
. Tio lalu membersihkan darah diwajah Arisa. Oma terkejut mendapati sikap Rayyan yang dianggapnya diluar dugaan. Seina yang tak henti menangisi Arisa pun membuat Oma semakin heran.
"Risa...." lirih Rayyan menggenggam tangan Arisa dengan menitikkan air mata. Sonya meraih bahu Rayyan dengan ikut menangis. Takut jika Arisa tak bangun lagi. Tio bergegas membawa Arisa menuju mobil dan yang lebih mengherankan, mengapa Rayyan tak mempedulikan keberadaan Raisa.
Selain karena Arisa adalah adik, Oma juga tak menyukai penampilan Arisa yang menurutnya tidak beretika baik. Rambut yang di warnai, dan tidak menunjukan martabat seorang putri orang terpandang.
Melihat sikap Sonya dan Danu, Oma semakin dibuat risih.
"Kalian jelaskan pada Oma." Tegas Oma pada pasangan suami istri itu membuat keduanya berpandangan.
"Ayah.. bunda... maaf jika telat pulang." Teriak Rayyan kemudian melajukan mobil Tio.
"Oma... maaf acaranya jadi berantakan karena situasi seperti ini." Ucap Yugito yang ikut bergegas.
"Ayah... Rais dan mama duluan." Ucap Raisa kemudian berlalu menyusul Rayyan.
Oma menggeleng dengan apa yang ia lihat malam ini. Siang dengan obrolan yang searah menceritakan Raisa, namun fakta menunjukan bahwa Arisa yang mereka bicarakan.
"Bu..." lirih Danu ketika sudah berada didalam mobil.
"Kenapa kalian biarkan Aray dekat dengan adiknya? Padahal kalian sendiri yang menandatangani surat perjanjiannya bukan?" Tanya Oma dengan menghela nafas berat.
"Pilihannya ada dua. Melanjutkan pernikahan Aray dan Raisa, atau tidak dengan siapapun sama sekali." Ucap Oma kemudian hingga Sonya dan Danu saling pandang.
"Sein tidak mau kakak lain. Sein mau kakak putri." Teriak Seina memekik telinga.
"Sein.. jaga bicaramu." Tegas Sonya setengah berbisik.
"Tapi Sein ingin kakak putri saja bunda... Sein sayang kakak putri. Sein ingin temani kakak putri." Rengek Seina menatap harap pada sang bunda.
"Bunda juga sayang pada Risa... Andai ibu mengerti." Danu mengusap punggung Sonya dan menyadari kesedihan sang istri. Sonya menoleh dan menatap pada Danu seolah bertanya 'apa yang harus kita lakukan?' Sonya menginginkan kebahagiaan Rayyan dengan pilihannya sendiri, namun watak Oma yang keras membuat mereka seakan menjadi anak kecil yang tak bisa berbuat apa-apa. Untuk membantah pun mungkin yang terkena imbasnya hanya keluarga Yugito saja.
. Sampai di rumah sakit, Sonya diam didalam mobil karena Seina dan membiarkan suami dan ibu mertuanya menyusul Yugito ke ruang UGD. Oma benar-benar dibuat heran dengan sikap Rayyan malam ini. Setahunya, Rayyan sangat tak peduli dengan perempuan. Dan dengan alasan itulah, Oma berfikir bahwa Rayyan akan setuju saja jika dijodohkan dengan pilihannya. Selain Oma menyukai Raisa, jelas ada sebuah perjanjian perjodohan antara mereka.
Namun ini kali pertama Oma melihat Rayyan menangisi seseorang yang mungkin tak berarti bagi Oma sendiri. Mana mungkin Rayyan menyukai perempuan seperti Arisa.
Rayyan tersandar lemas dengan air mata berderai tak terbendung sehingga ia harus beberapa kali menyekanya dengan paksa.
"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asal kau sembuh Risa..." gumam Rayyan sesekali menoleh pada pintu UGD.
Dokter keluar dan memanggil keluarga pasien. Tio lebih cepat menghampiri dokter dari ayahnya.
"Bagaimana dok. Adik saya baik-baik saja kan?"
"Anda membawanya tepat waktu tuan. Semula adik tuan mengalami kritis karena peredaran darah yang tak lancar ditambah lambungnya mengalami luka, namun sekarang sudah lebih baik. Tuan hanya perlu memperhatikan pola makan nona dan jangan terlalu stres. Rekasi penolakan selalu dirasakan oleh penerima cangkok hati seperti kasus adik tuan.... " dokter terhenti menjelaskan ketika Rayyan dengan tidak sopan memasuki ruangan dan berlari menghampiri Arisa lalu memeluknya dengan erat sambil terus terisak.
"Jangan tinggalkan aku Risa... bangunlah..." Lirih Rayyan mengelus kepala Arisa dengan lembut.
"Rayyan!" Panggil Oma dengan tegas membuat Rayyan mematung.
"Apa yang kau lakukan? Memalukan." Oma beranjak meninggalkan area itu kembali kedalam mobil. Rayyan kembali keluar lalu meminta maaf pada keluarga Yugito karena sikapnya yang dengan ceroboh memasuki ruangan tanpa izin.
"Maaf dok." Ucap Rayyan memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu saya akan memindahkan nona ke ruang inap. Nona harus menjalani perawatan yang intensif dari kami agar kondisinya membaik." Ucap dokter yang hendak berlalu kembali kedalam ruangan.
"Dok..." panggil Tio menghentikan langkah dokter.
"Bolehkah adik saya dirawat dirumah saja?" Tanya Tio dengan ragu.
__ADS_1
"Untuk saat ini tidak bisa, tapi jika ada peningkatan dengan kesehatan nona, silahkan!" Jawab dokter dengan ramah.
"Untung dokternya bukan dia." Gumam Rayyan berdecih kesal.
"Danu.. pulanglah. Bawa putramu. Disini biar kami yang menjaga Aris." Ucap Yugito menepuk pundak Danu.
"Besok aku kesini lagi." Danu membalas menepuk punggung Yugito kemudian berlalu dengan Rayyan.
Rayyan duduk bersama dengan ayah ibunya dikursi belakang.
"Ke Negara mana kau ingin pergi?" Tanya Oma tanpa menoleh ke belakang.
"Aray." Ucapnya lagi.
"Apa maksud Oma?" Tanya Rayyan dengan menyernyit heran dan rasa penasaran.
"Menikah dengan Raisa atau tidak sama sekali dan kau pindah ke luar negeri?" Rayyan terbelalak mendapati pertanyaan yang jelas tak pernah ia bayangkan akan mendapatkannya.
"Oma... Aray..."
"Jawab Aray." Rayyan memalingkan wajahnya dengan tatapan sendu. Dipikirannya kini hanya tentang Arisa saja. Sampai dirumah, tak ada lagi yang berbicara.
"Aray!" Teriak Oma menghentikan langkah Rayyan yang hendak ke kamarnya.
"Apa lagi oma?" Delik Rayyan membuat Oma semakin naik pitam.
"Apa seperti ini sikapmu pada Oma? Sejak kapan kau menjadi tidak sopan? Sejak kau bertemu dengan gadis itu? Apa yang kau lihat darinya? Kau tidak melihat Raisa yang sempurna?"
"Arisa Oma.. namanya Arisa. Dia memang tidak sempurna dimata Oma. Dan Raisa memang sempurna dimata Oma. Tapi dimataku, Arisa tetaplah gadis yang kucintai Oma. Dan jangan memberiku pilihan yang tidak bisa aku pilih."
"Tahu apa kau tentang cinta? Apa kau pernah melihat seseorang akan bertahan karena cinta? Jika kau bersikeras memilih gadis itu, semua aset dan hakmu tentang harta dan kedudukan perusahaan akan Oma tarik. Kau tak akan memiliki apa-apa." Geram Oma dengan ditanggapi tenang oleh Rayyan.
"Oma jangan egois." Ucap Rayyan menatap sendu pada Oma.
"Bukan Oma. Tapi kamu. Jika kau ingin gadis itu selamat, turuti perjanjian yang sudah orang tua kalian buat. Menikah dengan Raisa dan kau akan mendapatkan segalanya." Tutur Oma lagi lalu pergi menuju kamarnya dirumah itu. Rayyan menoleh pada Danu yang menatap sendu kearahnya.
"Ayah puas? Padahal aku baru saja akan merasa bahagia. Tapi kenapa ayah selalu mengambil kebahagiaanku? Jika ayah menyayangi Risa dan Aray, tolong katakan pada Oma tentang kebenarannya mengapa Risa mengubah penampilan dan sikapnya. Mungkin Oma akan--"
"Tidak Aray.. itu sia-sia..." Danu menyela membuat Rayyan kesulitan bernafas. Lalu Rayyan tersenyum dan tertawa kecil sambil berjalan mundur menatap pada Danu.
"Oke. Baiklah. Lakukan sesuka kalian. Jangan salahkan aku jika nanti ada sesuatu yang terjadi diluar keinginan kalian." Rayyan menutup pintu dengan keras hingga Seina terbangun dari tidurnya dipangkuan Sonya.
Sonya memeluk erat Seina sambil kembali terisak.
"Kenapa kita tak bisa melakukan apa-apa mas?" Lirih Sonya.
"Sudah... kita cari jalan keluarnya." Danu mengusap punggung Sonya seraya menenangkan.
Pagi hari, Rayyan sudah pergi dari rumah menuju rumah sakit. Terlihat Tio masih menunggu, dan bisa dipastikan bahwa Tio semalaman tidak tidur.
"Kak." Panggil Rayyan yang kini berada didepan Tio yang memejamkan matanya.
"Rayyan."
"Kenapa diluar?"
"Aku baru dari dalam. Hanya ingin diluar saja."
"Risa baik-baik saja?"
__ADS_1
"Sudah... dia sudah siuman. Kau mau bertemu?" Rayyan mengangguk antusias lalu memasuki ruangan Arisa dan mendapati Arisa masih tertidur. Rayyan meraih tangan Arisa lalu menggenggamnya kuat dan menciumnya dengan lembut.
"Risa.." lirihnya membuat Arisa membuka matanya perlahan.
"Risa..." Rayyan beranjak lalu mengecup dahi Arisa lama sambil mengelus kepalanya dengan lembut. "Syukurlah..." lanjutnya dengan wajah berbinar.
"Aray... kenapa disini?" Tanya Arisa menoleh sesaat pada Rayyan.
"Aku mengkhawatirkamu sayang." 'Deg' mendengar kata sayang membuat jantung Arisa terasa berdenyut nyeri.
"Aray... aku ingin meminta sesuatu." Lirih Arisa menatap harap pada Rayyan.
"Apa?"
"Kau janji akan menurutinya?"
"Aku janji Risa... asal kau sembuh. Aku akan menuruti apa yang kau mau. Jalan-jalan ke paris saat musim panas atau ke negara lain saat musim semi?"
"Tidak Aray..." Arisa menggeleng dengan tersenyum pada Rayyan. "Aku ingin kau menerima perjodohanmu dengan Rais." Lanjut Arisa membuat raut wajah Rayyan berubah. Dilepaskannya genggaman pada tangan Arisa lalu Rayyan menatapnya dengan dingin seolah tanpa perasaan.
"Semua keinginanmu akan aku penuhi, tapi bukan berarti permintaan konyolmu ini pun bisa aku penuhi Risa."
"Aray... aku mohon..."
"Tidak Risa. Kau pikir aku bodoh dan gila? Aku mencintaimu, tidak mungkin aku bersama dengan kakakmu."
"Aray...." lirihnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak Risa. Aku tak akan meninggalkanmu."
"Aray...."
"Cukup Risa. Aku tak ingin mendengar rengekan tidak masuk akalmu itu."
"Aray...."
"Maaf Risa..." lirih Rayyan kemudian pergi meninggalkan Arisa yang terisak. Rayyan berlalu dengan tangan mengepal menahan kesal. Tio menyadari sikap Rayyan yang berbeda kemudian berlari memasuki kamar Arisa dan mendapati Arisa yang tengah menangis.
"Aris...." lirih Tio meraih Arisa.
"Kak..."
"Apa?"
"Aray tidak menurut...."
"Memangnya kau meminta apa?"
"Aris ingin Aray menerima perjodohannya dengan Rais."
"Aih Aris.... pantas saja Rayyan marah. Mengapa kau begitu bodoh?" Arisa hanya terisak di depan sang kakak.
Bayu berlari menyusuri lorong rumah sakit lalu membuka pintu dengan keras. Bayu menghampiri Arisa dengan wajah marah lalu memeluknya dengan erat.
"Kau selalu saja membuat khawatir." Ucap Bayu semakin erat memeluk Arisa. Tanpa disadari, Rayyan menyaksikan adegan yang membuatnya sesak nafas.
Niat ingin meminta maaf, namun pemandangan ini yang ia lihat.
-bersambung
__ADS_1