
William, Ivan dan Buffalo yang masih tersangkut di dalam mobil yang terbalik itu tak bisa bergerak karena tertimbun oleh beberapa benda yang menghimpit pergerakan mereka.
Jonathan ditarik paksa oleh dua lelaki berkepala gundul, berbadan kekar seperti Mix and Match.
William, Ivan dan Buffalo mengerang, mencoba untuk membebaskan diri demi menolong Jonathan.
"Papi Ivan! Papiii!" teriaknya lantang di mana hanya kedua kaki Jonathan saja yang terlihat oleh mata 3 orang tersebut.
Ivan terlihat bersusah payah untuk bangkit. Sayangnya, pintu tak bisa dibuka karena rusak. Ivan tak memiliki tenaga untuk memecahkan kaca tebal anti peluru itu dengan tangannya.
Ivan menyingkirkan segala jenis senjata yang menutupi tubuhnya. Ia merangkak ke dudukkan belakang dengan nafas tersengal dan pandangan kabur. Ivan berusaha keluar melalui pintu saat Jonathan diambil paksa.
William dan Buffalo yang akhirnya berhasil membebaskan diri dari seat belt yang melilit, mulai mengikuti pergerakan Ivan dengan menahan sakit di sekujur tubuh.
Beruntung, mobil yang mereka tumpangi tak meledak. Ivan akhirnya berhasil keluar dari mobil dan melihat Jonathan masih memberontak.
Ivan mencoba untuk berdiri dengan menumpu pada badan mobil agar tak jatuh. Ivan sadar jika ia tak bisa berteriak.
Ia melihat jas anti peluru Jonathan dilepaskan paksa berikut semua persenjataan yang masih dikantonginya ke tanah oleh dua lelaki bertubuh besar itu.
Nafas Ivan menderu. Ia mengumpulkan tenaganya dan mendatangi dua orang itu sembari dengan langkah berat.
GRAB!!
Lelaki yang melucuti persenjataan di tubuh Jonathan terkejut, ketika bahunya dipegangi kuat oleh Ivan dan berusaha dijatuhkannya, tapi ....
BRUKK!!
"Oghh ...."
"PAPI!" teriak Jonathan saat melihat Ivan dilempar seakan-akan ia hanya sebuah karung beras tak bernyawa.
CEKREK!!
"NO! PAPI!" teriak Jonathan lantang ketika melihat lelaki gundul itu mengeluarkan pistol dari balik pinggang dan mengarahkan ke tubuh Ivan yang terlentang dengan darah mengucur di balik rambutnya.
DOR!!
Mata Jonathan melebar ketika William menembak lelaki gundul itu dengan pistol dalam genggaman termasuk Buffalo yang membidik lelaki yang memegangi anak ketiga Vesper.
Namun, setelan yang digunakan lelaki itu anti peluru seperti seragam tempur mereka. William dan Buffalo kembali menembaki dua lelaki itu yang menahan semua peluru menggunakan punggung mereka.
Jonathan di dekap kuat agar tak terkena hujan peluru yang bisa menewaskannya karena sudah tak berperisai.
Ivan melihat banyak persenjataan milik Jonathan yang tergeletak di tanah. Ia segera merangkak mengambil sebuah granat gas dari dalam saku jas terdalamnya.
GLUNDUNG ....
BUZZ!!
Dua lelaki itu terkejut ketika melihat gas berwarna merah muda menyeruak di antara mereka.
Jonathan langsung menggigit lengan lelaki perkasa itu dengan kuat hingga ia mengerang kesakitan dan dekapannya terlepas.
__ADS_1
Jonathan berlari, tapi dampak gas tersebut tak memberikan efek apapun pada dua lelaki besar tersebut.
Salah satu dari mereka berhasil menangkap tangan Jonathan, tapi remaja itu segera melepaskan sarung tangannya hingga ia jatuh bergulung-gulung karena tarikan kuat dari si lelaki bertubuh besar.
Dua lelaki besar itu kini membidik Buffalo, William dan Ivan dengan dua pistol dalam genggaman mereka. Tiga orang itu panik karena senjata mereka tertinggal di mobil.
DOR! DOR! DOR!
"Arghh!" rintih Buffalo, William dan Ivan bersamaan saat kaki mereka ditembak hingga mereka kini menggelepar di tanah menahan sakit luar biasa.
Jonathan teringat akan ucapan dari William yang mengatakan jika ia tak akan dibunuh karena The Circle menginginkannya.
Mata Ivan, Buffalo dan William melebar ketika moncong pistol kini diarahkan ke kepala mereka.
"STOP!" teriak Jonathan lantang berlari kencang menyodorkan kedua telapak tangan ke hadapan dua lelaki itu dan berdiri di hadapan tiga orang yang akan dibunuhnya.
Sontak, mata dua lelaki bertubuh besar itu melebar saat melihat sebuah tanda di telapak tangan Jonathan yang mereka kenali.
GRAB!!
"Hah!" Jonathan terkejut ketika pergelangan tangannya dipegang kuat oleh salah seorang dari mereka.
"Dari mana kau mendapatkan tanda ini?" tanya lelaki itu menatapnya tajam.
"Turkey. Sebuah gua dekat Black Stone. Rumah peninggalan mendiang dari salah satu anggota dewan 13 Demon Heads, Sutejo Perkasa dan ayahnya bernama Gatot Sukoco," jawab Jonathan jujur.
Dua orang itu langsung mendekati Jonathan dan menatap tanda itu dengan seksama. Jonathan menarik tangannya dan berdiri tegak menatap mereka tajam.
Dua orang itu saling berpandangan lalu kembali menatap Jonathan yang menunjukkan telapak tangan dengan sorot mata tajam.
Tiba-tiba, dua orang itu membuat bentuk segitiga di depan wajah mereka seperti yang Cecil lakukan dulu.
Jonathan bingung, tapi ia malah membuat gaya sendiri dengan menghalangi kedua matanya dengan salah satu telapak tangan yang memiliki logo di hadapkan ke depan hingga terlihat jelas bentuk dari bekas keloid tersebut.
Dua orang itu terkejut dan menundukkan wajah. Buffalo dan Ivan bingung saat melihat dua orang itu seperti takluk di hadapan Jonathan.
Mereka tak mendengar apa yang Jonathan katakan karena suara pertempuran di sekitar mereka begitu memekakkan telinga.
Para tim yang tersisa masih berusaha melawan para anggota The Circle dan suku Indian yang mulai memenuhi halaman mansion dengan persenjataan mereka.
Jonathan menurunkan tangannya dan dua orang itu berdiri tegap menatap Jonathan seksama.
William melihat dan mendengar apa yang Jonathan katakan pada dua orang itu. Kini, matanya tertuju pada logo di tangan Jonathan yang dihadapkan ke balik tubuhnya.
"Simbol itu ... aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana? Apakah ... Jonathan orang The Circle? Namun, dia anak dari Vesper, jajaran 13 Demon Heads. Wait ... dia bilang tadi penerus. Apa maksudnya?" tanya William bingung dalam hati menatap Jonathan dan dua lelaki bertubuh besar berdiri di hadapannya.
"Uhuk!"
Jonathan tersentak, ia langsung menoleh ke belakang dan mendapati William seperti berusaha untuk bangun.
Jonathan baru ingat jika aksi nekatnya tadi karena ingin menolong tiga orang itu.
"Bro, Will! Gak papa 'kan? Kita sudah aman, Nathan akan beresin semuanya. Kalian tunggu di sini, jangan kemana-mana," ucap Jonathan sembari memapah William ke badan mobil untuk di jadikan senderan tubuhnya.
__ADS_1
Namun, saat Jonathan akan berpaling, William memegang pergelangan tangannya dan menatapnya tajam. Jonathan balas menatapnya.
"Aku dengar yang kau ucapkan dan katakan, Jonathan. Siapa kau sebenarnya?"
Jonathan tersenyum. "Aku Jonathan Benedict. Anak dari Vesper dan Erik Benedict. Soal aku menjadi penerus The Circle, itu cerita lain. Aku tetap setia pada jajaranku, 13 Demon Heads. Jadi, jangan banyak tanya dan mikir nanti otakmu tambah eror. Udah, diem aja jangan berlagak. Kini saatnya Nathan beraksi," jawabnya sembari menepuk kepala William dan berpaling darinya.
William bingung. Ia melihat Jonathan berdiri di depan dua orang bertubuh besar berkepala gundul dengan nafas tersengal sembari menahan sakit di kakinya.
Ia melihat Jonathan memasuki mobil lapis baja yang menabrak mobilnya dan pergi begitu saja dengan dua orang berwajah garang.
Earphone radio di telinga William terjatuh saat mobilnya terguling dan hanya menyisakan earphone translator.
Ia berjalan tertatih mendekati Buffalo dan Ivan yang sudah duduk menyender pada badan mobil.
Mereka berdua mendengar ucapan terakhir Jonathan yang mengatakan bisa menyelesaikan pertempuran.
"Kita biarkan saja dia?" tanya William cemas.
"Yah, begitulah. Kita lihat saja," jawab Buffalo terlihat berantakan lalu merayap ke dalam mobil untuk mengambil earphone radio, menghubungi team lainnya.
Entah keajaiban apa yang terjadi. Perlahan, suara tembakan dan ledakan mulai mereda ketika Jonathan menunjukkan telapak tangannya ke hadapan orang-orang The Circle yang ia lewati dengan dua lelaki bertubuh besar melindunginya.
Semua tim dari kubu Jordan dibuat keheranan. Orang-orang dari The Circle mundur dan berlari dengan tergesa mengikuti di belakang dua lelaki gundul tersebut.
"All team? Apa yang terjadi?" tanya Jordan dengan nafas tersengal.
"Entahlah. Sepertinya Jonathan melakukan sesuatu. Ia meminta kita agar tak terlibat dan menunggu. Sebaiknya, kita ikuti saja sarannya," jawab Buffalo dengan nafas tersengal.
"Red, cepat kemari! Kami terluka dan butuh pertolongan medis segera," sahut William cepat.
"Copy that," jawab Red.
Bulldog-5 yang bertugas sebagai tim penyelamat dan evakuasi segera mendatangi lokasi pertempuran.
Orang-orang yang tersisa dari seluruh tim berkumpul di tempat William berada. Dari total 50 orang, hanya tersisa 25 orang saja. Lainnya, telah gugur dalam pertempuran sengit di malam mencekam itu.
Mobil RV berhenti tepat di kumpulan orang-orang tersebut. Helikopter Rohan mendarat dengan banyak lubang di badan benda terbang itu. Beruntung, helikopter masih bisa terbang dan tak mengalami kerusakan serius.
Orang-orang yang terluka segera diobati. William diam saja ketika Red mengeluarkan peluru yang bersangkar di pahanya dengan tabung penyedot peluru.
Ia masih teringat akan ucapan dari Jonathan kepada dua orang tak dikenalnya dan kini, logo di telapak tangannya telah menolong semua timnya dari kematian malam itu.
"Oh, aku mengerti. Dia sengaja merahasiakan ini semua. Aku sangat yakin, Vesper sengaja mengirimkannya karena tahu jika anaknya bisa menyelesaikan pertikaian dari dua kelompok mafia besar ini. Hmm, Jonathan adalah ... senjata rahasia," guman William lirih dalam lamunannya, tapi siapa sangka, ucapannya di dengar oleh semua orang yang berada di sana tanpa ia sadari karena masih tersambung dengan panggilan radio.
***
Wah ada tips lagi. Hore!! Makasih ya😍
Happy weekend semua. Besok dobel eps lagi.
Lele padamu💋💋💋
__ADS_1