
Kehamilan Sia sudah memasuki bulan ke 7. William tak sadarkan diri sudah satu bulan lamanya dan Sia masih dengan telaten merawat tubuh suaminya agar tetap bersih meski ia terbaring.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Bangunlah, Will. Aku sangat merindukanmu," ucap Sia sedih, tapi ia tahu jika hanya keajaiban yang bisa membawanya kembali.
Sia mencium kening suaminya lembut sebelum kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang kini diembannya sebagai penerus usaha legal milik Amanda karena ibunya kini membantu Daniel dan Red untuk mengurus usaha ilegal Boleslav.
"Good morning, Bos," sapa Yena yang sudah duduk di kursi kerja, satu ruangan dengan Sia.
"Morning, Sekretaris Yena," balas Sia terkekeh karena drama di pagi hari.
"Sia. Bibi mengajukan namaku untuk menjadi salah satu penerusnya yang nantinya akan duduk di kursi Dewan Sekretariat 13 Demon Heads," ucap Yena sembari menggigit bawahnya dengan gugup.
Sia tersenyum. "Baguslah. Setidaknya ayahmu akan bangga karena dulu ia sangat ingin masuk dalam jajaran 13 Demon Heads. Seingatku begitu," sahut Sia dan Yena mengangguk.
"Oia. Rumah ayahmu, Julius Adam. Akan kau apakan? Aset ini terlalu banyak untuk kau urus sendirian," tanya Yena penasaran yang kini menyenderkan punggung di kursi kerjanya.
Sia diam sejenak. "Jual saja. Rumah itu, terlalu banyak kenangan buruk ketimbang indahnya. Aku lebih suka mansion milik Daddy di Los Angeles ini," jawab Sia terlihat sendu.
"Baiklah. Akan aku masukkan dalam aset yang akan dilelang. Rencana bulan depan, ada acara lelang yang diselenggarakan oleh Dominic di Mansion Ramos, Rusia. Anak buahnya menemukan berkas-berkas penting usaha legal dan ilegalnya yang ternyata pernah disimpan oleh para wanitanya dulu. Mereka sangat baik karena mengembalikannya," ucap Yena menginformasikan.
"Oh, sungguh? Kenapa bisa tiba-tiba begitu?" tanya Sia heran.
"Lebih tepatnya, anak buah Jonathan yang melakukannya. Ternyata selama ini, jajaran 13 Demon Heads benar-benar telah disusupi, Sia. Cerita Yes yang mengatakan jika The Circle selama ini sudah ada dalam tubuh kelompok kita sejak generasi pertama adalah benar. The Circle milik Jonathan mendatangi orang-orang mereka. Ternyata, para wanita Dominic adalah keturunan No Face. Hebat bukan? Setelah mereka tahu jika Yes tewas dan Jonathan penerus sah Lucifer, mereka menyerahkannya begitu saja. Aku tak menyangka jika sebuah simbol di tangan Jonathan bisa memiliki pengaruh kuat semacam itu. Ini bisa berdampak dua hal," jelas Yena panjang lebar.
"Apa itu?" tanya Sia terlihat tertarik dan berjalan mendekati sepupunya.
"Hal baiknya, Jonathan ada di pihak kita. Dia bisa mengendalikan semua pengaruh orang-orang dalam jajaran The Circle di tangannya, tapi hal buruknya. Jika suatu saat Jonathan membelot, ia ancaman terbesar bagi kita karena Jonathan sudah tahu seluk-beluk orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Jonathan, adalah kunci perdamaian dari dua kubu yang bertikai ini, Sia," jawab Yena serius.
Sia menghembuskan nafas panjang. Jantungnya mendadak berdebar kencang jika mengingat perang besar yang terjadi beberapa waktu silam yang membuatnya nyaris terbunuh di Arizona.
__ADS_1
"Aku paham. Namun, aku yakin jika Jonathan bisa diandalkan. Meski ia terlihat santai dalam menyikapi suatu hal, tapi aku percaya padanya," jawab Sia dengan senyum terkembang.
"Baiklah. Aku juga berharap demikian. Oke selanjutnya, aku berencana untuk menjual rumah ayahku termasuk rumah di Tyumen. Oia, apa kau tahu. Bibi bercerita padaku jika rumah yang sekarang adalah replika. Aslinya diledakkan oleh ayahmu kala itu. Ya Tuhan, aku tak menyangka jika ternyata dulu keluarga kita saling bertikai, Sia. Aku sampai merinding jika mengingat cerita bibi," sambung Yena dengan mata melebar dan antusias bercerita.
"Oh, sungguh? Aku malah tak tahu," sahut Sia ikut penasaran.
"Aku sangat penasaran dengan masa lalu keluargaku. Bibi menceritakan begitu saja. Tentang Julius Adam, Konstantin, ayahku bahkan bibi Rebecca dan ibuku, Mila. Mereka semua tewas karena keegoisan ayahmu, Sia. Namun biang keladi sebenarnya adalah The Circle. Jadi, aku bisa paham kenapa bibi sangat membenci kelompok mafia itu. Kakek nenekmu tewas oleh mereka," terang Yena penuh kebencian di matanya.
Mulut Sia menganga lebar. Dadanya terasa sesak. Ia sampai mengelus perutnya karena merasa bayinya ikut shock mendengar hal mengejutkan itu.
"Dan kau tahu yang lebih menjijikkan? Orang-orang The Circle mengincar aset para anggota dewan dan para mafia dalam jajarannya. Mereka sungguh licik, Sia. Kasus Dominic, itulah salah satu contohnya. Mereka mengakuisisinya. Benar-benar sampah," gerutu Yena kesal.
Sia mengangguk paham. Ia mulai mengerti seperti apa kinerja The Circle. Sia lalu berjalan perlahan mendekati kursi kerjanya dan duduk perlahan.
Sia mulai membuka dokumen yang harus ia periksa. Ia melihat Yena tersenyum manja ketika memegangi ponsel dan melihat layarnya. Sia curiga.
"Lalu, hubunganmu dengan Zaid bagaimana?"
"Sudahlah, kalian itu cocok. Kenapa kalian tak menikah saja?" tanya Sia menggoda sepupunya.
Yena meletakkan ponselnya dengan bibir mengerucut terlihat bimbang akan sesuatu. Sia menatap wajah sepupunya lekat.
"Tak semudah itu, Sia. Kami berbeda dan kami berdua menyadarinya," jawabnya tertunduk terlihat sedih.
Sia diam sejenak. Ia baru teringat jika Zaid seorang muslim dan Yena Kristiani. Sia bisa melihat kesedihan dalam diri sepupunya itu.
"Seberapa banyak frekuensimu berdoa dan pergi ke Gereja, Yena?" tanya Sia melirik sembari membuka map.
Yena mengedipkan mata. "A-aku seorang umat yang taat beribadah," jawabnya gagap.
"Oh, sungguh? Aku pernah mendengar ketika Zaid meneleponmu dan ia malah mengingatkan agar kau tak lupa ke Gereja. Kau malah tidur dan berbohong padanya. Jangan kau kira aku tak tahu," sindir Sia.
__ADS_1
Mata Yena melebar, ia terkejut mendengar penuturan Sia barusan.
"Bukannya tak mau pergi, hanya saja ... dulu ibuku yang selalu mengajakku, Sia. Dia orang yang taat dibanding ayahku. Semenjak kepergian ibu, aku hampir tak pernah pergi lagi karena ayah sibuk dengan bisnis ilegalnya dan aku dilibatkan. Aku ... bukan orang yang taat. Tuhan pasti marah dan kecewa padaku," jawabnya sedih dengan wajah tertunduk.
Sia diam menatap wajah sepupunya yang terlihat seperti berusaha menahan air matanya. Sia kembali berdiri dan mendatanginya.
"Apa kau pernah melihat Zaid beribadah? Apa kau tertarik terlibat di dalamnya?" tanya Sia sembari menarik kursi kerjanya dan kini duduk di sebelahnya.
"Ya pernah. Sangat rumit dan cukup mengekang. Dia melakukan yang namanya ... mm, sholat? Ya gerakan seperti orang senam itu dia lakukan sehari lima kali kalau tidak salah. Ia juga bernyanyi dengan sebuah kitab dalam genggamannya ketika usai beribadah. Waktunya habis untuk Tuhannya, Sia. Walaupun ia menyempatkan waktu untuk mengajakku berjalan-jalan, berbelanja dan makan malam. Hanya saja, bagiku ... aku seperti bukan prioritasnya. Dia mengutamakan Tuhannya," jawab Yena dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuannya.
"Ya, itulah konsekuensinya, Yena. Aku tak bisa menggurui jika hal itu menyangkut kepercayaan kepada Tuhan. Namun, dari sekian banyak lelaki yang dekat denganmu, apakah ... Zaid yang terbaik?" tanya Sia menatapnya lekat.
Yena mengangguk pelan. "Dia mengerti apa yang kumau, Sia tanpa aku harus mengatakannya. Walaupun tak dapat dipungkiri aku juga kesal ketika ia melarangku memakai gaun atau pakaian minim. Ia bilang, ia tak suka melihat mata para lelaki itu menatapku seolah-olah aku ini jal*ng. Bagiku itu sungguh berlebihan. Aku hanya ingin terlihat cantik dan se*y di depannya," jawabnya sebal.
Sia terkekeh, tapi ia paham dengan tindakan Zaid pada sepupunya itu.
"Sebaiknya kau mantabkan hatimu, Yena. Jangan menggantungkan perasaannya agar kalian bisa menyikapi perbedaan ini dengan baik. Aku rasa, sudah waktunya bagimu untuk menikah, jangan ditunda. Menikah di usia muda menurutku ada nilai positifnya. Aku melihat ketika mommy memiliki Jason dan Jordan di mana ia sudah mulai menua. Ia lelah. Sedang anaknya masih membutuhkannya, belum bisa dikatakan mandiri. Mereka belum menikah dan memiliki sosok pendamping yang bisa mengerti kesulitan untuk dihadapi bersama. Semua beban itu, mommy yang menanggungnya," ucap Sia mengutarakan pendapatnya.
Yena mengangguk pelan. Sia memeluk sepupunya erat dan kembali ke meja kerjanya sembari menarik kursi berodanya lagi.
"Aku akan mengajak Zaid bertemu malam ini untuk makan malam dan membahas kelanjutan hubungan kami. Aku merasa, ini harus segera ditentukan," ucap Yena tegas dan Sia menunjukkan jempolnya terlihat bangga akan keputusan cepat sepupunya.
Sia melihat Yena seperti mengetikkan pesan elektronik untuk kekasih beda agamanya itu di layar ponselnya.
Sia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan berharap ketika semua usai, William sudah sadar dan bisa menerima kondisinya.
***
uhuy makasih tipsnya😍 menjelang end lele mau coba kemampuan membuat drama sinetron. jangan diketawain. lebih susah ketimbang bikin eps perang tau😑
__ADS_1