
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Bagaimana keadaan Jonathan?" tanya Manda berjalan dengan langkah cepat di samping Naomi.
"Tak sadarkan diri. Tuan Muda Arjuna sudah berusaha membangunkannya, tapi Jonathan tak merespon. Ia ditemukan di gorong-gorong bawah rumah yang menembus ke lautan. Kini Zaid dan Tora sedang berusaha mengevakuasi Jonathan karena lorong bawah air hanya bisa dilewati satu orang saja," jelas Naomi sembari membuka pintu ruang kendali.
Manda dan timnya terkejut ketika melihat sebuah kamera yang merekam pergerakan Arjuna di gorong-gorong itu.
"Pusat, kau mendengarku?" tanya Arjuna terlihat panik karena CPR yang dilakukannya tak membuahkan hasil.
"Ya, Arjuna. Zaid dan Tora dalam perjalanan. Mereka membawa kapsul untuk mengevakuasi Jonathan. Seharusnya ukurannya muat," jawab Julia Red Skull yang bertugas di bagian komunikasi melaporkan.
"Baiklah. Hah, tubuhnya sudah mulai dingin. Denyut nadinya lemah," jawab Arjuna panik.
Ia kini berusaha menghangatkan tubuh Jonathan yang mulai keriput dengan menggosokkan kedua telapak tangannya lalu ditempelkan di dada Adiknya.
SPLASH!
"Cepat! Cepat!" panggil Arjuna saat melihat dua penyelam muncul dari kolam di depannya.
Tora dan Zaid segera naik ke permukaan mendatangi Arjuna. Pertolongan medis pun dilakukan untuk menyadarkan Jonathan lebih dahulu.
Semua orang terlihat cemas. Jonathan terlihat pucat dan lunglai. Zaid dengan siap melepaskan pakaian dan sepatu Jonathan yang basah. Ia menyisakan celana boxer-nya saja.
"Alat pengecek kesehatan mendeteksi jika kondisi organ dalam Jonathan baik-baik saja. Hanya suhu tubuhnya di bawah normal dan denyut jantungnya lemah. Air di paru-parunya tak ada. Kemungkinan, Jonathan tak menelan banyak air atau dia sudah sempat sadar sebelumnya, tapi pingsan sesudahnya," ucap Tora menginformasikan dari hasil diagnosis alat buatan Eiji-Jeremy seperti pemindai kesehatan tubuh.
Semua orang bernafas lega. Tora tetap melakukan scanning alat yang ia genggam seperti sebuah ponsel dengan sinar biru menyinari tubuh Jonathan.
Zaid segera memakaikan baju khusus yang dilengkapi alat penghangat di dalamnya agar Jonathan tak mengalami hipotermia usai Tora memastikan jika Jonathan baik-baik saja tak mengalami luka serius.
Lampu indikator warna merah pada pakaian tertutup mirip aluminium foil mulai melakukan tugasnya. Warna pucat di kulit Jonathan mulai berubah menjadi sedikit cerah.
Arjuna memakaikan tabung oksigen portabel untuk membantu pernafasan Jonathan di mulut dan hidungnya.
Arjuna mendudukkan Jonathan di pangkuannya, memeluknya dari belakang penuh kasih sayang.
"Sudahlah, Nathan. Jangan cari Sierra lagi. Dia bukan takdirmu. Kau ... agh! Kenapa kau keras kepala sekali?!" gerutu Arjuna terlihat begitu menghawatirkan Adiknya.
__ADS_1
Semua orang terdiam. Rasa haru menyelimuti hati semua orang yang menyaksikan kejadian hari itu.
"Eh, Juna. Apa itu?" tanya Zaid saat ia melihat sebuah benda tergeletak di dekat pinggiran kolam gorong-gorong.
Zaid berdiri dan mengambil benda mirip gelang. Ia memberikannya pada Arjuna karena ada inisial A di sana.
"Oh! Ini ...," pekik Arjuna terkejut saat memegang benda tersebut.
"Mungkinkah?" tanya Tora menebak.
Senyum Arjuna merekah. Ia terlihat begitu bahagia. Ia memeluk Jonathan erat dan menggenggam gelang itu kuat.
"Jikapun Afro yang menolong Jonathan, itu tak membuatnya lolos dari hukuman Pengadilan 13 Demon Heads," ucap Boleslav yang didengar semua orang.
"DIAM!" teriak Arjuna marah.
"Huwah! Hah ... Hah!"
"Jonathan? Oh, kau sudah sadar?" tanya Zaid terkejut.
"Huwah ... Suara apa tadi? Aku kaget," ucapnya langsung membuka mata dengan nafas tersengal seperti orang bermimpi buruk bahkan masker oksigennya sampai terlepas.
"Aduh ... Ini apa sih? Hah, panas. Lepasin. Kenapa Nathan jadi kaya kepompong gini dah? Gerah tau ...," rengeknya mulai berkeringat karena tubuhnya terbungkus dan hanya terlihat kepalanya saja.
Zaid geleng-geleng kepala. Padahal mereka tadi begitu mencemaskan keadaan Jonathan yang pucat pasi.
Namun, melihat dirinya baik-baik saja, semua orang kini bernafas lega. Arjuna meminta Jonathan untuk masuk dalam kapsul berbahan dasar plastik tebal dengan sleting anti air sebagai pembukanya.
"Aduh, brasa masuk dalam kandungan. Gini kali ya pas Nathan di perut mama," ucapnya saat merangkak masuk dalam kapsul transparant sembari memakai tabung oksigen portabel.
Arjuna dan lainnya tak menjawab. Mereka tak menyangka jika Jonathan terlihat santai menanggapi tragedi yang hampir menewaskannya tadi.
Arjuna akhirnya kembali berenang bersama dengan Zaid dan Tora. Jonathan masuk dalam kapsul yang ditarik oleh Arjuna. Anak kedua Vesper berada di depan sebagai pemandu jalan.
Jonathan terlihat asyik menikmati perjalanan dalam air di kapsul buatan tim Ahmed atas usulan Arjuna-One setahun yang lalu.
Zaid berada di belakang kapsul memegangi tali agar benda seukuran tubuh orang dewasa tetap berada dalam air, tak membentur dinding lorong. Tora sebagai penutup dan pelindung tim berada di paling belakang.
__ADS_1
Tiga isteri Tora bersiaga di pinggir sungai untuk membantu evakuasi Jonathan. Mereka kini menjadi tim medis selama belajar di Pemalang dan setara dengan Black Armys level S.
Boleslav menatap tiga wanita China itu seksama.
"Manda. Bisa kau minta tiga wanita itu untuk menyusul ke rumah sakit? Aku lihat mereka cocok untuk membatu merawat dan mengawasi Jordan, Sia dan BinBin. Katanya, mereka juga bisa bertarung," ucap Boleslav menatap gerak-gerik isteri Tora di kejauhan.
"Aku akan minta izin pada Tora dulu. Bagaimanapun mereka adalah isterinya," jawab Manda ikut memandangi tiga wanita cantik itu.
Akhirnya, Jonathan berhasil di evakuasi. Terlihat ia baik-baik saja bahkan tak malu saat memamerkan tubuhnya yang atletis dan hanya terbalut boxer saja karena enggan memakai baju penghangat pemberian Zaid.
Manda mendekati tiga isteri Tora untuk meminta bantuan usai memastikan jika Jonathan tak mengalami masalah kesehatan.
Tora mengizinkan tiga isterinya untuk mendampingi dan mengawasi Sia serta lainnya sampai mereka diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit.
"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Jika ada apa-apa hubungi aku," ucap Tora saat ketiga isterinya terlihat enggan untuk pergi.
Wajah kesal dan iri hati para lelaki yang melihat Tora dipeluk tiga wanita cantik tampak jelas terlihat.
"Hati-hatilah. Aku akan menunggu di sini. Jangan nakal ya," ucap Tora saat melepas kepergian ketiga isterinya dengan meninggalkan kecupan mesra di dahi mereka.
"Kayaknya seru ya punya isteri tiga. Nathan jadi kepengen," ucapnya yang mengejutkan semua orang.
Jonathan segera mengabarkan kondisinya kepada sang ibu, Vesper yang mencemaskan keadaannya.
Terlihat pada sambungan video, Vesper lega karena Jonathan baik-baik saja. Ia juga memuji Arjuna karena dianggap mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dengan cepat.
Namun, saat Vesper meminta Jonathan dan orang-orang dalam jajarannya kembali, Jonathan menolak.
"William dibawa kabur, Mah. Kita harus temuin dia. Nathan rasa jika William sebuah kunci dari kelompok No Face dan The Circle," ucap Jonathan semangat yang hanya mengenakan jubah mandi, boxer celana da*am dan sandal selop.
"Hehe, dia mengingatkanku akan seseorang," ucap Ivan dalam bahasa isyarat dan diterjemahkan dengan cepat oleh Naomi yang menguasai bahasa tersebut.
"Ya, kau benar. Dia seperti ayahnya. Sial, aku jadi ingat psikopat itu," sahut Boleslav yang malah merinding karena gaya Jonathan mirip Erik Benedict.
"Begitu ya. Baiklah, tapi pastikan kali ini kau tak terluka. Kau hampir membuat Mama terkena serangan jantung! Dan itu, hmpf ... bisakah kau berpakaian? Kau sudah besar!" pekik Vesper pusing melihat anak ketiganya selalu pamer keperkasaannya yang terlihat jelas menonjol.
"Hehehe ... kenapa? Biar saja. Biar orang-orang tahu kalau Nathan itu keren," jawabnya bangga dan malah bertolak pinggang.
__ADS_1
Arjuna hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Ia tak mau ikut terlibat dalam misi dan memilih untuk kembali ke Jepang, menghimpun pasukan.
Naomi hanya bisa pasrah dan ikut bersama Tuan Mudanya untuk pulang. Zaid memilih ikut dalam misi karena tim Guatemala kurang orang akibat diculiknya William.