
. "Tio... aku haus. Bisakah kau mengambilkan air untukku?" Tio berdecih karena tak suka ada yang memerintahnya.
Meski begitu, Tio tetap pergi. Setelah memastikan Tio jauh, Dimas duduk disamping Arisa yang masih terbaring.
"Berapa lama kau menangis? Dan mau sampai kapan kau akan menutupi tentang itu. Aku muak Aris.. aku muak melihatmu yang terus berusaha terlihat kuat dan baik-baik saja didepan keluargamu." Dimas mengacak kasar rambutnya.
"Mengapa kau kesal? Bahkan aku matipun tidak akan ada yang peduli." Ucap Arisa tanpa memalingkan pandangannya.
"Aku... aku yang takut jika itu terjadi. Aku tak ingin kehilanganmu, aku sudah cukup kesepian saat Rama pergi. Apa jadinya jika kau juga pergi." Ucap Dimas menatap lekat apa yang didepannya.
"Aku lebih senang jika bertemu dengan Rama secepatnya." Lirih Arisa yang samar namun masih terdengar oleh Dimas.
"Aku juga bisa menangis jika berhadapan dengan kehilangan." Ucap Dimas.
"Aku tidak berharap kematianku ditangisi semua orang Dimas..." Arisa beranjak dan duduk bersandar.
"Kondisimu melemah." Lirih Dimas yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tak apa... aku menerimanya." Arisa tersenyum hangat seakan tak ada beban dipundaknya. Dan seakan tak ada penyakit yang mematikan ditubuhnya. Kanker hati bukanlah penyakit yang bisa disepelekan. Apalagi jika sudah stadium 3. Namun berbeda untuk Arisa, ia menganggap penyakit itu sebagai jalannya untuk segera bertemu dengan Rama.
. Tio kembali dengan membawa segelas air dan memberikan pada Dimas.
"Terimakasih kakak" Dimas terkekeh ketika melihat ekspresi Tio yang kesal karenanya.
"Kau belum menjelaskannya padaku. Aku tahu ada yang janggal disini." Ucap Tio yang bersandar dimeja rias Arisa. Dimas melirik Arisa yang terlihat santai.
"Biar aku yang memberitahunya." Ucap Arisa tersenyum tipis. Dimas tidak menanggapi dan beranjak berlalu setelah meneguk air ditangannya. Dan meletakkan beberapa obat dimeja.
. Tio mengantar Dimas sampai didepan rumah, menatap mobil Dimas yang semakin menjauh dari kediamannya.
Setelah memastikan Dimas melewati pintu gerbang, Tio kembali kekamar Arisa.
Terlihat Arisa yang tertidur lelap saat Tio membuka pintu. Niatnya untuk menanyakan perihal apa yang mengganjal dihatinya urung begitu saja, dan Tio kembali menutup pintu. Tio memasuki kamarnya dan terduduk dimeja kerjanya.
"Rama... semoga kau tenang disana meskipun disini Arisa sangat kesepian tanpamu." Lirih Tio menunduk dimeja ditumpu kedua tangannya.
. Keesokan harinya, Arisa perlahan menuruni tangga. Tidak biasanya, kini lututnya terasa lemas dan gemetaran.
"Kau mau kuliah?" Tanya Tio yang keluar dari kamarnya dengan stelan yang sudah rapi. Arisa hanya mengangguk menanggapi.
"Apa kau sudah benar-benar sehat?" Arisa kembali mengangguk.
"Kakak antarkan." Tio menutup pintu dan berjalan beriringan dengan Arisa. Langkah Arisa terhenti diruang tamu.
"Ada apa?" Tanya Tio heran.
"Kenapa hari ini bibi tidak membangunkanku dan tidak menyuruhku sarapan? Apa dia bosan karena aku selalu menolak?" Tanya Arisa dengan wajah polos menatap Tio yang terdiam lalu tersenyum melihat tingkah adiknya yang masih ada sisi kekanak-kanakan.
"Hemmmm jadi selama ini kau selalu menunggu orang untuk mengajakmu makan?" Ejek Tio. Arisa menunduk tanpa menjawab pertanyaan Tio. "Mungkin bibi sedang sibuk. Jadi tak sempat membangunkanmu." Lanjut Tio mengusap lembut kepala Arisa yang mengangguk menanggapinya.
Tio mengantarkan Arisa yang jelas masih lemah. Namun Tio tahu apa yang dirasakan Arisa saat ini. Rasa bosan dan kesepian jika terus berada dirumah. Ditambah pertanyaan tentang kondisi Arisa terus muncul dikepala Tio.
"Kakak tidak sarapan?" Tanya Arisa membuyarkan lamunan Tio yang tetap fokus menyetir.
"Kakak sarapan dikantor." Jawab Tio, dan lagi-lagi Arisa hanya mengangguk. "Atau kau mau sarapan dengan kakak?" Arisa tidak menjawab ataupun menanggapi.
"Baiklah jika kau tidak mau...." lanjut Tio menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Terserah kakak." Ucap Arisa memalingkan pandangannya.
"Yasudah..." Tio tersenyum.
. Sampai disebuah kedai, Tio turun lebih dulu, diikuti Arisa.
"Karena lambungmu sering kambuh, kita sarapan bubur ya?" Tanya Tio kemudian memesan 2 porsi, dan duduk disalah satu meja.
"Jika kau tidak keberatan, kakak ingin tahu apa yang kau sembunyikan dengan Dimas tentang kondisimu." Ucap Tio dengan wajah khawatir. Arisa terdiam, batinnya merasa bahwa kak Tio sudah mulai curiga dengan penyakitnya.
"Ak-aku...."
"Pesanan mas dan nona sudah siap." Ucap pelayan dengan ramah meletakan pesanan dimeja.
"Tepat waktu." Batin Arisa tersenyum ramah.
Arisa melahap bubur yang ada dimangkuknya.
"Sepertinya punya kakak lebih enak." Ucap Arisa melirik mangkuk Tio.
"Kau mau tukar?" Arisa mengangguk antusias dan menukarkan kedua mangkuk itu, lalu melahap lagi.
"Tapi... sama saja." Ucap Arisa melirik Tio yang terdiam menatapnya.
"Tak mungkin aku merusak suasana hatinya yang sekarang sedang baik." Batin Tio yang tersenyum melihat Arisa yang berbeda dari biasanya.
"Kakak yang mengajakku kesini, tapi mengapa kakak tidak makan?" Rajuk Arisa terlihat tak berselera ketika melihat Tio yang hanya terdiam. "Apa kakak mau aku suapi?" Arisa menyodorkan sendok yang berisi bubur pada Tio. Dan Tio menggeleng lalu melahap dari tangan adik kesayangannya. Tio berharap Arisa selalu ceria seperti pagi ini.
. Dari sebrang, seorang gadis menatap nanar kekedai disebrangnya. Melihat adegan Kakak beradik yang sangat romantis. Rasa iri dihatinya mulai terasa sesak. Namun rasa itu hilang, ketika mengingat kembali bahwa saudari kembarnya lebih iri ketika melihatnya bersama ibu yang memperhatikan mereka dengan berbeda.
*kampus Xxx
. Arisa turun dari mobil dan memasuki gerbang kampus.
Dikoridor, Arisa melihat Rayyan yang berjalan berlawanan arah dengannya. Arisa tersenyum membuat jantung Rayyan tiba-tiba berdegup keras.
Senyumannya sangat manis, meskipun wajahnya sama dengan Raisa, namun senyuman Arisa sangat berbeda dari Raisa.
"Sepertinya kau sudah baik-baik saja." Ucap Rayyan ketika mereka tepat saling berhadapan.
"Apa Seina baik-baik saja?" Tanya Arisa menatap Rayyan.
"Apa sudah kebiasaanmu? Kau selalu balik bertanya tanpa menjawab terlebih dulu pertanyaanku." Ucap Rayyan dengan nada dingin.
"Aku baik-baik saja. Dan bagaimana dengan Seina?"
"Dia selalu menanyakanmu. Merengek ingin pulang dan bertemu denganmu." Jawab Rayyan.
"Aku?" Arisa menunjuk dirinya sendiri.
"Bisakah kau menemuinya sebentar?" Tanya Rayyan ragu memalingkan wajahnya.
"Apa seperti ini caramu membujuk seseorang?" Rayyan menoleh dan menatap Arisa kala mendengar pertanyaan dari Arisa. "Baiklah... aku akan menemuinya setelah kelas selesai." Lanjut Arisa yang melangkah meninggalkan Rayyan.
. Dari jauh, seorang dosen yang tak luput dari pandangan gadis-gadis dikampus, menatap lekat kedua mahasiswa yang baru saja berpisah.
"Arisa.... jika kau mampu membuka hati untuk Rayyan, dan sebaliknya, Rayyan mampu membuka hati untukmu, aku orang pertama yang akan merasa bahagia." Batin Seno yang berbalik memasuki ruangannya.
__ADS_1
Seno mengetahui kesedihan Arisa saat kehilangan Rama. Dan Rayyan yang sangat tidak ingin berurusan dengan perempuan karena Rayyan menganggap semua perempuan yang menyukainya hanya karena rupa dan harta. Tapi berbeda dengan Arisa yang tak pernah mempedulikan hal itu.
. Dirumah, bibi merasa bahwa dirinya sangat tega membiarkan Arisa kembali kesepian. Bibi tahu, jika tak ada dirinya, Arisa selalu merasa terpuruk. Tak ada tempat berbagi cerita, kesedihan, ataupun rasa ingin mengakhiri hidupnya. Itu benar-benar sebuah hal sulit yang mustahil dilakukan bi Ina. Rasa sayangnya pada Arisa tidak main-main, mengingat ia yang mengurus semua tentang Arisa.
"Maafkan bibi non." Batin bi Ina menitikkan airmata.
"Bi? Bibi menangis?" tanya salah satu pelayan yang berada disampingnya.
"Ahhh tidak... hanya teringat orang dikampung saja." Jawab bi Ina tersenyum dan mengusap kelopak matanya menutupi kebenaran bahwa dirinya harus menjauhi Arisa.
*kampus Yyy.
. Raisa duduk dibangku kesayangannya dengan menundukan kepala dimeja.
Suara langkah kaki terdengar mendekatinya, dan benar saja, seseorang berhenti disamping bangkunya.
Raisa menolehkan kepalanya menjadi miring "siapa?" Batinnya.
"Hei kakak ipar. Kau terlihat tak bersemangat." Ucap Daffa membuat Raisa menoleh keatas memastikan bahwa dugaannya benar.
"Ada apa?" Tanya Raisa masih tetap dengan posisinya.
"Bagaimana? Apa Arisa menerimanya?" Tanya Daffa dengan mata berbinar.
"Emmmmm sepertinya begitu." Jawab Raisa yang tanpa ekspresi.
"Ada apa denganmu? Ayolah..... jangan seperti orang yang putus asa." Ucap Daffa memberi semangat.
"Aku tak tahu ini putus asa atau bukan, tapi yang jelas aku sedang tak ingin hidup, dan matipun enggan." Batin Raisa.
"Haihhh ya sudah.. maaf jika mengganggu. Aku pergi dulu... dan terimakasih sudah membantuku kemarin." Ucap Daffa tulus membuat Raisa terbangun seakan tak mengenali Daffa secara mendadak. Daffa terlihat lebih dewasa saat ini. Tapi Raisa masih belum mempercayai apakah Daffa benar-benar menyukai dengan tulus pada Arisa atau tidak.
"Jika kau serius pada Arisa, berikan bukti agar aku bisa mempercayaimu. Dan jika itu terbukti, aku harap kau bisa membuatnya bahagia." Lirih Raisa memalingkan wajahnya.
Daffa hanya tersenyum menanggapi, lalu pergi berlalu dibalik pintu.
"Senyummu tidak lucu Daf." Gumam Raisa pelan dengan ekspresi dingin dan kesal.
Raisa kesal karena Daffa yang tidak meyakinkannya, atau karena mengingat kakak sulungnya lebih dekat dengan Arisa. Bahkan keduanya seperti sepasang kekasih jika dilihat dari jauh. Sangat romantis, hangat, dan penuh kebahagiaan. Raisa berdecih ketika mengetahui tanda kelas sudah dimulai.
*kampus Xxx.
. Rayyan duduk bersandar dibangkunya, menoleh pada gadis yang baru saja memasuki kelas. Tatapannya dingin, sangat berbeda dari saat bertemu dengannya pagi tadi.
Arisa duduk, kemudian Rayyan mendekatkan wajahnya pada rambut Arisa.
"Aku lebih suka saat kau tersenyum seperti tadi." Bisik Rayyan membuat Arisa terdiam. Teringat satu kalimat yang sama persis seperti yang Rayyan katakan. Tidak salah lagi, Rama mengatakan hal serupa 2 tahun yang lalu saat keduanya masih bersama.
Dan entah kenapa hatinya terasa sedikit senang, Arisa merasa ada sosok Rama dibelakangnya.
"Aku juga lebih menyukaimu saat tersenyum." Balas Arisa pelan namun masih terdengar oleh Rayyan.
Rayyan tersenyum dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Benarkah? Seperti ini?" Tanya Rayyan membuat Arisa berbalik mendapati Rayyan yang tersenyum. Tatapan hangat keduanya bertemu.
-bersambung.
__ADS_1