Secret Mission

Secret Mission
Lawan Balik


__ADS_3

Maap lele telat up karena lagi di Bandung temenin misua tugas kantor jadi lele ikutan semrawut dalam penjadwalan.


Sampai minggu nanti jadwal up gak tentu ya gaes karena lele jg menyesuaikan dg agenda di sini.


Jangan lupa vote koin poin dan vocernya ya. Lele padamu~


------ back to Story :


Mobil yang dikendarai Boleslav, Jamal, Daniel dan Rajesh melaju kencang meninggalkan markas besar 13 Demon Heads menuju ke titik penjemputan di Laut Tirenia.


Sia mengendalikan mobil modifikasi Jonathan dari jarak jauh yang terhubung dengan satelit GIGA DARA.


Dua mobil pengejar yang diyakini milik militer pemerintah tak membiarkan buruannya lolos.


Empat mafia senior yang berada di dalam mobil dibuat panik karena tak ada bala bantuan selama proses penyelamatan itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Sia! Dua mobil tersebut berpencar! Mereka akan menyerang kita dari sisi kiri dan kanan!" pekik Daniel menginformasikan terlihat cemas.


Borgol yang membelenggu kedua tangan Boleslav sedang berusaha dilepaskan oleh Rajesh menggunakan belati Silent Gold dengan laser yang dinyalakan.


Terlihat Rajesh berusaha agar tidak melukai kedua tangan Boleslav karena mobil yang mereka tumpangi melaju dengan sangat cepat dan medan yang mereka lalui cukup membuat goncangan hebat di dalam mobil.


"Sia, jika kedua tangan ayahmu terpotong, itu bukan salahku," ucap Rajesh yang fokus dengan usahanya memotong besi yang membelenggu pergelangan tangan Boleslav.


Suasana makin tegang. Boleslav mengabaikan besi yang kini menjadi seperti gelang di pergelangan tangannya dan fokus untuk melakukan serangan balasan kepada kedua mobil yang berusaha untuk membunuh mereka.


"Sia! Apa yang bisa Daddy lakukan untuk membantu?" tanya Boleslav yang duduk di samping bangku kemudi.


"Mobil ini tidak dilengkapi dengan sistem keamanan yang menyimpan data user. Kau bisa melakukan apapun dengan mobil ini, Dad. Mobil ini masih prototype," jawab Sia menjelaskan.


"Apakah mobil ini sama dengan mobil milikmu atau seperti modifikasi lainnya?" tanya Boleslav mengamati sekeliling dalam interior mobil yang ditumpanginya.


"Yes, Dad. Almost same," jawab Sia cepat.


Boleslav pindah ke bangku kemudi. Kedua tangannya siap pada setir mobil begitu pula kedua kakinya.


"Sia, aku ambil alih kemudi. Kau fokus saja pada persenjataan. Aktifkan GPS, aku akan membawa mobil ini ke titik penjemputan," ucap Boleslav sembari melihat ke samping jendela di mana mobil penyerang terlihat di balik rimbunnya pepohonan.


"Oke, Dad," jawab Sia cepat.


Seketika, lampu indikator berwarna biru yang berada di tengah setir mobil menyala. Boleslav memegang erat kemudi tersebut dan mulai mengemudikan secara manual mobil type Crossover tersebut.


"Daniel! Bantu aku!" pinta Boleslav lantang.


Daniel dengan sigap langsung pindah ke bangku depan samping Bosnya begitu borgol yang membelenggunya terlepas.


Daniel membuka dashboard mobil di mana ia tadi melihat ada beberapa perlengkapan tempur yang bisa digunakan untuk membantu mempersulit lawan.


"Apa yang kau temukan, Daniel?" tanya Boleslav meliriknya.


"Yah, lumayan untuk membuat mereka kesulitan, Sir," jawab Daniel sembari mengeluarkan dua buah pistol dan melemparkannya ke belakang.


Jamal dan Rajesh dengan sigap menangkapnya. Mereka mengecek amunisi tersebut dan bersiap untuk melakukan serangan balasan.

__ADS_1


"Are you ready, Sir?" tanya Rajesh dengan pistol siap dalam genggaman.


Jamal mengangguk. Keduanya bersamaan menurunkan kaca jendela mobil dan mengarahkan pistol ke mobil yang mengapit mereka di dua sisi.


"Kenapa mereka belum melakukan serangan sampai sekarang? Ini aneh, Sir," ucap Daniel sembari memakai tas kecil berisi banyak granat mini di dalamnya.


Kening Boleslav berkerut berikut Jamal dan Rajesh. Mereka ikut curiga akan hal ini. Boleslav melihat rute pelarian mereka di mana tinggal 1 km lagi sampai di titik penjemputan.


"Jangan-jangan mereka sengaja mengikuti kalian sampai ke titik temu. Selanjutnya mereka akan informasikan kepada tim penyerang untuk melenyapkan kita," sahut Sia mengutarakan isi pemikirannya.


Mata keempat mafia saling bertatapan tajam. Mereka mengangguk setuju dengan ucapan Sia barusan.


"Oke. New plan," ucap Boleslav sembari mengotak-atik layar sentuh GPS di sampingnya.


"Nona Sia, persiapkan persenjataan. Kita akan menghabisi mereka sebelum ke titik penjemputan. Kita akan habis-habisan di luar sini," sahut Daniel sembari melirik Bosnya yang terlihat sudah menemukan titik untuk berperang.


"Oke," jawab Sia cepat.


BROOMM!!!


CIITTT!


Mobil yang dikemudikan oleh Boleslav langsung bermanufer dan kini posisinya berlawanan arah, saling berhadapan dengan dua mobil musuh.


BROOM ....


Dua mobil berhenti seketika. Mereka seperti menunggu aksi yang akan dilakukan oleh mobil Crossover target.


"Sia, now!" pekik Boleslav lantang.


Seketika, mata Daniel terbelalak. Ia terkejut saat pintu mobilnya ternyata bisa naik ke atas dan bangku dudukkannya bergeser ke samping keluar dari mobil.


"Jangan mengeluh," jawab Sia terdengar kesal.


Tiba-tiba, sandaran duduk Daniel begerak. Daniel kembali terkejut saat muncul sebuah moncong senjata panjang di atas kepalanya mengarah ke depan.


"Mundurkan tubuhmu, Daniel dan jangan terkejut," ucap Sia lagi dan segera, Daniel melakukan perintah anak Amanda tersebut di mana ia masih bingung dengan sistem kinerja mobil yang ditumpanginya.


Lagi-lagi, muncul sebuah alat pengendali di bawah dudukan. Daniel spontan mengangkat kedua tangannya ke atas karena benda tersebut mengejutkannya.


"Wow, oke," ucap Daniel gugup dan mencoba untuk mengendalikan benda tersebut.


Daniel memegang joystick dalam genggaman tangan kanan dengan sebuah tombol di tengahnya. Daniel terlihat ragu ketika akan menekannya.


Seketika, DODODODODOR!


"Oh, shit!" pekik Daniel terkejut ketika moncong senjata di atasnya menembakkan peluru-peluru tajam ke arah mobil yang ia bidik tanpa jeda.


BROOMM!!


"Sir! Mereka bergerak!" teriak Daniel lantang melihat dua mobil di hadapannya mulai melaju mendatanginya.


BROOMM!!


Boleslav mulai menjalankan mobil yang dikemudikan olehnya dan siap menggunakan Daniel sebagai penyerang.

__ADS_1


Namun, hal serupa juga terjadi pada Rajesh. Bangku yang ia duduki ikut bergeser ke samping bahkan kursinya bisa berputar.


Rajesh ikut terkejut karena ia memiliki senjata dan pengendali sama seperti milik Daniel.


"Oke, aku cemburu," celetuk Jamal mendesah malas berpangku tangan.


Namun lagi-lagi, "Wow!" teriak Jamal terkejut saat bangku yang didudukinya tiba-tiba mundur ke belakang dan berputar berlawanan arah.


Kaca bagian belakang mobil terbuka. Mata Jamal terbelalak saat sebuah senjata gatling dengan serencengan peluru ada di hadapannya berikut peluncur RPG berisi misil di kanan dan kiri, senjata pelontar granat di sisi kiri belakag dudukan Jamal, sebelah kanan belakang berjejer belasan granat tabung yang disusun rapi dalam sebuah rak.


"Haha! Punyaku lebih hebat!" teriak Jamal semangat.


"Yeah! Kill them all!" teriak Rajesh antusias.


Orang-orang yang berada di pusat kendali bersama Sia hanya bisa tersenyum melihat Rajesh, Jamal dan Daniel bersenang-senang dengan aksi tembak-tembakan yang bisa membunuh mereka.


"Oke. Kita sebaiknya bersiap untuk menghancurkan armada militer yang tersembunyi dan menanti kemunculan kita untuk dilenyapkan," ucap Vesper dengan tangan menyilang di depan dada terlihat santai.


"Yes, Mam!" jawab para petugas serempak.


Vesper dan orang-orang yang memilih untuk bertahan tak ikut evakuasi dengan kapal selam wisata Ahmed, berada di pusat komando bawah tanah markas besar, bersiap melakukan serangan balasan.


"Manda, bagaimana statusmu?" tanya Vesper yang matanya kini fokus melihat dari tampilan layar CCTV memantau pergerakan Amanda dan timnya.


"Mereka mengincar berkas dari aset-aset peninggalan para mafia 13 Demon Heads, Vesper. Dasar miskin, pencuri dan pengakuisisi milik orang lain!" geram Amanda.


Nafas Vesper menderu, ia ikut terlihat marah dengan hal ini. Amanda dan timnya memindahkan berkas-berkas tersebut ke dalam sebuah besi pendorong yang selanjutnya akan diamankan ke markas baru.


Penjagaan ketat dilakukan di ruang arsip tersebut dengan pasukan Silhouette dan Red Ribbon bersenjata lengkap.


Di luar markas, terlihat para mafia muda masih bertahan mencoba melumpuhkan para penyerang dari pihak militer yang terus berdatangan, mencoba menerobos masuk.


Vesper memberikan misi baru bagi mereka dengan tawaran yang cukup menggiurkan.


"Oke, kau sudah dapat berapa, Lysa?" tanya Vesper tersenyum melihat dari layar CCTV pergerakan anak-anaknya termasuk Rohan.


"Hah, 35," jawab Lysa dengan nafas tersengal sembari menandai tentara yang berhasil ia bunuh dengan cet warna merah muda.


"Haha, aku 41, Kak!" sahut Arjuna penuh kebanggan.


"What? How can?!" pekik Lysa berdiri di atas punggung salah satu tentara sembari mencabut anak panah yang tertancap di pahanya.


"Ini diskriminasi. Nathan gak dikasih tau ada acara hitung-mengitung. Emang dapet hadiah apa kalo dapet banyak?" tanya Jonathan dengan nafas tersengal dan keringat bercucuran.


"Ucapan makasih, Jo," sahut Bayu yang berdiri di sebelahnya dengan sebuah senapan laras panjang menembaki drone bersenjata.


"Hah? Gitu doang? Ah, males ah. Nathan laper, mau masuk aja," jawabnya langsung mematikan laser pedang Silent Blue miliknya dan memasukkan ke sarung yang ia kaitan di punggung.


"Jo! Mau kemana woi? Belom kelar ini perangnya!" teriak Hadi yang gagal membidik karena Jonathan malah membuka palka yang menuju ke roof top helipad, menuruni tangga.


"Buat kalian aja. Nathan mau mandi," jawabnya malas dan kini sosoknya sudah tak terlihat.


"Nyonya Vesper. Iki pie?!" pekik Bambang ikut bingung karena Jonathan meninggalkan timnya.


Vesper memijat kepala. Ia melihat Jonathan menuruni tangga dan berjalan santai menyusuri koridor yang dijaga ketat oleh pasukan Black Armys.

__ADS_1


"Ya sudah, biarkan saja. Pastikan landasan aman sampai helikopter tempur datang," ucap Vesper mencoba untuk tetang tenang.


"Yes, Mam!" jawab anggota The Kamvret lantang mempertahankan landasan.


__ADS_2