
PIP! PIP! PIP!
NGEKKK!
William membuka matanya saat ia mendengar suara nyaring seperti alarm dan sebuah pintu besi di buka.
Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.
"Bangun, Pemalas! Jatah menginap gratismu sudah berakhir. Pergi dan selesaikan misimu sebelum pelantikan anggota dewan 13 Demon Heads dilangsungkan bulan depan."
William terkejut mendengar penuturan dari Tessa yang suaranya terdengar jelas dari speaker di ruangan tersebut.
"Bulan depan? Di mana tepatnya?" tanya William langsung duduk di sofa sebagai alas tidurnya semalam.
TRING!
Ponsel pemberian Tessa menyala dan ada sebuah pesan di sana. William langsung tersadar sepenuhnya dan segera berdiri, ia siap untuk menjalankan misi.
"Good luck, William," ucap Tessa dari speaker.
William mengangguk dan segera mengemudikan Mustang pemberian dari Tessa yang mirip dengan miliknya dulu.
Hanya saja, kini mobil sedan miliknya ini lebih tangguh dan siap untuk bertempur.
Mustang hitam keluar dari sebuah garasi tersembunyi hampir mirip seperti kediaman Denzel.
William yang sudah mengetahui tujuannya segera pergi untuk menemui Jack di tempat dan waktu yang sudah dijanjikan.
Malam itu, Cafe dekat pantai Virginia.
William meneropong dari kejauhan di mana Tessa memberikan perlengkapan lainnya untuk membantu William menyelesaikan misi dari Denzel.
"Selalu tepat waktu. Kau sangat mudah ditebak, Jack," ucap William tersenyum miring memantau gerak-gerik Jack yang duduk di tempat biasa sembari menggendong sebuah tas ransel dan koper kerja dalam genggaman.
Terlihat Jack mengawasi sekitar mencari keberadaan William. Agent muda itu keluar dari mobil dan mendatangi Jack membawa dompet di sakunya serta pistol di balik pinggang.
"Kau terlambat 5 menit," gerutu Jack memasang wajah sebal.
"Kau terlihat tampan. Rambut baru?" tanya William sembari menarik kursi dan menunjuk rambutnya.
"Oh! Kau menyadarinya? Yah, kata Ara mungkin dengan gaya baru aku bisa dapat pacar," ucapnya seakan rasa kesalnya sirna seketika. William terkekeh.
"Kau bawa yang kuminta?" tanya William meletakkan kedua tangan di atas meja.
"Yup," jawabnya sembari memberikan tas ransel besar yang ia gendong ke atas meja.
William segera meraihnya dan meletakkan di bawah, samping kursinya.
"Jack. Pernah dengar tentang GIGA?"
"GIGA? Nama lelaki atau perempuan?"
William mendesah malas.
"Aku juga tak tahu. Sudahlah, jangan dipikirkan. Oia, siapa pengganti Rika? Kau tahu?" tanya William to the point.
"Yup. Agent senior. Aku belum melihatnya langsung. Dia sangat sibuk. Orang-orang memanggilnya 'YES'," jawab Jack berbisik.
Kening William berkerut. "What?"
"Iya. Namanya Yes. Seperti kita memanggil Rika sebelumnya. R. Aku tak tahu nama aslinya. Namun, aku merasa orang itu memiliki pengaruh kuat dalam agensi. Bahkan desas-desus yang kudengar dari Catherine, ia mengubah beberapa sistem kinerja dalam divisi kita. Aku belum merasakan dampaknya, tapi sepertinya tidak bagus," ucap Jack makin terperinci.
"Jika kau punya fotonya, segera kirim padaku," pinta William serius. Jack mengangguk pelan.
"Will, aku memberitahu Ara jika bertemu denganmu. Dia mengatakan, kau harus segera menyelesaikan misimu. Si Yes ini bukan tipe orang yang sudi memberikan toleransi. Kau sebaiknya segera tuntaskan sebelum pelantikan anggota dewan 13 Demon Heads. Kau harus menggagalkan upacara peresmian itu," ucap Jack mencondongkan tubuhnya dan menatap William seksama.
__ADS_1
William diam sejenak. Permintaan Tessa dan pemimpin baru pengganti Rika hampir sama. Mereka berdua ingin agar pelantikan itu digagalkan.
"Kastil Vesper bukan sebuah rumah atau markas biasa, Jack. Dia ketua dewan! Sudah pasti akan banyak tentara, perangkap dan mafia kejam di sana. Kau ingin aku berakhir seperti Thomas dan Liev?" tanya William melotot.
"Kudengar kau berhasil menjadi anak buah Rahul, salah satu anak anggota dewan asal India. Manfaatkan dia. Kulihat, kau semakin ahli dalam menyamar dan menyusup. Jujur, kau yang terbaik sampai sejauh ini. Hanya saja kau menjadi bodoh saat berurusan dengan gadis bernama Sia," ucap Jack malas dan memilih untuk meneguk milk shake dengan cream serta buah cherry di atasnya.
William tersenyum.
"Kau benar, Jack. Sia membuatku seperti orang tak waras. Namun, berkat dirinya, aku jadi tahu kinerja para mafia itu. Katakan pada Ara, Yes atau siapalah itu, jangan terburu-buru. Percaya saja padaku dan pastikan, kalian siap ketika waktunya tiba untuk menggempur para mafia itu," ucap William serius menatap Jack yang mengangguk sembari menyedot milkshake-nya.
"Lalu ... kau mau kemana setelah ini? Langsung ke Rusia? Atau ... ke India?" tanya Jack penasaran.
"Aku ingin pulang ke apartment-ku dulu. Aku lelah, Jack. Aku ... ingin menyendiri sebentar," jawab William lesu.
Jack terhenyak menatap kawannya dengan keheranan. Jarang sekali ia melihat William seperti orang bersedih. Ekspresi yang sama saat Agent muda itu ditinggalkan kekasih mafianya.
"Aku sedang baik. Kau pesanlah sesuatu, aku yang traktir," ucap Jack mencoba meramaikan hati William yang sedang gundah.
"Oh, sungguh? Baiklah. Aku tak akan sungkan," jawabnya langsung riang.
Namun, raut wajah Jack berubah panik seketika saat ia melihat William menunjuk banyak menu dalam buku pesanan ke waiters.
"Kau sengaja ya?!" pekik Jack kesal.
William tak menggubris Jack yang mendesis sembari mengecek isi dompetnya.
William hanya ingin makan sampai perutnya kenyang, pulang ke apartment mewahnya, berendam dalam air hangat, mengenakan pakaian halus dan tidur dengan nyenyak.
Di sisi lain, Kastil Krasnoyarsk, Rusia.
Mereka berbicara dalam bahasa Rusia.
"Kau bilang apa? Jordan menjabat sebagai apa?!" pekik Sia terkejut saat Jason menceritakan tentang kedudukan Jordan dalam jajaran 13 Demon Heads.
"Mungkin karena pergerakan Jordan terlalu mencolok, militer mencurigai kalian," ucap Sia menilai.
"Aku tak melakukan apapun. Aku sekolah seperti biasa. Teman-temanku pun dari semua kalangan. Aku melakukan yang dilakukan warga sipil kebanyakan," jawab Jason kembali duduk membela dirinya.
Sia mengerucutkan bibir. Ia menyadari satu hal. Jason dan Jordan adalah saudara kembar. Orang-orang yang tak tahu jati diri mereka sebenarnya, pasti berpikir jika remaja lelaki tampan itu adalah satu orang yang sama, padahal bukan.
"Nanti akan kita pikirkan solusinya. Kak Sia kembali ke kamar dulu ya," ucap Sia tersenyum manis pada Adik tirinya dan Jason mengangguk.
Sia keluar kamar dan berjalan menyusuri koridor menuju ke kamarnya. Namun, saat ia akan berbelok di pertigaan lorong Kastil megah ayahnya tirinya, Sia mendapati Jordan di sebuah ruangan seperti sedang bersiap.
"Jo-Jordan? Kau mau kemana?" tanya Sia saat ia menyadari jika Jordan memakai setelan khusus seperti tim khusus militer meski tanpa rompi anti peluru yang mencolok.
"Berburu. Dia akan muncul," jawabnya serius sembari menenteng sebuah tas koper panjang warna hitam.
"Dia? Berburu? Maksudmu ... manusia? Orang begitu?" tanya Sia dengan jantung berdebar.
Jordan mengangguk pelan. Sia tertegun. Ia menelan ludah terlihat memikirkan sesuatu.
"A-aku ikut," pintanya gugup.
"Tak boleh," jawabnya sembari melangkah meninggalkan Sia.
"Aku tahu jika kau pasti berpikir aku menyusahkan. Namun, tak ada lagi yang bisa kulakukan, Jordan. Aku sungguh payah. Tak bisa menjadi penerus Daddy untuk menggantikan kursinya. Aku ... mengecewakan banyak orang," ucap Sia membalik tubuhnya dan kini menatap punggung adiknya dengan perasaan kecewa pada dirinya.
Jordan menghentikan langkah.
"Aku tak bisa fokus bekerja jika kau ikut. Aku tak bisa menjamin keselamatanmu. Aku malah senang kau tak duduk di kursi dewan menggantikan Daddy. Sebaiknya ... kau ikuti saja jejak Mommy. Kursi Daddy, biar menjadi tanggung jawabku," ucapnya tegas dan hanya menoleh sedikit.
Sia tertegun. Ia mendekati Jordan dengan langkah cepat dan kini berdiri di sampingnya. Jordan menundukkan wajah.
"Meneruskan kursi Mommy pun bukan perkara mudah, Jordan. Sudah keputusanku mengikuti jalan mafia. Jika aku tak bisa mengikuti ritmenya, aku bisa mati mengenaskan. Setidaknya, jika aku pernah terjun dan berhadapan langsung dengan musuh-musuh dalam jajaran kita, itu bisa membuatku lebih kuat," ucap Sia memelas.
__ADS_1
Jordan menatap mata Sia dalam, tapi hal itu malah membuat jantung Sia berdebar.
"Baik, kau boleh ikut. Namun, tetaplah di dekatku. Jangan melakukan hal bodoh tanpa seizinku. Kau paham, Kak Sia?" ucap Jordan tegas dan Sia mengangguk.
Jordan meletakkan kopernya. Ia berjalan mendekati almari dan mengambil sebuah setelan yang sama dengannya.
"Pakai ini. Hanya saja, ini setelan untuk pria. Selama bertempur, penampilan bukan hal penting. Yang terpenting, kemampuan agar tak mati saat menjalankan tugas," ucapnya sembari memberikan setelan yang dihanger.
"Aku setuju," jawab Sia sembari menerima setelan itu dengan senyum merekah. "Wow! Ini keren sekali," ucap Sia mengagumi baju tempur tersebut.
Jordan diam saja dan kini menyiapkan perlengkapan tempur untuk Sia dalam sebuah tas ransel hitam berisi persenjataan.
Sia nekat mengganti pakaiannya di ruangan itu dan menyisakan pakaian dalam saja.
Ketika Jordan sudah selesai berkemas dan membalik tubuhnya, ia mematung seketika saat mendapati Kakak perempuannya mempertontonkan tubuhnya yang atletis.
Jordan malah terpaku dan mengamati tiap gerak-gerik Sia saat memakai pakaian tempurnya. Jordan merasakan ada hal aneh dalam dirinya, tapi ia tak tahu itu apa.
"Benar begini cara pakainya?" tanya Sia saat mengancingkan jas panjang anti peluru.
Jordan mengangguk pelan dengan gugup. Sia tersenyum dan mengambil tas ransel dalam genggaman Jordan lalu segera menggendongnya.
"Apa ... aku akan mendapatkan sepatu keren sepertimu juga?" tanya Sia melirik sepatu magnet yang dipakai oleh Jordan.
Jordan mengangguk dan mengambil sepatu itu untuk Kakak perempuannya.
"Thank you," ucap Sia saat menerimanya dan bergegas memakainya.
NGEKK!
Sia dan Jordan menoleh ke arah pintu saat mendapati dua algojo Amanda muncul di sana.
"Dia ikut?" tanya Match berkerut kening menunjuk Sia.
Jordan mengangguk. Mix and Match saling berpandangan terlihat serius.
"A-aku akan baik-baik saja. Tolong, jangan larang aku. A-aku ... aku hanya ingin membiasakan diri hidup dalam kehidupan yang sudah kupilih ini. Dan bukannya dulu aku juga hidup dengan cara yang sama, saat Julius Adam hidup? Hanya saja, kini aku sudah sepenuhnya memilih jalan mafia. Tolong, bimbing aku, Paman Mix, Match," ucap Sia membungkuk hormat seperti orang Jepang.
Mix and Match berkerut kening mendengar permintaan Sia.
"Tak usah beritahu Daddy dan lainnya. Kita pergi sekarang," ucap Jordan dan diangguki semua orang.
Jordan dan lainnya bergegas pergi menuju basement dengan lift khusus di Kastil. Mereka masuk ke mobil yang sudah di sediakan.
Sia terkejut saat mendapati ada sekumpulan orang memakai baju tempur berwarna abu-abu sudah bersiap dan ikut dalam konvoi mereka.
"Mm ... mereka itu siapa?" tanya Sia gugup ketika sudah duduk di samping Jordan.
"Silhouette. Pasukan bayangan milik Mommy," jawab Jordan dengan pandangan lurus ke depan.
Sia mengangguk paham. Entah kenapa, jantungnya berdebar kencang.
"Lalu ... siapa yang akan kita buru?" tanya Sia lagi memperjelas misinya.
"Afro. Ingat wajahnya baik-baik. Jika kau melihatnya nanti, segera tangkap. Boleh menyakitinya, tapi jangan bunuh. Hanya aku yang boleh membunuhnya. Aku ... eksekutor kematiannya," ucap Jordan tegas menyalakan monitor di hadapan Sia dengan wajah tegas.
Kening Sia berkerut saat mendapati sosok lelaki muda di layar monitor 11". Ia tak mengenalinya. Sia mengangguk paham.
-----
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1