
. Perlahan, Arisa membuka mata dan mendapati Wina dengan meraih lengannya dan menangis tanpa henti. Disamping Wina terlihat Diana yang mengelus kepalanya.
"Kak... i-ini dimana?" Tanyanya sambil mencoba untuk beranjak.
"Di klinik Dimas." Jawab Diana membantu Arisa untuk duduk bersandar.
"Dimas?"
"Iya aku. Kenapa? Kau lupa aku punya klinik?" Tanya Dimas melirik sinis sambil merapikan alat medisnya.
"Dim... kau tahu kenapa ada bekas luka disini?" Tanya Arisa mendadak sendu sendiri. Dimas melirik ke arah Wina dan Diana bergantian dan keduanya mengangguk menanggapi tatapan Dimas yang jelas merasa bimbang harus menjawab apa.
"Setelah kepergian Rama, kau divonis mengidap kanker hati. Dan kenyataan itu hanya kau sendiri dan aku yang tahu. Kau memintaku untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, dan kau semakin parah. Sampai akhirnya kau memberitahu Tio dan dia mati-matian mencari organ hati untuk cangkok hatimu yang terkena kanker. Berkali-kali Tio memintaku untuk memakai hatinya, tapi bukan hanya Tio, Wina, Rayyan, dan bahkan Marcel pun menawarkan diri untuk menjadi pendonor untukmu." Mendengar kalimat panjang itu, Arisa menoleh pada Wina dan seketika ingatannya mulai muncul perlahan memperlihatkan semua kenangannya bersama Wina.
"Sekarang aku tahu kenapa kau selalu muncul di mimpiku. Dan nyatanya itu bukan mimpi Win... kenapa kau tak datang di hari perjanjian kita? Kau bilang mau menemuiku saat aku libur semester." Wina segera memeluk Arisa yang perlahan menitikkan air matanya dan membuat dirinya tak kuasa menahan haru karena Arisa mengingat kesalahannya saat itu.
"Maafkan aku Aris..."
"Aku menunggumu Wina..."
"Aku tahu. Tapi kenapa kau baru ingat sekarang? Kau tak tahu hatiku sangat sakit saat kau tak mengenaliku."
Diana menyeka embun di kelopak matanya melihat momen yang sangat mereka nantikan. Kembalinya ingatan Arisa.
"Jangan berharap lebih. Aku masih belum mengingat dengan jelas apa yang terjadi. Dan aku juga belum bisa membedakan apakah yang terlintas itu adalah mimpi atau bukan." Lanjutnya melepas pelukan dan menepis harapan ketiga orang didepannya yang jelas begitu bahagia mendengar ia mengingat salah satu momen bersama dengan Wina.
. Di rumah, Raisa mengurung dirinya di kamar dan tak membiarkan siapapun membukanya. Ia semakin putus asa karena tak ada satupun orang yang datang menyusulnya.
"Aku memang tak penting." Ucapnya disela tangisan yang tak henti. Rahma yang sedang tak di rumah membuat Raisa semakin frustasi sendiri. Hingga ia memutuskan untuk bergegas meninggalkan rumah dan melajukan mobil tanpa arah tujuan. Hingga tanpa ia sadari, ia menerobos lampu merah dan hampir bertabrakan dengan pengemudi lain. Jantungnya terasa akan lepas seketika saat ia menekan pedal rem dengan kuat dan dahinya terbentur keras. Segera ia menepikan mobil dan terlihat pengemudi yang hampir ia tabrak itu menyusulnya dan dengan memasang wajah kesal menghampiri mobil Raisa. Wajahnya tak kalah tampan dari Rayyan dan umurnya tak jauh berpaut darinya. Terdengar ketukan di kaca mobil membuat Raisa terlonjak karena terkejut dan masih panik. Kemudian ia menghela nafas dalam sesaat dan dengan menunduk ia turun dari mobil.
"Saya benar-benar minta maaf." Lirihnya tak berniat mengangkat kepalanya.
"Arisa? Apa kau Arisa?" Ucapnya ragu dan berhasil membuat Raisa mendongak.
"Bu-bukan. Aku Raisa."
"Ohh maaf. Aku salah mengira. Kau kenapa? Melamun?" Raisa menggeleng pelan sambil menahan embun yang semakin menggenang di kelopak matanya. Melihat itu, Fabian langsung mengerti apa yang sedang Raisa rasakan.
. "Jadi kau sedang ada masalah?" Raisa mengangguk sambil mengaduk ice cream di depannya secara acak. Keduanya memutuskan untuk singgah di sebuah kedai untuk menenangkan Raisa.
"Kau boleh bercerita. Siapa tahu aku bisa bantu." Lanjut Fabian masih di tanggapi gelengan oleh Raisa.
"Ya sudah jika kau tak mau." Ucapnya lagi.
"Apa kau menyukai Arisa?"
"Uhuk uhuk..." Fabian mendadak tersedak saat ia tengah meneguk es kopi pesanannya.
"Hati-hati kak." Ucapnya polos. Fabian tertegun dan senyumnya tersirat melihat betapa miripnya Raisa dengan Arisa.
__ADS_1
"Kalian benar-benar mirip ya? Tapi ada sedikit perbedaan menurutku."
"Kita memang berbeda kak. Sangat berbeda." Ucap Raisa menimpali cepat dengan mendadak sendu.
"Iya. Kau benar. Kak Bio juga bilang begitu."
"Apa kak Fabio masih berambisi ingin menghancurkan perusahaan ayah? Kenapa dia begitu baik pada Aris. Padahal dia sudah berkeluarga."
"Dulu iya. Sekarang sudah tidak. Bukan hanya baik, kakakku sangat mencintai Aris selama ini. Aku mendengar dan menyaksikannya sendiri. Entah semenjak Aris dikabarkan meninggal, atau saat itu saja aku tak tahu. Sebelum kak Fabio menikah dengan kak Lisa, aku mendapati kakak sedang meratapi luka di tangannya dan aku bertanya, siapa yang berani melukai kak Bio? Padahal dia dianggap begitu menakutkan. Dan dia menjawab, itu adalah luka fisik yang terlihat yang tak sengaja ia buat sendiri dari orang yang terpaksa dia tinggal pergi. Orang yang begitu ia sayangi, dan orang yang selama ini dia cari-cari. Aku pikir kakak bertemu dengan teman lama atau mantan kekasihnya yang dulu, yang tak pernah mendapat restu dari mama. Tapi aku yang tak bisa menutupi rasa penasaranku karena untuk pertama kalinya aku melihat kak Bio menangis tanpa suara dan seakan dia sedang kehilangan sesuatu yang berharga untuknya."
Raisa menyernyit masih tak paham dengan cerita Fabian.
"Kak Bio satu-satunya orang yang tahu bahwa Aris masih hidup saat itu. Jika saja aku menyadarinya sejak awal, aku pasti menjemput Aris secepatnya dan mungkin dia tak akan mengalami amnesia sekarang."
"Kakak tahu apa yang terjadi? Apa kak Fabio memberitahumu sesuatu?"
"Kemarin. Dia menceritakan semuanya. Aris sempat berniat bunuh diri dan kak Bio menahannya dengan ganti tangannya yang terluka. Tapi kak Bio tak tahu penyebab kecelakaan Aris karena apa."
"Kenapa dia selalu berbuat nekat?"
"Maksudmu? selalu?"
"Iya. Pernah 5 tahun lalu, jika ayah tak memergoki Aris yang akan melompat dari balkon, mungkin Aris sudah tak ada sekarang. Dan tadi pagi, dia berniat gantung diri jika ayah tak cepat mendobrak pintu kamarnya. Semuanya salahku. Jika saja aku mati dari kecil, mungkin Aris tak akan menjadi begini."
"Se-sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?"
"Begitu ya?"
"Memang begitu."
"Tapi syukurlah jika Aris baik-baik saja. Aku tak percaya dia masih hidup."
"Dan aku lebih tak percaya dia amnesia. Aku yang tak percaya penyakit itu benar adanya, nyatanya malah adikku sendiri yang mengalaminya."
"Oh iya. Kau masih pacaran dengan Fariz?"
"Memang kata siapa aku dan kak Fariz pacaran? Kita hanya dekat." Jawabnya tanpa sadar ada sebuah tangan yang hendak meraih bahunya namun urung saat mendengar ucapannya. Fariz memilih berlalu dengan rasa kecewa karena gadis yang ia anggap kekasihnya selama 3 tahun terakhir ini hanya menganggapnya teman dekat.
"Aku sudah menganggapnya seperti lebih dari kekasih. Dia selalu ada untukku, dan mungkin jika dia melamarku sekarang, aku akan langsung menerimanya."
"Wahhh aku terlambat ternyata." Ejeknya terkekeh dan menghela nafas lega melihat Raisa yang mulai terlihat tenang dan kembali riang.
***
. Malamnya, Daffa datang menjemput Arisa dengan stelan yang rapi dan terlihat begitu resmi. Rahma yang menyambut kedatangan Daffa merasa terkagum karena penampilan Daffa.
"Saya meminta izin untuk mengajak Aris makan malam diluar tante." Ucapnya terlihat gugup.
"Kalian sudah membuat janji?." Daffa mengangguk kemudian mengikuti arahan Rahma untuk duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Ya sudah. Tante panggilkan Aris. Barang kali dia sedang bersiap." Lagi, Daffa mengangguk menanggapi dan membiarkan Rahma berlalu dari hadapannya. Tak lama, Daffa menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia termangu melihat penampilan Arisa yang begitu mempesona. Gaun biru muda dengan jepitan rambut dan polesan make up tipis cukup membuat Arisa seperti halnya gulali hidup. Sangat manis.
"Su-su-sudah siap?" Arisa mengangguk dengan senyum yang tersimpul. Daffa semakin tak bisa menahan detak jantungnya yang berdebar keras.
"Tante. Apa saya sedang mimpi? Atau memang kenyataan?" Tanya Daffa dengan wajah serius.
"Memangnya kenapa?"
"Tak apa tante. Hanya saja saya masih tak percaya ada bidadari secantik ini."
"Daf... jangan membuatku malu." Ucap Arisa menimpali.
"Aku serius Aris. Iya kan tante?"
"Iya.." jawab Rahma membuat Daffa tersenyum puas dan melirik Arisa penuh ejekan.
"Ya sudah tante. Saya pamit dulu."
"Baiklah. Jaga anak tante ya... tante percaya sama kamu."
"Iya tante pasti." Ucapnya lalu meraih tangan Arisa dengan gugup. Arisa yang menahan tawa, langsung merubah posisi tangannya. Ia menggandeng lengan Daffa dengan berjalan beriringan menuju mobil.
Sampai di sebuah restoran, Arisa merasa heran karena Daffa berjalan di depannya seakan seorang pengawal yang menjaga tuan putri untuk pangerannya. Namun Arisa semakin heran dengan sosok pria yang tengah berdiri di samping meja yang sudah tersaji beberapa makanan dan tersenyum kearahnya.
"A-Aray?" Tanyanya heran.
"Risa...."
"Daf... i-ini apa maksudnya? Bu-bukankah kau yang--"
"Tidak Aris. Aku mempersiapkannya untuk kalian berdua." Arisa menyernyit menoleh pada Daffa dan Rayyan bergantian.
"Ya sudah. Aku tinggal. Selamat bersenang-senang!" Ucapnya kemudian. Daffa berlalu dengan senyum penuh bahagia namun dengan hati yang terluka.
Rayyan meraih tangan Arisa dan yang satunya meraih pipi chuby nya. Ia begitu terpesona dengan penampilan kekasihnya malam ini.
"Kau sangat cantik." Ucapnya pelan menahan haru.
"Aray... aku...."
"Risa. Maafkan aku. Aku tak bermaksud mendiamkanmu. Dan aku ingin kau jangan salah faham pada Clara. Aku tak mencintainya. Aku hanya mencintaimu saja."
"Aku juga."
"Lalu? Kenapa kau tak cemburu?"
"Aku sangat cemburu bodoh. Hatiku sakit. Dan kau malah nyaman saja bermesraan dengan dia didepanku." Jawabnya memukul dada Rayyan dengan mata berkaca-kaca.
-bersambung.
__ADS_1