkat.
William kembali berjalan di gang berkonblok dengan santai sembari melihat sekeliling.
"Di mana Rahul?" tanya Yes.
"Ia mengawasiku di suatu tempat. Aku hafal plat nomornya. Temukan dia," jawab William terus melangkah di mana ia berjalan memutar, menuju ke tempat Ace dan Shamus menunggu.
"Oke. Segera kirimkan. Pasukan pertama sudah berada di sana. Harusnya kau sudah bertemu mereka," jawab Yes cepat, tapi membuat langkah William terhenti seketika.
Kening William berkerut.
"Mereka?" tanya William sampai melebarkan mata di balik kacamatanya.
"Hem. Kau sudah mengenal mereka lama, Will. Tak menduga? Teruslah berjalan, gerak-gerikmu yang seperti itu sungguh mencurigakan. Kau sepertinya harus melakukan pelatihan lagi. Kau menjadi bodoh karena gadis bernama Sia itu. Apa otakmu dicuci olehnya?"
William malah tersenyum geli. Ia tak menyangka jika Yes bisa membuat lelucon.
"Baiklah, cukup mengejekku. Namun, jujur Yes. Gadis mafia yang kau bilang itu benar-benar membuatku seperti orang tolol. Semoga kebodohanku ini tak menular ke Ace dan Shamus," imbuh William dan terdengar Yes terkekeh.
William melepaskan kacamata dan menyelipkan di kerah leher kaosnya. Ace dan Shamus yang terlihat seperti bukan Agent rahasia itu pun menatapnya dengan wajah lugu.
"What?" tanya Ace bingung.
"Keparat tengik!" pekik William kesal dan segera mengapit leher Ace dari belakang.
Ace terkejut begitupula Shamus. Aksi William mengundang perhatian orang-orang yang melintas. Shamus yang bertubuh besar segera melerai keduanya.
"Kau kenapa? Kau gila ya?!" pekik Ace kesal memegangi lehernya dengan mata melotot.
"CIA? FBI? MI-6? Aksenmu seperti orang Inggris," tanya William menunjuk Ace penuh emosi.
Ace dan Shamus langsung memalingkan wajah. Keduanya tak menjawab dan kembali duduk melanjutkan makan siang, seolah-olah tak mendengar yang William ucapkan. William terheran-heran.
"Ya. Aku MI-6," jawab Ace malas. "Kalau dia sama sepertimu, CIA," sambung Ace.
William tak habis pikir dengan dua lelaki yang terlihat cuek setelah rahasia mereka terbongkar.
__ADS_1
William menarik kursi dan ikut duduk meski ia masih kesal dengan dua orang yang ternyata sudah mengelabuhinya sejak pertama kali bertemu.
"Yes bilang pasukan. Mana yang lain?" tanya William melihat Ace dan Shamus bergantian.
Dua lelaki itu menggeleng.
"Hanya kalian berdua? Seriously?" tanya William merasa dibodohi.
"Yes hanya menugaskan kami untuk memata-matai. Namun, melihat kondisinya, kami kini terlibat lebih jauh. Tinggal pilih, membunuh atau dibunuh. Aku tak mau pulang dalam kantong mayat meski tak ada yang akan menangisiku," jawab Shamus santai.
William terdiam.
"Hei. Setelah tahu kebenarannya, apa kau tak merasa lega?" tanya Ace berkesan menyindir.
"Awas kau," tunjuk William gusar, tapi malah membuat Ace dan Shamus tertawa bahagia.
William meraih beer dingin di depannya dan meneguknya dengan wajah masam. Shamus menyodorkan sebuah piring untuk makan siang William.
Mata Ace dan Shamus terlihat waspada akan segala jenis gerak-gerik mencurigakan. William menyadari gelagat mereka, tapi memilih diam.
"Benar kata Shamus. Ada perasaan lega ketika ada orang lain yang seprofesi denganmu dan menjadi satu tim. Sejauh ini, mereka terlihat profesional dalam bekerja bahkan sandiwara yang dimainkan tak terlihat mencolok sepertiku. Semoga mereka berdua memang bisa diandalkan dan bukan musuh dalam selimut," ucap William dalam hati merasa lebih tenang dalam bersikap.
"Tak usah pikirkan Sia. Dia akan baik-baik saja. Aku bisa melihat jika isteri mafia-mu itu tangguh, Will," ucap Ace tiba-tiba sembari meraih botol beer-nya.
"Dengan tak ada Sia dalam tim kita, seharusnya ini mudah dan cepat. Namun, Denzel orang yang cukup tangguh. Ia sudah lama menjadi incaran CIA dan MI-6 karena praktek-praktek ilegalnya. Sosoknya tak ada yang tahu. Namanya saja yang terus membayangi bagaikan hantu," sahut Shamus sembari menyalakan rokok.
"Kau pernah bertemu dan berurusan dengan Denzel. Bagi kami, itu sudah hal yang sangat mengagumkan, Will. Denzel tertarik padamu," ucap Ace memuji, tapi bagi William tak demikian.
"Bagaimana dengan Yes? Kalian sudah lama mengenalnya?" tanya William sembari menyendok makanannya.
"Tidak juga. Yes memiliki hubungan dekat dengan Angkatan Laut. Aku sering melihatnya mengobrol dengan Laksamana dan petinggi lainnya ketika berkunjung. Aku dulu intel Angkatan Laut Amerika yang memiliki misi untuk melenyapkan The Circle. Hanya saja, dari sekian banyak agent yang ditugaskan, mereka tak kembali. Jika pun kembali, mereka tewas mengenaskan," jawab Shamus sembari mengetuk-ngetukkan abu rokoknya ke asbak.
"Dan hanya kau yang tersisa?" tanya Wiliam menebak dan Shamus tersenyum tipis.
"Tuhan sayang padamu, Sobat," ucap William sembari menepuk pundaknya dan Shamus tersenyum lebar terlihat bersyukur.
"Kau sendiri bagaimana, Ace?" tanya William.
"Kau cukup tahu jika kini kita satu tim. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar kau tak tewas dan bisa hidup bahagia bersama isteri mafiamu," jawab Ace terlihat tak tertarik menceritakan kisahnya.
William terkekeh dan mengangguk pelan.
"CIA dan MI-6 bekerjasama dengan salah satu anak mafia 13 Demon Heads demi melenyapkan musuh terbesar mereka, The Circle. Semoga ini akan berbuah manis," sambung Ace melirik William yang tertunduk berwajah sendu.
"Oke cukup membahas kisah cintaku. Fokus kita Denzel Flame. Jadi, ada yang ingin memberikan saran padaku?" tanya William mendadak merasa malas.
"Kau pemimpinnya kenapa tanya kami?" tanya Shamus terheran-heran.
"Pemimpin kalian sedang tak bersemangat karena sejak tadi diejek oleh rekan satu timnya, yang sepertinya iri karena masih sendiri tak memiliki pasangan," balas William berajah datar.
"Dia menghina kita!" pekik Shamus kesal.
William tertawa senang. Shamus dan Ace mengeroyok William.
Lelaki bermata biru itu memberontak saat wajahnya dilumuri saos tomat dan mayonnaise. Orang-orang yang melihat mereka bertiga hanya tertawa sambil berlalu.
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
Btw kemarin ada yg komen dan tanya soal, kwkwkw ngakak dulu. Ada yg tanya gini.
__ADS_1
Dulu ibuku pas hamil lele makan apa? entah serius apa bercanda tanyanya tapi aku tanyain beneran dan ini jawaban mami lele. jadi jgn kepo lagi ya. ni jawaban akurat dan terpercaya langsung dr mami😆 plus dikasih nasehat noh😆