TAK SAMA

TAK SAMA
93


__ADS_3

. Rayyan menatap semakin tajam membuat Arisa sedikit menciut, dan seketika ia mengingat tatapan itu dengan latar kampus yang di tunjukan oleh Reza tempo hari.


"Apa maksudmu?" Tanyanya setengah berteriak.


"A-aku tidak mengenalmu." Jawab Arisa membuat Rayyan semakin tak percaya.


"Jangan bercanda Risa. Aku memang menyakiti hatimu, tapi apa harus dengan berpura-pura melupakanku? Padahal pada Rama kau tidak seperti ini."


"Rama? Siapa dia? Kenapa kalian terus menyebut nama itu? Sudah ku bilang aku tidak ingat. Aku sendiri saja ingin tahu pada pemilik nama Tio. Siapa dia dan apa hubungannya denganku? Kenapa saat aku bangun, hanya nama itu yang aku ingat? Bahkan namaku sendiri saja aku tidak ingat. Jika bukan karena kakak dan bunda yang memberitahu namaku, mungkin sekarang aku tak menyadari bahwa kalian mengenalku di masa lalu. Dan sekarang, katakan! Apa hubunganmu denganku?" Arisa mencengkram jas Rayyan dengan tatapan tajam dan terlihat sebuah rasa ingin tahu dari sorot matanya.


"Risa... kenapa? Kenapa kau tidak mengingatku?" Rayyan tak kalah dingin menatap pada Arisa dengan meraih tangan Arisa yang begitu kuat mencengkram jas nya. "Risa... apa sedikit saja kau bisa mengingat tentangku? Kenangan kita? Apa tak sedikitpun terlintas di benakmu bahwa aku begitu mencintaimu? Bukankah kau juga sama? Kau pergi karena kau tak bisa menerima kenyataan bahwa aku dan Raisa akan menikah kan? Jawab!" Tegas Rayyan memberikan pertanyaan beruntun. Mendengar suara Rayyan yang setengah berteriak, Arisa memejamkan matanya lalu kembali menatap tajam pada Rayyan.


"Jika kau menikah dengan orang lain, kenapa kau bersikeras mencariku? Mungkin ini alasan aku pergi dan amnesia ini juga yang aku inginkan saat itu. Aku jadi merasa bersyukur karena melupakan orang sepertimu." Balas Arisa membuat Rayyan membalas tatapannya tak kalah tajam.


"Jika memang kau bersyukur melupakanku, lalu apa yang mengalir deras di pipimu itu? Bukankah kau tak ingin peduli lagi? Katakan kau masih mencintaiku Risa."


"Aku bukan Risa. Aku Putri."


"Iya kau Putri. Arisa Fandhiya Putri. Calon menantu resmi keluarga Pratama yang terpilih."


"Apa buktinya?" Mendengar pertanyaan itu, Rayyan tertawa lalu menunjuk kalung yang dipakai Arisa sekarang.


"Ini. Ini buktinya. Ini adalah kalung yang di berikan dari keluargaku untuk menantu terpilih yang istimewa. Dan kau orangnya. Dengan artinya, kau adalah calon istriku. Dan itu tidak bisa di ganggu gugat." Jelas Rayyan. Dan lagi-lagi memori hitam putih membuat kepalanya kembali sakit. Ingatan itu seperti sebuah video yang diputar cepat, hingga ia tak bisa menangkap satu saja momen untuk sekedar di ingat lebih teliti. Melihat Arisa terhuyung, Rayyan dengan sigap membawa Arisa di pangkuannya. Zain hendak menghampiri, namun Reza lebih cepat menahannya agar tidak ikut campur.


"Bawa ke ruanganku saja." Ucap Reza saat Rayyan hendak melangkah.


. Tak berselang lama, setelah para pemuda itu membawa Arisa ke ruangan Reza, seorang gadis yang begitu anggun dengan kaca mata hitam dengan wajah yang tak asing berjalan memasuki loby perusahaan. Ia dengan mudah masuk setelah memperlihatkan kartu identitasnya dari perusahaan Artaris.


"Bu Putri? Bukankah anda..." belum sempat Rina menyelesaikan pertanyaannya, ia tiba-tiba tersadar bahwa yang didepannya bukanlah Arisa.


"Maaf saya salah orang. Saya kira anda bu Putri. Karena kalian sangat mirip." Ucap Rina menunduk sopan. Raisa hanya tersenyum lalu membuka kaca mata hitamnya dan mengangguk tak kalah sopan.


"Aku memang saudari kembarnya." Jawab Raisa dengan menahan embun di kelopak matanya agar tak terjatuh didepan orang lain.


Saat ia kembali berjalan dan hendak meraih tombol lift, sebuah tangan menghalangi pergerakannya. Ia kemudian menoleh pada siapa yang berani mengusiknya.


"Wahhh menakjubkan. Cepat sekali kau berganti baju. Kau lihat? Aku menang taruhannya kan? Sekali pelacur, kau tetap pelacur." Raisa menyernyit mendapati makian tiba-tiba dari orang asing yang baru ia temui disini.

__ADS_1


"Maaf?"


"Apa? Barusan kau bilang maaf? Haha kau bersikap manis di depanku? Kenapa? Kau mengaku kalah?"


"Maaf nona. Saya tidak mengenal anda." Tegas Raisa merubah raut wajahnya menjadi geram dan tatapannya begitu tajam.


"Hei Putri. Trik ini tak akan mempan padaku. Kau kehilangan ingatan pun sejujurnya aku tak percaya. Dan sekarang, kau pura-pura tidak mengenalku? Sungguh tidak lucu."


"Silahkan anda berasumsi apapun saya tidak peduli. Tapi ingat satu hal. Jangan pernah mengusik hidup saya! Atau anda akan tahu akibatnya!" Vera terbelalak, dan kemudian ia tersenyum sinis.


"Apa tidak ada ancaman lain? sebelumnya kau mengancamku seperti ini, dan sekarang.... haihhh pelacur memang aneh."


"Jaga mulut busukmu itu. Sebelum aku marah, sebaiknya kau enyah dari hadapanku."


"Wahhh pelacur bisa marah?" Mendengar cacian menyakitkan itu, Raisa menghempaskan tubuh Vera hingga terjatuh ke lantai. Sebenarnya ia tak merasa sakit hati karena makian itu, namun Raisa tahu bahwa kata-kata menyakitkan yang di lontarkan Vera adalah untuk Arisa.


Dan di waktu yang sama, Zain bergegas kembali ke lantai satu untuk memastikan laporan petugas keamanan tentang keributan yang terjadi di dekat lift.


Vera berteriak kemudian bangkit dan menampar keras pipi Raisa hingga Raisa sendiri menoleh kasar dan rambutnya berantakan akibat tamparan itu.


Kemudian, sebuah tangan kekar dengan paksa meraih tangan Raisa yang begitu kuat mencengkram rambut Vera. Terlihat Vera sudah menangis kesakitan sambil memegangi tangan Raisa. Yang dirasakan Vera, kekuatannya lebih besar dari Arisa dulu.


"Nona mohon lepaskan." Ucap Zain membuat Vera terdiam. Apa dia salah orang? Mengapa Zain memanggilnya nona? Tapi yang Vera tahu, gadis ini adalah gadis yang beberapa saat berdebat dengannya di toilet. Meskipun Zain berusaha membujuk dan mencoba melepaskan tangan Raisa, Raisa tetap tak berniat melepaskan cengkraman nya.


"Raisa lepaskan." Dan Raisa masih tak menghiraukan Daffa sedikitpun. Vera yang mendengar nama asing itu tersentak dan segera meminta maaf dalam tangisnya. Namun, Raisa lebih kuat mencengkram rambut Vera hingga ia menjerit kesakitan.


"Raisa!" Suara berat itu akhirnya berhasil membuat Raisa melepaskan rambut Vera. Lalu, dengan cepat Rayyan menghampiri Raisa yang menahan amarahnya dengan menunduk dan mengepalkan tangan karena kesal.


"Apa yang kau lakukan? Lihat. Semua orang melihat adegan kekerasanmu." Ucap Rayyan dengan pelan sambil menenangkan Raisa dalan dekapannya.


"Wah wah wah... sepertinya bu Vera mendapat mangsa baru." Ucap seorang gadis yang bersandar santai pada tembok. Vera hanya meliriknya sinis, lalu ia terbelalak dan langsung menunduk saat melihat kedua gadis didepannya begitu mirip. Dengan ragu Raisa menoleh kearah sumber suara. Betapa terkejutnya ia mendapati gadis yang selama ini hilang dari pandangannya. Adik yang begitu ia rindukan kehadirannya, dan teman hidup yang selama ini ia sesali kepergiannya. Arisa tak kalah terkejut saat Raisa perlahan mendekat kearahnya dengan tangis yang pecah. Entah apa alasannya, air matanya pun tak kuasa ia tahan saat ini. Gadis didepannya benar-benar mirip dengannya, persis seperti yang selama ini ia mimpikan. Dengan gemetar Raisa meraih wajah saudari kembarnya dan meraba lengan, bahu, bahkan hampir seluruh tubuh Arisa. Lalu, ia memeluk Arisa dengan erat dan tangisnya tersenggal saat ia ingin melontarkan kata. Dan entah kata apa, rasanya lidahnya mendadak kelu seketika. Arisa sendiri pun dengan refleks membalas pelukan Raisa yang menurutnya begitu hangat dan terasa sebuah kerinduan terluapkan.


"Aris..... maafkan aku.... kumohon maafkan aku....."


"Tentang apa?"


"Tentang pernikahanku dengan Rayyan. Jika saja dari awal aku tak menyepakati perjanjian konyol denganmu, aku tak ingin merebut kebahagiaanmu sampai kau memilih pergi dari rumah."

__ADS_1


"Aku sudah lupa semua. Kau tak perlu menyesalinya."


"Ayo pulang. Kak Tio sudah menunggu." Ajak Raisa melepaskan pelukannya dan ia heran melihat raut wajah Arisa yang menunjukan bahwa dirinya tidak mengerti dengan yang dikatakan Raisa.


"Kak Tio itu orangnya bagaimana?" Lirih Arisa mendadak gugup dan seperti ketakutan.


"Apa maksudmu? Kau tak mungkin lupa dengan kak Tio kan?"


"A-aku tidak ingat. Dan apa namamu Raisa? Mereka bilang aku punya saudari kembar bernama Raisa. Dan itu kau?"


"Aris.... kau kenapa? Kau melupakanku? Jangan bercanda denganku. Ini tidak lucu Aris..."


"A-aku tidak bercanda. Serius aku tidak ingat. Selama empat tahun ini, hanya nama Tio yang selalu muncul di ingatanku. Bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana wajahnya. Apa sama dengan yang terus muncul di mimpiku?"


"Aris...."


"Dan... kenapa aku dipanggil Aris? Dan dia juga memanggilku Risa. Lalu, siapa Rama? Kenapa Wina menyebut nama itu padaku. Apa hubungannya denganku." Mendengar celotehan Arisa, Raisa mematung seketika. Ia tak percaya bahwa saudari kembarnya mengalami amnesia selama ini. Pantas saja Seina begitu terpukul karena mungkin Arisa tak mengingat Seina sedikitpun. Dan yang dimaksud Ghava memanglah Arisa.


Raisa beralih kembali menatap tajam pada Vera dengan tatapan yang begitu mengintimidasi.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan mengusik hidupku dan adikku. Kau menyebutnya pelacur tanpa kau tahu kebenarannya. Hei kak Reza... bukankah di perusahaan ini ada sanksi bagi siapa saja yang melakukan kekerasan dan pembulyan. Dia memaki adikku dengan tanpa bukti, dan aku mau kakak memberikan sanksi yang sebanding dengan rasa sakit adikku." Ucap Raisa membawa Arisa ke luar gedung.


"Kita mau kemana?" Tanya Arisa dengan polos mengikuti langkah Raisa menuju mobil Rayyan.


"Ke tempat dimana kau akan ingat semuanya." Jawab Raisa mempersilahkan Arisa untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil.


"aku tidak mau." Arisa mundur beberapa langkah.


"Jika aku tidak membawamu pulang, bukan hanya kak Tio yang marah, tapi Sein juga akan kecewa nantinya."


"Tapi bunda tidak tahu aku pergi."


"Biar aku yang bilang pada bunda. Sekarang sudah saatnya kau bertemu dengan keluargamu." Timpal Reza yang tiba-tiba berada di belakang Arisa.


"Kak Reza..." lirihnya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2