
Kastil Borka terlihat ramai malam itu karena kejadian munculnya Afro. Sia dan rombongan memasuki halaman Kastil.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Bagaimana?" tanya Vesper menatap orang-orang yang keluar dari mobil tanpa Sandara bersama mereka.
"Mereka kabur, Mah," jawab Jonathan lesu terlihat semeyakinkan mungin dengan dramanya.
"Kabur? Bagaimana bisa? Kau bahkan membawa mobil tempur! Harusnya kau bisa menghentikan mereka dengan persenjataan kita," tanya Kai sampai matanya melotot.
"Apa Papa kini ikut menyalahkan kemampuan dari mobil tempurku, hah? Saat kami tiba di sana, Sandara sudah menaiki helikopter bersama Afro melintasi Laguna. Kami hanya bisa melumpuhkan anak buahnya saja," jawab Jonathan kesal karena diremehkan.
Sia diam terlihat bingung dalam bersikap. Ia juga tak tahu apa yang orang-orang itu bicarakan. Sia melihat mobil yang dikendarai oleh Jordan telah tiba lebih dulu.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Aku mau melihat kondisi Jordan," ucap Sia menyingkir dari kerumunan orang-orang dan semua mengangguk.
Terlihat Kai, Ayah dari Sandara begitu mencemaskan keadaan anak semata wayangnya. Han dan Vesper berusaha menenangkannya.
Di ruang tempat Jordan diobati.
"Jordan dibius?" tanya Sia dan Match mengangguk.
"Aku sudah memutuskan," ucap Sia pelan dan dua algojo Amanda menatap Sia seksama.
"Sandara dibawa kabur oleh Afro. Jordan mencoba menghentikannya, tapi ia ditembak oleh anak buah Afro. Saat aku dan lainnya tiba, Sandara sudah terbang bersama Afro. Kalian, katakan hal yang sama," ucap Sia melirik Mix and Match tajam.
Dua algojo itu terlihat bingung, mereka saling memandang. Mix and Match menatap Sia yang masih memandangi keduanya.
"Apa yang kau rencanakan? Kau lihat sendiri dan kau tahu kebenarannya," tanya Mix curiga.
"Aku penasaran dengan No Face. William pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka bernama Tessa. Aku juga bertemu dengannya bahkan Arjuna juga ketika di mansion Ramos," ucapnya teringat akan kejadian silam.
Mix and Match masih diam mendengarkan.
"Mungkin, William bisa membawa kita lagi kepadanya. William tahu di mana menemukan Tessa. Aku ingin tahu apa yang No Face rencanakan. Bagaimanapun, kelompok itu masih dalam satu organisasi The Circle," ucap Sia serius.
Mix and Match kembali saling berpandangan memikirkan ucapan Sia. Pada akhirnya, mereka mengangguk setuju. Sia lega.
"Lalu, bagaimana dengan Jordan?" tanya Mix ragu.
"Biar aku yang akan bilang padanya. Pastikan saat Jordan sadar, jangan ada yang bicara padanya," ucap Sia tegas dan dua algojo itu mengangguk pelan.
Sia pamit keluar karena ingin membicarakan hal ini pada ayah ibunya, tapi saat ia menutup pintu dari luar dan akan melangkah untuk menyusuri lorong, Sia terkejut dan langsung mundur ke belakang hingga punggungnya terpepet dinding.
Jantungnya berdebar ketika Arjuna mendatanginya dengan sorot mata tajam tanpa berkedip.
__ADS_1
Tak ada siapa pun di sana dan hanya mereka berdua. Sia berusaha untuk tetap tenang.
"Apa maumu?" tanya Sia memalingkan wajah.
"Kau bertemu dengan Afro? Seperti apa dia sekarang?" tanya Arjuna tiba-tiba berwajah sendu.
"Apa pedulimu?" tanya Sia kini menatapnya tajam.
"Dia sahabatku dan tunangan adikku, tentu saja aku peduli. Afro melumpuhkan para Black Armys penjaga seorang diri. Ia masih hebat seperti dulu. Jadi aku ingin tahu, seperti apa Afro sekarang? Apakah ... lebih tangguh?" tanya Arjuna masih menatap Sia dan makin memepetkan wajahnya.
Sia memejamkan matanya sejenak. Ia merasa tak nyaman dengan sikap Arjuna.
"Ya. Dia berkelahi dengan Jordan. Dia terlihat tangguh dan tangkas. Bahkan, Jordan berhasil dijatuhkan olehnya berulang kali," jawab Sia jujur dari hasil pengamatannya.
Arjuna memundurkan tubuhnya dengan senyum terkembang. Sia keheranan melihat ekspresi dari Arjuna yang sepertinya bangga pada sahabatnya itu.
"Kau memujinya? Dia pengkhianat," tanya Sia heran.
"Dia tetap sahabatku. Aku percaya padanya. Dia bahkan tak membunuh para Black Armys dan hanya membius mereka agar alarm berhentinya denyut jantung dari jam tangan detektor tak mengirimkan sinyal penyerangan ke Pusat Komando. Hah ... Afro, aku jadi tak sabar bertemu dengannya. Aku ingin bertarung dengannya," ucap Arjuna dengan senyum merekah mendongak ke atas.
Sia terbengong dengan ucapan Arjuna yang kini tersenyum padanya dan pamit pergi. Sia heran dengan jalan pikiran anak-anak Vesper yang tak ia mengerti. Baginya, hanya Lysa yang paling normal di antara yang lain.
Sia lalu kembali ke ruang jamuan di mana semua orang masih berkumpul padahal malam sudah larut.
Ia melihat Arjuna yang hanya meliriknya sekilas dan kembali berbicara pada Yusuke Tendo, Rohan Khrisna, Jonathan, Javier dan Lysa.
Sia tak melihat Vesper dan dua suaminya. Sia memutuskan untuk menemui ayah dan ibunya yang menurut informasi dari Red sudah kembali ke kamar.
"Mom! Dad!" panggil Sia sungkan karena takut jika keduanya sudah tertidur lelap.
CEKREK!
"Oh, kau belum tidur?" tanya Amanda yang ternyata masih menggunakan gaun.
"Mm, maaf jika aku menganggu. Jika kalian sudah akan beristirahat, kita bicara besok saja," jawab Sia tak enak hati.
"Masuklah. Kami belum istirahat," sahut Antony yang duduk di pinggir ranjang dan Sia mengangguk pelan.
Sia masuk dan Amanda menutup pintu. Amanda mengajak Sia duduk di sofa panjang di sebelahnya. Antony duduk di sofa single. Sia terlihat gugup dan memegangi lututnya erat.
"Mm, besok saat kita kembali ke Krasnoyarsk ...."
"Tidak. Kau akan kembali ke Amerika. Kau akan tinggal di mansionku, Los Angeles," potong Antony cepat.
Sia tertegun. Ia melirik ibunya dan Amanda mengangguk dengan senyum lebar.
"Kenapa aku tak kembali ke Krasnoyarsk? Apa yang kulakukan di Los Angeles?" tanya Sia bingung.
__ADS_1
Amanda melirik Antony dan Ayah tiri Sia terlihat serius seketika. Sia menatap Ayahnya seksama.
"Hmm, kau pasti sudah mendengarkan penjelasan dari Vesper tentang peraturan baru. Sebagian anggota Silhouette diberikan Manda kepada Jordan sebagai kelompok Eksekutor Pengadilan 13 Demon Heads. Ibumu masih menjabat sebagai Ketua Dewan Sekretariat. Red Skull dan Beruang Hitam masih menjadi miliknya. Namun, kau beruntung karena aku menyerahkan tahtaku padamu. Kau mendapatkan Black Suit dariku. Hanya saja, dua anak Vesper, Lysa dan Arjuna, mereka belum memiliki pasukan," terang Boleslav dan Sia mengangguk paham.
"Itu tugas berat bagi mereka berdua. Vesper dan para anggota dewan senior yang telah sepakat dengan peraturan baru, memaksa mereka dalam kurun waktu dua tahun untuk menghimpun pasukan sendiri. Black Armys pasukan Vesper tak bisa diwariskan termasuk para bodyguard serta orang-orang dalam jajarannya. Mereka berdua harus mendirikan kerajaan mereka sendiri dan itu, tugas berat," ucap Antony menegaskan.
"Benar, Sia. Para anggota dewan baru khususnya kau, Lysa dan Arjuna dituntut untuk memiliki pasukan minimal 1000 orang. Black Suit milik Ayahmu hanya tersisa 500 orang saja. Sisa Silhouette milikku tak bisa kuberikan padamu karena mereka mengurus usaha ilegalku. Kau, harus mulai melakukan perekrutan jika ingin mempertahankan kursi dewan. Sepertinya, para anggota dewan senior belum mempercayakan kursi pengganti pada mafia muda, meskipun pada anak-anak mereka sendiri. Ini tantangan berat untukmu," ucap Amanda menatap Sia tajam.
Sia menarik nafas dalam dan terlihat tertekan. Ia mengangguk pelan.
"Namun, jangan khawatir. Kau akan dibimbing oleh Red, P-807, Maksim, Yuri dan lainnya untuk mendapatkan pasukan. Mereka akan mengajarkanmu bagaimana melakukan perekrutan, pelatihan dan pada akhirnya orang-orang itu akan setia mengikutimu," sambung Boleslav dan Sia masih terdiam.
Sia terlihat pusing memikirkan beban berat sebagai mafia yang kini harus di panggulnya.
Boleslav bisa melihat ekspresi Sia seperti tertekan akan jabatannya sebagai anggota dewan menggantikan kursinya.
Tiba-tiba, Boleslav memegang tangan Sia dan gadis cantik itu menatap Ayah tirinya seksama yang tersenyum manis.
"Daddy percaya padamu. Kau itu gadis yang tangguh dan kuat. Saat kau hidup bersama Rio dan Julius, Daddy melihat semua aksimu. Kau tak takut dan pintar. Kau memang sudah terlahir sebagai seorang mafia, Sia. Kau sudah hidup dengan kehidupan mafia sejak dilahirkan," ucapnya serius. Sia terdiam.
"Hal ini bukan sebuah tekanan, tapi anugerah. Tak semua orang bisa seperti kita. Kau harus memaksa dirimu untuk melampaui batas terlemah. Dengan begitu, kau bisa menjadi gadis hebat melebihi Ibumu bahkan mungkin Vesper. Tak ada yang tau," jelas Antony menatap Sia lekat.
Sia seakan berhenti bernafas ketika mendengarkan ucapan Antony yang penuh dengan harapan padanya. Sia mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Amanda ikut terlihat tegang dengan hal ini. Entah kenapa ia malah merasa tertekan dengan ucapan suaminya barusan yang berkesan memaksa.
"Baiklah. Ini sudah malam. Kita akan terbang ke Los Angeles bersama Jordan saat ia sudah mulai membaik. Selama di sini, kau bisa menanyakan apapun atau mempelajari apapun tentang dunia mafia kepada orang-orang Vesper. Mereka orang-orang hebat, Sia. Kau juga bisa menanyakan lebih detail pada Jonathan tentang fungsi dan kinerja mobilmu. Oke?" ucap Amanda sembari menepuk pundak anaknya.
Sia mengangguk dan tersenyum. Setidaknya, ucapan dari Ibunya membuat hatinya sedikit tenang. Sia pamit keluar untuk kembali ke kamar.
Pandangannya tertunduk selama menyusuri koridor hingga ia tak sadar sudah tiba di depan pintu kamarnya. Sia masuk ke kamar dan duduk di pinggir ranjang dengan lesu.
Sia mencengkeram baju di dadanya. Ia merasakan sesak di sana.
Sia menoleh ke arah jendela dan terlihat malam yang gelap dengan cahaya bulan redup tertutup mendung.
"William ...," panggilnya lirih saat ia merindukan kekasih hatinya itu.
Sia menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia kebingungan. Ia tertekan dengan dunia mafia yang kini di jalaninnya di mana dulu saat bersama Julius dan Rio, baginya sudah seperti neraka.
Namun, kehidupan mafia yang kini di jalaninnya sudah melebihi neraka entah ia harus menyebutnya apa.
Sia seperti terjerumus di neraka terdalam dan tak bisa memanjat keluar. Hanya keajaiban, ia bisa pergi dari dunia gelap itu.
Sia menyelimuti dirinya yang masih mengenakan gaun dengan selimut halus di ranjang.
Sia memeluk erat sebuah guling dan membayangkan yang dipeluknya adalah kekasih hatinya, William.
__ADS_1
jangan lupa vote vocer, poin dan koin biar lele syemangat gitu loh upnya. oke oke. mumpung bulan puasa biar banyak pahalanya sedekah sm lele😁