
. Arisa beranjak dari duduknya, ia menyeka air mata yang hampir membuat pipinya basah.
"Nak... Aris. Maafkan ayah. Ayah kira kamu tidak mau lagi bertemu dengan ayah." Ucap Yugito menahan kepergian Arisa. Ia beranjak dan mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Seketika Yugito memegangi dadanya karena denyutan yang membuatnya meringis kesakitan.
"Aris... tunggu nak. Dengarkan ayah dulu." Dan, akhirnya Arisa terhenti meskipun tidak langsung berbalik menghadap Yugito.
"Apa lagi yang harus Aris dengar? Memang dari dulu ayah dan mama hanya menyayangi Rais saja. Saat Rais sakit, kalian sangat perhatian padanya, bahkan sampai mati-matian menyembuhkannya. Tapi, saat Aris yang sakit, kalian tidak percaya. Ayah dan mama hanya berpikir Aris ini kuat." Pecah sudah tangis Arisa yang ia tahan sejak tadi. Pikirnya, Yugito benar-benar merindukannya, dan itulah kenapa ia bersedia menemui Yugito sekali lagi. Namun ternyata, yang ada di pikiran Yugito hanyalah Raisa saja. Arisa kembali melangkah dan segera meraih gagang pintu yang masih tertutup rapat.
"Aris harap, ayah tidak pernah lagi menemui bunda." Ucapnya sebelum membuka pintu dan berlalu keluar ruangan. Yugito menghela nafas dalam sambil terengah memegangi dadanya. Rasanya semakin sesak mendapati Arisa yang kembali kecewa karena kesalah fahamannya.
"Aris... kau salah faham. Ayah tak pernah mengabaikanmu..." lirih Yugito tak bisa menahan kesedihannya.
. "Aris.. kenapa kau menangis?" Tanya Tio dengan khawatir dan segera meraih Arisa. "Apa ayah baik-baik saja?" Tanya Tio kemudian.
"Hatiku yang tak baik-baik saja kak." Jawabnya membentak sambil menepis tangan Tio.
"Kakak bilang ayah sakit karena merindukanku. Tapi nyatanya, aku ada didepan ayah saja, ayah hanya melihat Rais." Lanjutnya terus menggerutu kesal.
"Mungkin karena kalian mirip. Wajar saja ayah terkecoh. Kalian itu kembar identik, jadi sangat terlihat sama." Tio berusaha mencoba menenangkan amarah Arisa yang mulai meluap.
"Tidak. Aku dan Rais tak sama. Kita berbeda. Dari segi wajah, penampilan, semuanya berbeda. Sangat berbeda. Dia lebih segalanya dari pada aku." Jawab Arisa masih dengan nada yang keras.
"Nona maaf. Bisa kecilkan suara anda?" Tegur seorang perawat yang kebetulan berjalan melewati mereka. Dan Arisa hanya memalingkan wajahnya.
"Maaf sus." Ujar Reza tersenyum ramah. Senyum itu seketika pudar ketika si perawat beranjak semakin menjauh dari mereka.
"Risa..." Rayyan terdiam seketika saat melihat Arisa yang jelas tak menghiraukan keberadaannya.
"Jangan samakan aku dengan Rais. Kita berbeda, kita tak sama. Berapa kali aku tegaskan kalau aku tidak suka di bandingkan dengan Rais, apalagi di samakan." Tutur Arisa kembali.
"Aris..."
"Aris pamit, dan Aris harap kakak tidak lagi menggangguku dan bunda. Sebelum itu, kakak minta maaf dulu pada kak Reza." Ucap Arisa menyela cepat. Tio hanya terdiam tak menanggapi apapun. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas berat menyikapi Arisa.
"Lakukan saja sesukamu. Tapi jangan harap aku akan meminta maaf padanya." Balas Tio.
"Sudah Put. Jangan memaksanya. Aku baik-baik saja." Ucap Reza meyakinkan namun malah membuat Arisa semakin kesal.
"Nah.. kau dengar kan? Dia baik-baik saja." Timpal Tio.
"Baik-baik saja bagaimana? Kau lihat wajahnya lebam karena pukulanmu." Tio ternganga mendengar ucapan Arisa yang membalasnya dengan lantang.
"Ohhh kau semakin kurang ajar ternyata hah. Bukan ingatanmu saja yang hilang, otakmu juga ikutan hilang." Tio menyentil gemas dahi Arisa hingga Arisa sendiri sedikit terdorong.
"Ihhh sakit. Dasar tukang siksa." Cetusnya menggerutu sendiri.
__ADS_1
Ditengah candaan kakak beradik itu, terdengar ponsel Tio berbunyi. Ia segera meraih benda canggih itu dari saku celananya.
"Aku akan kesana sekarang." Ucap Tio setelah ia diam beberapa saat. Tak berselang lama, kini giliran ponsel Arisa yang berbunyi. Tertera nomor tak di kenal terpampang jelas dilayar ponselnya. Dengan cepat, Arisa memberikan ponsel miliknya pada Reza. Karena sudah terbiasa, Reza dengan santai menjawab panggilan tanpa menyapa.
"Maaf salah sambung." Ucapnya setelah mendengarkan ucapan seseorang dari seberang. Kemudian Reza menekan tombol merah tanda mematikan panggilan.
"Siapa?" Tanya Arisa sedikit berbisik.
"Bukan siapa-siapa. Hanya penggemarmu." Jawab Reza dengan nada datar. Tak berselang lama, ketika Rayyan hendak memanggil Arisa kembali, ponsel Arisa lagi-lagi berbunyi.
"Kak Reza...." rengek Arisa sambil memberikan ponselnya.
"Ishhh apa lagi?" Delik Reza dan langsung mengambil ponsel dari tangan Arisa. Dengan menghela nafas berat, Reza kembali menjawab panggilan.
"Sudah ku bilang kau salah sambung."
"Benarkah? Tapi nomor ini tertera pada data pribadi adikmu." Reza terbelalak mendengar suara yang berbeda dari penelepon sebelumnya.
"Ahhhh keceplosan. Maaf. Bawahanku terlalu jauh mencari tahu tentang adikmu yang cantik itu." Lanjutnya membuat Reza semakin terkejut. Bagaimana bisa data pribadi Arisa yang terhitung bersifat rahasia kini ada yang mengetahui.
"Apa maumu?" Tanya Reza merubah raut wajahnya, hal itu membuat Tio penasaran dan sekaligus heran akan sikap Reza yang tiba-tiba berbeda.
"Aku hanya ingin bicara pada adikmu saja." Jawabnya terdengar begitu santai.
"Putri tidak ada. Ponselnya aku yang bawa." Tegas Reza kemudian.
"Kau pikir kau siapa berani mengajak adikku makan malam?" Pertanyaan itu cukup membuat Rayyan dan Tio terkejut. Dibenak mereka pun sama bertanya siapa yang berani mengajak Arisa makan malam. Jika bukan pacar yang dimaksud oleh Arisa sendiri.
"Haihhh ya sudah. Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya pada nona Putri Fandhiya langsung." Ucap Rega lagi. Reza hanya berdecih kemudian menutup sambungan teleponnya. Tatapannya pada Arisa berubah tajam seakan sedang menekan Arisa.
"Apa-apaan tatapanmu itu?" Tio melempar tatapan tajamnya pada Reza yang masih menatap Arisa. Ia merasa tidak rela jika adik kesayangannya mendapati tatapan yang membuatnya merasa kesal.
"Sudah kakak bilang jangan berhubungan dengan direktur perusahaan Mega." Ucap Reza mendelik kesal.
"Siapa yang berhubungan dengannya? Bukankah kakak dan kak Zain sendiri yang menolak undangan makan malamnya?" Balas Arisa membela dirinya.
"Tapi dia bilang kau membuat janji dengannya malam minggu ini."
"Tidak. Aku tidak mengajaknya. Aku hanya membuat janji dengan pria yang ku temui di taman saja."
"Aishhh kenapa kau tidak pernah mendengar ucapanku. Berapa kali aku bilang, jangan mudah membuat janji pertemuan dengan orang asing."
"Tapi dia orang baik."
"Kau ini selalu saja menjawab. Siapa yang mengajarimu?" Sontak, Arisa menunjuk Tio dengan wajah polos. Reza hanya melirik sesaat karena tatapan Tio sangatlah menusuk baginya.
__ADS_1
"Kali ini aku setuju dengan orang ini." Ucap Tio menunjuk Reza dengan pandangan yang mengarah pada Arisa. "Jika bukan Rayyan, aku tak akan mengizinkan mu keluar malam dengan seorang pria." Lanjut Tio membuat mata Arisa membulat. Kemudian ia menoleh pada Rayyan yang tersenyum penuh kemenangan.
"Dia bukan orang jahat. Aku melihatnya sendiri. Dia orangnya lembut, dan...." sengaja Arisa tak melanjutkan celotehannya, karena ia belum tahu persis tentang pria yang ia temui ditaman tempo hari.
"Kau mau beralasan apa lagi?" Tanya Reza menyela.
"Itu bukan alasan. Aku benar-benar melihatnya sebagai orang baik." Jawab Arisa dengan serius meyakinkan kedua kakaknya.
"Kenapa kau bersikeras menyebut orang asing itu baik?" Kini giliran Tio yang bertanya.
"Tatapannya. Tatapan sayu sepertinya meneduhkan siapapun yang melihatnya, jelas dia menyimpan kebaikan yang tak ingin orang lain tahu. Dia juga terlihat kesepian, sepertiku." Jawab Arisa kali ini membuat Tio diam.
"Siapa namanya?" Tanya Tio setelah hening beberapa saat.
"Rega." Jawab Arisa masih memasang wajah polos.
"Apa?" Pekik Reza kemudian dengan cepat Arisa membungkam mulutnya dengan panik.
"Sut... kakak lupa ini di rumah sakit?" Bisik Arisa tersenyum konyol pada Tio. Reza melepas paksa tangan Arisa dan ia melirik Arisa dengan sinis.
"Jauhi dia. Jika kau mendengar namanya, jangan di dengar. Apa lagi jika kau bertemu, aku tak akan tinggal diam." Tegas Reza menekankan kata-katanya menjadi sebuah ancaman.
"Kakak mengenalnya? Apa dia teman kakak? Hemmm tapi sepertinya bukan. Aihhh padahal dia tampan." Cetusnya membuat Rayyan terbelalak. Ia merasa sakit hati saat Arisa memuji pria lain tepat di hadapannya. Rayyan semakin penasaran siapa Rega dan bagaimana orangnya. Rayyan merogoh celananya, ia mengambil ponsel dan mengetik beberapa kalimat pada teman sekaligus asistennya.
"Cari tahu orang yang bernama Rega!" Setelah mengetik kalimat perintah, Rayyan langsung mengirimkannya pada Daffa. Matanya membulat saat mendapati balasan singkat dari Daffa yang tak lain "banyak".
Rayyan memaki Daffa dalam hatinya dengan sikap kesal yang jelas ditunjukkan di muka umum. Sontak orang-orang yang ada di sekelilingnya pun menoleh dan menatap datar ke arahnya.
"Kau kenapa? Cemburu?" Tanya Tio semakin tajam melirik Rayyan yang langsung salah tingkah dibuatnya.
"Yang di cemburui nya saja acuh tak acuh." Jawabnya dengan santai.
"Aris... kakak ada urusan, kakak sarankan sebelum kau kembali ke Bandung, temui ayah dulu. Dan bicaralah baik-baik tanpa ada kesalah fahaman. Aku tidak berbohong bahwa ayah sangat merindukanmu." Tutur Tio beralih mengusap kepala Arisa dengan lembut. Tanpa menunggu jawaban, Tio segera berlalu karena tuntutan waktu dan pekerjaan. Arisa hanya memalingkan pandangannya dengan tatapan yang sayu.
"Aku temani." Ucap Reza menepuk bahu Arisa pelan.
"Risa..." panggil Rayyan menolehkan pandangan Arisa. "Apa kau tak sedikitpun ingin dengar penjelasanku?"
"Penjelasan apa lagi? Bukankah kau membenciku?" Balas Arisa dengan melempar sebuah pertanyaan.
"Kenapa kau hobi sekali membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi?"
"Sudahlah Aray. Aku sibuk sekarang. Jadwalku padat." Elak Arisa.
"Baiklah. Jika memang sudah ada penggantiku, salam untuk kekasihmu." Tutur Rayyan terdengar begitu sendu.
__ADS_1
"Percuma aku mencintaimu, tapi kau sendiri mencintai orang lain." Batin Rayyan menatap nanar kepergian Arisa dari hadapannya.
-bersambung.