
Di sisi lain.
William kembali ke Virginia bersama agent Cecil. Cecil tahu jika William sedang marah dan kecewa karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Cecil mencoba menengahinya.
"William, kita mau kemana?" tanya Cecil penasaran karena William seperti ingin mengajaknya kembali ke kantor CIA.
"Aku ingin kembali ditugaskan menjadi agent resmi," jawab William cepat.
"Kenapa? Kami lihat pergerakanmu cukup bagus," ucap Cecil menilai.
"Aku ingin melaporkan semua hal yang kutahu pada Rika," jawab William lagi.
"Maaf, Will. Hanya saja, Rika sudah tak aktif di CIA lagi. Ia sudah pensiun," sahut Cecil dan sontak ucapannya itu mengejutkannya.
CITTT!
William mengerem mobilnya dan membuatnya berhenti di tengah jalan karena terkejut.
Cecil lalu meminta William meminggirkan kendaraannya agar tak menghalangi jalan. William mematuhinya dan kini ia menatap Cecil tajam.
"Rika sudah pensiun sejak kau ikut bergabung dengan pasukan khusus. Maaf aku baru mengatakan hal ini padamu. Saat kau memutuskan untuk menyeberang, Rika sudah pensiun hanya saja ia meminta kelonggaran karena ingin memastikan kau memilih jalan yang benar. Namun, usahanya sia-sia, kau tetap mengejar Sia," ucap Cecil menambahkan.
William tertegun dan terlihat seperti kehilangan. Ia tak menyangka jika Rika berbohong padanya.
"Dimana ia sekarang?" tanya William terlihat sedih.
"Montana."
William segera melupakan tujuan awalnya untuk kembali ke CIA. Ia ingin menemui Rika yang sudah ia anggap sebagai ibu semenjak kematian kedua orang tuanya.
Cecil ikut menemani karena ia melihat William yang masih terpuruk.
William melaju mobilnya menuju ke Missoula, salah satu kota di Montana yang masih ditumbuhi banyak pepohonan, sungai dan pengunungan.
Tempat yang cocok untuk menikmati masa pensiun dari hiruk-pikuk padatnya kota metropolitan dan padatnya pekerjaan yang harus Rika jalani selama puluhan tahun di CIA.
32 jam perjalanan tentu saja membuat Cecil lelah. William menyempatkan untuk membawa Cecil beristirahat di hotel.
Cecil tak tahu jika William bekerjasama dengan Axton dan agent muda itu tak ada niatan untuk memberitahukan hal ini pada Cecil ataupun Rika nantinya. Ia akan menyimpan misi terselubungnya itu seorang diri.
Mereka singgah di Wisconsin dan menyewa dua buah kamar pada sebuah hostel untuk menginap semalam.
Mereka akan melanjutkan perjalanan esok hari setelah beristirahat dan membersihkan diri. William mengajak Cecil makan bersama di bar yang berada di dekat hostel.
"Kau tak malu, mengajak seorang nenek ke bar yang berisi anak-anak muda?" ledek Cecil sembari memakan sebuah burrito.
"Aku sudah lama tak ke bar. Walaupun ini bar pinggir jalan, tapi suasananya lumayan," jawab William sembari meneguk gelas beer yang dipenuhi busa dibagian atasnya itu.
__ADS_1
Cecil hanya menghela nafas sembari menghabiskan makanannya itu dengan tenang.
"Setelah bertemu Rika, apa rencanamu selanjutnya, Will?" tanya Rika penasaran.
"Kau sudah pensiun, tapi kenapa masih berkutat dalam dunia ini, Cecil? Apa kau tak jenuh?" tanya William heran.
"Workaholic. Mungkin karena itu aku tak menikah dan memiliki anak, sama seperti Rika. Kami menghabiskan waktu untuk bekerja, mengabdi pada negara hingga kami berdua melupakan tujuan dari sebuah hubungan antar manusia lawan jenis. Saat usia kami sudah senja, kami baru menyadarinya dan itu sudah terlambat. Aku jadi iri pada sahabatku Rose Marlena. Ia menikah dan memiliki anak. Meski pada akhirnya ia meninggal, tapi ia bahagia karena ia memiliki anak yang bukan anak kandungnya, tapi begitu menyayanginya. Itu yang Rika rasakan saat bersamamu, Will," ucap Cecil yang sudah menghabiskan burrito-nya dengan lahap.
"Rose Marlena, anggota dewan? Bukankah ... ia masih hidup dan menjadi anggota dewan senior? Kapan dia meninggal? Apakah ada data terbaru dari para mafia yang belum CIA sampaikan padaku semenjak aku pergi bertugas?" tanya William dengan kening berkerut.
Cecil diam seketika. Ia lupa jika harus merahasiakan tentang meninggalnya Rose Marlena dan William Charles.
Cecil menelan ludah dan segera meneguk beer-nya sampai setengah. William mengunci pandangannya pada Cecil seorang, ia mencurigainya.
"CIA belum tahu ya? Kau menyembunyikan hal ini dari mereka? Apa kau membuat kesepakatan pada para mafia itu tanpa sepengetahuan CIA?" tanya William menebak.
Cecil tersudut. Ia melihat sekitar untuk memastikan tak ada yang mendengar. Ia tak bisa mengelak lagi, Cecil mengangguk.
William terkejut akan pengakuan Cecil yang tak disangkanya. Ia langsung menopang siku kanan di atas meja dengan tangan kanan menutup mulutnya. Ia menatap Cecil seksama.
"Jadi sebenarnya, Rose Marlena sudah tiada? Ia sudah mati? Begitu maksudmu?" tanya William menegaskan tebakannya.
Cecil kembali mengangguk dalam diamnya.
"Ceritakan. Jangan bohongi aku," ucap William memaksa.
Cecil menghela nafas dan akhirnya menceritakan kronologi kenapa ia dan Rika membohongi CIA selama bertahun-tahun tentang kematian Rose Marlena.
William mendengarkan dengan serius cerita Cecil. Ia tak menyangka jika Cecil dulu berteman dengan Rose Marlena saat masih bertugas meski mereka beda agensi.
Ia juga tak menyangka, mafia itu bahkan mengorbankan nyawanya untuk menolong Cecil.
Rika yang juga diampuni nyawanya oleh Vesper kala itu membuat William semakin bingung dengan hal ini, ia pusing seketika.
"Aku mengenal Antony Boleslav, ayah tiri Sia sekarang. Aku juga mengenal Axton. Aku pernah berhadapan dengannya satu lawan satu. Para mafia itu, mereka mungkin kejam dan berhati iblis, tapi yakinlah William. Mereka melakukan kejahatan karena suatu alasan. Mereka mafia terhormat meskipun mereka itu penjahat. Mereka berbeda dengan geng berandalan yang ada di jalanan seperti yang kau dengar diberita-berita. Bahkan level mereka di atas Rio dan Julius Adam, mafia yang pernah berurusan denganmu sebelumnya," ucap Cecil mendetail.
William diam sejenak mencoba membandingkan saat ia bekerja bersama Rio, Axton dan Rahul.
Mereka memang berbeda, tapi tetap saja perilaku tiga orang itu aneh tak seperti orang normal.
"Cecil, apa kau pernah mendengar tentang The Circle?" tanya William mengalihkan pembicaraan.
Namun, pertanyaan William barusan malah membuat Cecil terkejut setengah mati di keramaian.
Ia lalu meminta William untuk segera pergi dari bar itu dan mengajaknya kembali ke hostel. William bingung, tapi pada akhirnya ia menurut karena Cecil mempelototinya tajam.
William melihat Cecil seperti bersiaga menengok ke kanan dan ke kiri memastikan jika mereka tak diikuti.
__ADS_1
Cecil mengajak William masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu dan menutup tirai jendela. William bingung dan duduk di sofa dekat televisi yang dipasang di dinding kamar.
"Kau tahu darimana nama itu?" tanya Cecil sembari melepaskan mantel dan meletakkan dompet di atas kasur.
"Amm ... itu ...."
"Axton yang memberi tahumu?" tanya Cecil menebak.
Wiliam menelan ludah. Ia diam sebentar mencoba mencari alibi.
"Bukan, dari mereka sendiri," jawab William memulai dramanya.
"Apa maksudmu dari mereka sendiri? Kau bertemu dengan komplotan itu?"
"Yes. Aku bertemu dengan mereka saat aku kalah melawan anak Vesper yang bernama Arjuna. Aku menyusuri pantai untuk kembali ke mansion Axton mengambil mobilku, tapi aku malah dicegat oleh The Circle itu. Mereka mengajakku bergabung. Di sanalah aku tahu tentang The Circle," ucap William mulai bercerita yang kali ini benar adanya.
"Lalu?" tanya Cecil yang kini mendekatkan diri pada William dan menatapnya tajam.
"Aku tak kenal kelompok itu dan akhirnya aku kabur dari kejaran mereka. Aku tak sengaja bertemu Rahul salah satu anak dari anggota 13 Demon Heads, Raja Khisna dan malah menjadikanku salah satu bodyguard-nya," jawab William menambahkan.
Cecil tak menyangka jika akan menjadi serumit ini. Ia terlihat berpikir dan William menatapnya seksama.
"Dengar William, ini rahasia. Akan ku katakan padamu yang ku ketahui tentang The Circle dan aku ingin kau juga menghancurkan mereka," ucap Cecil menatap William tajam.
William terkejut karena ternyata CIA juga menginginkan agar The Circle dilenyapkan, sama seperti permintaan Axton anggota 13 Demon Heads.
"Dulu memang The Circle adalah bagian terkelam dari dunia militer. Namun, kami mampu mengendalikan mereka. The Circle menjadi pembunuh bayaran militer seperti tentara bayaran. Kami membayar mereka dan memfasilitasi seluruh misi untuk melenyapkan para mafia. Hanya saja, terjadi pemberontakan dan pada akhirnya The Circle menghianati kami. Awalnya kami mengira jika kamilah yang memanfaatkan mereka, tapi pada kenyataannya kami malah dimanfaatkan. Sungguh memalukan," kekeh Cecil yang mengakui kebodohan para militer gabungan yang merekrut The Circle.
William mendengarkan dengan serius ucapan Cecil yang sungguh mengejutkannya ini.
"Dan yah, begitulah. The Circle malah mengabaikan misi dan menghilang dari pantauan kami. Kami merasa jika keberadaan The Circle sampai terungkap pada publik, akan menimbulkan kerusuhan di dunia. Mereka ini penjahat meski dulunya pemimpin mereka ini mantan militer, sama seperti para anggota 13 Demon Heads. Lucifer nama pemimpin The Circle. Namun, ia sudah tewas dan kini tahtanya turun pada 8 Mens. 8 lelaki terkuat dengan sebutan para D yang berarti, 8 anak Lucifer Flame yang memiliki nama dengan huruf depan D dan bermarga Flame," imbuh Cecil panjang lebar yang mulai pusing mengingat akan hal tersebut.
"Sekarang, The Circle buronan militer sama seperti 13 Demon Heads?" tanya William memastikan.
"Yes," jawab Cecil tegas.
Kini semua sudah terlihat jelas bagi William. Sia yang ditembak saat itu membuat William yakin jika ulah The Circle yang ingin membinasakan 13 Demon Heads.
Sedang ia ditugaskan oleh CIA untuk menghabisi para anggota dewan terutama lelaki bernama Antony Boleslav.
Hanya saja menurut pemikiran William, dari sisi ini para anggota dewan 13 Demon Heads yang tersudut karena diserang oleh dua pihak sekaligus, The Circle dan militer.
William berpikir jika nanti kerajaan 13 Demon Heads runtuh, perang terakhir adalah antara The Circle dan militer.
Namun, jika itu terjadi bukan kedamaian yang akan tercipta malah petaka berkelanjutan karena ia sudah pernah merasakan hidup di kalangan mafia.
William tahu bagaimana mereka menyelesaikan persoalan-persolaan ini.
__ADS_1
William kembali teringat akan Sia kekasih yang masih dicintainya meski tak dapat dipungkiri jika ia masih sakit hati karenanya.
Namun, William khawatir jika Sia diincar dan ia dalam bahaya mengingat latar belakang The Circle seperti gabungan antara militer dan mafia.