
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
William menatap Tessa tajam dari tempatnya duduk. Ia tak bisa berkutik karena tubuhnya diikat kuat pada kursi tersebut.
Lelaki berwajah seram mirip tengkorak itu mendekati William dan berdiri di sampingnya. Jantung mantan agent CIA berdebar kencang. Ia merasa jika hal buruk akan terjadi padanya.
"Biar kutebak. Kau bisa mengingat rumah itu karena Boleslav memberikanmu gas halusinasi. Dia mengembalikan ingatan lamamu. Benar begitu, William?" tanya Tessa berjalan perlahan di depan jeruji besi, memandangi satu persatu sandera yang ditahannya dengan wajah dingin.
William tak menjawab. Ia tak menyangka jika Tessa tahu akan hal itu.
"Hem, tebakanku benar ya? Baiklah kalau begitu. Katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang Big Mother?" tanya Tessa yang kini berdiri di depan Rika dan menatapnya tajam dari balik jeruji.
"Big Mother? Apa itu? Aku tak tahu sama sekali," jawab William terlihat jujur.
Lelaki bertato menatap William seksama. Tiba-tiba, ia melepaskan tali yang menahan kepala William. Lelaki bermata biru itu terkejut.
Namun tiba-tiba, lelaki berwajah angker itu meletakkan sebuah alat yang memperangkap kepala William seperti sebuah kandang burung dengan besi-besi mengitarinya.
"Hei, apa ini? Lepaskan!" pekik William panik.
Rika dan orang-orang yang ditahan dalam besi penjara tertegun. Mereka merasa William dalam bahaya.
Tessa tersenyum menyeringai. Ia melihat William ketakutan dengan benda yang memenjarakan kepalanya.
"Nyalakan," perintah Tessa dengan dua jarinya ke lelaki seram.
William mencoba menjauhkan kepalanya dari lelaki bertato yang kini mengulurkan kedua tangannya dan menangkap kepalanya yang terkurung itu.
William memberontak mencoba melawan sekuat tenaga. Tessa tertawa melihat William tak mampu menandingi kekuatan lelaki bertato.
Sebuah tombol di atas kurungan emas itu ditekan olehnya. Seketika, lampu indikator pada besi emas di sekeliling kepala William menyala terang, begitu menyilaukan seperti pancaran emas.
William spontan memejamkan mata. Ia mengerang karena merasakan kepalanya nyeri hingga membuatnya tak bisa membuka mata.
"William!" teriak Rika panik.
Tessa lalu mengangkat tangan kanan ke atas dan menjentikkan jari. Seketika, bagian depan jeruji besi itu tertutup oleh sebuah kaca besar yang menghalangi suara mereka.
Rika dan orang-orang CIA itu panik. Tangan-tangan mereka yang masih bisa terjulur keluar dari celah-celah besi mencoba memukul kaca itu, tapi sia-sia. Kaca itu tebal. Anti peluru dan meredam suara.
Tessa menoleh ke belakang dan tersenyum manis pada orang-orang itu. Rika dan lainnya tahu jika hal buruk akan terjadi pada William.
"Arrghhh!" teriak William mulai merasakan kepalanya seperti tersetrum hingga membuat seluruh tubuhnya menegang dan berkeringat.
Kawan-kawan William di balik jeruji terus memanggil-manggil namanya. Catherine dan Ara bahkan menangis melihat William meronta kesakitan entah apa yang terjadi padanya.
"Oh, dia kuat sekali. Aku penasaran akan selama apa dia akan bertahan," ucap Tessa dengan seringainya dengan mata melebar.
Lelaki bertato tersenyum miring dan berjalan menuju ke sebuah almari besi yang berada di sana.
__ADS_1
Ia mengambil sebuah alat seperti kacamata selam berwarna silver mengkilat dan membawanya ke hadapan William.
Tessa yang bosan menunggu karena William masih mengerang mencoba melawan reaksi dari alat itu memilih untuk duduk di sofa single warna merah menyala yang ada di sana, sembari melirik jam tangan di tangan kirinya.
Lelaki bertato menunggu dengan sabar di depan William, membawa alat aneh dalam genggaman di depan perutnya.
Hingga akhirnya, William mulai lemas dan tak berteriak lagi. Ia terlihat pucat dan berkeringat hebat.
Lampu yang menyilaukan mata itu padam. William membuka matanya, tapi ia seperti orang linglung. Tessa tersenyum lebar.
"Lakukan," perintah Tessa dengan gerakan dua jarinya.
Lelaki bertato melepaskan kurungan di kepala William dan segera memakaikan kacamata berbentuk seperti scuba.
"Jika 13 Demon Heads memiliki gas halusinasi, kami juga memiliki cara serupa. Hanya saja, kami tak berkeinginan untuk membuatmu mengingat masa lalu, William. Aku memilih, untuk, menyetel ulang isi kepalamu. Hem, kau kini milikku," ucap Tessa penuh penekanan dengan seringainya.
William tertunduk terlihat lemas. Lelaki bertato kemudian menyalakan kacamata silver dan lampu indikator pada bagian depan menyala merah.
Tessa beranjak dari dudukkannya. Ia mendekati William perlahan sembari menarik sebuah pulpen berwarna emas yang ia selipkan pada lekukan dress di belahan dadanya.
Lelaki bertato menyingkir dan kini berdiri di samping William, menatapnya tajam.
Tessa mengarahkan pulpen emas di depan wajah William dengan wajah datar. Seketika, KLIK!
Kepala William langsung terangkat seperti orang terkejut. Tessa tersenyum ketika William kembali menggelengkan kepalanya seperti mencoba melawan efek dari pulpen tersebut.
Tessa menekan ujung pada pulpen emasnya. Nafas William tersengal. Tessa terlihat seperti sedikit kecewa dengan hasilnya. Ia melirik lelaki bertato dan lelaki itu mengeluarkan suntikan dari balik jasnya. Tessa mengangguk.
CLEB!
"Aggg," rintih William saat serum dalam suntikan itu mulai masuk ke dalam tubuhnya.
Ia kembali menekan tombol itu lagi dan William kini terlihat lebih tenang. Tessa tersenyum lebar.
"William Tolya. Your name is William Tolya. Repeat my words," ucap Tessa.
"WIlliam Tolya. My name is William Tolya," jawabnya datar.
Tessa tersenyum lebar.
"Aku bersumpah setia untuk mengabdi kepada No Face, The Cirlce dan Big Mother seumur hidupku. Ulangi."
"Aku bersumpah setia untuk mengabdi kepada No Face, The Cirlce dan Big Mother seumur hidupku," ucap William.
Tessa melirik lelaki bertato dan pria itu pun tersenyum miring.
"Tugasku. Membunuh Antony Boleslav, Adrian Axton, Raja Khrisna, Rika dan ... Sia."
"Tugasku. Membunuh Antony Boleslav, Adrian Axton, Raja Khrisna, Rika dan Sia."
Tessa tersenyum senang memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Ia menahan kegembiraannya karena tak mau William mendengar ucapan yang lain.
Lelaki bertato tersenyum tipis melihat Tessa yang gemas akan aksinya sendiri.
"Tessa Valdiscanosafariva Imelda Flame adalah Tuanku. Ulangi," ucap Tessa tegas.
__ADS_1
"Tessa Valdiscanosafariva Imelda Flame adalah Tuanku."
Tessa kembali tersenyum. "Aku bersumpah melayani Tuanku, Tessa, bahkan rela mati untuknya. Hidupku untuknya."
William mengulang semua ucapan yang Tessa lontarkan padanya dengan tenang dan duduk tegap.
Rika dan lainnya terlihat bingung dengan keadaan ini. Mereka tidak tahu apa yang Tessa lakukan pada William.
Tessa kembali memerintahkan lelaki bertato itu dengan sentakan pada dua jarinya, telunjuk dan jari tengah bersamaan.
Lelaki itu melepaskan kacamata khusus yang berfungsi sebagai alat pencuci otak dari wajah William.
Kaca bagian depan menampilkan cuplikan-cuplikan gambar yang harus William ingat.
Tessa menatap William tajam dan berdiri persis di depannya. William tak mengedipkan mata. Ia duduk diam dengan posisi tegak dan pandangan lurus ke depan, menyorot wajah Tessa.
"Siapa aku?"
"Tessa Valdiscanosafariva Imelda Flame. Anda, Tuanku," ucap William sembari mengedipkan mata sekali.
Tessa tersenyum. Ia kembali memerintahkan lelaki bertato untuk melepaskan belenggu di tangan dan kaki William.
Namun, pria bermata biru itu masih duduk diam tanpa ekspresi padahal ia tak terkurung lagi.
"William, kau kenal wanita tua di sana?" tanya Tessa menunjuk Rika yang berdiri menatap William dengan cemas.
"Rika," jawab William datar. Tessa mengangguk pelan dengan senyuman.
"Kau tahu tugas yang harus kau lakukan?" tanya Tessa menaikkan kedua alisnya.
William mengangguk pelan. Lelaki bertato memberikan pistol padanya. William menerimanya dan segera berdiri.
Ia bagaikan manusia robot. Pandangannya terfokus pada Rika yang kini ada di hadapannya di balik jeruji.
Tessa memberikan kode dengan jentikan jari. Kaca penghalang itu terangkat ke atas. Jack dan lainnya terkejut lalu melangkah mundur.
Namun, Rika tetap berdiri memegang jeruji besi saat William datang padanya dengan pincang karena lukanya belum pulih seutuhnya.
"William kau tak apa. Aku ...."
DOR! DOR! DOR!
"AAAAAA!" teriak Catherine histeris saat melihat William membunuh Ibu angkatnya dengan pistol dalam genggamannya.
Rika roboh seketika dengan mata terbuka. Jack dan dua kawannya shock dengan apa yang mereka lihat. Tubuh Ara sampai gemetaran melihat pembunuhan di depannya.
"Hurray! Good job, William! Kau memang bodyguard kesayanganku," ucap Tessa gembira di kejauhan.
Mulut Catherine, Jack dan Ara sampai menganga lebar melihat Rika tewas tergeletak di atas lantai dengan tiga buah peluru bersangkar di dahi, dada dan perutnya.
William diam saja melihat Rika masih membuka mata seolah menatapnya.
"William. Tugasmu sudah selesai. Kemarilah," panggil Tessa dan William segera berpaling.
Ia berjalan pincang mendekati gadis pirang itu. Lelaki bertato meminta kembali pistolnya dan William menyerahkannya.
__ADS_1
Tessa tersenyum lebar meninggalkan ruangan bersama William dan lelaki bertato.
Rika dibiarkan tergeletak tak bernyawa di dalam jeruji besi sebagai teman tiga kawan William selama tersekap di sana. Jack dan lainnya menangis sedih.