
William menatap Boleslav tajam seakan tak mengenalinya. Maksim, Yuri, Arthur dan Daniel bersiaga di sekitar Tuan besarnya untuk memastikan suami dari Amanda tersebut tak terluka.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Sierra Becca? Aku tak mengenalnya. Aku hanya tahu jika Big Mother itu adalah Madam," jawab William yang kini sudah duduk di pinggir ranjang dengan gaya soknya.
"Lalu apa yang kau tahu tentang The Circle? Bukankah katamu kau anak buah dari kelompok itu?" tanya Boleslav tenang duduk di kursi kayu.
"Berapa pertanyaan yang akan kau ajukan padaku untuk melepaskan kalung ini?" tanya William menatap Boleslav dengan rupa tengilnya.
Boleslav malah tersenyum seperti menahan tawa. Semua orang meliriknya dalam diam.
"Hempf, hehe ... maaf. Kau tahu, William. Aku tak menyangka jika kau bisa menyebalkan seperti ini. Kenapa tak dari dulu? Jika kau tunjukkan jati dirimu, tak perlu sok tangguh, mungkin aku sudah merestuimu sejak dulu. Kalian lihat tingkahnya? Konyol sekali," kekeh Boleslav menunjuk William terlihat bahagia.
"Anda ... tak sakit hati dengan ucapannya, Tuan?" tanya Maksim terheran-heran.
"Dia mengingatkanku akan Axton. Oia, kau tahu Axton, Will?" tanya Boleslav masih tersenyum pada suami Sia.
"Dia sudah mati," jawab William serius. Boleslav mengangguk.
"Bagaimana dengan Rahul?"
"Dia juga telah tewas."
"Siapa lagi yang kau tahu?" tanya Boleslav penasaran.
"Rika. Aku membunuhnya."
Sontak, mata semua orang melebar seketika.
"Ka-kau membunuh Rika?" tanya Daniel sampai melangkah mendekati jeruji untuk memastikan pendengarannya.
"Ya. Aku membunuhnya. Sebenarnya, Cecil juga targetku, tapi kulihat dia ceroboh hingga dia meledak. Pasti kalian mencongkel alat itu di lengannya jadi ... ya, begitulah," jawabnya santai.
"Aku belum mati, keparat!"
BRANGG!!
Semua orang terkejut saat Cecil tiba-tiba masuk sembari melemparkan sebuah sepatu dan mengenai jeruji besi.
Mata William melotot saat menyadari jika Cecil masih hidup dan kini menatapnya tajam.
"Kau ... apa kau berkomplot dengan mereka? Kau ... jangan-jangan, Nokomis ...," tanya William langsung berdiri menunjuknya.
Cecil tersenyum miring. "Bukan aku yang membunuh Nokomis. Memang Tobias yang menginginkan kematiannya. Untung saja, orang suruhan Tobias mengatakan agar aku jangan membukanya. Dia bilang, hanya Nokomis yang boleh membukanya," jawab Cecil dengan wajah dingin.
__ADS_1
Nafas William menderu dan menunjuk Cecil penuh kebencian mendekati jeruji besi. Keduanya saling berhadapan meski terhalang besi pengurung itu.
"Big Mother akan melenyapkanmu, Cecil," ucap William geram.
"Kau sakit, William. Aku sungguh iba padamu. Kau dimanfaatkan oleh banyak pihak. Namun, pengakuanmu tentang kau membunuh Rika, benar-benar sudah membuatku muak. Asal kau tahu, kau telah membunuh orang yang telah membesarkanmu selama ini. Ya, Rika ... dia adalah ibu angkatmu," ucap Cecil dengan mata berlinang.
William tersentak seketika. Ia terlihat kaget dengan pengakuan Cecil.
"Kau bohong. Orang tuaku tewas. Aku hidup sebatang kara hingga Tessa menyelamatkanku dan membawaku kepada The Circle yang mengayomiku selama ini," jawab William tegas.
"Begitukah? Baiklah. Buka matamu lebar-lebar, William. Aku kini memihak Boleslav untuk membuatmu sadar jika kau sudah melangkah terlalu jauh," ucap Cecil geram dan melirik Daniel.
Orang-orang di ruangan itu menyingkir. Tiba-tiba, lampu di ruangan padam.
Muncul sebuah tayangan dari proyektor yang dipantulkan ke tembok sebagai layar. William mendekati jeruji besi lagi dan tanpa sadar memegang besi tersebut.
William seperti terpaku akan video yang muncul di hadapannya. Semua orang yang tak tahu akan hal itu ikut terhanyut dalam cuplikan video yang Cecil putar dari ponselnya.
"Aku sengaja menunjukkannya setelah tahu otakmu di cuci, William. Aku meminta kepada Ara, Jack dan Catherine untuk mengumpulkan semua video yang mereka miliki termasuk Rika. Beruntung, mereka bertiga selamat dan kini dalam pengawasan Boleslav. Kau tahu, aku sampai harus melakukan hal bodoh ini agar kau sadar darimana kau berasal!" teriak Cecil yang pada akhirnya meneteskan air mata dalam amarahnya.
Daniel dan lainnya menoleh ke arah Cecil yang berusaha untuk tegar dengan memalingkan tubuh sembari menghapus air matanya. Boleslav diam saja ikut menonton.
"Hehe, kau merekamnya, Jack? Jangan sampai tersebar ke publik. Jati diri kita akan terbongkar," ucap William dengan senyum merekah saat ia menodongkan pistol ke arah Cecil dan Rika yang saat itu ia ajak makan malam sebagai bentuk perpisahan.
William terdiam. Entah kenapa dadanya terasa sesak seketika melihat video-video tersebut hingga matanya kini teralih pada sosok yang dikenalinya.
Terdengar suara Ara yang merekam video tersebut saat Jack memotret William dan Sia yang menikah pada hari itu.
Terlihat wajah kebahagiaan diantara mereka berdua. Bahkan ada video saat keduanya saling menyematkan cincin dan berciuman setelah sah menjadi suami isteri.
Jantung William berdebar kencang seketika. Tangannya tiba-tiba gemetar dengan sendirinya.
William bingung dengan apa yang terjadi, tapi matanya tak bisa lepas dari video-video itu.
"Happy birthday, Will. Semoga kau selalu sehat dan bahagia, Anakku. Maaf, jika aku harus mengirimmu untuk pergi bertugas di hari ulang tahunmu. Aku sungguh Ibu yang buruk. Namun, aku selalu mendoakan kau pulang dengan selamat. CIA mengandalkanmu dan aku menunggumu di kantor dalam keadaan utuh," ucap Rika dalam rekaman video yang ia kirimkan pada William saat itu di mana file-nya masih tersimpan dalam laptop-nya.
Tanpa William sadari, air mata William lolos begitu saja. Perasaan sedih, bersalah dan menyesal kini menyelimuti hatinya.
"Hai, Will. Ini aku, Jack. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, Man, hanya saja ...," ucap Jack sembari menggaruk-garuk kepala.
Semua orang terdiam saat wajah Jack muncul. Tiba-tiba, tampak Ara dan Catherine di belakangnya.
"Ini apartement-mu, Will. Mm, berhubung kau tak ingat apapun, bolehkah aku tinggal di sini mulai sekarang? Haha!" sambung Jack riang.
Suasana haru lenyap seketika saat melihat Jack membuka lemari William dan menunjukkan semua koleksi fashion yang dimiliknya.
__ADS_1
"Oh, ini muat! Sepatu ini muat di kakiku!" teriak Jack gembira.
"Coba ini, Jack. Jam tangan ini keren. Wah, kau seperti agent sungguhan bukan teknisi lagi," sahut Ara yang langsung berlari menuju ke rak penyimpanan jam tangan dengan gembira.
"Hei! Aku menemukan ini. Apa ini?" tanya Catherine tiba-tiba saat membuka sebuah kotak berwarna merah.
Mata semua orang terbelalak.
"Bukannya ini cincin pernikahan?" tanya Ara menyahut dan dua kawan lainnya mengangguk.
Tiba-tiba, video mati dan lampu kembali menyala. William tertegun saat Cecil muncul di hadapannya entah sejak kapan sembari menunjukkan cincin di hadapannya.
"Aku kembalikan dan aku harap kau berikan sendiri ke Sia nanti. Kau meninggalkan CIA karena sangat mencintainya, Will. Kau bahkan bergabung dengan komplotan mafia dalam jajaran 13 Demon Heads demi Sia. Sampai kau bisa berada di sini karena The Circle menghasutmu. Itu semua terjadi karena kau berusaha agar bisa hidup bahagia dengan Sia," ucap Cecil lirih dan William mengambil cincin itu dari telapak tangan Cecil dengan wajah sendu.
William memandangi Cecil lekat dengan cincin dalam genggaman tangan kanan. Cecil mendekatkan tubuhnya ke jeruji besi.
William terlihat seperti akan menangis saat mengulurkan tangan seperti ingin memeluknya.
Cecil mengulurkan kedua tangannya dan masuk ke celah jeruji besi, memeluk leher William. Semua orang terlarut dalam rasa haru saat keduanya saling meneteskan air mata.
"Titip salamku untuk Rika," ucap William lirih.
DOR!!
"Agh!"
DOR! DOR!
"CECIL!" teriak Arthur terkejut saat William menembak Cecil tepat di perutnya dengan sebuah pistol dalam genggaman.
BRUKK!!
Maksim dan Yuri segera mendatangi Cecil yang sudah sekarat dengan mata sudah sayup hampir terpejam.
William tersenyum menyeringai dengan menodongkan pistol ke arah semua orang di dalam jeruji besi sembari melangkah mundur.
"Terima kasih atas cuplikan video menyentuh hati. Sungguh. Itu sangat bagus. Dan ... Cecil, kau lengah. Kenapa kau membawa pistol dan bodohnya, hahaha ... kau bahkan tak menyadari saat aku mengambilnya dari balik pinggangmu. Sudahlah, kau sudah tua. Bergabunglah dengan Rika di alam sana. Bye, Cecil."
Semua orang tertegun saat William malah tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mantan agent senior yang sudah sekarat di atas lantai.
Boleslav menatap William tajam dengan nafas menderu di mana kini moncong pistol di arahkan ke tubuhnya.
***
wah ada tips lagi😍 makasih yaa lele padamu loh para pemberi koin. baiklah besok dobel eps lagi ya😘
__ADS_1