
. Di kediaman Danu, Oma dengan tegas mengintrogasi anak dan menantunya. Sampai Rayyan kembali, Oma masih membuat Danu tertunduk dibawah tekanannya. Rayyan dengan ragu menghampiri mereka ke ruang keluarga.
"Duduk." Titah Oma dengan tegas. Rayyan kemudian duduk disamping ayahnya.
"Kenapa kamu masih berhubungan dengan gadis itu.?" Rayyan memalingkan pandangannya dengan masih menunduk menghindari tatapan mata sang nenek yang mungkin kini tengah menyeramkan.
"Jawab Aray!." Tegas Oma lagi membuat Sonya tersentak karena terkejut.
"Arisa pacar Aray, Oma." Jawab Rayyan dengan suara pelan. Lalu 'prang' gelas dilempar kasar oleh Oma pada dinding hingga pecahan kaca itu berserakan di lantai.
"Apa kau tidak menghargai Oma? Yang berhak menjadi menantu keluarga ini hanya putri pertama dari Yugito pemilik perusahaan Artaris, dan putri tunggal dari Surya pemilik perusahaan SM group." Tegasnya lagi membuat Rayyan berdecih.
"Apa setelah menikah, yang menjalani hidup itu Oma?" Tanya Rayyan dengan masih menunduk, namun dengan tangan mengepal menahan emosi.
"Aray..." lirih Danu sedikit menekan.
"Kau menjawab? Danu, apa kau yang mengajarkan Aray menjadi kurang ajar seperti ini?" Tanya Oma beralih menatap Danu. Danu mendongak membalas tatapan sang ibu.
"Bu.... apa tidak sebaiknya kita dengarkan alasan Aray?"
"Alasan apa? Tidak ada alasan yang dibutuhkan. Semua sudah jelas bagaimana kehidupan Aray. Ibu sudah menjamin kebahagiaannya. Raisa anak yang baik, sopan, dan berbakti pada orang tua. Dan dia cocok untuk Aray."
"Tapi aku tidak mencintainya Oma." Pecah sudah amarah yang ditahan kuat oleh Rayyan. Rayyan beranjak dari duduknya dengan menatap tajam pada Oma.
"Dulu, ayah dan ibumu juga di jodohkan. Dan mereka bisa saling mencintai dan bersama sampai sekarang. Dengar Aray! Seiring berjalannya waktu, jika kau selalu bersama, maka cinta itu akan datang dengan sendirinya."
"Oma.. aku hanya mencintai Arisa. Bukan Raisa." Tegasnya lagi.
"Tatapan apa itu Aray? Kau menatap Oma seperti itu? Apa pantas? Seorang cucu yang Oma besarkan dan Oma jamin kebahagiannya, Oma beri apa yang kau mau. Sekarang Oma hanya ingin kau menurut satu permintaan Oma saja." Mendengar itu, Rayyan menundukkan pandangannya.
"Maaf Oma." Lirih Rayyan masih enggan kembali duduk.
"Oma tidak meminta apapun lagi Aray. Hanya itu saja. Oma hanya ingin kau bersanding dengan perempuan yang baik seperti ibumu. Yang tidak merubah penampilan, dan bersikap apa adanya. Oma melarangmu berhubungan dengan gadis itu, karena Oma tahu dia seperti apa. Banyak yang bilang bahwa dia sangat dingin, acuh, dan banyak juga yang meragukan bahwa dia adalah putri dari Yugito. Mungkin hanya mirip saja dengan Raisa. Atau--"
"Sudah Oma. Hentikan. Jangan diteruskan. Aku tahu banyak rumor miring tentangnya. Tapi asal Oma tahu, dia adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat Aray percaya bahwa tidak semua wanita sama. Dia juga satu-satunya gadis yang bisa membuat Aray merasakan jatuh cinta dengan perasaan tulus, bukan karena ada perjodohan atau paksaan lain." Jelas Rayyan yang menunduk lesu. "Dia juga wanita pertama yang pernah Aray bawa ke rumah dan Aray kenalkan dengan keluarga Aray." Lanjut Rayyan kemudian memberanikan diri menatap sang nenek.
"Jika Oma memang menginginkan perjodohan Aray dan gadis lain yang Oma inginkan, oke Aray setuju." Danu dan Sonya terkejut mendengar penuturan Rayyan yang diluar dugaan.
"Aray bersedia, tapi dengan syarat Aray ingin lulus kuliah dan bisa melupakan Arisa dengan tanpa paksaan atau campur tangan siapapun. Biarkan Aray menghabiskan perasaan Aray pada Arisa sampai Aray lulus. Setelah itu, silahkan Oma melakukan apa yang Oma inginkan dari Aray." Lirihnya lagi kemudian Rayyan berlalu tanpa ingin menoleh ke belakang dan tanpa berbicara apapun lagi.
Danu dan Sonya saling menatap dengan rasa sesal dari hati karena tak bisa berbuat apa-apa. Watak Oma yang keras membuat Danu tak bisa untuk sekedar bernegosiasi.
Rayyan menjatuhkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Jelas terbayang wajah Arisa dan senyumnya yang manis membuat Rayyan semakin merasa bersalah. Dirinya harus siap berpisah dengan Arisa dalam waktu singkat. 3 semester lagi, bukanlah waktu yang lama. Terkadang waktu terasa berlalu sekejap mata saja. Rayyan menghela nafas berat sambil menyusun rencana agar perjanjiannya dengan Oma bisa berubah. Dan Oma bisa menerima Arisa sebagai calon istrinya dan menantu keluarganya.
. Arisa berjalan pelan ketika turun dari mobil. Terlihat wajahnya masih mengejek mang Ujang yang penakut.
"Terima kasih mang." Ucap Arisa dari teras.
__ADS_1
"Sama-sama non." Jawab mang Ujang dengan ramah.
"Siap-siap Rama datang mang." Ejeknya lagi kemudian berlari memasuki rumah.
"Ishhh non Aris ini..." ucap mang Ujang yang menyentuh pundaknya yang merinding. "Jadi horor." Cetusnya lagi kemudian berlalu menuju pos gerbang.
"Aris..." panggil Yugito dari ruang keluarga yang Arisa lewati. Arisa terhenti namun tak menjawab panggilan sang ayah.
"Mang Ujang dimana?" Tanya Yugito beranjak menghampiri Arisa.
"Tadi di luar ayah." Jawab Arisa menunjuk ke luar.
"Ya sudah..." ucap Yugito yang berlalu meninggalkan Arisa yang masih berdiri disana.
"Aris sedang apa?" Tanya Tio mengejutkan Arisa.
"Ish.. kakak." Arisa memukul lengan Tio dengan keras.
"Kau kenapa? Kakak bertanya tapi malah dipukul." Tio meraih lengannya dengan memasang wajah heran sekaligus kesal.
"Kakak mengejutkanku." Rengek Arisa.
"Kau yang melamun. Bukan kakak yang mengejutkanmu." Arisa mendelik lalu kembali berjalan menaiki tangga meninggalkan Tio. Tio tersenyum melihat sikap manja Arisa yang sedikit demi sedikit mulai terlihat.
"Kakak pastikan besok adalah hari ulang tahunmu yang mengesankan." Gumam Tio masih menatap kepergian Arisa.
"Apa kau ada diantara bintang-bintang itu Rama? Aku harap kau tenang di sana. Maaf karena aku mencintai orang lain selain dirimu. Maaf aku tidak menyusul mu. Aku pikir saat itu kita akan bersama di sana. Tapi, kau yang menyuruhku untuk tetap tinggal di sini dan hidup dengan bahagiaku. Rama, tunggulah. Di kehidupan setelah ini, saat aku menyusul mu, aku akan sepenuhnya menjadi milikmu. Tapi untuk dikehidupan ini, aku memilih mencintai orang lain. Karena untuk menunggumu, itu jelas sia-sia. Kau tak akan kembali padaku Rama..." gumam Arisa menatap kosong pada bulan yang jauh dari pandangannya.
"Non. Waktunya makan." Ucap bi Ina membuyarkan lamunan Arisa.
"Aku tidak lapar bi." Jawab Arisa masih menatap bulan.
"Tapi mas Tio bilang..."
"Aku tidak lapar. Bibi mendengarku kan?" Arisa menyela dengan penuh penekanan. Bi Ina kembali meninggalkan Arisa dengan langkah berat. Melihat Arisa yang tidak nafsu makan, bi Ina tahu bahwa Arisa tengah memikirkan sesuatu, atau sedang memiliki masalah.
"Aris tidak mau makan lagi?" Tanya Rahma ketika melihat bi Ina turun seorang diri.
"Iya bu. Non Aris menolak makan lagi." Jawab bi Ina dengan cemas.
"Ya sudah. Bi buatkan sayur kentang kesukaan Aris." Ucap Rahma kemudian.
"Tapi bu..."
"Buatkan saja." Bi Ina mengangguk ragu dengan titah sang majikan. Meski begitu, bi Ina tetap membuatkan apa yang di minta Rahma.
Raisa lebih dulu meninggalkan meja makan dengan alasan tidak nafsu. Lama menunggu, hingga tinggal Rahma sendiri yang masih duduk di posisinya menunggu masakan bi Ina siap.
__ADS_1
"Bu..." panggil bi Ina dengan sopan.
"Sudah siap bi?" Tanya Rahma menoleh pada bi Ina.
"Belum bu. Tapi... ini untuk siapa bu?"
"Tentu saja untuk Aris."
"Tapi.."
"Aris bilang tidak lapar, bukan berarti memang tidak lapar kan bi?" Bi Ina mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Rahma.
Tak lama berselang, bi Ina kembali membawa apa yang diminta Rahma. Rahma kemudian mengambil piring lalu diisi dengan nasi dan sayur. Tak lupa menambahkan beberapa masakan lain. Kemudian Rahma berjalan menuju kamar Arisa.
"Biar saya saja bu." Ucap bi Ina menghentikan langkah Rahma.
"Tak apa bi." Jawab Rahma melempar senyuman pada bi Ina.
Rahma kembali berjalan menaiki tangga dan membuka pintu kamar Arisa. Rahma langsung berjalan menuju balkon yang terbuka. Terlihat Arisa terlelap dengan posisi terduduk, tangan yang menopang pipi, dan rambut yang menutupi wajahnya sebagian.
"Kau sudah tidur?" Tanya Rahma pelan seraya meletakkan makanan di meja kaca samping sofa. Tak ada jawaban, bahkan pergerakan Arisa pun tak terlihat. Rahma menatap dalam wajah Arisa, lalu pada rambutnya yang berbeda warna dan kini terlihat berwarna hitam di bagian pangkalnya. Rahma membelai lembut rambut Arisa membuat Arisa membuka matanya perlahan. Arisa menoleh pada Rahma dengan tatapan datar.
"Mama." Lirihnya sedikit menyernyit.
"Kenapa tidur di luar?" Tanya Rahma dengan khawatir.
"Ingin udara segar saja." Jawab Arisa membenahkan duduknya.
"Makan dulu ya..." bujuk Rahma semakin cemas menatap Arisa. Arisa menoleh pada makanan didepannya. Jujur saja, Arisa merasa tergiur dengan sayur kentang yang sedari kecil menjadi favoritnya.
"Mama suapi." Ucap Rahma yang hendak meraih sendok.
"Aku saja sendiri." Dengan cepat Arisa mengambil sendok sebelum mamanya. Perlahan Arisa melahap makanan, dan beberapa kali Rahma membenahkan rambut Arisa yang terurai ke depan.
"Raisa sudah tidur?" Tanya Arisa sesaat melirik pada Rahma.
"Mama belum lihat." Jawab Rahma tersenyum hangat dan masih mengusap kepala Arisa dengan lembut tanpa henti. Terlihat air mata jatuh dari kelopak matanya Arisa yang masih melanjutkan acara makannya. Rahma menyernyit kemudian mengusap pipi Arisa.
"Kenapa menangis?" Tanya Rahma dengan nada pelan. Seketika itu, Arisa berhenti mengunyah dan meletakkan alat makannya. Arisa memeluk Rahma dengan erat dan terisak keras.
"Mama kemana saja? Aris rindu mama." Ucapnya semakin erat memeluk sang ibu. Rahma pun tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar pertanyaan sang anak. Setiap hari bertemu, namun terasa seperti orang asing.
"Jangan tinggalkan Aris lagi." Lirih Arisa membuat Rahma ikut terisak keras.
"Maafkan mama." Rahma tak kalah erat memeluk Arisa.
-bersambung
__ADS_1