
. Arisa berjalan mengendap berniat ingin mengejutkan Fahri dari belakang. Namun saat ia sudah mengangkat tangan dan menghela nafas, seketika Arisa mematung lalu terlintas beberapa memori hitam putih yang menunjukkan seorang gadis yang mirip dengan dirinya. Rambut panjang yang hitam pekat dengan mata bulat di hiasi bulu mata yang lentik membuat Arisa meringis memegangi kepalanya. Sontak Fahri menoleh ke belakang dan terkejut mendapati Arisa di belakangnya.
"Ar--Putri...." panggilnya dengan panik. Arisa menepis tangan Fahri yang hendak membantunya dan ia menatap tajam pada Fahri seakan penuh kebencian.
"Kau mengenalku di masa lalu?" Tanya Arisa dengan suara yang begitu pelan. Semula Fahri terdiam, kemudian ia mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Arisa.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak bilang? Kau pasti merasa sakit hati kan? Harusnya aku mengingatmu, tapi nyatanya tidak." Lirih Arisa masih meraih kepalanya yang berdenyut keras.
"Apa itu aku?" Lagi, Fahri mengangguk saat Arisa menunjuk kameranya.
"Bolehkah aku melihatnya? Dan kau ceritakan aku bagaimana dulu." Lanjutnya di tanggapi anggukan pelan oleh Fahri. Ia masih merasa takut jika Arisa dan Reza marah padanya karena foto itu. Siapa sangka, Reza meninggalkan mereka berbincang dan tak memberi ancaman sedikitpun.
"Apa kau akan baik-baik saja jika aku menunjukkan fotomu di masa lalu?" Tanya Fahri sebelum ia memberikan hasil jepretannya yang dulu di ambil secara asal karena ia takut bermasalah dengan Arisa dan Rayyan.
"Apa ini benar-benar aku? Kenapa rambutku pirang?" Tanya Arisa yang ikut duduk di samping Fahri dan merebut kamera yang sedang Fahri genggam. Fahri menatap dalam pada gadis dihadapannya ini yang begitu polos, sangat berbeda dengan Arisa versi lama yang dingin dan tak pernah tersenyum. Terlihat Arisa sudah lebih tenang dan tak merasakan sakit kepala lagi ketika menatap satu persatu poto yang ia ambil dulu. Namun, sialnya, Fahri sudah menghapus foto Arisa yang bersama Rayyan saat itu.
"Apa kakak menyukaiku? Kenapa didalamnya fotoku semua?" Fahri tersentak dan ia mendadak gugup saat Arisa bertanya demikian. Siapa yang tidak menyukai gadis cantik sepertinya, namun Fahri menepis rasa itu karena status keluarganya begitu jauh. Arisa yang terlahir dari keluarga kaya, sedangkan dirinya hanya anak dari seorang yang sederhana.
"Ahaha semua orang menyukaimu. Dan kebetulan aku ada project saat itu, yaa berhubung kau yang menjadi idola, jadi aku memintamu untuk menjadi modelku." Jawabnya tertawa kikuk menutupi perasaan gugupnya.
"Benarkah? Lalu bag-- ehhh...." Arisa menoleh seketika saat sebuah bola kecil menggelinding tepat sampai di kakinya. Kemudian ia melihat sosok anak kecil berumur 3 tahun berlari mengejar bola itu.
"Ini punyamu?" Tanya Arisa memberikan dengan ramah ketika anak itu tepat didepannya. Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Arisa dan segera mengucapkan terima kasih dihiasi senyum manis dan menggemaskan.
"Siapa namamu? Di mana orang tuamu?" Tanya Arisa kemudian.
"Sherina." Jawabnya kemudian menunjuk kearah gadis dewasa yang mungkin seumuran dengan Fahri.
"Sherin..." panggilnya dari kejauhan. Di waktu yang sama, samar terdengar suara yang berdengung di telinga Arisa.
"Sein... Sein... Sein...." kata itu berulang-ulang terngiang dan membuat Arisa kembali meraih kepalanya.
"Kakak..." panggil Sherin terlihat mendadak khawatir saat melihat Arisa yang sepertinya mendadak kesakitan.
"Putri.." Fahri beralih meraih Arisa yang masih memegangi kepalanya dan terlihat matanya terpejam menahan sakit yang terus berdenyut dan ia tak kuasa menepis sebuah suara yang memanggil namanya.
"Kakak Putri.... kakak Putri.... kakak Putri..... Sein sayang kakak putri... kakak... Sein.... Sein.... Kakak Putri kak Aray jahat.... kakak putri..."
__ADS_1
"Hentikan!" Teriaknya kemudian mendadak lesu dan ambruk karena lututnya yang semakin lemas.
"Bunda.... kakak ini kesakitan." Ucap Sherina mengadu pada sang ibu yang menyusulnya. Lisa kemudian ikut berjongkok dan meraih bahu Arisa yang terengah dan menahan diri untuk tetap tenang.
"Nona tak apa?" Tanya Lisa ditanggapi gelengan kepala oleh Arisa. Arisa mendongak lalu tersenyum pada Lisa yang seketika mematung menatap dalam pada Arisa.
"A-Arisa?" Lirihnya menutup mulut dan kemudian menoleh pada Sherina.
"Si-siapa? A-anda mengenal saya?" Tanyanya tak kalah heran dan terkejut dari Lisa. Arisa perlahan bangkit dan kemudian membenahkan bajunya yang berantakan.
"Maaf.... saya memang sering bersikap konyol." Ucapnya tertawa kecil dan memberi kode pada Fahri untuk ikut tertawa. Saat Lisa masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari Arisa, seseorang memanggilnya dari belakang. Lisa menoleh dan menatap dalam pada pemilik suara yang tak lain adalah suaminya.
"Kenapa lama?" Tanya Fabio yang menatap datar pada sang istri.
"Ayah...." panggil Sherina kemudian memeluk kaki Fabio dengan erat. Dan seketika, ponsel yang tengah Fabio genggam pun terjatuh saat melihat senyum Arisa yang begitu tulus, tanpa paksaan atau pun tanpa menutupi sebuah beban. Tatapannya menjadi sayu, kelopaknya berembun tak kuasa menahan haru karena gadis yang dulu pernah membuatnya gila kini ada didepannya dengan keadaan baik-baik saja.
"Kau mau bicara dengannya?" Tanya Lisa yang berbalik menghadap Fabio dengan tanpa menatap mata Fabio. Fabio tahu, kini Lisa tengah menahan rasa cemburunya karena Lisa sudah mengetahui hati Fabio untuk siapa ketika mereka menikah dulu. Lisa yang tak pernah berharap lebih pun seakan menutup mata dan telinga atas kenyataan yang membuatnya sakit hati.
"Sebentar. Aku hanya ingin memastikan." Jawab Fabio tak kalah lirih, Lisa hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui permintaan pria yang sudah 4 tahun menjadi suaminya itu.
"Ayo sayang.... ayah ada keperluan sebentar." Lisa menarik tangan Sherina yang seakan begitu berat melepaskan genggamannya dari Fabio.
"Rekan kerja sayang." Jawab Lisa melemparkan senyumnya agar Sherina tidak banyak bertanya.
. Fahri mengerti situasinya, dengan terpaksa ia harus menjauh dari Arisa dan Fabio dan membiarkan mereka berbicara. Arisa mendadak gugup dan ia bergeser saat Fabio duduk di sampingnya.
"Maaf... saya tidak ingin istri tuan salah faham." Ucap Arisa menundukkan pandangannya menghindari kontak dengan Fabio.
"Apa kabar Arisa?" Bukannya menjawab, Arisa malah menyernyit mendapati pertanyaan dari Fabio. Matanya berbinar dan ia mendadak antusias menatap harap pada Fabio yang terheran melihat tingkah Arisa yang lain dari terakhir mereka bertemu.
"Anda tahu siapa saya? Siapa anda? Apakah teman saya atau--"
"Apa maksudmu?" Bentak Fabio menghentikan pertanyaan beruntun Arisa dan membuatnya diam seketika.
"Ma-maaf. Sa-saya kira anda mengenali saya di masa lalu."
"Hentikan sandiwara bodohmu ini Aris. Aku tahu kau ingin melupakanku. Tapi apa harus begini? Apa harus kau berpura-pura tidak mengenaliku? Ini benar-benar tidak lucu Aris." Lagi, Fabio membentak dengan suara yang sedikit menahan sesak dengan tangan yang mencengkram bahu Arisa.
__ADS_1
"Sa-saya tidak kenal. Saya am--"
"Hentikan! Jika kau masih bicara, aku akan mengingkari janjiku dan membawamu pulang sekarang. Biarkan saja kau menderita di Jakarta dengan menyaksikan semua orang yang kau sayangi pergi meninggalkanmu." Arisa semakin dalam menatap kemarahan Fabio, yang tak sadar air matanya berderai begitu saja.
"Jika saya ada salah di masa lalu, saya minta maaf. Saya benar-benar tak ingat anda siapa, dan apa kesalahan saya pada anda. Jujur sampai saat ini, selama empat tahun ini, saya masih tak tahu saya ini siapa, dan yang terus muncul di kepala saya hanya nama Tio tanpa saya tahu dia siapa. Apakah anda yang bernama Tio? Jika benar apa hubungan saya dengan anda? Dan jika bukan, apa anda tahu hubungan saya dengan pemilik nama itu?" Fabio mematung tak percaya mendengar penuturan Arisa yang membuatnya membeku dan tak bisa berkata apa-apa.
"Apa maksudmu? K-kau lupa padaku? Kau juga lupa pada Tio? Apa kau lupa pada Raisa, Rayyan, Yugito?" Arisa semakin menunduk mendengar pertanyaan yang tak pernah bisa ia jawab 'iya saya tahu' selama ini. Bahkan Reza pun sudah putus asa memberi tahu tentang semua nama yang baru saja Fabio sebutkan, dan Arisa tak bisa mengingatnya. Arisa menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Fabio membuat Fabio kembali merasa depresi.
"Kau ini kenapa Arisa? Apa yang membuatmu melupakan semuanya?" Lirih Fabio perlahan melepaskan cengkraman tangannya.
"Bunda bilang, saya kecelakaan, dan saat saya sadar, saya tidak mengingat apapun selain nama Tio." Jelas Arisa berusaha mencoba untuk tenang.
"Tio adalah kakakmu. Kakak yang paling menyayangimu. Dan Raisa, dia--"
"Putri....." panggil Reza menghentikan penjelasan Fabio. Ia menatap tajam pada Reza dan mengepalkan tangannya seraya beranjak dan menarik Arisa agar berada di belakangnya.
"Kau apakan Arisa hah?" Geram Fabio kemudian memukul keras wajah Reza sampai terhuyung.
"Itu bukan salahku sialan." Balas Reza yang balik memukul Fabio.
"Kak... sudah hentik--" 'bugh' ketiga orang itu seketika diam bersamaan saat pukulan Fabio yang mengenai wajah Arisa dengan keras.
"A-Arisa a-aku tak sengaja." Arisa tak bergerak, bahkan tak menghiraukan ucapan Fabio, ia masih memegangi pipi kanannya yang terasa berdenyut dan perih.
"Putri...." lirih Reza.
"Maaf... sepertinya Arisa yang anda maksud sudah tidak ada. Saya Putri, bukan Arisa."
"Tidak Aris... kau tetap Arisa. Aku akan membuatmu ingat dengan semuanya, aku, keluargamu, bahkan pacarmu yang sudah meninggal." 'Deg' Arisa menoleh kasar lalu menatap tajam pada Fabio, tatapan itu bercampur dengan tatapan penasaran akan siapa yang dimaksud Fabio.
"Apa?" Mendengar tanggapan itu, Fabio hanya terkekeh lalu tertawa membuat Reza semakin muak melihatnya.
"Kau bahkan melupakannya? Sungguh ironis." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Reza dan Arisa yang masih diam di tempatnya.
"Maaf!" panggil Arisa menghentikan langkah Fabio. Ia kemudian tersenyum dan menebak bahwa Arisa sudah mengingatnya meskipun samar dan tidak sepenuhnya.
"Apa anda tidak punya rasa tanggung jawab? Anda sudah memukul saya, dan sekarang anda pergi begitu saja." Teriaknya dengan lantang membuat wajah Fabio menjadi suram. Arisa bergidik ngeri saat Fabio menatap tajam kearahnya.
__ADS_1
-bersambung.