
. Rayyan tersenyum sinis melihat kedekatan Arisa dan Daffa.
"Inikah alasanmu yang sebenarnya?" Gumam Rayyan menahan amarah.
"Tak kusangka, semudah itu kau berpaling dariku Risa." Rayyan berbalik dan berlalu meninggalkan kelasnya dengan tangan yang mengepal dan sorot mata yang tajam. Rayyan berjalan dengan cepat, pikirannya kacau saat ini.
"Apa harus dengan Daffa? Aku maklumi jika kau masih mencintai Rama." Hatinya tak henti-henti bergumam tak bisa menerima apa yang telah dilihatnya. Rayyan memasuki mobilnya, lalu melajukan meninggalkan area kampus.
Ketika kelas berlangsung, tak ada tanda-tanda Rayyan akan kembali ke kelasnya. Ingin rasanya Arisa menoleh kebelakang, namun hatinya merasa akan lebih sakit.
"Maaf Aray.." gumam Arisa dengan memasang wajah yang tenang meskipun dalam hatinya sangat berantakan.
Rayyan terhenti di sebuah taman, dirinya merasa tak ada tempat yang tenang selain tempat itu. Rayyan yang tetap diam menyusuri jalanan kecil yang mengelilingi taman itu. Namun dirinya merasa risih karena tatapan para gadis yang di lewatinya.
Beberapa kali Rayyan berdecih kesal. Entah karena sikap gadis-gadis disana atau ponselnya yang tak kunjung berbunyi.
"Cih.. apa yang aku harapkan. Tak mungkin dia akan menanyakan keberadaanku." Rayyan memijit pelipisnya dan mengusap wajahnya kasar.
"Bahkan taman ini tak membantuku sama sekali." Rayyan kembali berlalu menuju mobilnya, dan meninggalkan taman.
. Hari yang dijadwalkan sudah tiba, Arisa mengikuti langkah Tio dari belakang. Terlihat Raisa yang menatap sayu pada pesawat didepannya yang sebentar lagi akan lepas landas.
"Aku berharap kabar baikmu Aris." Raisa tak kuasa menahan air matanya. Mengapa adiknya harus merasakan apa yang ia rasakan dulu? Raisa tak henti melambaikan tangan dan melempar senyum ketika pesawat mulai meninggalkan landasan. Meskipun dirinya tahu, mungkin saja Arisa tak melihatnya.
. Sesuai dengan permintaan izin Tio, Arisa diperbolehkan absen oleh Seno. Bukan karena Arisa adik temannya, tapi karena alasan Arisa ingin berobat. Karena itu, Seno mengizinkan dan menyetujui untuk merahasiakan kepergian Arisa. Yang diketahui teman-temannya, Arisa kini tengah sakit dan tak bisa mengikuti kelas.
Setelah ketiadaan Arisa, Rayyan beberapa kali membuat Seina menangis karena amarahnya. Seina terus menanyakan Arisa. Dirinya tak tahu harus bagaimana. Untuk sekedar menenangkan Seina saja, Rayyan kewalahan dan tak tahu dengan cara apa Seina bisa melupakan Arisa.
Setiap malam Seina selalu merengek menanyakan keberadaan dan kabar Arisa.
Bunda memanggil Rayyan ke ruang keluarga ketika Seina sudah tertidur.
"Apa yang terjadi pada Risa?" Tanya bunda dengan hati-hati. Karena takut jika Rayyan akan merasa tak nyaman saat ini.
"Dia menjauhiku bunda.." jawab Rayyan setengah berbisik dan memalingkan wajahnya.
"Kenapa? Mungkin kau yang melakukan kesalahan."
"Tak mungkin bunda... aku tak merasa membuatnya tersinggung atau bersedih, mungkin dia sama dengan perempuan lain yang ingin mendekatiku karena ada maksud." Rayyan kembali menaikan nada suaranya.
"Kau pikir bunda tak bisa membedakan antara gadis baik dan tidaknya? Hemmmm? Aray... bunda melihatnya. Risa itu gadis baik. Bunda tak melihat maksud buruk ketika kau dekat dengannya."
"Bunda.... sekarang semua bisa di manipulasi. Bahkan kebaikan pun bisa dipalsukan."
"Benarkah? Lalu kenapa kau tulus menyukainya?"
"Sudahlah bunda... Aray lelah.. Aray ingin istirahat."
"Sikapmu tak mungkin seperti ini jika kau tak menginginkannya Aray."
"Bunda cukup!" Rayyan terkejut sendiri saat menyadari ketidak sopanannya.
"Ma-maaf bunda.. Aray tak bermaksud membentak bunda." Rayyan dengan cepat terduduk dan meraih lutut bunda.
"Kau bahkan berani meninggikan suaramu karena Risa. Kau pikir ini masalah sepele? Sekali lagi bunda bertanya padamu! Kau tak mencintainya?"
"Bunda hentikan! Mengapa membahas itu?"
"Jawab saja Aray."
__ADS_1
"Bunda... Risa memilih Daffa."
"Daffa?" Bunda menyernyit. Mengapa tiba-tiba Daffa?
"Tepat setelah Risa bicara bahwa dia ingin Aray menjauhinya, Aray melihatnya sangat dekat dengan Daffa.
"Dan apa itu alasan mengapa hari itu kau tak mengikuti kelas?" Rayyan mengangguk mengiyakan pertanyaan bunda.
"Apa kau akan ikut ke pertemuan dengan keluarga Yugito?" Rayyan terduduk disamping bunda dengan rasa penasarannya.
"Kapan?" Tanya Rayyan.
"Ayahmu yang tahu. Dan sekalian melamarkan Risa untukmu."
"Bunda... jangan becanda. Aku tak siap dengan penolakannya."
"Kau berbicara seolah kau tahu bahwa Risa akan menolak. Bunda yakin, Risa dan Daffa hanya teman biasa. Kau saja yang terlalu cemburu."
"Baiklah bunda..." Rayyan beranjak dan berlalu meninggalkan bunda sendiri di ruang keluarga.
. Beberapa hari setelahnya, Tio dan Arisa belum kembali ke Indo. Marcel melakukan terapi untuk memperlambat penyebaran kanker di tubuh Arisa.
"Setidaknya ini akan sedikit membantu." Ucap Marcel pada kedua orang didepannya.
"Jangan khawatir. Dengan operasi transplantasi, kau akan sembuh Aris."
"Jika aku tak ingin sembuh bagimana?"
"Kau mau meninggalkan orang-orang yang menyayangimu?" Tanya Marcel tanpa menjawab pertanyaan Arisa.
"Kak Marcel..."
"Kau tahu Aris. Aku tidak sedang becanda. Jika kau tak berhasil di selamatkan, aku akan berhenti menjadi dokter. Untuk menyembuhkanmu saja aku tak bisa, lalu apa artinya pekerjaanku ini Aris? Semua akan sia-sia jika kau tak selamat." Marcel sengaja memperlihatkan matanya yang mulai berembun.
"Berjanjilah kau akan terus hidup untuk dirimu, dan orang-orang yang kau sayangi dan menyayangimu Aris." Arisa hanya mengangguk menanggapinya.
. Di kantor Artaris, Danu menemui Yugito dan berbincang tentang kedua anak-anaknya.
"Aku mungkin berniat membicarakan ini dengan mereka, tapi aku ingin berbicara terlebih dahulu denganmu." Ucap Danu pada Yugito di hadapannya.
"Katakan saja maksud dari ucapanmu apa Danu."
"Aku ingin perjodohan antara putraku dan putrimu di sepakati kembali." Yugito semula terdiam, namun tak lama Yugito tertawa.
"Aku sudah menduganya Danu. Aku juga melihat bahwa putriku dan putramu saling mencintai. Jadi, aku akan setuju. Dan kita tak perlu mempertanyakan ini pada mereka, karena mereka tak akan menolak bukan?" Danu ikut tertawa mendengar yang dikatakan Yugito.
"Istriku dan Seina sangat menyukai Risa. Dia cantik, baik, penyayang, sopan, dan... yahhh sangat cocok untuk Rayyan."
"Ahhh kalian punya panggilan khusus ternyata? Risa?"
"Yaa Risa... Rayyan selalu memanggilnya seperti itu. Entah kenapa huruf A pertamanya dia hilangkan. Ahahaha..." terlihat kedua orang itu sangat senang.
"Jadi kapan kau akan kerumahku dan melamar putriku secara resmi?" Tanya Yugito dengan antusias.
"Besok malam. Jika terlalu lama ditunda, mungkin akan ada yang melamar duluan." Kembali Danu dan Yugito tertawa.
. Hari telah berganti, Arisa turun dari mobil kakaknya dan memasuki rumah dengan tenang. Namun saat melangkahkan kaki di ambang pintu, rasanya seakan ada sebuah benda tajam yang menyayat hatinya. Arisa tersentak dan mencoba untuk menyeimbangkan langkahnya. Arisa terkejut karena melihat para pelayan yang terlihat sibuk berlalu lalang.
"Aris?" Tanya mama yang melewati ruang tamu.
__ADS_1
"Ada apa ma? Mengapa semua orang terlihat sibuk?"
"Nanti kau juga akan tahu. Sekarang, kau istirahat dan bersiap. Akan ada acara kecil dirumah kita." Jawab mama berjalan berdampingan dengan Arisa.
Raisa terlihat menuruni tangga dan berlari ketika melihat Arisa di bawah.
"Hati-hati. Kau bisa jatuh." Tegur mama berdecak kesal.
"Hehe... maaf... aku kegirangan karena melihat adikku yang bodoh ini sudah pulang. Bagaimana liburannya? Sampai kau tega meninggalkanku sendiri." Raisa melipatkan tangan didadanya dengan memasang wajah angkuh.
"Yaa baiklah... aku tak akan meninggalkanmu lagi." Ucap Arisa memalingkan wajahnya dengan sedikit memiring dan melirik malas pada Raisa.
"Janji?"
"Hemmm"
"Ihhh kau tak serius."
"Ya ya ya... aku berjanji." Perkataan Marcel terus terngiang ditelinganya. Mungkin Marcel benar. Tak ada salahnya jika Arisa mencoba berharap pada kehidupan.
Mama merasa tenang jika Arisa tak membenci Raisa karena ketidak adilan dirinya. Ingin sekali meminta maaf pada Arisa secara formal. Namun dirinya terlalu malu untuk melakukannya, terlalu banyak rasa sesal yang membuatnya merasa bahwa Arisa mungkin tak akan memaafkannya.
Keduanya berbincang dengan masih berjalan perlahan menaiki tangga dan memasuki kamar mereka masing-masing.
. Malamnya, sesuai kesepakatan, keluarga Danu bertamu ke kediaman Yugito.
Arisa turun dan melihat Raisa mendahuluinya dengan pakaian yang sangat anggun.
Meskipun keduanya memakai dress, tapi Arisa merasa bahwa Raisa selalu lebih cantik darinya.
Arisa terlalu fokus pada jam tangan pemberian Rama yang masih ia simpan. Karena tak menyadari, Arisa menabrak Raisa yang berhenti tepat didepannya.
Arisa merasa heran dengan raut wajah Raisa yang membeku. Kemudian Arisa menolehkan wajahnya pada pintu utama tepat berdirinya tamu istimewa ayah. Betapa terkejutnya, Arisa terbelalak mendapati Rayyan dan keluarganya.
"Kakak putri...." teriak Seina yang kemudian berlari kearah Arisa. Arisa meraih Seina dan memeluknya begitu erat.
"Sein rindu kakak putri. Kakak marah karena Sein nakal? Kakak tak pernah bertemu Sein lagi. Sein janji Sein tidak nakal. Jadi kakak putri jangan meninggalkan Sein lagi." Rengek Seina yang seolah tak membiarkan Arisa berbicara.
Arisa membenamkan wajahnya pada Seina dan terdengar terisak.
"Sein tidak nakal. Kakak yang nakal. Maaf Sein." Pelukan Arisa semakin erat seolah tak ingin melepaskannya. Arisa sangat merindukan gadis mungil itu. Karena keegoisannya, Arisa sampai tega membuat gadis kecil menanti kedatangannya. Bunda menyeka kelopak matanya saat melihat pertemuan yang diinginkan putri kecilnya.
Tak bisa dipungkiri, bunda pun sama merindukan Arisa selama ini.
Ayah dan mama merasa heran, sejak kapan Arisa dekat dengan adik Rayyan?
Danu dan bunda merasa gelisah saat Arisa yang tak henti terisak, dan Seina yang semakin keras menangis.
Bunda meraih Seina dan Arisa.
"Sein ingin dengan kakak putri." Teriak Seina menunjukan penolakan saat disentuh oleh ibunya sendiri.
"Putri?" Mama dan ayah saling menatap.
"Sein..." panggil Rayyan yang kini berada dibelakang bunda.
"Biarkan dulu Rayyan.." ucap Raisa yang menatap haru pada Arisa.
"Bahkan kau sudah mengambil hati keluarganya." Gumam Raisa menjatuhkan setetes embun dari kelopak matanya.
__ADS_1
-bersambung.