TAK SAMA

TAK SAMA
68


__ADS_3

. Melihat tatapan Rayyan yang mungkin sudah menyimpan amarah untuknya, Raisa seketika menggeleng kasar untuk sekedar membuat Rayyan tak berpikir yang tidak-tidak.


"Rayyan.. aku tahu ini salah. Tapi jujur aku hanya ingin melindungi Aris saja." Tuturnya menunduk tak berani bertatapan langsung dengan Rayyan. Rayyan sendiri merasa tak tahu harus berkata apa. Untuk marah pun ia tak bisa, karena pada akhirnya ia pun akan menyetujui perjodohannya dengan gadis yang kini berada di hadapannya.


"Aku juga minta maaf padamu." Ucap Rayyan berhasil mengejutkan Raisa. Raisa mendongak dan menatap heran pada Rayyan seolah bertanya apa maksudnya?.


Raisa mengira Rayyan akan habis-habisan memarahinya karena perkara ini. Tapi diluar dugaan, Rayyan justru malah meminta maaf. Pikiran Raisa semakin berkecamuk, atas dasar apa Rayyan meminta maaf padanya. Bukankah selama ini Rayyan tak pernah peduli padanya.


"Aku akan bersama dengan adikmu untuk sementara waktu. Sampai kita lulus saja. Setelah itu, aku akan menjadi milikmu sepenuhnya. Tapi, setelah kita bersama, aku ingin kita pindah dari kota ini. Aku tak sanggup melihat adikmu bahagia dengan orang lain." Tutur Rayyan kemudian. Raisa semakin tak mengerti dengan penuturan Rayyan. Pikirannya seakan berputar-putar dengan beribu pertanyaan yang sangat sulit ia temukan jawabannya. Kepalanya mendadak pusing, berdenyut dan sangat menyakitkan, kemudian pandangannya semakin gelap. Akhirnya, Raisa terlelap dan Rayyan dengan sigap menahan tubuh Raisa yang hampir terjatuh karena pingsan tiba-tiba.


"Raisa... hei... Raisa..." panggil Rayyan menepuk pipi Raisa beberapa kali. Dengan cepat Rayyan membawa Raisa menuju ruang pemeriksaan dan sesegera mungkin memberitahu Yugito tentang hal ini. Mendengar Raisa tak sadarkan diri, Rahma bergegas menuju ruangan yang di maksud Rayyan. Arisa mencengkram selimutnya dengan kuat saat melihat respon Rahma ketika mendengar kabar Raisa.


"Hidupku memang tak berarti." Gumamnya meneteskan bulir bening dari kelopak matanya.


"Risa..." lirih Rayyan meraih tangan Arisa dengan lembut. "Om.. sa-saya izin berbicara dengan Risa dulu. Ma-maaf." Ucap Rayyan yang beralih menatap Yugito dengan ragu.


"Tak apa nak. Ayah mengerti." Balas Yugito kemudian bergegas keluar dari ruangan dan menyusul Rahma menuju ruang pemeriksaan.


Rayyan semakin erat menggenggam tangan Arisa setelah Yugito menutup rapat pintu ruangan.


"Risa..." panggilnya lirih dan terkesiap saat Arisa tiba-tiba memeluknya begitu erat.


"Jangan pergi Aray..." lirih Arisa dengan suara yang gemetar. Entah seberapa kuat ia menahan tangisnya sampai suaranya hampir tak terdengar.


"Maaf..." Rayyan tak kalah lirih dan kemudian mengecup kening Arisa.


"Please jangan seperti Rama." Ucap Arisa lagi yang kini mendongak menatap harap pada Rayyan. Dan seketika itu, tatapan Rayyan benar-benar menjadi sendu. Apa yang harus ia katakan. Untuk berjanji agar tak pergi pun ia tak bisa.


"Jika kau ingin pergi, pergilah sekarang. Sebelum aku benar-benar tak bisa melepaskanmu." Lagi, Arisa menatap lekat dengan wajah serius dan menekan pada Rayyan.


"Kalau begitu, kenapa kita tak berjuang bersam-- ah lupakan." Rayyan memalingkan wajahnya dengan kasar setelah mengingat perjanjiannya dengan Oma. Rasa ingin berjuang pun terasa sirna tanpa mencoba. Ia ingin sekali melawan Oma bersama Arisa, namun karena perjanjian bodoh yang ia sepakati membuatnya hanya bisa memendam perasaannya pada Arisa.


"Aku ingin bersamamu lebih lama." Lirih Rayyan yang Kini memeluk Arisa begitu erat. Rasanya terasa sesak untuk sekedar mengatakan 'aku berjanji akan bersamamu' itu sangat sulit untuk Rayyan ucapkan.


"Aku juga..." Arisa membenamkan wajahnya pada bahu Rayyan dengan air mata yang kembali tak bisa terbendung. Rasanya benar-benar ingin waktu berhenti seketika agar ia dan Rayyan bisa seperti ini lebih lama. Perasaan yang sudah melekat dihati keduanya harus dipaksa hilang karena sebuah alasan yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


"Apa kau akan meninggalkanku? Mengapa kau bicara seperti itu?" Tanya Rayyan melepas pelukannya dan menatap tajam pada Arisa. Arisa hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Rayyan.


"Yaa mungkin saja kita tak akan bertemu lagi setelah lulus." Jawabnya yang mulai santai dengan situasi mereka.


"Apa dia tahu rencanaku? Bagaimana mungkin? Hanya Raisa dan keluargaku saja yang mengetahui tentang ini." Gumam Rayyan semakin lekat menatap Arisa.


"Kita mungkin akan melanjutkan S2 di universitas yang berbeda. Atau mungkin kita akan menjalani hidup yang berbeda." Suara Arisa kian lirih menunduk dan memalingkan pandangannya. Dirinya tak kuasa jika harus saling berpandangan dengan pria yang ia cintai namun di waktu yang sama, dengan terpaksa harus ia jauhi.


"Cepat sembuh. Libur semester ini kita liburan." Ucap Rayyan yang mendadak bersemangat. Begitupun Arisa, kapan lagi ia menghabiskan waktu dengan Rayyan jika bukan saat libur semester. Karena cepat atau lambat, sebelum atau sesudah lulus, Arisa harus pergi meninggalkan kota tercintanya agar tak menyaksikan kebersamaan Rayyan dengan kakaknya. Ia tak begitu siap menahan rasa sakit yang mungkin sama sakitnya dengan kepergian Rama.


. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Arisa tengah sibuk mengurus keperluan saat acara wisuda seniornya. Fabian terlihat gagah mengenakan jas dengan rambut yang berponi namun rapi membuat karisma nya memancar. Ia menghampiri Arisa yang terlihat sedang memberi arahan pada beberapa teman angkatannya yang ikut serta dalam acara ini.


"Aris.." panggil Fabian dari belakang dan berhasil mengejutkan Arisa.


"Ish.. kakak. Jangan mengejutkanku."


"Aku tidak mengejutkanmu. Kau saja yang melamun." Delik Fabian kemudian memangku tangan dan memasang wajah merajuk pada Arisa. "Kau memikirkan Rayyan yaa..." lanjutnya mengejek dengan nada menggoda.


"Tidak. Aku hanya....." Fabian menyernyit penasaran karena Arisa tiba-tiba berhenti bicara.


"Aris... terima kasih." Kini Arisa menyernyit dan seakan bertanya 'untuk apa?'


"Kau sudah mewarnai hariku akhir-akhir ini. Semenjak Rayyan pindah, aku bisa melihat pelangi yang selama ini tertutup awan hitam yang pekat." Mendengar itu, Arisa tertawa dan memukul lengan Fabian sedikit keras.


"Kak Bian ini bicara apa? Jika tak ada matahari, mana mungkin ada pelangi."


"Dan Rayyan lah matahari itu."


"Ahaha iya dan sekarang pelangi itu tak ada. Karena hujan pun tidak turun."


"Aris aku serius. Jangan kau anggap main ucapan ku."


"Hmmm... jadi?"


"Ishhh.... aku menyukaimu. Tapi sayang, kau sudah memiliki Rayyan."

__ADS_1


"Dan jika aku menyukai kakak pun, kita tak akan bersama. Setelah ini, kakak akan ke Jogja kan? Aku mendengar kakak akan melanjutkan S2 di sana." Ucap Arisa dengan ekspresi menebak.


"Kau tahu dari mana?" Fabian menatap dalam wajah Arisa dan merasa penasaran dari mana Arisa mengetahuinya.


Fahri muncul tiba-tiba di belakang Fabian dan ikut masuk kedalam obrolan.


"Akhirnya kalian lulus juga." Ucap Arisa kemudian.


"Iya Ris... akhirnya. Jangan merindukanku ya." Jawab Fahri mengangkat alisnya menggoda Arisa yang tersipu membuat kedua pria didepannya ikut tersipu.


"Ah sial. Sepertinya aku yang akan merindukanmu." Fahri mengusap wajahnya dengan kasar lalu memukul lengan Bian dengan tiba-tiba.


Melihat Bian yang tak menyikapi leluconnya, Fahri seketika berhenti bersikap konyol dan memasang wajah datarnya. Kini giliran Arisa yang tertawa kecil melihat keduanya yang terasa kaku dan canggung.


"Aku akan merindukan kalian. Kak Bian, tunggu aku di Jogja ya." Bian mengangguk menanggapi Arisa dan melempar senyum untuk sekedar mengiyakan. "Dan kak Fahri. Terima kasih ya... semua foto yang kakak curi itu, membuatku kembali bersemangat untuk hidup." Lanjutnya menoleh ke arah Fahri.


"Syukurlah jika kau suka. Maaf ya.. aku hanya bisa mencuri-curi saja. Jika meminta izin padamu, pasti tak akan bisa. Kau selalu menolak."


Daffa menatap dalam pada Arisa yang mungkin hari ini terlihat bahagia, ingin sekali Daffa menghampiri mereka, namun ia tahu mungkin ini adalah pertemuan terakhir diantara ketiganya. Bian yang akan pergi ke luar kota, untuk melanjutkan kuliah nya, dan Fahri yang akan kembali ke kota kelahirannya untuk mengembangkan ilmu yang ia dapat disini.


"Kau menyukai Aris kan?" Tanya Citra dengan nada sindiran. Daffa hanya tersenyum dengan pertanyaan Citra.


"Iya. Sangat mencintainya."


Hari berganti hari, Rayyan dan Arisa semakin dekat dan menunjukkan betapa bahagianya hubungan mereka pada seluruh dunia. Rayyan yang terang-terangan menyatakan bahwa Arisa adalah satu-satunya wanita miliknya. Semua kesempatan Rayyan lalui tanpa pernah mengabaikannya sedikitpun. Karena setelah dengan Raisa, tak mungkin Rayyan akan menghabiskan waktu bersama dengan Arisa di waktu yang sama. Dari liburan bersama, jalan-jalan menyusuri kota, sampai mengerjakan tugas bersama pun mereka lalui dengan bahagia seakan tak akan pernah terjadi perpisahan di kemudian harinya.


Oma Galuh yang menyaksikan itu merasa sungguh tak nyaman dan ingin secepatnya melangsungkan pertunangan antara Rayyan dan Raisa.


. Sampai hari dimana acara ospek untuk mahasiswa baru sudah dimulai. Sebuah kesempatan terpampang jelas dimata Clara. Setiap saat ia selalu mendekati Rayyan, meskipun di samping Rayyan jelas ada Arisa. Padahal sudah diketahui bahwa tak ada yang berani mendekati Rayyan jika sedang bersama Arisa. Dan itulah awal mula renggangnya hubungan antara Arisa dan Rayyan. Seperti sebuah jalan yang sudah tergariskan, Arisa seakan terasa lebih jauh dari jangkauan Rayyan. Seketika Rayyan teringat perjanjiannya dengan sang nenek. Dimana ia berkata bahwa ia ingin menghilangkan perasaannya pada Arisa tanpa ada campur tangan siapapun.


"Apa ucapanku tertulis di suratan takdir?" Batin Rayyan yang sudah beberapa hari ini tak bertemu dengan Arisa. Setelah ospek selesai, dan sepulang dari kemping yang di adakan di kampus, Arisa tak lagi ada kabar. Rayyan ke rumahnya pun selalu tak ada yang memberitahunya kemana Arisa pergi.


"Kamu dimana? Aku merindukanmu sayang." Lirih Rayyan menatap poto Arisa di layar ponselnya.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2